NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20. Semakin curiga

Habibah nyaris menjatuhkan potongan telur dadarnya saat mendengar pertanyaan tajam Rayhan. Ia segera menarik napas dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa ingin melompat keluar.

"Ah... ini, Ray, mungkin sisa lemas sedikit saja karena baru sembuh. Ibu baik-baik saja kok," jawab Habibah sambil memaksakan diri tersenyum dan menggenggam sendoknya lebih kuat agar tidak terlihat gemetar lagi. "Lagipula mungkin Ibu sedikit kepikiran karena dua bulan lagi kalian sudah mau sah. Rasanya waktu cepat sekali berlalu."

Jawaban itu cukup untuk membuat Ameera tersenyum haru, tapi Rayhan hanya mengangguk pelan meski matanya tetap menatap sang ibu dengan sorot yang penuh tanda tanya.

Melihat suasana yang masih terasa berat, Rayhan mencoba mengalihkan pembicaraan, namun pertanyaannya justru membawa ingatan mereka kembali ke masa lalu yang jauh.

"Iya ya, Bu... andai saja Kakek dan Nenek dari Ibu masih ada, atau orang tuanya almarhum Ayah Baskoro. Pasti pernikahan kami akan terasa lebih lengkap kalau didampingi mereka," celetuk Rayhan pelan.

Habibah terdiam sejenak, sorot matanya melembut mengenang masa silam.

"Kakek dan nenek kamu sudah lama tiada, Ray. Mereka meninggal tidak lama setelah kamu lahir. Mereka sempat menggendongmu sebentar," kenang Habibah. "Mereka orang-orang yang sangat teguh memegang prinsip. Ibu belajar menjadi wanita kuat ya dari melihat bagaimana almarhumah Nenekmu membesarkan kami."

Imam yang mendengarkan penjelasan itu mendadak teringat masa mudanya. Ia tahu persis bagaimana kerasnya orang tua Habibah dulu, terutama sang ayah yang menjadi salah satu alasan mengapa hubungan mereka di masa muda dulu berakhir penuh luka dan jalan buntu.

"Lalu kalau orang tua almarhum Ayah Baskoro bagaimana, Bu?" tanya Ameera ingin tahu.

"Kakek dan Nenek dari pihak Ayah-nya Rayhan juga sudah meninggal belasan tahun lalu, sebelum Ayah Baskoro menyusul mereka," lanjut Habibah tenang. "Dulu mereka tinggal di kampung, dan setelah mereka tiada, mendiang ayah Baskoro adalah anak tunggal yang membawa semua tanggung jawab itu ke kota. Itulah kenapa saat mendiang Ayah Baskoro pergi, Ibu merasa dunia ini mendadak sangat sepi, karena kita tidak punya banyak saudara dekat lagi yang tersisa di sini."

Mendengar kata "sepi" dan "sendirian" yang diucapkan Habibah, Imam merasa dadanya kembali sesak. Ia bisa membayangkan bagaimana Habibah harus mengurus jenazah kedua orang tuanya, lalu jenazah suaminya, hampir semuanya dilakukan dalam ketegaran yang dipaksakan.

"Setidaknya sekarang kita sudah berkumpul jadi satu keluarga, Tante," ujar Ameera tulus sambil menyentuh tangan Habibah. "Ada Papa, ada Ameera. Tante nggak akan merasa sepi lagi."

Habibah hanya bisa tersenyum getir mendengar kalimat Ameera. Kalimat itu benar, namun di saat yang sama terasa seperti sembilu bagi hatinya yang baru saja nyaris "khilaf" dengan ayah dari gadis baik hati di depannya ini.

Rayhan memperhatikan ekspresi ibunya dan Imam secara bergantian. Ada sebuah tarikan garis wajah yang sama di antara keduanya, garis kesedihan yang seolah tersambung oleh benang yang sama. Kecurigaan Rayhan tidak luntur, ia justru mulai merasa bahwa masa lalu ibunya dan Imam mungkin jauh lebih rumit daripada sekadar hubungan "calon besan" yang baru saling mengenal.

*

*

Begitu sarapan yang penuh ketegangan itu selesai, Rayhan dan Ameera segera bergerak cekatan merapikan barang-barang mereka. Suara resleting tas yang ditarik dan gemerincing kunci mobil menjadi penanda bahwa waktu keberangkatan telah tiba.

Jika kemarin pagi Imam memilih menunda keberangkatannya karena diselimuti rasa ragu dan khawatir, maka pagi ini keputusannya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Melihat bagaimana tajamnya tatapan menyelidik Rayhan saat di meja makan tadi, ditambah rasa bersalah yang masih menggerogoti dinding dadanya, Imam tidak berani lagi mengambil resiko. Ia takut. Ia benar-benar takut jika ia berlama-lama di rumah ini, hatinya akan kembali goyah, kewarasannya akan kembali runtuh, dan keegoisannya sebagai pria dewasa akan kembali mengambil alih.

"Han, Meer, Papa juga berangkat bareng kalian sekarang," ujar Imam tiba-tiba, suaranya sengaja dibuat tegas sembari menyambar tas kerja dan kunci mobilnya di atas meja ruang tamu.

Ameera yang sedang membetulkan letak jilbabnya di depan cermin menoleh dengan wajah agak terkejut. "Eh, Papa jadi berangkat jam segini? Katanya kemarin mau nunggu jam ganjil-genap selesai dulu?"

"Nggak apa-apa, Papa lewat jalan tikus saja nanti. Banyak berkas di kantor yang harus Papa tandatangani pagi ini. Nggak bisa ditunda," dalih Imam cepat, bahkan tanpa sadar ia menghindari kontak mata dengan anaknya sendiri.

Rayhan tidak berkomentar banyak. Ia hanya mengangguk pelan, namun sepasang matanya yang elang kembali menangkap kegelisahan yang coba disembunyikan oleh sang calon mertua.

Sebelum melangkah keluar pintu, Ameera dan Rayhan bergantian mencium punggung tangan Habibah yang berdiri di ambang pintu koridor dapur.

"Ibu, Rayhan berangkat ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon," pesan Rayhan lembut, meremas pelan jemari ibunya.

"Iya, Ray. Hati-hati di jalan," jawab Habibah, suaranya pelan dan mengalun datar.

Kini giliran Imam yang berada di urutan paling belakang. Langkah kaki pria paruh baya itu tertahan sejenak tepat dua langkah di hadapan Habibah. Jarak yang kemarin pagi nyaris mereka pangkas habis, kini terasa sejauh ribuan kilometer karena dinding tak kasat mata yang mereka bangun masing-masing.

Imam tidak berani menatap wajah Habibah secara penuh. Ia hanya melemparkan pandangannya ke arah bahu wanita itu, lalu mengangguk sangat kaku.

"Saya... berangkat dulu, Bu Habibah," ucap Imam formal, menggunakan panggilan yang sengaja dibuat sangat asing dan berjarak demi menegaskan kembali batas di antara mereka di depan anak-anak.

Habibah meremas ujung khimarnya di balik lipatan tangan. Dadanya terasa nyeri mendengar panggilan itu, namun ia tahu ini adalah hal terbaik yang harus mereka lakukan. "Iya, Pak Imam. Semoga lancar urusannya di kantor."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Imam langsung berbalik badan dan melangkah lebar-lebar keluar dari pintu rumah kontrakan. Langkah kakinya begitu terburu-buru, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari sebuah kejaran badai yang siap menenggelamkannya.

Begitu masuk ke dalam kabin mobil SUV miliknya, Imam langsung mengunci seluruh pintu dari dalam. Ia melempar tas kerjanya ke kursi penumpang dengan kasar, lalu mencengkeram kemudi erat-erat.

Imam menyandarkan dahinya di atas setir mobil, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dalam rumah. Jantungnya masih berdegup kencang karena ketakutan. Ia takut bukan karena jalanan yang macet, melainkan takut pada dirinya sendiri yang ternyata masih begitu rapuh setiap kali berada di dekat Habibah.

Dari kaca spion, ia melihat mobil Rayhan perlahan bergerak mundur keluar dari halaman. Imam segera menyalakan mesin mobilnya, bertekad untuk menenggelamkan seluruh sisa hari ini ke dalam tumpukan pekerjaan kantor, berharap kesibukan duniawi bisa mengunci rapat-rapat asmara masa lalu yang kini kian membahayakan masa depan anak mereka.

*

*

Mobil Rayhan meluncur membelah kepadatan lalu lintas, namun suasana di dalam kabin terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Radio sengaja tidak ia nyalakan. Jemarinya sesekali mengetuk setir dengan irama yang tak beraturan, sementara matanya lurus menatap jalanan, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.

Ameera, yang sejak tadi sibuk memeriksa jadwal di ponselnya, akhirnya menyadari perubahan sikap calon suaminya. Ia menoleh, menatap profil samping wajah Rayhan yang tampak mengeras dengan dahi yang sedikit berkerut.

"Yang?" panggil Ameera lembut.

Rayhan tidak menyahut. Ia seolah tenggelam dalam analisanya sendiri.

"Rayhan?" Ameera mengulanginya, kali ini sambil menyentuh lengan Rayhan pelan.

Rayhan tersentak kecil, lalu menoleh sekilas ke arah Ameera sebelum kembali fokus ke jalanan. "Eh, iya, Meer? Kenapa?"

"Kamu yang kenapa," sahut Ameera dengan nada menyelidik. "Dari tadi keluar pagar rumah sampai sekarang, kamu diam terus. Biasanya kan kamu paling cerewet kalau kita lagi di mobil, bahas lagu atau bahas kerjaan. Kamu lagi ada masalah di kantor? Atau masih kepikiran kondisi Ibu?"

Rayhan terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia harus mengutarakan kecurigaannya. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Ameera, apalagi ini menyangkut ayah calon istrinya sendiri. Namun, nalurinya sebagai seorang anak sekaligus penulis skenario dalam kehidupan nyata tidak bisa dibungkam begitu saja.

"Meer..." Rayhan memulai, suaranya rendah dan hati-hati. "Apa kamu tidak merasa ada yang aneh pagi ini? Atau sejak kemarin malam, waktu Papa kamu belum pulang?"

Ameera mengernyitkan dahi. "Aneh? Ya aneh sih Papa telat pulang, tapi kan alasannya masuk akal, Papa ke masjid karena macet. Memangnya kenapa?"

Rayhan menghembuskan napas panjang lewat hidung. "Bukan cuma itu. Coba kamu perhatikan sikap Ibu dan Papa tadi saat sarapan. Mereka... tidak seperti biasanya. Ibu terlihat sangat tegang, bahkan salah tingkah waktu mau ambil sambal. Dan Papa... Papa tadi memanggil Ibu dengan sebutan 'Bu Habibah' dengan nada yang sangat, sangat formal. Seperti dua orang asing yang baru bertemu di kantor."

Ameera tertawa kecil, meski ada sedikit keraguan di matanya. "Ya wajarlah, Yang. Mungkin mereka merasa sungkan karena tinggal satu atap tapi belum sah jadi keluarga. Kan Papa memang orangnya sangat menjunjung tinggi tata krama."

"Ini beda, Meer," potong Rayhan dengan nada serius. "Itu bukan cuma sungkan. Rasanya seperti ada tension yang kuat sekali di antara mereka. Aku mengenal Ibu seumur hidupku. Ibu itu wanita yang sangat tenang, tapi tadi pagi... Ibu terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Dan Papa kamu... dia seperti sedang melarikan diri dari rumah itu tadi."

Ameera terdiam. Ia mulai memutar kembali memori sarapan tadi. Bayangan ayahnya yang terburu-buru berangkat dan ibunya Rayhan yang gemetar saat memegang sendok mulai berputar di kepalanya.

"Maksud kamu... mereka ada masalah?" tanya Ameera lirih. "Atau Papa melakukan kesalahan yang bikin Tante Bibah tersinggung waktu mereka di rumah berdua kemarin?"

Rayhan menggeleng perlahan, matanya menajam menembus kaca depan. "Aku belum tahu, Meer. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu kepalaku. Tatapan mata Papa kamu ke Ibu... itu bukan tatapan mata seorang calon besan yang kasihan melihat orang sakit. Itu tatapan mata pria yang... entahlah, sulit aku jelaskan."

Mobil itu kembali sunyi. Ameera kini ikut termenung, merasakan kegelisahan Rayhan mulai menular padanya. Di tengah rencana pernikahan mereka yang tinggal hitungan minggu, kecurigaan Rayhan terasa seperti awan mendung yang tiba-tiba muncul di langit yang cerah.

******

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!