NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Jurang di Dalam Hati

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti pegunungan tempat Sekte Langit Biru berdiri. Udara dingin menusuk kulit, membuat sebagian murid menggosok-gosok tangan mereka sebelum memulai latihan. Namun, di balik kesejukan pagi, ada ketegangan yang tidak bisa dilihat mata, tetapi bisa dirasakan oleh setiap orang yang peka.

Lin Feng berdiri di sisi lapangan latihan, tubuhnya masih terasa sakit setelah duel dengan Liu Tian. Meski luka di dadanya belum sembuh sepenuhnya, ia tetap hadir bersama murid lainnya. Jubah sederhana yang ia kenakan sudah ternoda bercak darah kering, tetapi sorot matanya jauh lebih kuat dibanding hari-hari sebelumnya.

Beberapa murid memperhatikannya dengan pandangan berbeda. Jika dulu mereka memandang Lin Feng dengan meremehkan, kini ada secercah hormat yang sulit disembunyikan. Mereka tahu, hanya sedikit orang yang mampu bangkit kembali setelah menerima serangan sekeras itu dari Liu Tian.

Namun, tidak semua mata memandang dengan kagum. Dari barisan depan, Liu Tian melirik ke belakang, tepat ke arah Lin Feng. Pandangannya tajam, penuh kebencian.

‘Dia berani membuatku terlihat lemah,’ batinnya. ‘Aku tidak akan membiarkan bayangan itu menempel padaku lebih lama lagi.’

Latihan pagi dimulai. Yunhai memimpin seperti biasa, memberikan arahan dengan suara tenang yang menggema di halaman.

“Kekuatan fisik bisa ditempa dengan gerakan berulang,” katanya. “Tetapi kekuatan hati hanya bisa ditempa dengan tekad yang tak tergoyahkan.”

Lin Feng mendengarkan kata-kata itu dengan penuh perhatian. Ia tahu, perkataan gurunya seperti angin yang menyejukkan, tetapi juga mengandung ujian yang dalam. Tekad—itulah yang membuatnya bangkit semalam. Dan kini, ia bertekad untuk terus melangkah ke depan, meski jalannya penuh duri.

Sementara itu, Liu Tian justru menafsirkan kata-kata gurunya dengan cara lain. Baginya, tekad adalah alasan untuk menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya menuju puncak. Hatinya yang dipenuhi gengsi membuatnya semakin keras.

***

Selepas latihan, murid-murid bubar menuju kegiatan masing-masing. Beberapa berkumpul untuk berdiskusi, ada yang langsung kembali ke kamar untuk beristirahat. Lin Feng berjalan pelan, tangannya sesekali menekan dada yang masih terasa nyeri.

“Lin Feng,” suara lembut terdengar dari samping.

Ia menoleh, mendapati seorang murid perempuan bernama Mei Xue menghampirinya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tenang, dan tatapannya penuh perhatian.

“Lukamu masih belum sembuh. Kau seharusnya beristirahat,” katanya.

Lin Feng tersenyum tipis. “Aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti sekarang, aku tidak akan pernah bisa menyusul mereka yang sudah jauh di depan.”

Mei Xue menunduk sejenak, lalu berkata, “Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Liu Tian. Tapi berhati-hatilah. Dia bukan orang yang akan membiarkan sesuatu begitu saja.”

Lin Feng terdiam. Kata-kata itu menancap dalam hatinya, karena ia tahu itu benar. Liu Tian bukan hanya kuat, tetapi juga ambisius. Permusuhan yang lahir kemarin tidak akan berakhir dengan satu duel.

Di tempat lain, Liu Tian duduk sendirian di paviliunnya. Wajahnya muram, pandangannya kosong. Meski ia sudah meminta maaf di hadapan Yunhai, hatinya tidak bisa menerima apa yang terjadi.

Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Lin Feng saat bangkit lagi setelah dihantam jatuh. Itu membuat darahnya mendidih.

‘Kenapa aku harus merasa terancam oleh seorang pendatang?’ pikirnya. ‘Aku telah berlatih bertahun-tahun, mengorbankan segalanya. Tapi hanya karena tekad bodohnya, dia berhasil menarik perhatian semua orang.’

Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Dalam hatinya, sebuah jurang mulai terbentuk—jurang yang memisahkannya dari Lin Feng. Semakin ia memikirkannya, semakin dalam jurang itu.

***

Malam kembali turun. Bulan masih setia menggantung di langit, seakan menjadi saksi pertarungan batin para murid Sekte Langit Biru.

Lin Feng duduk bersila di kamarnya, mencoba bermeditasi. Namun kali ini pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Kata-kata Mei Xue terngiang di telinganya: “Dia bukan orang yang akan membiarkan sesuatu begitu saja.”

Ia sadar, jalan di depannya tidak hanya penuh latihan berat, tetapi juga penuh intrik. Liu Tian bukan sekadar lawan dalam latihan; ia adalah tembok besar yang akan terus menghalangi langkahnya.

‘Aku tidak bisa mundur,’ tekadnya. ‘Jika aku takut sekarang, maka aku akan selamanya berada di bawah bayangannya.’

Dengan itu, ia kembali mengayunkan pedang kayu retaknya, meski tubuhnya hampir roboh. Setiap ayunan pedang adalah janji, janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus maju.

Di sisi lain, Liu Tian juga tidak tidur malam itu. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, wajahnya gelap. Di dalam hatinya, kebencian semakin membesar, menelan setiap logika yang tersisa.

“Aku tidak akan membiarkan dia melangkah lebih jauh,” gumamnya lirih. “Jika tekadnya adalah pedangnya, maka aku akan mematahkannya. Aku akan membuatnya menyerah, bukan hanya di lapangan, tetapi di dalam hatinya.”

Ia berhenti di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri. “Lin Feng… kau pikir bisa mengejarku? Kau hanya sedang berdiri di tepi jurang. Dan aku yang akan mendorongmu jatuh ke dalamnya.”

***

Hari-hari berikutnya berjalan penuh ketegangan. Setiap kali latihan, murid-murid memperhatikan interaksi antara Lin Feng dan Liu Tian. Tidak ada lagi duel terbuka, tetapi tatapan mereka sudah cukup membuat udara di sekitarnya terasa berat.

Lin Feng terus berlatih keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya penuh memar, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Setiap luka hanya membuatnya semakin yakin bahwa jalan yang ia pilih adalah benar.

Sedangkan Liu Tian, meski tetap tampil sempurna di mata banyak murid, di dalam hatinya ia semakin terobsesi untuk mengalahkan Lin Feng sepenuhnya. Jurang di dalam hatinya semakin dalam, dan ia mulai berpikir cara-cara yang melampaui sekadar latihan resmi.

Suatu malam, Lin Feng berjalan pulang dari latihan tambahan. Jalan setapak menuju kamarnya sepi, hanya suara jangkrik yang menemani. Namun tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang aneh.

Langkahnya berhenti. Dari balik bayangan pepohonan, terdengar suara langkah ringan. Lin Feng segera waspada, tangannya menggenggam pedang kayu yang selalu ia bawa.

“Siapa di sana?” serunya pelan.

Dari kegelapan, seorang murid muncul. Senyum sinis terlihat di wajahnya.

“Kau benar-benar keras kepala, Lin Feng,” katanya. “Tapi jangan berpikir semua orang di sekte ini akan mendukungmu.”

Lin Feng mengenali wajah itu—murid bernama Zhao Liang, salah satu pengikut setia Liu Tian.

“Apa maksudmu?” tanya Lin Feng, matanya menyipit.

Zhao Liang mendekat, menepuk pedangnya dengan santai. “Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan terlalu tinggi hati. Liu Tian adalah orang yang pantas di sini. Kau? Kau hanyalah beban.”

Lin Feng menarik napas dalam. Ia tahu, ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah awal dari gangguan yang lebih besar.

“Aku tidak mencari masalah,” katanya tenang. “Tapi jika ada yang ingin menjatuhkanku, aku tidak akan diam saja.”

Zhao Liang tertawa kecil, lalu melangkah mundur. “Kita lihat saja seberapa lama tekadmu bertahan. Jurang yang kau hadapi bukan hanya Liu Tian… tapi semua orang yang mengikutinya.”

Setelah itu, ia pergi, meninggalkan Lin Feng yang berdiri sendiri di bawah cahaya bulan.

Lin Feng menatap langit malam, hatinya berat. Ia sadar, tantangan yang dihadapinya bukan hanya duel atau latihan, tetapi juga kebencian yang tumbuh di hati orang lain. Jurang yang memisahkan dirinya dan Liu Tian semakin nyata, dan kini jurang itu mulai melibatkan orang lain.

Namun ia tidak gentar. Ia menggenggam pedang kayu lebih erat.

“Jika jalan ini dipenuhi jurang,” ucapnya pelan, “maka aku akan melompatinya satu per satu. Sekalipun aku harus jatuh berulang kali, aku akan bangkit lagi.”

Di langit, bulan purnama bersinar terang, seolah ikut menyaksikan sumpahnya. Jurang di dalam hati sudah terbentuk—jurang yang akan menguji bukan hanya kekuatan, tetapi juga jiwa mereka berdua.

Dan sejak malam itu, takdir mulai menulis kisah baru: kisah dua murid yang sama-sama berdiri di tepi jurang, tetapi dengan niat yang bertolak belakang.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!