NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Masih Iblis Yang Sama

"Dulu, aku bahkan ragu apakah perasaanku padamu hanyalah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Namun, setiap senyuman dan cemberutmu selalu berhasil mengusik hatiku. Ketika aku tumbuh dewasa dan mulai memahami perasaan antara pria dan wanita, aku baru menyadari bahwa dirimu telah lama berakar di hatiku dan tidak akan pernah bisa dicabut."

Gavin tersenyum getir, menatap Aluna dengan pandangan yang teramat dalam. "Aluna, aku begitu mencintaimu. Bisakah kamu menatapku sedikit saja?"

"Aku..."

Pengakuan yang mendadak itu membuat Aluna benar-benar bingung. Apakah Gavin sudah berubah? Dihadapkan dengan posisi serendah itu dari seorang pria yang bangga, rasanya sulit bagi wanita mana pun untuk langsung menolak.

"Kamu tahu betul aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sebelum kamu melahirkan anak itu. jadi turuti keinginan ku, dan jika suasana hatiku sedang baik, aku akan membiarkan orang-orang yang menghalangi jalanku pergi dengan tenang."

Kalimat dingin yang menyusul kemudian seketika menyentak Aluna dari ilusinya dan membawanya kembali pada kenyataan pahit. Gavin tetaplah iblis yang sama, tidak ada yang berubah.

Aluna terkekeh dengan sinis dalam hati. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Ia hampir saja terhanyut dan sempat berharap bahwa pria ini akan berubah menjadi lebih baik.

Sambil menata kembali isi pikirannya, Aluna memantapkan keputusan di dalam hati. Ia harus menyenangkan hati Gavin, menahan seluruh penderitaan ini, lalu mencari kesempatan yang tepat untuk melarikan diri selamanya bersama anak di kandungannya.

Aluna berucap dengan nada ragu yang dibuat selembut mungkin, "Kak Gavin, aku tidak ingin ada orang lain yang terluka karena aku. Aku berjanji akan melahirkan anak ini. Tolong jangan berpikiran buruk lagi dan jangan menyakiti siapa pun, ya?"

Gavin menatap wajah Aluna dengan lekat. Bulu matanya bergetar sekilas sebelum ia berucap dengan suara yang terdengar serak,

"Cium aku."

Mata Aluna langsung membelalak sempurna, mendadak bingung harus merespons bagaimana.

"Kenapa? Kamu menolak?" tanya Gavin, nadanya mulai berubah menjadi datar.

Aluna tersentak, lalu segera menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak."

"Kalau begitu, tunjukkan inisiatifmu." Tatapan Gavin terkunci sepenuhnya pada Aluna, memperlihatkan sebuah harapan yang di balik matanya. Bagaimanapun, poros hidup Gavin hanyalah Aluna, dan jauh di lubuk hatinya, ia tidak berniat menyakiti gadis itu lagi.

Setelah sempat ragu selama beberapa detik, Aluna memberanikan diri mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menempelkan bilah bibirnya yang gemetar pada bibir Gavin yang terasa sedingin es.

Karena sudah memiliki sedikit pengalaman dari kejadian sebelumnya, gerakan Aluna tidak lagi secanggung yang pertama. Ia mulai belajar untuk bersikap aktif, menggerakkan lidahnya untuk memperdalam tautan mereka.

Gavin tidak mampu lagi menahan gejolak di dadanya. Pandangannya menggelap, telapak tangannya mengepal erat, dan ia mendekap tubuh ramping Aluna ke dalam pelukannya dengan posisi yang semakin rapat tanpa ada jarak.

Dalam sekejap, keduanya langsung larut dalam keintiman yang intens. Aluna, yang hampir kehabisan napas, berbisik lirih di sela pautan mereka, "Kak Gavin... bisakah hubungan kita kembali seperti dulu lagi?"

Gerakan Gavin sempat terhenti sesaat mendengar pertanyaan itu. Namun, sedetik kemudian ia kembali melanjutkan aksinya, menggigit kecil cuping telinga Aluna sembari membujuk dengan suara rendah, "Semua itu tergantung pada bagaimana sikapmu ke depannya."

Merasa perkataannya diabaikan dan dianggap remeh, Aluna menurunkan pandangannya dengan penuh kekecewaan yang tidak bisa dia sembunyikan.

Gavin yang menyadari perubahan ekspresi itu langsung menggigit lidah Aluna dengan cukup keras sebagai bentuk peringatan.

"Jangan pernah memikirkan pria lain saat bersamaku," bisik Gavin dengan suara yang sarat akan dominasi dan hasrat di dekat telinga Aluna.

Aluna meringis menahan perih, keningnya mengernyit rapat sembari mengeluarkan erangan kecil yang tertahan di tenggorokannya.

Namun, Gavin sama sekali tidak berniat untuk menyudahi tindakannya. Ia tidak hanya mempererat cengkeraman tangannya pada pinggang Aluna, tetapi juga bergerak semakin tidak terkendali.

Aluna membuka matanya dengan panik, lalu berusaha mendorong dada bidang Gavin menjauh. "Hentikan, Kak... ini di rumah sakit, orang lain bisa melihat kita nanti."

Meskipun terdapat perbedaan kekuatan fisik yang mencolok antara pria dan wanita, Gavin dengan mudah mengunci pergerakan tangan

Aluna dengan satu tangan besarnya.

Dengan pandangan mata yang mulai berkaca-kaca karena panik, Aluna memohon dengan suara rendah, "Kak Gavin, aku mohon jangan lakukan di rumah sakit. Pasti ada orang yang akan melihat." Dari sudut matanya, ia bisa melihat pintu kamar rawat yang sedikit terbuka, dan hal itu membuat urat sarafnya semakin menegang ketakutan. Bagaimana jika ada perawat atau dokter yang masuk pada detik berikutnya?

Semakin ia memikirkan posisinya yang tertekan, Aluna merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil. Air matanya runtuh seketika dan ia mulai menangis tersedu-sedu.

Gerakan Gavin langsung berhenti. Ia menurunkan wajahnya, perlahan menyeka air mata di sudut mata Aluna menggunakan ujung lidahnya dengan lembut, lalu menenangkan, "Jangan takut. Aku sudah memberikan perintah tegas sejak awal. Tidak akan ada satu pun orang yang berani masuk ke ruangan ini tanpa instruksiku."

"Tapi tetap saja tidak boleh," sahut Aluna dengan bibir mengerucut, menatap Gavin dengan raut wajah kesal.

Sambil tetap memeluk tubuh Aluna, Gavin menahan diri dengan sabar dan bertanya perlahan, "Mengapa tidak boleh, hm?"

"Ada jendela kaca di beberapa sisi ruangan ini... ini sangat memalukan," jawab Aluna sembari menundukkan kepalanya yang merona merah karena malu.

"Kamu benar-benar tidak menyukainya?" tanya Gavin lagi. Bibir tipisnya sedikit terbuka, sementara sepasang netranya masih memancarkan sisa hasrat.

Aluna menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku sama sekali tidak suka."

"Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang?"

"Aku ingin pulang ke rumah."

Gavin teringat akan memo petunjuk dari dokter yang sempat dibacanya tadi. Ia sempat ragu-ragu dan tidak memberikan jawaban untuk waktu yang cukup lama.

Melihat respons diam dari Gavin, Aluna merasa cemas. Ia memberanikan diri meraih jari Gavin, lalu memohon dengan tatapan memelas, "Kak Gavin, tolong..."

Meskipun hatinya sangat goyah oleh bujukan tersebut, Gavin terpaksa menolak demi mempertimbangkan kondisi pemulihan fisik Aluna yang belum stabil. Ia menurunkan telapak tangannya, mengusap perut Aluna yang masih rata dengan gerakan yang teramat lembut. "Kondisi kehamilanmu saat ini masih sangat muda, kamu harus ekstra hati-hati dan beristirahat total. Aku berjanji, begitu tubuhmu sudah membaik, aku sendiri yang akan mengantarmu ke mana pun tempat yang ingin kamu kunjungi."

Mendengar kalimat itu, Aluna hanya bisa membatin kecewa. Pria ini lagi-lagi memberikan janji kosong yang tidak pernah ia ketahui kapan akan dia tepati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!