Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Lila melotot, bisa-bisanya Ryan mengatakan hal itu, semalam saja dia hilang tanpa kabar. Kenapa dia bisa dengan percaya dirinya mengatakan kalau dia yang sudah menciumnya.
"Perkenalkan Bu, saya Ryan pacarnya Lila"
'WHAT!'
Bilang apa tadi Ryan? pacarnya? OMG! Lila bahkan tidak pernah menerima Ryan. Lila melirik sinis ke arah Ryan, sudah mengakui sesuatu yang tidak dilakukan, sekarang pakai acara bilang kalau dia pacarnya. Sebenarnya apa sih maunya Ryan? Bukankah dia pernah bilang kalau mereka temenan saja?
Lila akhirnya menarik lengan Ryan ke luar rumah, Lila mendorong tubuh Ryan dengan Kasar sambil menatap nya nyalang.
"Bicara apa kamu Ian? Kapan aku jadi pacar kamu? Jangan ngaco deh!"
"Kenapa Lil? Kamu lebih menyukai pak dosen tua itu dari pada aku? Aku lebih kaya dari dia, lebih tampan, lebih pintar juga, kenapa kamu memilih mengejarnya? bukankah dia juga nolak kamu? Jadi kenapa tidak menerimaku saja. Aku bersedia jadi pacar kamu Lila"
Lila menepis tangan Ryan yang mencoba menggenggam tangannya. Cinta tidak bisa di paksakan, cinta juga tidak butuh standar kwalitas atau pun kuantitas seseorang. Dia menyukai Mas Danu sejak kecil, dia menyukai mas Danu apa adanya. Dan cinta Lila tumbuh tanpa syarat.
"Cinta tidak perlu penjelasan Ryan, aku suka Mas Danu, meski kamu merasa jauh seribu kali lipat lebih baik dari dia, itu tidak akan merubah pandangan ku, kalau dia itu lebih baik dari kamu"
"Tapi dia nolak kamu Lil, Pak Danu juga sudah punya pacar di kampus"
"Aku tidak percaya! Lebih baik kamu pergi Ian"
"Baiklah kalau kamu tidak percaya, ini baju kamu yang tertinggal di toilet semalam. Maaf semalam Lily terus mengurungku di rumahnya"
"Ingat, Aku selalu mencintai kamu Lila"
Lila tidak perduli dengan kata cinta itu, satu-satunya kata yang ingin dia dengar adalah dari mulut Mas Danu, bukan lelaki lain.
*****
Flash back
Ryan masih ingat hari itu, hari di mana dia di kerumuni banyak gadis seangkatannya.
Dia berhasil mengalahkan kakak kelasnya dalam permainan basket. Wajah tampan dan status keluarganya. Menjadikan Ryan susah terbiasa di kagumi banyak gadis.
Setiap hari berbagai hadiah dia dapatkan dari para pengagumnya. Ryan begitu di kagumi, di elu-elu kan semua siswa. Namun siang itu, dia benar-benar di buat terpana dengan Lila. Gadis yang telat mendaftar masuk karena baru saja pulang dari liburan dengan Keluarganya.
Lila begitu cantik, wajahnya bersih tanpa polesan, wajah alaminya begitu membuat Ryan terpukau dan tidak bisa berpaling.
Siang itu, Ryan baru saja selesai bermain Basket, kelasnya kembali menang.
Para gadis menghampirinya dengan membawa berbagai minuman dan makanan. Termasuk Lila yang berjalan ke arahnya. Ryan sudah sangat percaya diri sekali, dia bahkan bersiap menerima kotak makanan yang dia bawa.
Namun saat tinggal satu meter, bukannya memanggil namanya, Lila justru menyentuh bahu wanita di depannya.
"Kak May"
Gadis bernama mau itu menoleh.
"Kotak makanan kita tertukar" Ucap Lila. Ryan mengamati dus wanita di depannya. Dia sempat melirik Tag nama di seragam yang di kenakan Lila.
Begitu kotak makanannya sudah kembali, Lila segera balik arah, Ryan bahkan tidak di lirik sama sekali oleh wanita itu.
"Lila?" Gumam Ryan.
Lila menoleh, dia menunjuk dirinya sendiri, memastikan kalau dia yang sedang di panggil.
"Ya kamu, kemari lah"
Lila berjalan melewati gadis-gadis penggemar Ryan.
"Ada apa kak?"
Tidak ada raut wajah kagum ataupun terpesona di mata Lila. Membuat Ryan penasaran.
"Sudah punya pacar?" Tanya Ryan pada Lila. Pertanyaan bodoh yang saat itu keluar begitu saja dari mulutnya, dia begitu penasaran dengan Lila, Untuk pertama kalinya ada gadis yang tidak menatapnya. Untuk pertama kalinya ada gadis yang tidak mengaguminya. Gadis seperti inilah yang dia cari, gadis yang tidak pernah melihat penampilan.
"Kakak nembak aku?"
Karena merasa malu, Ryan langsung menggeleng.
"Tidak, aku hanya mau minta kamu jadi pacar pura-pura aku agar gadis-gadis ini tidak mengerumuni ku lagi" Bisik Ryan di telinga Lila. Lila setuju, sejak saat itulah mereka dekat. Ryan diam-diam memendam rasa. Namun saat dia menembak gadis pujaan hatinya. Lila justru mengatakan kalau dia suka seorang dosen yang jauh lebih tua darinya. Jika saja Lelaki itu lebih baik darinya, Dia bisa menerima, tapi lelaki yang di kejar Lila ternyata dosen tak laku yang sudah empat kali gagal nikah. Tentu saja Ryan tidak terima. Dia sudah jauh-jauh kembali dari Amerika, meninggalkan beasiswanya.
Flashback off
******
Danu baru saja selesai mandi, di depan dia masih mendengar suara Lila yang sedang bergosip entah apa.
Perut Danu keroncongan, dia berniat ke dapur, Ibunya pasti sudah memasak masakan kesukaannya.
Danu membuka pintu kamar, dia langsung ke dapur tanpa menoleh ke depan.
"Ehem Sarapannya ada di sini Dan" Teriak Bu Marni.
Danu langsung berbalik arah, mau tak mau dia harus ke sana. Cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta minta di beri makan.
Danu duduk di samping ibunya, dia mengambil piring dan juga nasi, sayur asem dan ikan tongkol kesukaannya, tak lupa sambal terasi. Melihatnya saja Danu sudah ngiler. Danu mengambil semua yang ada di meja.
"Kamu kenapa masih di sini? Tidak kuliah?" Tanya Danu.
"Lila izin mas, Lila mau nemenin ibu di sini"
"Ngapain? Ibu sudah besar, tidak perlu di jaga"
Kepala Danu langsung di geplak ibunya pelan.
"Dasar lelaki tidak peka, pantas saja semua wanita yang mau nikah sama kamu kabur semua"
"Kog jadi ke situ sih Bu? memang benar kan ibu tidak butuh penjaga? Preman pasar saja takut sama Ibu"
"Itu beda, Lila itu kangen sama ibu, jadi dia mau bareng sama ibu seharian"
"Iya iya, izin saja. Danu yang nanti berangkat siang"
"Dasar anak tidak peka. Sudah jarang pulang, giliran ibu ke sini di tinggal"
Danu tidak mendengarkan ocehan ibunya, bagaimana dia mau pulang, kalau setiap pulang di tanyai calon istri? Kalau dia tidak membawa wanita, ibunya tiap malam mengajak nya keliling kampung bersilaturahmi dengan teman ibu yang punya anak gadis. Jadi Danu memilih tidak pulang sekalian.
"Sayang, benar tadi itu pacar kamu?"
'Uhuuuuuk uhuuuuk'
Danu langsung tersedak, memang tadi ada lelaki ke sini? Kenapa dia tidak tahu?
"Bukan Ibu, dia cuma teman kelas Lila aja. Lila tidak ada hubungan sama sekali sama dia"
"Terus dari mana datangnya tanda merah di tubuh kamu?"
Tanya Bu Marni, saat Danu bersembunyi di belakang tubuh Lila tadi, Bu Marni sedikit mendongak dan melihat tanda itu di balik baju yang di pakai Lila.
"Lila juga nggak tahu Bu...Mungkin demit"
Bu Marni langsung melirik tajam ke arah Danu, Danu pura-pura tidak melihat.
"Sepertinya Ibu tahu siapa demit nya" Gumam Bu Marni masih menatap putranya dengan tatapan tajam.