Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Masa Lalu Keluarga Su Ying.
Seorang murid senior menghentikan gerakannya dan menghampiri untuk memberi hormat. Pedangnya masih di genggam erat, namun kepalanya menunduk dalam.
"Guru" ucapnya dengan nada khidmat kepada Guan Haoran yang berjalan paling depan.
"Teruskan latihannya," jawab Guan Haoran. Suaranya tidak keras, namun mengandung ketegasan yang mutlak, mencerminkan wibawa seorang guru besar yang tidak ingin diganggu.
Murid senior itu menjura sekali lagi, namun matanya tak sengaja melirik ke arah Zhao Yun. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah hawa dingin yang menusuk tulang, seolah-olah maut sedang berjalan di samping gurunya. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, langkah Guan Haoran sudah membawanya menjauh.
Mereka tiba di sebuah beranda luas yang menghadap langsung ke arah air terjun kecil di belakang kediaman. Di sana, sebuah meja batu bundar telah di siapkan.
"Duduklah," Guan Haoran mempersilahkan.
Semuanya duduk, kecuali Zhao Yun. Ia memilih untuk berdiri menjauh dari mereka. Dari sikapnya, ia tidak ingin terlibat dengan masalah manusia. Tujuannya disini hanyalah menjaga 'mangsanya' Su Ying. selebihnya, dunia bisa hancur dan ia tidak akan peduli.
Guan Haoran melirik ke arah Zhao Yun sejenak, lalu kembali menatap orang-orang di depannya. Matanya tidak menunjukkan kegusaran terhadap sikap acuh tak acuh pria berjubah hitam itu. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban bertahun-tahun, ia mulai menceritakan masa lalu keluarga Su Ying.
"Semua itu di mulai dua puluh tahun yang lalu," ucap Guan Haoran, membuka gerbang masa lalu. Ia mengisahkan peristiwa yang menimpa ayah dan ibu Su Ying dengan raut wajah yang di selimuti kesedihan, bercampur kerinduan yang mendalam akan sahabat lama yang telah tiada.
"Istana Hua Gu di masa itu memiliki seorang panglima jujur yang sangat ahli dalam strategi perang. Dia adalah ayahmu, Su Yan. Seorang pahlawan yang akhirnya dikhianati oleh raja kejam yang sekarang berkuasa." lanjut Guan Haoran.
Suasana di beranda itu mendadak memanas. Raut wajah Guan Haoran berubah menjadi merah padam saat menyebut nama penguasa Hua Gu saat ini. "Dia, Bei Tieshan...dialah orang yang telah membunuh ayahmu."
Hening sejenak menyergap. Suara air terjun di belakang mereka seolah berubah menjadi deru ribuan kuda perang dalam ingatan Guan Haoran.
"Bei Tieshan bukan hanya merebut takhta dari saudaranya, dia juga merebut kehormatan ayahmu," Guan Haoran menyambung, suaranya kini bergetar karena amarah yang dipendam selama dua dekade. "Ia menuduh Su Yan telah melakukan pengkhianatan agar punya alasan untuk menghabisi seluruh pengikut setia raja sebelumnya."
Guan Haoran menatap ke arah air terjun, seolah melihat bayangan api yang berkobar dua puluh tahun silam. "Berkat bantuan bibi Wu, akhirnya aku, ayahmu dan ibumu bisa meloloskan diri dari kepungan pasukan istana. Di malam yang berdarah itu, ia mempertaruhkan nyawanya untuk menyusup ke kediaman panglima. Ia membocorkan rencana jahat Bei Tieshan dan para sekutunya sebelum pedang algojo sempat menyentuh leher kami."
"Namun naas". Guan Haoran terhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, dadanya naik-turun seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk mengulang kembali lembaran masa kelam yang ingin ia lupakan. "Ibumu...harus tewas demi melindungiku. Seharusnya akulah orang yang harus tewas di malam itu."
Suasana di beranda itu mendadak menjadi lebih dingin daripada es di puncak gunung. Su Ying merasa seluruh sendinya membeku, seolah darah dalam tubuhnya berhenti mengalir.
"Ayah...ibu..." bisik Su Ying nyaris tak terdengar. Hanya dua kata itu yang mampu terucap dari bibirnya yang bergetar, diiringi air mata yang jatuh tak tertahankan. Setiap tetes air mata itu membawa kembali kepingan ingatan yang selama ini ia rindukan.
Guan Haoran menatapnya dengan tatapan yang berat. Di balik wajahnya yang tegar, terpancar rasa bersalah yang mendalam dan belas kasihan yang tak terkatakan. Ia merasa seolah-olah duka yang di pikul gadis di depannya adalah hutang nyawa yang gagal ia bayar dua puluh tahun silam.
Hening sejenak. Hanya suara gemericik air dan Isak tangis tertahan yang mengisi beranda itu.
Guan Haoran mengulurkan tangannya yang kasar dan gemetar, hendak menyentuh bahu Su Ying, namun ia menariknya kembali dengan cepat. Ia merasa tangannya terlalu hina untuk menyentuh gadis itu. Tangan yang ia anggap telah gagal melindungi sahabatnya, tangan yang memikul hutang nyawa yang tak terbayar kepada orang tua Su Ying.
"Aku akan menebus hutang nyawa ini," ucap Guan Haoran dengan nada suara rendah namun sarat dengan kemurkaan yang tertahan.
"Selama dua puluh tahun aku telah mempersiapkan segalanya. Aku tidak akan mati sebelum melihat Bei Tieshan dan para pengkhianat itu tersungkur di tanah yang mereka kencingi."
...****************...