Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keheningan yang mencekam seketika merayap dan memenuhi setiap sudut ruang kerja kaca milik Hani. Reza berdiri membeku di depan meja kayu jati itu, sepasang matanya yang tajam beralih dari laci meja yang baru saja dibanting keras, lalu mengunci tatapannya langsung ke manik mata Hani.
Riak jenaka yang biasanya selalu menghiasi wajah pria itu kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh gurat kekecewaan dan kecurigaan yang mendalam.
Hani merasakan lidahnya mendadak kelu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Hasutan yang baru saja ditiupkan oleh Tedi di lobi beberapa menit lalu masih berdengung hebat di kepalanya, tumpang tindih dengan tatapan mengintimidasi dari pria yang ada di hadapannya saat ini.
Apakah Reza benar-benar tidak tahu apa-apa? Atau tatapan tajam ini adalah bentuk kepanikan karena rahasia keluarganya mulai tercium?
"Saya tidak menyembunyikan apa pun, Pak Reza," jawab Hani, berusaha sekuat tenaga menstabilkan suaranya agar tidak bergetar.
Ia melipat kedua tangannya di atas meja, mencoba membangun benteng pertahanan diri. "Itu hanya dokumen internal divisi administrasi yang sensitif. Sesuai prosedur perusahaan, saya tidak bisa memperlihatkannya kepada siapa pun sebelum pemeriksaan selesai."
Reza mendengus pelan, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. Ia melangkah setapak lebih dekat, menumpu kedua telapak tangannya di atas permukaan meja, condong ke depan hingga jarak di antara mereka mengikis habis atmosfer formalitas kantor.
"Sensitif sampai kamu harus menatapku seolah-olah aku ini seorang pembunuh yang siap mencabut nyawamu, Hani?" bisik Reza, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Sejak kita pulang makan siang bersama Papah kemarin, sikapmu berubah total. Kamu mengunci diri, menolak semua panggilanku, dan sekarang... kamu berbohong tepat di depan wajahku."
Reza menarik tubuhnya tegak kembali, mengusap wajahnya dengan kasar penuh rasa frustrasi. "Aku mengenalmu bukan baru satu hari, Hani. Aku tahu kapan kamu sedang fokus bekerja, dan kapan kamu sedang menyembunyikan ketakutan. Siapa pria yang menemuimu di lobi tadi? Siska bilang dia mengaku sebagai mantan rekan kerja ayahmu."
Mendengar nama ayahnya disebut dari mulut Reza, benteng pertahanan psikologis Hani yang rapuh akibat hasutan Tedi seketika retak. Rasa sedih, marah, dan paranoid yang bercampur aduk membuat emosinya meledak seketika.
"Jika Anda sudah tahu, lalu untuk apa Anda bertanya lagi kepada saya, Pak Reza?!" potong Hani dengan nada suara yang meninggi, air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ya, dia adalah orang dari masa lalu ayah saya! Seseorang yang membawa kepingan kebenaran yang selama delapan tahun ini disembunyikan oleh korporasi besar ini!"
Reza tertegun. Matanya membelalak kecil melihat luapan emosi Hani yang begitu meledak-ledak. "Kebenaran apa lagi yang kamu maksud? Bukankah Hendra Baskara sudah ditangkap? Bukankah nama ayahmu sudah dipulihkan oleh Papah?!"
"Apakah pemulihan itu tulus, atau hanya taktik untuk membungkam saya?!" cecar Hani, hasutan kejam Tedi telah sepenuhnya mengendalikan logikanya saat ini.
"Bagaimana jika panggung megah minggu depan itu hanya cara Pak Narendra untuk mencuci tangan? Bagaimana jika paman Anda, Hendra, hanyalah bidak catur yang dikorbankan untuk menutupi nama besar ayah Anda dan Surya Adiguna?!"
Plak!
Hani memukul permukaan meja dengan kedua tangannya, berdiri menantang tatapan Reza dengan air mata yang kini mengalir membasahi pipinya.
"Saya melihatnya sendiri, Pak Reza. Dokumen Proyek-X, nota dinas aliran dana ilegal... semua itu memiliki jejak otorisasi tertinggi di perusahaan ini. Tolong katakan pada saya... apakah Anda juga terlibat dalam sandiwara ini? Apakah perlindungan Anda di gang malam itu hanya cara untuk memastikan saya tidak membuka laci arsip bawah tanah ini?!"
Suasana di dalam ruangan seketika mendingin hingga ke titik beku. Kata-kata Hani yang sarat akan tuduhan keji itu laksana belati yang menghujam tepat di dada Reza.
Pria jangkung itu mundur selangkah, menatap Hani dengan tatapan yang tidak pernah Hani lihat sebelumnya, sebuah tatapan yang hancur, terluka, dan dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang teramat sangat.
Reza mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, bahunya yang masih menyisakan sisa luka jahitan tampak bergetar.
"Jadi... begitu caramu menilaiku sekarang, Hani?" suara Reza mendadak berubah menjadi sangat pelan, namun nadanya begitu dingin hingga menusuk tulang.
"Aku bertaruh nyawa di gang itu, membiarkan punggungku ditusuk, dan melewatkan waktu berminggu-minggu dalam kondisi koma hanya agar kamu bisa hidup dan bernapas dengan aman hari ini," ucap Reza, matanya memerah menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Dan sekarang, setelah aku bangun, kamu menuduhku menjadikan nyawaku sendiri sebagai bahan sandiwara?"
Reza menggelengkan kepalanya perlahan, senyuman getir yang menyakitkan terukir di bibirnya yang pucat.
"Kamu membiarkan seseorang yang baru kamu temui selama beberapa menit di lobi merusak semua hal yang telah kita lalui bersama di rumah sakit. Kamu lebih memilih memercayai selembar kertas kertas tanpa asal-usul yang jelas, daripada memercayai pria yang berdiri di depanmu ini."
Hani tertegun. Detik itu juga, melihat sorot mata Reza yang begitu hancur dan terluka, sebuah hantaman penyesalan yang luar biasa besar mendadak menghantam lubuk hati Hani.
Kabut paranoid yang sempat menutup akal sehatnya perlahan menipis, memperlihatkan betapa kejamnya tuduhan yang baru saja ia lontarkan pada pria yang telah mengorbankan segalanya untuk dirinya.
"Pak Reza... saya..." Hani melangkah maju, mengulurkan tangannya dengan gemetar, berniat meraih lengan kemeja Reza untuk meminta maaf.
Namun, sebelum jemari Hani sempat menyentuhnya, Reza melangkah mundur, menolak interaksi apa pun. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali seluruh kendali dirinya yang sempat runtuh. Ketika ia kembali menatap Hani, matanya telah berubah menjadi sedingin dinding es.
"Lakukan audit apa pun yang ingin kamu lakukan, Ibu Kepala Divisi," ujar Reza dengan suara formal yang sangat datar, kembali ke setelan pabrik sebagai seorang direktur utama Baskara Group yang berkuasa.
"Selidiki setiap dokumen yang kamu miliki. Cari tahu kebenaran yang kamu agungkan itu sampai kamu puas."
Reza berjalan menuju pintu kaca ruangan, menghentikan langkahnya sejenak sebelum memutar knop pintu tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi ingat satu hal, Hani. Sekali dinding kepercayaan ini retak karena tuduhanmu, segalanya tidak akan pernah bisa kembali sama seperti dulu."
Brak.
Pintu kaca itu ditutup dengan pelan namun tegas, meninggalkan Hani yang langsung jatuh terduduk kembali di kursi kerjanya. Ruangan itu kembali sunyi, namun kesunyian kali ini terasa begitu menekan hingga membuat dada Hani sesak.
Hani membekap mulutnya sendiri, tangisnya pecah sejadi-jadinya di atas meja kerja yang berserakan. Di dalam laci mejanya, kertas-kertas bukti palsu yang dibawa oleh Tedi seolah tertawa penuh kemenangan.
Tanpa Hani sadari, sang dalang sejati di balik layar yang sesungguhnya. Orang yang menggerakkan Tedi untuk menghasutnya baru saja berhasil menancapkan duri perpecahan yang paling mematikan tepat di jantung hubungan Hani dan Reza. Permainan psikologis telah dimulai, dan Hani baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan dengan sukarela.