menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 : kunjungan ke dua dan keheningan yang lembut
Hari baru baru saja tiba di Kerajaan Cahaya. Sinar matahari pagi menyinari seluruh istana, menerangi setiap sudut ruangan dan taman yang dipenuhi bunga-bunga. Namun bagi Raja Xavier, hari ini terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Semangatnya membara, hatinya berdebar kencang karena ia tahu, hari ini ia akan kembali menemui orang yang selalu ada dalam pikiran dan hatinya.
Sejak matahari baru saja terbit, Xavier sudah bersiap dengan segala sesuatu yang ia butuhkan. Ia pergi ke taman istananya sendiri, tempat yang paling indah dan penuh warna, dan memetik bunga-bunga pilihan yang tumbuh di sana. Ada bunga mawar merah yang melambangkan cinta yang tulus, bunga lili putih yang berarti kesucian, bunga matahari yang melambangkan kesetiaan, dan berbagai jenis bunga lain dengan warna-warna cerah yang menyejukkan pandangan. Ia menyusunnya dengan hati-hati, membuat rangkaian bunga yang terlihat begitu indah dan penuh makna.
Bunga-bunga ini bukan sekadar hadiah biasa baginya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa membawa sedikit cahaya dan keindahan dari dunianya ke dalam dunia yang selama ini gelap dan sunyi tempat Elara tinggal. Ia ingin menunjukkan bahwa kehadirannya bisa membawa perubahan, sama seperti yang sudah mulai terlihat pada danau dan alam sekitarnya.
Setelah semuanya siap, Xavier membentangkan sayap cahayanya yang indah dan segera berangkat. Perjalanan kali ini terasa lebih singkat dan ringan, karena ia sudah tahu jalan, dan hatinya dipenuhi dengan rasa rindu yang mendalam.
Tak lama kemudian, ia tiba kembali di wilayah Kerajaan Kegelapan. Segalanya terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Jalan-jalan yang ia lewati masih dihiasi bunga-bunga, namun kini mereka tumbuh lebih subur dan berwarna lebih terang. Desa yang tadinya terasa sunyi kini terasa lebih damai, seolah ada napas kehidupan yang mulai mengalir di sana. Dan saat ia melewati jembatan, ia melihat Danau Cahaya Bulan yang kini tetap mempertahankan keindahannya—airnya tetap jernih dan berwarna biru muda, dihiasi terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang dengan riang. Lunaris juga masih ada di sana, menyambutnya dengan senyum lembut dan mengucapkan selamat datang kembali.
"Selamat datang kembali, Raja Xavier," ucap Lunaris dengan suara yang ceria. "Kau datang lebih cepat dari yang kami duga."
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," jawab Xavier sambil tersenyum. "Ada hal yang selalu menarik hatiku ke sini."
Lunaris mengangguk mengerti. "Teruslah berjalan, jalan sudah terbuka lebar untukmu. Semoga harimu menyenangkan."
Xavier melanjutkan langkahnya, melewati gerbang-gerbang dan para penjaga yang kini menyambutnya dengan rasa hormat dan penerimaan yang tidak pernah ada sebelumnya. Bahkan Ourobort yang dulu bersikap curiga dan keras, kini hanya menatapnya dan mengangguk sebagai tanda izin masuk.
Setelah melewati semua jalan yang ia kenal, akhirnya Xavier sampai di depan pintu masuk Aula Keheningan, ruangan tempat singgasana Elara berada. Ia membuka pintu besar itu perlahan, dan melangkah masuk dengan langkah yang lembut dan hati-hati.
Begitu ia masuk, matanya langsung tertuju ke ujung ruangan, di mana singgasana kristal hitam berdiri megah. Dan di sana, terlihat sosok yang ia cari sedang duduk tenang di atasnya.
Elara sedang tertidur.
Ia duduk dengan posisi yang anggun dan tegak, seolah ia bisa tidur dalam keadaan apa pun. Wajahnya yang pucat dan cantik itu terlihat lebih damai dan tenang dari sebelumnya. Tidak ada lagi kerutan di dahinya, tidak ada lagi tatapan yang dingin dan curiga yang biasa ia tunjukkan saat terjaga. Saat tidur, ia terlihat begitu lembut, begitu rapuh, dan begitu manusiawi—sesuatu yang jarang bisa dilihat orang lain.
Rambut hitam panjangnya terurai jatuh menutupi bahu dan lengan, berpadu serasi dengan gaun gelapnya yang mengalir ke bawah. Cahaya dari kristal-kristal di langit-langit menerangi wajahnya, membuatnya terlihat seperti patung yang terbuat dari kristal dan cahaya, indah namun terasa begitu jauh.
Di kedua sisi singgasana, berdiri tegak kedua perajurit bayangan raksasa. Mereka tetap dalam posisi diam dan kaku seperti biasa, namun dari sikap mereka terlihat jelas bahwa mereka tetap waspada, siap melindungi tuannya kapan saja jika ada bahaya yang datang. Mereka tidak bergerak sedikit pun, seolah bagian dari bangunan itu sendiri, namun kehadiran mereka terasa kuat dan menenangkan.
Dan yang paling menarik perhatian Xavier adalah Gargoyle.
Naga kristal kesayangan Elara itu berbaring tepat di depan singgasana, di antara kaki-kaki tangga. Tubuhnya yang besar terlihat tenang dan damai. Namun yang membuatnya terlihat sangat melindungi adalah kedua sayapnya yang lebar terentang ke atas dan ke samping, menutupi bagian punggung dan bahu Elara yang sedang tidur. Seolah-olah sayap itu menjadi perisai, menahan segala sesuatu yang bisa mengganggu atau menyakiti sang Ratu. Kepala Gargoyle terbaring di atas kakinya sendiri, matanya terpejam rapat, namun telinganya tetap tegak—menunjukkan bahwa meskipun ia terlihat tidur, ia tetap mendengar dan merasakan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.
Pemandangan itu begitu indah dan menyentuh hati. Semuanya menunjukkan betapa dicintainya Elara, betapa dilindunginya ia oleh semua makhluk di sekitarnya. Dan itu juga menunjukkan betapa kesepiannya ia selama ini—karena satu-satunya orang yang bisa ia percayai dan yang selalu ada untuknya hanyalah makhluk-makhluk ini, bukan sesama manusia.
Xavier berdiri diam di tempatnya, tidak bergerak lebih jauh. Ia tidak ingin mengganggu ketenangan dan tidurnya. Ia tahu, Elara jarang bisa tidur dengan tenang selama ribuan tahun ini, karena hatinya selalu gelisah dan penuh rasa takut serta curiga. Jadi melihatnya bisa tidur dengan damai seperti ini adalah hal yang paling membahagiakan baginya.
Ia berdiri di sana sambil memegang rangkaian bunga yang ia bawa, menatap sosok Elara dengan tatapan yang penuh cinta dan rasa sayang. Ia melihat bagaimana Gargoyle sesekali menggerakkan sayapnya sedikit, memastikan bahwa Elara tetap terlindungi dengan baik. Ia melihat bagaimana kedua perajurit bayangan tetap berdiri dengan setia, tidak pernah beristirahat sedikit pun.
Di dalam hatinya, Xavier bersyukur bahwa Elara memiliki makhluk-makhluk yang begitu setia dan mencintainya. Namun ia juga bertekad, ia akan menjadi orang yang bisa memberikan sesuatu yang berbeda dari yang mereka berikan. Ia akan menjadi orang yang bisa berbicara dengannya, yang bisa berbagi perasaan dengannya, yang bisa membuatnya tertawa dan merasakan kebahagiaan yang selama ini tidak ia ketahui.
Waktu berjalan perlahan. Ruangan itu tetap hening, hanya terdengar suara napas yang halus dari Elara dan makhluk-makhluk di sekitarnya. Suasana terasa damai dan hangat, jauh berbeda dari suasana yang dulu pernah ada di sini.
Xavier tetap berdiri di tempatnya, menunggu dengan sabar. Ia bersedia menunggu selama apa pun yang diperlukan, hanya untuk bisa melihat wajah damai sang Ratu, dan untuk bisa bertemu dengannya saat ia terjaga nanti. Baginya, melihatnya dalam keadaan seperti ini saja sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Dan sambil menunggu, ia berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan melakukan segala cara untuk memastikan bahwa kedamaian dan ketenangan yang terlihat saat ini akan selalu ada dalam hidup Elara, selamanya. Bahwa ia tidak akan pernah lagi hidup dalam kesunyian dan rasa takut, karena ia akan selalu ada di sisinya, melindunginya, mencintainya, dan menemaninya sampai akhir waktu.
Bersambung...