Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema besar
“A-A-Ayah...” ucap Yudha tergagap.
“Masuk,” perintah Keenan dingin.
Nada suaranya begitu rendah, tetapi justru terdengar lebih mengerikan daripada bentakan.
Yudha dan Tiara saling pandang sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Keduanya berniat masuk ke kamar masing-masing, berharap amarah sang ayah mereda dengan sendirinya. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Keenan kembali terdengar.
“Siapa yang menyuruh kalian masuk kamar?”
Langkah kedua remaja itu sontak terhenti.
“Ayah jangan salah paham dulu. Aku bisa jelaskan,” ujar Yudha berusaha terdengar tenang.
“Ayah sudah mendengar semuanya.”
Wajah Yudha langsung pucat.
“Yah, Ayah jangan salah paham,” Tiara ikut membujuk.
“Apa yang kalian lakukan sudah melewati batas!”
Suara Keenan menggelegar memenuhi ruang tamu.
Daffa yang sedang menonton televisi di ruang tengah tersentak kaget. Remote yang berada di tangannya hampir terjatuh. Dengan gugup, ia segera mematikan televisi. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat ayahnya semarah itu.
Di sisi lain rumah, Kinanti yang masih duduk di mihrab perlahan menutup mushaf Al-Qur'an yang sedang dibacanya. Keningnya berkerut heran.
“Bukankah masalah siang tadi sudah selesai? Lalu mengapa mas Keenan kembali marah?” gumamnya.
“Tante... Ayah lagi marah. Aku takut,” bisik Daffa saat Kinanti muncul dari arah ruang sholat.
Kinanti berjongkok lalu membelai rambut bocah itu.
“Tante antar ke kamar, ya.”
Daffa mengangguk pelan.
Setelah memastikan Daffa masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat, Kinanti berjalan menuju ruang tamu.
Suasana di sana terasa begitu mencekam.
Keenan berdiri dengan wajah tegang. Sementara Yudha dan Tiara berdiri membisu dengan kepala tertunduk.
“Mas...” panggil Kinanti bingung. “Kenapa Mas membentak mereka? Aku nggak mempermasalahkan kalau mereka membeli sate untuk makan malam.”
“Ini bukan soal sate,” jawab Keenan.
“Lalu soal apa?”
Keenan menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya.
“Pengamen itu... bukan teman Yudha.”
Kinanti mengernyit.
“Maksud Mas?”
“Dia orang yang dibayar Yudha untuk menjebakmu.”
Seakan disambar petir, Kinanti terpaku.
“Menjebakku?”
“Ini rencana mereka berdua.”
Keenan menunjuk ke arah Yudha dan Tiara.
Keduanya semakin menundukkan kepala.
“Ya Allah...” lirih Kinanti. Dadanya terasa sesak.
“Jadi…peristiwa siang tadi…”
“Rencana mereka sederhana,” lanjut Keenan. “Saat aku pulang ke rumah, aku menemukan laki-laki itu berada di kamar kita. Aku marah, salah paham, lalu mengusirmu. Bahkan mungkin langsung menjatuhkan talak.”
Mata Kinanti mulai berkaca-kaca.
“Sayangnya, rencana itu gagal karena Daffa lebih dulu memergoki laki-laki tersebut sedang tidur di kamar Yudha.”
Hening. Sunyi yang menyakitkan memenuhi ruang tamu.
Kinanti menatap kedua remaja itu.
Tatapan yang selama ini selalu lembut kini dipenuhi kekecewaan.
“Aku tahu...” suaranya bergetar. “Sejak aku datang ke rumah ini, kalian tidak pernah menyukaiku.”
Tak ada jawaban.
“Kalian tidak pernah menjawab saat aku mengajak bicara. Kalian tidak pernah mau menyentuh masakanku. Bahkan menyalami tanganku sebelum berangkat sekolah pun kalian enggan.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Aku memang cuma ibu sambung. Tapi aku juga manusia biasa yang punya perasaan. Kalian pikir hatiku tidak sakit diperlakukan seperti itu?”
Yudha dan Tiara tetap diam.
Tidak ada keberanian untuk menatap wajah perempuan yang selama ini mereka sakiti.
“Terus terang, aku sakit hati. Aku tersinggung. Aku kecewa.”
Kinanti mengusap sudut matanya.
“Tapi apa pernah aku membalas perlakuan buruk kalian?”
Keduanya membisu.
“Aku membalas semuanya dengan do’a. Dalam setiap sujudku, aku selalu meminta agar Allah menjaga kalian, memudahkan urusan kalian, dan menjadikan kalian anak-anak yang saleh dan salehah.”
Suara Kinanti mulai pecah.
“Tapi hari ini aku sadar... mungkin semua itu percuma.”
Dadanya terasa semakin sesak.
“Kalian bahkan ingin mengusirku dari rumah ini dengan cara yang begitu keji.”
Ruangan kembali hening.
Kinanti menundukkan kepala beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Baiklah. Kalau memang kalian tidak menginginkan kehadiranku di sini... aku akan pergi.”
Ucapan itu membuat Keenan tersentak.
“Kinan!”
Ia melangkah mendekat.
“Mas mohon, jangan pergi. Mas dan Daffa masih membutuhkanmu.”
Kinanti tersenyum pahit.
“Maaf, Mas. Tapi aku hanya manusia biasa. Aku juga punya batas kesabaran.”
“Kinan, Mas akan menghukum mereka.”
Kinanti menggeleng pelan.
“Mau seberat apa pun hukumannya, itu tidak akan mengubah apa pun. Karena penyebab semua masalah ini adalah aku.”
“Kinan...”
“Mas tidak perlu khawatir. Meski tinggal terpisah, aku tetap akan memasak untuk Mas dan Daffa. Aku juga akan tetap membantu mengurus rumah.”
Beberapa saat kemudian, Kinanti masuk ke kamar utama. Tak berselang lama ia keluar sambil membawa tas berisi pakaian dan barang-barang pribadinya.
“Kinan...” suara Keenan terdengar lirih. “Kamu sungguh-sungguh mau pergi?”
“Iya, Mas. Aku akan kembali ke tempat kosku yang dulu.”
“Kinan, jangan lakukan ini.”
Kinanti tersenyum tipis.
“Mas jangan menyalahkan mereka lagi. Mungkin memang aku bukan perempuan yang tepat untuk menggantikan posisi Ratih.”
Ia menghela napas panjang.
“Aku pergi. Assalamualaikum.”
“Kinan...”
“Kalau aku terus tinggal di sini, aku takut mereka justru semakin nakal dan melakukan hal nekad. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka karena kehadiranku.”
Saat itulah pintu kamar terbuka. Daffa keluar sambil menggendong tas sekolahnya.
Rupanya sejak tadi ia mendengar semuanya.
“Tante...”
Mata bocah itu memerah.
“Kalau Tante pergi, aku ikut.”
Kinanti langsung berjongkok dan mengusap kepalanya.
“Daffa, ini rumahmu.”
“Aku nggak mau tinggal di sini! Mas Yudha dan Mbak Tiara jahat! Aku mau ikut Tante!” seru Daffa. Air mata mulai membasahi pipinya.
“Tapi … d kos Tante sempit, nggak ada mainan.”
“Aku nggak butuh mainan. “Aku cuma butuh Tante Kinanti.” Daffa memeluk pinggang Kinanti erat-erat.
Kalimat itu membuat air mata Kinanti akhirnya jatuh.
Namun, tiba-tiba…
“Pelakor dan pengkhianat. Kalian berdua cocok tinggal bersama.” Suara Yudha terdengar dingin.
Semua menoleh. Dada Kinanti terasa seperti ditusuk. Ia menatap Yudha dengan mata yang dipenuhi luka.
“Demi Allah, aku bukan pelakor. Aku tidak pernah merebut ayah kalian. “Dan jangan pernah menyebut Daffa sebagai pengkhianat.”
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi.
Daffa langsung menggenggam tangan Kinanti.
“Ayo, Tante. Kita pergi.”
Kinanti memandang wajah bocah itu.
Di sana tidak ada kebencian, tidak ada prasangka. Yang ada hanyalah ketulusan.
Perlahan, ia mengangguk.
“Assalamualaikum."
Keenan hanya mampu berdiri mematung. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasa sebegitu tidak berdaya. Ia harus memilih: mengejar Kinanti, membiarkan Daffa pergi bersamanya. Atau mengambil keputusan paling berat sebagai seorang ayah: mengirim Yudha dan Tiara ke pondok pesantren agar mereka belajar tentang adab, tanggung jawab, dan akibat dari perbuatan mereka.
Tak lama kemudian, suara mesin sepeda motor tua milik Kinanti terdengar menyala.
Keenan masih berdiri di tempatnya saat melihat Kinanti dan Daffa perlahan meninggalkan rumah.
Sementara itu, di belakangnya, Yudha dan Tiara saling bertukar pandang lalu tersenyum puas. Keduanya merasa menang telah berhasil membuat Kinanti pergi meski bukan dengan cara yang mereka rencanakan.
Mahesa hemmmm ada something ini