Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yan Diming
"Apa—apa maksud Anda, Yang Mulia?" Xu Aoshan sedikit tergagap. Ia mundur beberapa langkah dengan tubuh mulai gemetar.
Aura di tubuh Hong Maxing terasa menekan seperti gunung besar, memaksanya untuk berlutut dan tunduk. Namun Xu Aoshan menahan diri mati-matian. Ia tidak mau tunduk. Dan ia tidak akan pernah tunduk pada siapa pun, bahkan jika itu seorang kaisar sekalipun.
"Tidak perlu berpura-pura di depanku." Suara Hong Maxing terdengar dingin dan malas. "Aku sudah cukup bersabar dijadikan kambing hitam olehmu sejak tiga ratus tahun yang lalu. Bagaimana bisa aku dituduh meracuni Bai Muzhi jika pria dari suku ular hitam itu sendiri yang melakukannya tahun itu?"
Tatapan mata Hong Maxing menyipit tajam. "Tidakkah kamu ingin Xu Jiangyue menikah dan menjadi ratu Istana Shing? Tapi sebenarnya itu hanyalah kedok bagi pihak lain untuk melemahkan kekuasaan Bai Muzhi, bukan?"
"Anda—! Itu tidak masuk akal, Yang Mulia. Keluarga Xu tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Apa lagi berkolusi."
Hong Maxing tertawa pendek penuh ejekan. Ia memutar gelas araknya perlahan. "Kamu benar-benar tidak akan mengakuinya karena Yan Diming masih mendukungmu. Tapi sekarang Xu Jiangyue sudah mati, sehingga tidak mungkin keinginan ular itu terwujud."
Kali ini tatapan mata merahnya menjadi lebih dingin. "Kembalilah dan beri tahu ular hitam itu—selama aku masih hidup, mimpinya untuk membunuh Bai Muzhi tidak akan pernah terjadi."
"Yang Mulia ..." Xu Aoshan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
Menurutnya, percuma saja memberikan banyak alasan. Hong Maxing jelas sudah mengetahui terlalu banyak hal. Jika begitu, apa lagi yang perlu disembunyikan?
"Yang Mulia, suku ular lebih baik dalam memimpin Benua Changyu dan menjadi kaisar Kekaisaran Chaoming. Mereka jelas tidak seperti suku naga yang terlalu royal terhadap sesuatu."
Hong Maxing langsung mendengus jijik. Ia menatap Xu Aoshan dengan malas namun penuh ancaman.
"Lupakan saja. Aku tidak akan pernah tunduk pada ular itu, apalagi bersikap loyal. Pergilah dan urus saja pemakaman putrimu. Sangat tidak mungkin bagiku untuk tunduk pada suku ular."
Xu Aoshan mengepalkan tangannya di balik lengan jubahnya, hingga urat di punggung tangannya menonjol.
"Yang Mulia Raja Xing ... semoga Anda tidak menyesali keputusan hari ini."
"Mengancamku?" Hong Maxing tersenyum tipis.
Aura spiritualnya kembali menguar, membuat napas Xu Aoshan terasa berat. Wajah pria paruh baya itu semakin pucat. Pada akhirnya, ia tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal lebih lama dan hanya bisa pergi dengan langkah lebar penuh amarah terpendam.
Pintu ruangan tertutup keras setelah kepergiannya.
Ruangan itu akhirnya kembali tenang. Namun Hong Maxing sama sekali tidak merasa tenang. Ia kembali duduk santai dan menuangkan secangkir arak untuk dirinya sendiri. Setelah meneguknya, ia mendecakkan lidah karena kesal.
"Sialan, Yan Diming! Sejak kapan ambisi suku ular menjadi begitu besar?" gumamnya dingin. "Humph! Xu Aoshan pasti sudah gila, bahkan memperalat putrinya sendiri! Baik suku rubah maupun suku ular sama-sama penuh nafsu. Di mana mereka tidak royal?"
Kemudian, ia tiba-tiba mengerutkan kening dan berpikir lebih dalam.
"... Bukankah aku juga seekor rubah?" gumamnya lagi.
Hong Maxing mendadak terdiam. Ia menatap ruangan mewah penuh ornamen emas, permadani mahal, batu spiritual bercahaya, hingga cangkir arak giok putih di tangannya.
Ia menyadari sesuatu yang cukup memalukan. Dirinya sendiri adalah rubah yang paling boros dan suka menghamburkan uang di seluruh wilayah Hongbo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xu Aoshan yang dipenuhi kemarahan meninggalkan Istana Laifu dan kembali ke kediaman Adipati Xu. Baru memasuki halaman utama, ia sudah mendengar suara tangisan istrinya karena kematian Xu Jiangyue. Hal itu justru membuat kepalanya semakin sakit.
"Berhentilah menangis dan bersiaplah untuk menguburkan anak itu," katanya dingin.
"Suami, bukankah kamu menemui Raja Xing? Bagaimana hasilnya?"
Seorang wanita cantik bertelinga rubah putih menghapus air matanya dengan lengan baju. Matanya masih sembap karena terlalu lama menangis.
"Apa lagi? Raja rubah merah ekor sembilan itu benar-benar sombong! Dia bahkan tahu bahwa aku telah berpihak pada Yan Diming."
Wanita itu langsung terkejut. "... Bukankah kamu bilang masalah ini tidak diketahui siapa pun?"
"Siapa yang tahu dari mana rubah merah itu mengetahuinya." Xu Aoshan menggertakkan gigi. "Yang jelas, dia sengaja mempermainkan Yue'er-ku selama ini! Dasar jantan kurang ajar!"
Semakin dipikirkan, semakin besar amarah di hati Xu Aoshan. Namun di balik kemarahan itu, ada kecemasan yang perlahan tumbuh. Ia harus segera menemui Yan Diming dan membahas semuanya dengan hati-hati.
Xu Aoshan khawatir Hong Maxing akan memberitahu Bai Muzhi tentang kejadian tiga ratus tahun yang lalu. Jika rahasia itu terbongkar sepenuhnya, keluarga Xu bisa hancur dalam semalam.
Tanpa membuang waktu lagi, Xu Aoshan segera mengubah wujudnya menjadi seekor rubah putih berekor tujuh dan meninggalkan kediamannya secara diam-diam.
Tubuh rubah putih itu melesat cepat menembus malam. Ia pergi cukup jauh menuju tempat yang gelap dan sunyi, memasuki hutan lebat yang jarang dilalui siapa pun. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, sementara aura yin terasa semakin pekat.
Xu Aoshan terus bergerak hingga akhirnya tiba di sebuah lembah tersembunyi yang berada jauh di dalam hutan tersebut.
Lembah itu sunyi menyeramkan. Bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar. Seolah tempat itu sendiri menolak kehidupan.
Ada sebuah rumah besar yang cukup luas dan megah di lembah tersebut. Dinding rumah besar itu dipenuhi ukiran ular hitam yang saling melilit. Lentera menggantung di setiap sudut, memancarkan cahaya redup seperti mata makhluk hidup.
Kabut tipis menyelimuti area sekitar, sementara desisan ular terdengar berulang kali setiap kali rubah putih jelmaan Xu Aoshan melangkah melewati halaman yang lembap.
Barulah setelah mencapai pintu masuk rumah utama, Xu Aoshan mengubah wujudnya kembali menjadi manusia. Karena tidak ada penjaga di sana, ia langsung masuk sendiri.
Di ruangan utama yang luas dan remang-remang, seorang pria berambut ungu kehitaman duduk santai di kursi kekuasaannya. Rambut panjangnya menjuntai melewati paha, hampir menyentuh lantai.
"Tuan Yan," sapa Xu Aoshan dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepala.
Yan Diming—manusia setengah binatang dari suku ular hitam—menatapnya dengan sepasang iris mata ular berwarna ungu yang tajam dan dingin. Kuku-kuku tangannya yang panjang dicat hitam pekat, sementara hanfu hitam keunguannya berpola sisik ular terlihat begitu selaras dengan auranya yang suram dan berbahaya.
"Apa yang membuatmu datang ke tempatku di tengah malam seperti ini, Adipati Xu?" tanya Yan Diming malas.
Pria itu tampak sedang memperhatikan sebuah botol giok kecil di tangannya dengan penuh perhatian, seolah benda itu jauh lebih menarik daripada tamunya.
"Tuan Yan, ada sesuatu yang harus kulaporkan padamu." Xu Aoshan menarik napas dalam. "Rencana kita untuk mengambil alih Istana Shing sepertinya harus dikesampingkan lebih dulu."
Yan Diming akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya langsung berubah tidak senang. "Apa maksudmu?"
"Xu Jiangyue sudah meninggal. Putriku tewas dibunuh oleh Hong Maxing."
"Mati?" Yan Diming sedikit tertegun. "Bagaimana bisa putrimu tiba-tiba dibunuh olehnya?" Ia menyipitkan mata.
"Apa hubungannya dengan dia yang merayu Bai Muzhi tapi justru dibunuh oleh rajamu sendiri?"
Xu Aoshan sendiri tidak pernah benar-benar mengerti obsesi mendiang putrinya terhadap Hong Maxing. Namun ia tetap mengatakan apa yang diketahuinya.
"Hong Maxing tahu rencana kita dan tahu bahwa aku telah bekerja sama denganmu." Wajah Xu Aoshan tampak suram. "Dia bahkan menyampaikan pesan untukmu. Katanya, '... membunuh Bai Muzhi sangat tidak mungkin terwujud selama aku masih hidup'."
Yan Diming langsung menyeringai dingin. Ia benar-benar tidak suka mendengar perkataan itu. "Apakah dia benar-benar mengatakan hal seperti itu?"
"Ya. Tampaknya dia sudah mengetahui semuanya sejak lama. Termasuk soal dirinya yang dituduh meracuni Bai Muzhi pada tahun itu."
"Cih! Menyebalkan!"
Yan Diming mendecakkan lidah kesal. Ia segera menyimpan botol giok berisi racun itu ke dalam saku lengan hanfunya. Setelah itu, ia kembali menatap Xu Aoshan.
"Lalu bagaimana kondisi Bai Muzhi saat ini?"
"Kudengar dari Yue'er hari itu, dia sudah memiliki pasangan. Seorang gadis dari ras manusia. Tidak ada yang istimewa."
"Humph! Tidak mungkin jika tidak istimewa." Yan Diming mendengus dingin. "Bai Muzhi bukan tipe naga yang akan memilih pasangan sembarangan. Pasti gadis itu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan jiwanya."
Mata ular ungunya tampak semakin gelap. Luka pada jiwa Bai Muzhi seharusnya tidak mungkin pulih. Setidaknya ... tidak secepat ini. Itulah rencana yang telah ia dan orang itu susun sejak tiga ratus tahun lalu.
Siapa sangka Bai Muzhi justru menemukan cara lain untuk bertahan hidup?
Awalnya Yan Diming mengira naga putih itu hanya memelihara seekor kelinci spiritual untuk menjaga kondisi jiwanya tetap stabil. Namun sekarang, pria itu bahkan sudah memiliki pasangan.
Dan menurut instingnya, gadis itu jelas bukan manusia biasa seperti yang dikatakan Xu Aoshan.
Yan Diming mengeluarkan sebuah cermin bulat bergagang dari cincin penyimpanan spiritualnya. Permukaan cermin itu hitam mengilap sehingga bayangan dirinya bisa terlihat. Ia ingin melihat seperti apa penampilan gadis manusia tersebut.
"Wahai cermin dewa, tunjukkanlah padaku gadis manusia di Istana Shing ...," ucapan Yan Diming tiba-tiba terhenti dan menoleh pada Xu Aoshan. "Siapa nama gadis manusia itu?"
"Menurut informasi, namanya Li Yunru."
Yan Diming kembali fokus pada cermin spiritual di tangannya. "... Tunjukkanlah padaku gadis manusia di Istana Shing bernama Li Yunru."
Permukaan cermin langsung memancarkan cahaya terang yang cukup menyilaukan. Energi spiritual berputar di atas permukaannya sebelum perlahan membentuk bayangan samar.
Berharap bisa melihat wajah Li Yunru yang kemungkinan sedang tidur saat ini, yang muncul di cermin justru pantat seekor kelinci gemuk yang menyembul tepat ke arahnya.
Ekor pendek berbulu putih itu bahkan bergoyang kecil di depan permukaan cermin.
"...."
Wajah Yan Diming menghitam karena marah. Urat di dahinya sampai terlihat jelas.
"Dasar kelinci gendut!!" bentaknya setengah mati. "Apakah dia memang diciptakan untuk membuatku marah sampai mati?!"
Mengapa setiap kali dia menggunakan cermin spiritual itu untuk mengintai Istana Shing, yang selalu muncul justru pantat kelinci gemuk itu?
......................
Sementara itu ....
Di dalam Istana Shing yang jauh di utara, Ruu yang sedang tidur di sarangnya mendadak bersin tiga kali berturut-turut.
"Hah? Siapa yang memujiku malam-malam begini?" gumamnya percaya diri.
......................
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih