NovelToon NovelToon
Wanita Kontrak Sang CEO

Wanita Kontrak Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kontras Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

Ariana termenung di hadapan Lily. matanya masih berkaca-kaca namun kosong. memandang arah yang pudar di depannya. hatinya masih berkecamuk. ucapan-ucapan dokter soal kondisi ibunya terus terngiang yang dipikirannya. dia belum siap kehilangan satu-satunya wanita yang dia punya sekarang.

" Aku ada satu jalan keluar buat kamu. Tapi Aku nggak tahu kamu mau apa nggak sama pekerjaan ini." Ucap Lily setelah beberapa menit mereka berdiam duduk di dalam kafe.

" Apa pun itu. Akan aku lakukan. Saat ini aku udah nggak punya pilihan lain untuk memilih pekerjaan yang cocok atau tidak cocok untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar biaya operasi ibu." Jawab Ariana dengan penuh keyakinan.

Ariana tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada sahabatnya itu. pekerjaannya sebagai waiters hanya cukup untuk biaya makan mereka sehari-hari.

" Jual diri." Kata Lily singkat.

Tak percaya sahabatnya akan menyuruhnya menjual dirinya untuk mendapatkan uang dengan cepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertanya Dia ++

*****

Ariana menata piring di meja makan dengan hati-hati, mengatur posisi sendok dan garpu dengan rapi. Suara panci dan sizzling bacon mengisi ruangan dengan aroma yang menggugah selera. Di sampingnya, roti panggang berderet rapi di atas piring. Dia menoleh ke arah pintu saat mendengar suara langkah kaki. Gibran, dengan rambutnya yang masih basah dan handuk tergantung di lehernya, berjalan masuk ke ruangan.

" Kamu buat sarapan apa?" Tanya Gibran.

" Ada roti bakar, telor orak arok dan bacon." Jawab Ariana.

Gibran kemudian duduk dan meneguk jus jeruk yang sudah di tuangkan Ariana.

" Kenapa tidak bersiap - siap dulu. Memang nya kamu tidak ke kantor?" Tanya Ariana heran.

" Aku mau sarapan dulu." Jawab Gibran.

" Kenapa semalam kamu dan teman kamu itu buru - buru pergi? Kenapa tidak pulang bareng dengan ku saja?"

" Tidak mau. Kan aku ada pak Diman yang antar."

" Pak Diman kan bisa di suruh pulang. Kamu pulang dengan ku."

" Kalau pun aku mau, pasti Lily yang keberatan." Ucap Ariana mendesah pelan.

" Memang nya kenapa?" Tanya Gibran penasaran.

" Sebelum aku jawab. Aku mau tanya dulu. Yang semalam itu teman kamu?" Ariana malah bertanya. Karena memang Ariana hrus tahu dulu hubungan Gibran dengan Reno sebelum dia bercerita.

" Iya. Dia teman sekolah ku dulu. Dia baru pulang dari luar negeri." Jawab Gibran.

Ariana memasukkan telur ke dalam mulut nya lalau memandang Gibran.

" Nama nya Reno kan? Dia itu mantan pacar nya Lily. Mereka sudah berpisah selama dua tahu. Tapi Lily masih belum siap bertemu dengan Reno karena dia masih sangat mencintai Reno. Itu sebab nya semalam kami pergi sebelum selesai makan. Lily takut Reno malah nyamperin dia nanti nya." Cerita Ariana.

" Memang nya teman kamu itu tidak cerita apa - apa soal pertemuan semalam?" Tanya Ariana karena Gibran hanya diam.

" Cerita yang sama dengan cerita yang kamu ceritakan." Jawab Gibran.

" Jadi Reno juga masih cinta sama Lily?" Mata Ariana membulat saat bertanya pada Gibran.

" Kecuali itu. Sudah, jangan kepo. Sekarang siap kan pakaian ku. Aku ada meeting penting lagi ini." Gibran mengusap wajah Ariana yang menatap serius Gibran.

" Baik, bos." Jawab Ariana yang langsung berlalu dari meja makan.

*

*

*

Reno sudah menunggu Gibran di lobby kantor nya. Lama tidak bertemu dengan Gibran membuat Reno terus menerus ingin selalu bersama Gibran setiap saat.

" Tadi pagi aku ke rumah ku. Mama kamu bilang kamu tidak pulang. Tidur dimana kamu tadi malam? Nginap di hotel dengan perempuan?" Tanya Reno berjalan bersama dengan Gibran.

" Perempuan mana? Jangan buat gosip ah." Elak Gibran.

" Siapa yang buat gosip? Bukan kahemang seperti itu, Gibran yang selalu berganti wanita setiap malam nya? Kali ini wanita cantik seperti apa yang menemani kamu tadi malam Samapi harus buru - buru pulang meninggalkan aku?"

" Tidak ada perempuan. Semalam kan aku sudah bilang ada urusan sebentar."

" Tapi baju kamu hari ini beda. Berarti kamu pulang ke rumah baru nih kayak nya." Curiga Reno memperhatikan pakaian yang di pakai Gibran.

" Ada banyak toko yang menjual pakaian ke kantor kan?"

" Hhmmm..." Sahut Reno dengan cuek.

*

*

*

Pintu ruangan Gibran terbuka otomatis, kedua nya kemudian masuk ke dalam.

" Beb." Panggil Megan yang sudah berada di dalam ruangan tersebut.

Gibran dan Reno yang mendengar suara Megan menjadi sedikit kaget.

" Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Gibran.

" Tentu saja karena aku merindukan mu. Aku ke sini menemui tunangan ku. Tidak ada yang salah kan?" Jawab Megan.

Megan kemudian mengalihkan pandangan nya menatap Reno.

" Wah... Kapan kamu kembali, Ren?" Tanya Megan.

" Baru tiga hari ini." Jawab Reno singkat.

" Beb, kamu dan Reno habis dari mana? Kenapa bisa barengan?" Tanya Megan mendekati Gibran.

" Dari luar." Jawab Gibran dingin.

" Kamu datang bersama Reno, tapi tidak mau menjemput ku. Aku kan juga ingin bertemu dengan kamu." Ucap Megan.

" Lagi pula untuk apa aku menjemput mu?" Celetuk Gibran.

" Aku ini tunangan kamu, Gibran. Apa kmu sedikit pun tidak pernah merasa rindu dengan aku?" Ucap Megan dengan ekspresi bi buat seimut mungkin.

" Tidak." Jawab Gibran.

Reno yang mendengar jawaban Gibran berusaha menahan tawa nya. Sedangkan Megan benar - benar merasa kesal dengan sikap tunangan nya itu.

" Sudah lah, Mwganm sebaik nya kamu pulang saja. Aku ada pekerjaan yang ingin aku bicarakan dengan Reno." Ucap Gibran.

" Tapi..." Belum sempat Megan protes, Gibran Sush memotong nya terlebih dahulu.

" Tidak ada tapi - tapian. Sekarang kamu pulang saja."

" Setidak nya kamu harus antar aku pulang. Aku tidak mau naik taksi."

" Aku tidak bisa mengantar mu. Kamu akn di antar supir saja nanti. Ada pak Diman atau Liam yang akan mengantar mu pulang." Jawab Gibran.

" Ku tidak mau. Tante Yusnita juga pasti marah kalau tahu kamu tidak mau mengantar ku pulang."

Megan sengaja menyebut nama mama nya Gibran, berharap Gibran takut dan berubh pikiran.

" Baik lah. Aku akan mengantar mu pulang." Jawab Gibran setuju.

*

*

*

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil yang di kendarai Gibran akhir nya sampai di depan rumah Gibran.

" Turun lah." Ucap Gibran.

" Gibran, ayo lah kita makan siang bersama." Ajak Megan.

" Tidak. Aku tidak lapar. Lebih baik kamu turun sekarang, aku harus kembali ke kantor." Perintah Gibran.

" Apa kamu tidak ingin mampir ke rumah ku dulu?" Ajak Megan lagi.

Gibran menggeleng.

" Tidak." Jawab nya singkat.

Dengan malas Gibran kemudian turun dari mobil.

" See you, Megan." Ucap Reno dari jendela mobil.

" See you, Ren." Jawab Megan.

" Pindah ke depan, Ren." Perintah Gibran.

Reno kemudian pindah ke kursi yang di tempati Megan sebelum nya.

*

*

*

Sore itu, Arina masih berada di rumah sakit. Ariana menatap ibu nya yang tengah tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.

Hati nya terasa benar - benar pilu, saat dokter mengatakan jika Melihat belum menunjukkan tanda - tanda perkembangan.

Tapi Ariana meyakinkan diri nya jika hal itu adalah hal yang wajar. Mengingat masih satu Minggu lebih Melia di operasi.

" Ibuk, pasti akan sembuh. Ari yakin itu, buk. Ari akan melakukan apa pun untuk kesembuhan ibuk." Ucap Ariana menggenggam tangan Melia dengan sangat erat.

Setelah beberapa saat, Arina lalu beranjak dari sana. Dia harus pulang sebelum Gibran sampai di rumah. Kalau tidak, Gibran pasti akan mengomeli nya lagi.

*

*

*

Ting Ting

Ketika hendak memencet bel untuk yang kedua kali, pintu kamar itu sudah di buka owlh Ariana.

" Kamu baru pulang?" Tanya Gibran yang duduk di sofa memperhatikan pakaian yang Ariana pakai masih pakaian tadi pagi.

" Maaf. Aku baru dari rumah sakit. Tadi ..."

Belum sempat Ariana menyelesaikan perkataan nya, Gibran sudah memotong nya terlebih dahulu.

" Ssttt... Aku tidak Ami mendengar alasan mu. Sekarang lebih baik kamu duduk di sini." Perintah Gibran sembari menepuk tempat yang ada di sebelah nya.

Arina kemudian melangkah menghampiri Gibran, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Gibran.

" Aku seperti sedang melihat orang lain malam ini. Kau terlihat lebih pendiam. Biasa nya kamu banyak bicara. Ada apa?" Ucap Gibran.

" Tidak ada. Aku seperti biasa." Jawab Ariana.

Gibran kemudian mendekat kan wajah nya pada telinga Ariana.

" Omong - omong, wajah mu sangat berseri malam ini. Dengan memakai kaos saja, kamu Aisha sangat menggoda Ria." Ucap Gibran kemudian menempelkan d4d4 nya pada kedua d4d4 Ariana.

Ariana lalu memejamkan kedua mata nya. Dia kembali meyakinkan diri nya untuk bersikap profesional dalam melakukan tugas nya. Dia harus bisa mengabaikan rasa sakit hati yang biasa di ucap kan Gibran setelah mereka berhubungan badan.

" Kalau aku tidak menggoda, tidak akan ada peria yang mau membayar ku. Bukti nya kamu membooking ku selama satu bulan penuh." Bisik Ariana ke telinga Gibran.

Gibran kemudian meletakkan kedua tangan nya di dada Ariana dan merem*s kedua benda kenyal*l milik Ariana dengan cukup keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!