"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pelarian Maut di Saint Jude's
Suara hitungan mundur bom itu berdesing di telinga Vandiko seperti lonceng kematian. 00:15... 00:14...
Adipati Elhaz memegang bahu putranya dengan tangan yang gemetar. "Tinggalkan aku, Vandiko. Legacy tidak boleh jatuh ke tangan mereka. Pergilah!"
"Tidak akan pernah lagi, Ayah," balas Vandiko dengan geraman rendah. Mata emasnya menyala dengan intensitas yang belum pernah terlihat sebelumnya, bahkan sistemnya mulai mengeluarkan uap panas karena dipaksa bekerja melampaui batas
[Ting! Mode 'Singularity' Diaktifkan!]
[Integritas Sistem Menurun Drastis... 80%... 60%...]
[Medan Gravitasi Terdeteksi!]
Vandiko tidak berlari menuju pintu. Ia justru memusatkan seluruh energi sistem ke telapak tangannya dan menghantamkannya ke lantai beton bawah tanah.
BOOM!
Lantai itu runtuh, namun bukan karena ledakan bom, melainkan karena tekanan gravitasi yang diciptakan Vandiko. Mereka jatuh ke dalam terowongan pembuangan air tua yang tersembunyi di bawah rumah sakit jiwa tepat saat gedung di atas mereka meledak menjadi bola api raksasa.
Guncangan dahsyat itu meruntuhkan terowongan, tetapi Vandiko berhasil melindungi ayahnya dengan menciptakan perisai energi sementara. Di tengah debu dan puing, Vandiko bangkit, menggendong Adipati yang pingsan, dan berlari menyusuri lorong gelap yang lembap.
Perburuan di Jalanan
Di permukaan, Isabella Wijaya menatap puing-puing Saint Jude’s dengan senyum puas dari dalam helikopter tempurnya. "Pastikan tidak ada tikus yang merangkak keluar dari sana. Hancurkan semuanya."
Namun, radar helikopter itu tiba-tiba berbunyi kencang. Sebuah sinyal panas terdeteksi bergerak cepat dari lubang got dua blok dari lokasi ledakan.
"Itu dia! Kejar!" teriak Isabella.
Vandiko muncul ke permukaan jalanan London yang diguyur hujan deras. Gia sudah menunggu di sana dengan motor sport listrik hitam. Tanpa membuang kata, Vandiko menaikkan ayahnya ke pelukan Gia.
"Bawa Ayah ke Manor Windsor. Aku akan memancing mereka," perintah Vandiko.
"Tapi Tuan, sistem Anda sedang kritis!" Gia mencoba memprotes.
"Ini perintah!"
Gia memacu motornya menghilang di balik kegelapan lorong kota. Detik berikutnya, tiga helikopter tempur dan puluhan SUV hitam milik tentara bayaran Isabella mengepung Vandiko yang berdiri sendirian di tengah jalan raya yang sepi.
Isabella turun dari helikopter yang melayang rendah. "Vandiko, kau benar-benar keras kepala. Berikan The Black Ledger dan flasdisk itu, maka aku akan membiarkan ayahmu mati dengan tenang di tempat persembunyianmu."
Vandiko melepaskan mantelnya yang sudah koyak, menunjukkan zirah taktisnya yang berpendar merah karena overheat. Ia menatap ratusan moncong senjata yang mengarah padanya.
"Kau ingin Legacy, Isabella?" Vandiko merogoh flasdisk titanium dari sakunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Legacy bukan sekadar kode. Legacy adalah keadilan. Dan keadilan tidak bisa dibeli."
Vandiko menghancurkan flasdisk itu di depan mata Isabella dengan kekuatan genggamannya.
"Kau gila!" jerit Isabella. "Kau menghancurkan satu-satunya cara untuk mengendalikan dunia!"
"Aku tidak butuh kode itu lagi," ucap Vandiko sambil tersenyum tipis. "Sistem di tubuhku sudah menyerap seluruh isinya. Sekarang, akulah Legacy itu sendiri."
[Ting! Sinkronisasi Global 100%.]
[Otoritas Baru: 'Dominasi Infrastruktur'.]
Tiba-tiba, seluruh lampu kota London padam. Sinyal radio terputus. Helikopter Isabella kehilangan kendali dan mulai berputar tak tentu arah. Kendaraan tentara bayaran mati total secara serentak. Vandiko telah mengambil alih seluruh jaringan listrik dan digital kota London hanya dengan pikirannya.
Di tengah kegelapan total dan hujan yang kian deras, Vandiko berjalan perlahan mendekati Isabella yang ketakutan.
"Malam ini, Isabella, kau akan belajar bahwa uang hanyalah angka di layar, tapi kekuasaan yang sesungguhnya adalah siapa yang memegang kendali atas layar tersebut."
Vandiko mengangkat tangannya, dan puluhan drone tempur milik tentara bayaran yang tadinya memburunya, kini berputar arah dan mengunci target ke arah Isabella.
"Permainan berakhir, Isabella."