Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Curiga
Dokter Rio tercenung mendengar ucapan Edgar. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Namun, siapa pelaku dan apa motifnya menculik kakek yang sudah pikun dan penyakitan pula.
Jika memang mau menculik kenapa sang kakek malah ditinggal di jalan? Apa karena si kakek kambuh sakitnya lantas diturunkan di jalan. Untuk menjawab semua pertayaan itu hanya dengan menunggu kakek sadar dulu.
"Jika kakek diculik, siapa kira-kira pelakunya dan apa motif penculikan itu. Siapa yang paling diuntungkan kalau kakek hilang atau meninggal?" guman Rio seolah pada dirinya sendiri.
"Kalau seandainya kakek meninggal tentu warisan kakek akan dibagi," ucap Edgar. Masih kurang paham maksud Dokter Rio.
"Itu sudah jelas. Siapa kira-kira pihak yang paling ingin mendapatkan warisan kakek. Bisa saja'kan itu menjadi motifnya. Aku yakin jika kakek memang hendak diculik, pelakunya adalah orang dalam yakni keluarga kamu sendiri."
"Eh, gila tuh pemikiran kamu, Rio." protes Edgar, "aku tidak pernah punya pikiran seperti itu."
"Aku percaya kamu itu sayang kepada kakekmu. Trus gimana saudaramu yang lain. Paman dan bibi serta sepupumu." selidik Doter Rio.
"Semuanya baik-baik saja. Hanya saja, sejak kakek mengangkat saya jadi ceo menjalankan perusahaan, paman dan bibi sempat protes."
"Tuh 'kan. Itu bisa saja jadi motif untuk menyingkirkan kakek. Waspadalah Ed, awasi semua keluarga yang terhubung sama kakek. Rambut itu sama hitam, tapi hati ini kita tidak pernah tau apa isinya." Rio menasehati sahabatnya itu. Untuk lebih berhati-hati.
Ada benarnya juga ucapan sahabatnya itu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi sikap, Ivan, saudara sepupunya akhir-akhir ini agak aneh. Dia sering mengungkit perlakuan kakek yang tidak adil pada anak dan cucunya.
Menyindir dirinya yang menjadi cucu kesayangan karena dipercaya jadi ceo. Sebelumnya paman Dany lah yang menangani perusahaan. Kakek menarik kembali kepercayaannya karena perusahaan nyaris bangkrut.
Perusahaan tekstil milik kakeknya selalu merugi. Laporan keuangan tidak jelas pertanggung jawabannya. Itulah sebabnya kakek memanggilnya pulang ke kampung halaman. Meskipun Edgar memiliki bisnis yang cukup menjanjikan serta kehidupan yang mapan di tanah rantau.
Namun, semenjak istrinya tercinta meninggal dunia, Edgar tidak punya pilihan. Selain karena urusan perusahaan, kakek yang semakin tua dan tidak ada yang mengurus. Clara putrinya tidak mungkin dia tinggal sendirian di rumah saat dia melakukan perjalanan bisnis.
Dengan berat hati, Edgar membawa putrinya pulang kampung. Kakek sangat bahagia sejak Edgar dan putrinya tinggal bersamanya. Sebaliknya Clara juga tidak kesepian lagi karena di rumah ada eyang buyutnya yang sangat menyayanginya.
Benar atau tidak dugaan sahabatnya, tidak ada salahnya untuk mawas diri. Dia memang tidak mengenal betul karakter paman dan bibinya serta saudara sepupunya. Selama ini dia menilai kalau hubungan mereka baik-baik saja.
Disaat Edgar dan Dokter Rio kembali membicarakan soal kesehatan kakeknya, terdengar ketukan di pintu. Dokter Rio menyuruh masuk ternyata suster.
"Dokter, Tuan Lukas sudah sadar."
"Baik, saya segera kesana." Dokter Rio dan Edgar bergegas menuju ruang rawat kakek Lukas.
"Kakek!" Edgar mendekat dan duduk di sisi ranjang," dipeganginya lengan tua yang penuh keriput itu. "Bagaimana keadaan kakek?" ucap Edgar.
Mata tua itu menatap lekat ke sosok Edgar. Cucu kesayangannya yang dia harapkan menjaganya di masa tuanya.
"Mana wanita itu? Wanita yang telah menolong kakek?" bukannya menjawab ucapan Edgar kakek Lukas malah menanyakan orang yang telah menolongnya. Sangat lekat dalam ingatan beliau melihat wajah wanita yang panik dan cemas sesaat sebelum beliau pingsan.
"E-gh," lidah Edgar kelu tidak bisa menjawab karena memang tidak tau siapa wanita itu.
"Sebentar, mungkin dia masih berada di ruang tunggu. Soalnya tadi saya berpesan agar wanita itu jangan diijinkan pulang sebelum operasi selesai." Dokter Rio menyuruh seorang suster memeriksa ke ruang tunggu pasien.
"Maaf dokter, wanita itu sudah pergi."
"Kamu harus temukan dia, Edgar. Kakek tidak akan tenang sampai bertemu dengan wanita itu." titah kakek Lukas.
"Iya, kakek. Edgar akan mencarinya."
"Bagus, jangan kecewakan kakek."
Edgar menghembuskan napas kesal saat memeriksa rekaman CCTV rumah sakit saat kakeknya masuk rumah sakit. Wajah wanita yang menolong kakeknya tidak jelas tertangkap kamera karena dia mengenakan topi.
"Pak, coba perbesar foto itu." Edgar menunjuk foto Ameera saat mengurus administrasi kakeknya.
Edgar seperti pernah melihat wajah itu, tapi Edgar lupa dimana pernah melihatnya. Apalagi foto itu terlihat samar membuatnya ragu.
"Kamu kenal ya, Ed?" ucap Rio. Edgar menggeleng lesu. Bagaimana caranya mencari wanita itu kalau identitasnya tidak diketahui. Hanya sebuah tanda tangan saat menyetujui operasi kakeknya.
Sementara itu, Ameera pergi diam-diam menemui Richi. Dia merasa tidak enak karena telah mengacaukan pertemuan mereka. Ameera menghubunginya agar menunggu sebentar. Tidak ingin merepotkan Richi datang ke rumah sakit.
"Maaf ya, Mas. Aku telah mengacaukan semuanya." sesal Ameera begitu bertemu langsung dengan Richi.
"Pertemuannya ditunda Mbak, minggu depan. Sudah saya jelaskan tadi 'kan."
"Tetap saja saya merasa tak enak. Padahal Mas sudah banyak membantu saya." ungkap Ameera.
"Namanya musibah kita tidak pernah tau kapan datangnya. Lagi pula Mbak karena menolong seseorang. Oh, ya saya mau lihat sketsanya, Mbak." Ameera menyerahkan tasnya berisi sketsa hasil rancangannya.
"Hem, semoga Pak Edgar tertarik dengan semua ini. Sehingga kita bisa kerja sama." Richi manggut-manggut melihat karya Ameera.
"Biar saya serahkan sendiri sama Pak Edgar, Mbak. Nanti akan saya hubungi lagi untuk pertemuan selanjutnya." Richi memasukkan kertas sketsa itu ke dalam tasnya.
"Kalau begitu saya pulang saja, Mas."
"Oh ya, Mbak langsung pulang ke rumah atau ke rumah sakit dulu? Biar saya antar saja Mbak sekalian."
"Saya juga bingung, Mas. Mau pulang ke rumah atau ke rumah sakit. Saya mau memastikan apakah keluarga kakek itu sudah dikabari." Ameera masih mencemaskan kakek yang ditolongnya.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja, Mbak. Siapa tau si kakek sudah sadar dan keluarganya bisa dihubungi. Biar Mbak gak terbebani lagi." Ameera mengiyakan ide Richi. Memang lebih baik kembali ke rumah sakit memastikan apakah kakek itu selamat atau tidak.
Richi melajukan mobilnya di sepanjang jalan Merdeka. Keduanya lebih banyak diam selama dalam perjalanan. Hingga tak terasa sudah sampai dipelataran parkir rumah sakit.
Saat Richi dan Ameera memasuki koridor rumah sakit, disisi lain Edgar keluar dari rumah sakit. Dia sudah telat menjemput putrinya di sekolah. Jalannya yang terburu-buru sehingga tidak melihat Richi yang memasuki rumah sakit.
Richi menanyakan ruangan kakek Lukas dirawat dengan menceritakan kejadian siang. Mereka mendapat informasi kalau keluarga kakek itu sudah di hubungi.
"Keluarganya sudah dihubungi, Mbak. Berarti si kakek baik-baik saja. Apa Mbak masih mau bertemu kakek itu?" ucap Richi.
"Baiknya gimana ya, Mas? Baguslah kalau keluarganya sudah ditemukan. Kakek itu belum tentu ingat saya. Nanti malah salah paham." Ameera malah jadi bingung sendiri. ***