NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpilih

Ruangan audisi mendadak hening.

Lampu putih yang terang membuat setiap gerakan terasa lebih jelas.

Mireya berdiri di tengah ruangan.

Tangannya menggenggam naskah, lalu perlahan ia meletakkannya di meja kecil di samping.

Matanya terangkat.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi seperti Mireya yang gugup di ruang tunggu.

Kini ia adalah Aurelia Veyna.

Sunyi.

Bahkan salah satu juri yang tadi sibuk menulis mulai menghentikan penanya.

Sutradara menyandarkan tubuhnya.

“Silakan. Adegan Gerbang Utara.”

Mireya menarik napas pelan.

Lalu melangkah satu langkah ke depan.

Angin malam terasa dingin.

Gaun panjang wanita itu berkibar lembut.

Ia berdiri tepat di depan pintu gerbang batu yang menjulang.

Di hadapannya—

Kaizar Renath sudah mengenakan jubah perang.

Tatapannya tajam.

“Aku sudah bilang, menyingkirlah.”

Suara Mireya turun menjadi lembut, namun penuh tekanan.

“Jangan pergi.”

Hening.

Nada itu bukan nada memohon.

Bukan juga nada seorang wanita cemburu.

Melainkan nada seseorang yang menahan sesuatu yang jauh lebih besar.

“Aku sudah mengubah jalurnya.”

Suara Kaizar terdengar dingin.

“Aku tidak akan melewati jalan yang sama.”

Mireya mengangkat wajah.

Matanya tenang.

Terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat suasana menjadi berat.

“Jalannya boleh berubah.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menatap lurus ke depan, seolah menembus seseorang yang tidak terlihat.

“Namun malam ini…”

“…langkahmu akan tetap meninggalkan sesuatu yang tak bisa kau ambil kembali.”

Ruangan audisi mendadak makin sunyi.

Salah satu juri mengangkat kepala.

Penulis novel yang tadi tampak jengah kini menatap Mireya tanpa berkedip.

Kaizar dalam adegan itu tertawa kecil.

“Kalimatmu selalu aneh.”

“Kalau bukan jalan yang sama, lalu apa lagi yang kau takutkan?”

Mireya menunduk sebentar.

Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di tenggorokan.

Lalu ia tersenyum tipis.

Senyum yang aneh.

Bukan senyum bahagia.

Bukan pula senyum sedih.

Melainkan senyum seseorang yang sudah terlalu sering melihat hasil yang sama.

“Takdir tidak selalu datang dari arah yang sama.”

Kalimat itu meluncur pelan.

“Panah yang seharusnya datang dari depan…”

“…bisa jatuh dari langit.”

Matanya terangkat lagi.

“Langkah yang kau ubah ke kiri…”

“…mungkin justru membawamu tepat ke tempat yang seharusnya kau hindari.”

Di meja juri, penulis novel itu perlahan menegakkan tubuhnya.

Jemarinya yang tadi menekan pelipis kini terlepas.

Tatapannya berubah.

Tertarik.

Benar-benar tertarik.

dia menangkap inti Aurelia…

Dalam hati, ia hampir tidak percaya.

Bahkan banyak aktris sebelumnya hanya memainkan sosok wanita dingin yang dibenci.

Tapi gadis di depan ini— mengerti bahwa ketakutan Aurelia bukan pada musuh.

Melainkan pada sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk.

Mireya melanjutkan adegan.

Suaranya lebih pelan kali ini.

“Kalau malam ini kau tetap pergi…”

“…maka saat fajar datang, sesuatu akan berubah.”

Ia berhenti.

Tatapannya goyah sesaat.

Untuk pertama kalinya emosi retak di wajahnya.

“Dan aku…”

“…tidak tahu apakah kali ini aku masih bisa menyelamatkanmu.”

HENING.

...****************...

Di novel asli, kematian Aurelia memang terlihat… nyaris konyol.

Setidaknya begitu yang para pembaca lihat.

Saat perang besar di Gerbang Utara, Kaizar sudah mengubah semua strategi.

Ia tidak lagi mengambil jalur yang sama seperti kehidupan sebelumnya.

Ia memindahkan pasukan.

Mengganti formasi.

Bahkan sengaja menunda waktunya berangkat.

Secara logika, tragedi malam itu seharusnya tidak terjadi.

Dan memang—

serangan yang diperkirakan tidak pernah datang.

Tidak ada panah dari depan.

Tidak ada tombak roh dari sisi kiri.

Tidak ada pembunuh bayangan yang mengincarnya.

Para pembaca bahkan sempat berpikir:

...lihat kan?

...Aurelia cuma terlalu paranoid

Namun justru saat semuanya tampak aman—

langit yang tadinya tenang tiba-tiba retak.

Batu kultivasi inti yang selama ini disegel di atas gerbang meledak. Yang aslinya adalah sebuah pajangan.

Ledakan itu terlalu cepat.

Bahkan Kaizar yang sudah hidup berkali-kali pun terlambat menyadarinya.

Dan di saat itulah—

Aurelia bergerak.

Bukan berlari menjauh.

Bukan melindungi dirinya sendiri.

Ia justru melangkah maju.

Masuk ke titik ledakan.

Dengan tubuhnya sendiri, ia mengubah arah pecahan inti batu itu.

Pecahan yang seharusnya menembus jantung Kaizar—

berbelok.

Menancap ke tubuhnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Terlalu banyak.

Tubuhnya bahkan terdorong beberapa langkah ke belakang.

Di mata pembaca, adegan itu terlihat seperti kematian yang bodoh.

> ngapain maju?

> kenapa nggak teriak dulu?

> kenapa mati buat cowok yang bahkan nggak percaya dia?

Banyak yang menghujat.

Banyak yang bersorak.

Banyak yang senang akhirnya istri ke-11 mati.

Namun dari sudut pandang Kaizar—

itu bukan kematian konyol.

Itu adalah bukti paling kejam bahwa Aurelia benar selama ini.

Karena setelah tubuh wanita itu jatuh ke pelukannya, Kaizar baru melihat sesuatu.

Di balik ledakan inti batu—

ada pola rune takdir.

Bukan jebakan musuh.

Bukan sabotase perang.

Melainkan segel nasib yang secara otomatis mencari “titik kematian” dirinya.

Jika ia berdiri di kanan, ledakan akan bergeser ke kanan.

Jika ia mundur, retakan langit akan jatuh di belakang.

Takdir tidak mengejar tempat.

Takdir mengejar hasil.

Dan Aurelia sudah mengetahui itu.

Sejak awal.

Ia tidak sedang melarang Kaizar pergi karena takut perang.

Ia tahu bahwa malam itu— apa pun pilihan Kaizar,

darah tetap akan tumpah.

Dan satu-satunya cara mengubah hasilnya adalah…

menggantikan korban.

Dirinya.

Aurelia yang bersandar lemah di pelukan Kaizar tersenyum tipis.

Bibirnya sudah dipenuhi darah.

Namun matanya justru tenang.

“Akhirnya…”

“…kali ini bukan kau.”

Kaizar membeku.

Tangannya gemetar memegang tubuh wanita itu.

Untuk pertama kalinya, semua kehidupannya terasa runtuh.

“Kenapa…”

Suaranya pecah.

“kenapa kau melakukan ini?”

Aurelia tertawa kecil.

Lemah.

Sedih.

Seolah sudah lelah melawan takdir sendirian.

“Karena…”

“…kau masih punya masa depan yang belum selesai.”

Air mata Kaizar akhirnya jatuh.

Dan di sinilah pembaca yang paham biasanya langsung nangis.

Karena yang mati bukan wanita jahat.

Yang mati adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami semua kehidupannya.

...****************...

Yang paling tidak pernah ditebak para pembaca adalah satu hal.

Kaizar tidak menangis.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada adegan memeluk jasad sambil meraung.

Tidak ada kalimat dramatis yang berlebihan.

Setelah tubuh Aurelia terkulai di pelukannya—

ia hanya membeku.

Diam.

Terlalu diam.

Matanya menatap wajah wanita itu lama.

Lalu perlahan mengangkat tubuhnya dan menyerahkannya kepada tabib kerajaan.

“Rawat dia.”

Kalimatnya singkat.

Dingin.

Nyaris tanpa emosi.

Dan justru karena itulah banyak pembaca salah paham.

> lihat kan?

> dia memang tidak pernah peduli

> untung wanita pengganggu itu akhirnya pergi

Padahal bukan begitu.

Sama sekali bukan.

Kaizar tidak menangis karena perang belum selesai.

Di depan gerbang ini, pasukan masih bertarung.

Musuh belum runtuh.

Jika saat itu ia goyah—

ribuan nyawa lain akan ikut jatuh.

Jadi ia menegakkan punggungnya.

Menghapus semua retakan di wajahnya.

Lalu melangkah kembali ke medan perang.

Tatapannya kosong.

Lebih dingin dari biasanya.

“Lanjutkan.”

Hanya satu kata.

Dan seluruh pasukan kembali bergerak.

Di mata semua orang—

itu adalah ketegaran seorang raja perang.

Namun bagi Kaizar sendiri—

itu adalah satu-satunya cara agar pengorbanan Aurelia tidak sia-sia.

 kalau aku berhenti sekarang…

maka kematiannya benar-benar menjadi sia-sia

...----------------...

Yang lebih menyakitkan—

hasilnya tetap terasa sama.

Sama seperti kehidupan sebelumnya.

Darah tetap tumpah.

Banyak orang tetap mati.

Gerbang tetap runtuh sebagian.

Takdir tetap meminta korban.

Hanya saja—

kali ini Kaizar menang tipis.

Tipis sekali.

Bukan karena strategi.

Bukan karena kekuatan.

Melainkan karena satu orang menggantikan nasibnya.

Aurelia.

Malam setelah perang—

Kaizar mengurung diri di kamar.

Tidak ada yang berani masuk.

Istri-istri lain hanya saling berpandangan.

Mereka mengira ia sedang memikirkan perang.

Atau para prajurit yang gugur.

“Biarkan saja dulu.”

“Mungkin dia sedang merenungkan strategi berikutnya.”

“Korban perang kali ini memang besar.”

Bisik-bisik seperti itu memenuhi koridor istana.

Tidak ada satu pun yang menyangka.

Bahwa di balik pintu itu—

Kaizar bahkan tidak sedang memikirkan perang.

Ia duduk sendirian di tepi jendela.

Jubah perang masih berlumuran noda darah yang belum sempat dibersihkan.

Tatapannya kosong.

Terarah pada satu jepit rambut kecil yang terletak di telapak tangannya.

Milik Aurelia.

Yang terlepas saat tubuh wanita itu jatuh.

Hening.

Lama.

Sangat lama.

Lalu akhirnya bibirnya bergerak.

Pelan sekali.

“…kenapa harus kau lagi, aku salah memahami mu.”

Suaranya begitu kecil hingga nyaris tenggelam oleh sunyi malam.

Bukan tangisan.

Tidak ada air mata.

Justru itu yang paling menyakitkan.

Ia terlalu hancur sampai tidak tahu lagi bagaimana caranya menangis.

...****************...

Ketukan palu kecil terdengar. bukan dari sutradara ataupun dari para juri lainnya, tapi dari seorang penulis novel.

Tok.

“Baik.”

“Peran Aurelia Veyna diberikan kepada Mireya.”

Ruangan langsung hening.

Bukan hening yang kosong—tapi hening yang berat, seperti semua orang masih mencerna keputusan yang baru saja diucapkan.

Beberapa juri saling pandang.

Sutradara bersandar sedikit ke kursinya, ekspresinya sulit ditebak.

“…kamu yakin dengan keputusan ini?” salah satu juri akhirnya bertanya pelan.

Penulis novel tidak langsung menjawab.

Matanya masih tertuju pada Mireya.

Seolah keputusan itu sudah selesai sejak sebelum semua orang lain berbicara.

“Aku sudah menonton semua kandidat.”

“Dan tidak ada yang memahami Aurelia.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu melanjutkan, lebih pelan tapi tegas.

“Mereka semua memainkannya seperti karakter yang harus dibenci.”

“Padahal bukan itu inti Aurelia.”

Mireya masih berdiri di tengah ruangan.

Tangannya sedikit mengencang di sisi tubuhnya.

“…aku diterima?” suaranya pelan, seperti masih memastikan ini nyata.

Tidak ada jawaban langsung dari juri.

Karena suasana sudah lebih dulu mengunci keputusan itu.

Sutradara akhirnya menghela napas panjang.

“…baik.”

Satu kata.

Seperti tanda menyerah sekaligus pengesahan.

“Kalau begitu, kita lanjutkan ke tahap produksi dengan dia.”

Ruangan kembali sunyi.

Penulis novel akhirnya duduk kembali.

Tapi pandangannya belum lepas dari Mireya.

Bukan lagi seperti juri yang menilai.

Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan “Aurelia yang selama ini tidak pernah benar-benar ada di layar.”

Mireya menunduk sedikit.

Bukan karena kalah.

Bukan karena menang.

Tapi karena untuk pertama kalinya—

dia merasa peran ini bukan hanya “dimainkan”.

Tapi… sedang “menariknya masuk”.

...****************...

Lorong luar ruang audisi sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

Pintu besar di belakang mereka tertutup rapat—menandakan sesi terakhir audisi benar-benar sudah selesai.

Untuk para pemeran sampingan akan diadakan besok lagi karena untuk pemeran utamanya saja sudah seribut ini.

Suara langkah kecil bergema pelan di lantai marmer.

Mireya baru saja keluar dari ruangan itu ketika sebuah suara langsung menyambar dari samping.

“Wah… lama juga kamu.”

Suara itu ringan, tapi penuh ejekan.

Mireya menoleh sedikit.

Luna berdiri tidak jauh darinya, bersandar santai di dinding dengan senyum yang terlalu yakin.

Matanya menyapu Mireya dari atas ke bawah.

“…aku kira kamu sudah pulang dari tadi.”

Ia tertawa kecil.

“Hahaha. Jangan-jangan… tidak lolos ya?”

Luna melangkah mendekat, seolah menikmati momen itu.

“Kasihan banget. Sudah percaya diri tinggi, tapi ternyata cuma buang waktu.”

Tangannya terlipat, ekspresinya makin puas.

“Ya sudahlah. Dunia industri itu memang tidak semua orang cocok.”

Ia mengangkat bahu kecil.

“Tapi aku ada kabar baik.”

Luna tersenyum lebih lebar.

“Aku terpilih.”

“Bukan jadi istri ke-13 sih…”

Ia sengaja berhenti sebentar, menunggu reaksi.

“…tapi aku dapat peran penting. Dayang dekat salah satu istri utama.”

“Banyak scene. Banyak masuk frame.”

Nada suaranya jelas penuh kebanggaan.

“Lumayan kan? Setidaknya aku masih relevan.”

Luna menatap Mireya lagi, menunggu reaksi yang tidak datang.

Namun Mireya…

tidak terlihat terganggu.

Tidak terlihat tersinggung.

Bahkan tidak terlihat memperhatikan.

Ia justru mengangkat ponselnya sedikit, berbicara pelan.

“…iya, sudah selesai audisinya.”

“Ya, jemput sekarang saja.”

“Tidak lama.”

Luna mengernyit.

“…hei, kamu dengar aku nggak sih?”

Tidak ada jawaban.

Mireya masih fokus di panggilan itu, wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak terlalu penting.

Dan itu— justru membuat senyum Luna sedikit kaku.

Beberapa detik kemudian, Mireya menutup teleponnya.

Baru saat itu ia menoleh ke Luna.

Singkat.

Datar.

“…selamat.”

Satu kata.

Tanpa emosi berlebih.

Lalu ia berjalan melewati Luna begitu saja.

Tidak berhenti.

Tidak membalas.

Tidak tersinggung.

Luna berdiri di tempatnya.

Senyumnya tadi perlahan hilang sedikit demi sedikit.

“…apa-apaan dia?”

Bisiknya pelan, kali ini tidak ada yang terdengar bangga.

Hanya sedikit tidak nyaman.

Dan di ujung lorong—

Mireya terus berjalan tanpa menoleh lagi.

Karena baginya sekarang— yang lebih penting bukan siapa yang berbicara di belakangnya.

Tapi apa yang akan datang setelah pintu audisi itu tertutup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!