NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Ketika pautan bibir mereka terlepas, napas keduanya sedikit memburu. Dominic menempelkan dahinya pada dahi Isabella, memandangi wajah cantik istrinya yang kini merona merah.

​"Tiga hari ini terasa seperti mimpi, Isabella," bisik Dominic dengan suara baritonnya yang sangat dalam, terdengar begitu tulus dari lubuk hatinya. "Aku menghabiskan seluruh hidupku di dunia yang gelap dan kotor. Tapi begitu kau masuk ke dalam hidupku, kau menjadi satu-satunya tempatku untuk pulang."

Isabella hanya tersenyum mendengar nya.

​"Kita punya waktu tujuh menit lagi sebelum putramu mendobrak pintu ini," bisik Dominic jahil, kilat menggoda kembali muncul di matanya sembari ia mulai menggelitik kecil pinggang Isabella.

​"Dominic, hentikan! Nanti Damian melihat!" tawa Isabella pecah, mencoba menghindar dari serangan manja suaminya, memenuhi pagi yang baru berusia tiga hari pernikahan itu dengan romansa yang teramat hangat.

Isabella tertawa terpingkal-pingkal saat Dominic mencoba menggendongnya ala bridal style untuk menjauh dari jangkauan Damian, namun tiba-tiba saja bahu kirinya berdenyut nyeri—akibat jahitan peluru yang belum kering total.

​"Akh!" Dominic meringis tertahan, otomatis menurunkan Isabella kembali ke kasur dengan gerakan kikuk yang sangat tidak terlihat seperti seorang mafia kelas kakap.

Isabella langsung panik. "Dominic! Kamu kenapa?"

​"Enggak, sayang. Tadi... uh, tadi kakiku kesemutan. Iya, kesemutan karena kelamaan memelukmu," jawab Dominic dengan ekspresi datar yang dibuat-buat, berusaha keras menutupi bekas luka tembaknya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka lebar—tanpa diketuk. Damian berdiri di sana dengan memakai kacamata hitam kecil yang entah dari mana ia dapatkan, memegang segelas jus jeruk yang disedotnya dengan gaya bos besar.

​"10 menit sudah habis," ucap Damian dingin, melirik jam tangan mainan di pergelangan tangannya. "Dan Daddy, tolong jangan mencoba melakukan aksi heroik yang tidak perlu kalau hanya akan berakhir denganmu meringis kesakitan seperti kucing kehujanan."

Dominic memutar bola matanya, kesal setengah mati. "Damian, keluar."

​"Mommy, ayo," Damian mengabaikan ayahnya, ia berjalan mendekat ke ranjang dan menarik-narik ujung gaun Isabella. "Aku sudah menyiapkan sarapan. Ada pancake bentuk dinosaurus. Daddy tidak akan suka, isinya terlalu banyak cokelat dan sirup manis, cocok untuk orang yang punya selera kelas rendah."

Dominic mendengus tak percaya. "Selera kelas rendah?"

Damian menoleh perlahan, menatap ayahnya dari balik kacamata hitamnya dengan pandangan merendahkan " Sekarang, berhentilah bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran dan biarkan Mommy memakai jubah mandinya."

​Dominic menatap Isabella, wajahnya tampak sangat memelas. "Sayang, lihat dia. Dia menghina seleraku dan mengusirku di depan matamu sendiri."

Isabella hanya bisa menahan tawa sampai perutnya sakit. Ia berdiri. "Sabar ya, Dad. Nanti setelah sarapan, aku akan buatkan kopi kesukaanmu."

​"Dan jangan lupa, Dad," Damian menambahkan saat berjalan keluar, "Jangan coba-coba menyelinap. Hari ini adalah hari bonding ibu dan anak. Kau bisa pergi ke kantor dan mengurus 'bisnis' atau apa pun itu yang membuat bahumu sakit sampai meringis tadi."

Dominic terpaku di atas ranjang, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya ia baru saja diskakmat oleh bocah berusia empat tahun.

​"Isabella!" panggil Dominic dengan nada merajuk yang sangat tidak cocok dengan perawakannya yang sangar.

​"Ya, Daddy?

​"Apa kita bisa punya anak kedua saja? Yang lebih... normal?"

Isabella tertawa lepas sambil menutup pintu kamar mandi.

Dominic menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, lalu bergumam pada dirinya sendiri, "Aku baru menikah tiga hari dan aku sudah merasa seperti pengungsi di rumah sendiri."

Dominic akhirnya pasrah dan turun dari ranjang dengan langkah gontai. Setelah membersihkan diri dan memakai kemeja kasual longgar untuk menyembunyikan perban di bahunya, ia melangkah menuju area taman belakang tempat "dua penguasa" hidupnya sedang menikmati pagi.

Dari kejauhan, pemandangan itu sebenarnya sangat indah. Isabella tampak begitu anggun dengan gaun musim panasnya, tertawa lepas sambil menyuapi Damian potongan pancake dinosaurus. Sinar matahari pagi membuat kulit istrinya tampak bercahaya. Sesaat, Dominic terpesona. Ini adalah kedamaian yang selalu ia impikan di tengah pekatnya dunia bawah.

Namun, begitu Dominic mendekat, suasana puitis itu langsung buyar.

Damian yang menyadari kehadiran ayahnya langsung menggeser piring pancake-nya, lalu menatap Dominic dengan pandangan menyelidik. "Dad, kemejamu terlalu longgar. Selera fesyenmu menurun drastis dalam tiga hari pernikahan ini, atau kau sedang menyembunyikan sesuatu di balik kain itu?"

Dominic nyaris tersedak ludahnya sendiri. Bocah ini punya mata elang atau radar penembak jitu sih? batinnya geram.

​"Ini namanya gaya oversized, Damian. Tren anak muda. Kau tidak akan paham," sahut Dominic ketus sambil menarik kursi di sebelah Isabella. Ia langsung menggeser duduknya sedekat mungkin hingga lengan mereka bersentuhan, sengaja ingin memamerkan kemesraan di depan putranya.

Isabella tersenyum geli, lalu menuangkan secangkir kopi hitam pekat ke hadapan Dominic. "Ini kopi kesukaanmu, Dad. Biar tidak cemberut terus dari tadi."

​"Terima kasih, Sayang," ucap Dominic manis, sengaja mengeraskan suaranya. Ia mengambil cangkir itu dengan tangan kanan, lalu melirik Damian dengan smirk kemenangan. "Lihat? Mommy tetap paling tahu apa yang Daddy butuhkan."

​Damian tidak terpancing. Dengan sangat tenang, bocah itu memotong sepotong kecil pancake, lalu mengarahkannya ke mulut Isabella. "Mommy, buka mulutmu. Ini potongan bagian kepala T-Rex, bagian paling berharga. Khusus untuk wanita tercantik di rumah ini."

Isabella dengan senang hati menerima suapan itu. "Nyam... enak sekali, sayang. Terima kasih, Damian."

​Dominic yang melihat hal itu langsung meletakkan cangkir kopinya dengan bunyi tuk yang agak keras. Rasa cemburunya kembali membumbung tinggi. "Isabella, aku juga mau disuapi."

Isabella menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Dominic, tangan kananmu tidak terluka, kan? Kenapa manja sekali?"

Mendengar itu, Damian langsung menyahut dengan nada lempeng tanpa dosa. "Mommy, biarkan saja. Mungkin efek 'kesemutan' semalam menjalar sampai ke sendi-sendi tangannya. Mengingat faktor usia Daddy yang sudah kepala tiga, gejala penuaan dini memang tidak bisa dihindari."

Uhuk!

Dominic benar-benar kehilangan kata-kata. Darius atau Antonio saja tidak pernah ada yang berani menyebutnya "tua" atau "mengalami penuaan dini".

​"Damian Salvatore," desis Dominic dengan suara baritonnya yang mulai mengeluarkan aura mengintimidasi.

Isabella kemudian memotong sepotong buah stroberi segar, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Dominic. "Ayo, buka mulutnya, Kepala Keluarga Salvatore yang terhormat. Jangan cemburu lagi pada anak sendiri."

Mendapat perhatian itu, binar di mata Dominic langsung kembali cerah. Ia menerima suapan stroberi itu dengan senyuman penuh kemenangan yang ditujukan langsung pada Damian. "Manis sekali. Terima kasih, Istriku."

Damian hanya memutar bola matanya, lalu kembali menyedot jus jeruknya dengan gaya bos besar. "Nikmati saja selagi bisa, Dad. Setelah ini, Mommy berjanji akan menemaniku mewarnai buku gambar di ruang tengah. Dan ruangan itu... terlarang untuk orang dewasa berwajah sangar."

Dominic hanya bisa menghela napas pasrah, merangkul pinggang Isabella dengan tangan kanannya erat-erat, seolah menegaskan bahwa meski ia harus berbagi waktu di siang hari, Isabella akan tetap kembali ke pelukannya saat malam tiba.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!