NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:682
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kedatangan Tamu Tak Terduga dan Tantangan Baru

Seminggu berlalu, nama Bengkel Hidayat Bersaudara di Desa Ketajen, Gedangan makin harum namanya. Kata orang berjalan sangat cepat. Mulai dari ketepatan waktu pengerjaan, kerapian hasil servis, kejujuran dalam menentukan kerusakan, hingga harga yang sangat masuk akal, semuanya jadi pembicaraan hangat warga desa. Tak hanya warga sekitar, bahkan dari desa tetangga pun banyak yang mulai berdatangan membawa motor rusak, motor mogok, atau sekadar ingin ganti oli dan servis rutin. Warung Ibu Arum Sari pun tak pernah sepi, selalu penuh pembeli yang sekadar ingin istirahat, minum kopi, atau menikmati gorengan renyah buatan Ibu yang terkenal enak dan murah.

Pagi itu, udara terasa sedikit lebih panas dari biasanya, langit agak mendung seolah mau turun hujan. Di bengkel, Guntur dan Ali sedang sibuk sekali mengerjakan perbaikan mesin motor milik petani yang rusak parah terkena lumpur di ladang. Faris sendiri sedang duduk santai di teras warung, ditemani secangkir kopi hitam pekat dan rokok Gajah Baru Kertek-nya. Matanya menatap jalan raya dengan waspada, naluri batinnya merasa ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ia merasa ada sesuatu yang akan datang, sesuatu yang menguji ketenangan dan kestabilan usaha mereka yang baru saja bangkit ini.

Benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin motor yang sangat kencang dan bising dari kejauhan. Suaranya bukan suara motor biasa, suaranya gahar, berat, dan bergema keras membelah udara desa yang tenang itu. Semua orang di bengkel dan di warung otomatis menoleh ke arah suara itu. Terlihat dari kejauhan, sekelompok pemuda naik motor-motor modifikasi mewah, berwarna-warni mencolok, berkumpul dalam satu rombongan sekitar sepuluh motor, melaju kencang dan berhenti tepat di depan bengkel Hidayat Bersaudara.

Di barisan paling depan, turunlah seorang pemuda bertubuh kekar, berkulit putih, berpakaian serba rapi dan mahal, rambutnya disisir rapi namun tatapannya angkuh dan sombong. Itu adalah Bima. Musuh lama Faris dari Surabaya, orang yang dulu sering mengganggu, menghalangi, dan berusaha merobohkan usaha mereka. Di belakangnya turun pula teman-temannya, wajah mereka penuh rasa penasaran dan senyum mengejek.

Suasana seketika jadi hening. Guntur dan Ali berhenti bekerja, meletakkan kunci-kunci mereka perlahan, menatap tajam ke arah rombongan itu dengan waspada dan siap siaga. Bapak Wijaya yang sedang duduk santai di sudut teras ikut bangkit berdiri, wajahnya serius. Ibu Arum Sari langsung mendekat ke arah Faris, khawatir ada keributan.

Namun Faris tetap duduk santai di kursinya, tak bergeming sedikit pun. Ia bahkan tak langsung berdiri, ia hanya mengembuskan asap rokoknya pelan-pelan, menatap Bima dengan pandangan tenang, dingin, dan penuh percaya diri. Gaya bicaranya yang tenang dan berisi, penuh sengklek dan ketegasan, kini makin terlihat jelas.

"Oalah... Ada angin apa nih... Sampai tamu dari jauh jauh-jauh datang ke sini... Ke desa kami yang sunyi ini..." ucap Faris pelan namun jelas terdengar semua orang, nada bicaranya santai tapi penuh tekanan, seolah menyambut kawan lama. Ia baru berdiri berdampingan pelan, membersihkan debu di celananya, lalu berjalan perlahan mendekati Bima yang berdiri angkuh di depan gerbang.

Bima tertawa sinis, matanya meneliti sekeliling pekarangan luas itu, rumah yang bagus, bengkel yang rapi, dan tentu saja motor GL Herk warna pink yang masih terparkir gagah di depan paling luar.

"Kaget saya, Faris... Kaget saya... Kirain kamu bangkrut, kirain kamu lari sembunyi, kirain kamu kalah sama saya... Ternyata... Eh ternyata kamu malah pindah ke tempat sebagus ini? Luas, enak, strategis... Hebat juga kamu ya, Faris Hidayat... Ternyata kamu punya uang juga ya buat sewa tempat seluas ini?" kata Bima dengan nada meremehkan, matanya melirik ke kiri kanan mencari kelemahan.

Faris hanya tersenyum tipis, senyum yang bikin Bima makin penasaran dan kesal. Ia mendekat selangkah lagi, suaranya makin rendah tapi makin berwibawa, membuat semua orang di sana merasakan aura pemimpin yang kuat.

"Lihat baik-baik sekelilingmu ya, Bima... Lihat tanahnya... Lihat bangunannya... Lihat papan namanya... Dulu kamu suka sekali ganggu saya di kota... Dulu kamu suka sekali ngalangin jalan saya... Dulu kamu pikir kamu paling hebat, paling kaya, paling berkuasa cuma karena bapakmu pejabat dan punya uang banyak... Kamu pikir saya bakal hancur tanpa bantuanmu? Kamu pikir saya bakal minta ampun sama kamu?"

Faris berhenti sejenak, mengambil rokoknya lagi, menghisap dalam-dalam, lalu menatap tajam tepat ke manik mata Bima yang mulai sedikit berubah waspada.

"Dengar baik-baik ya Bima... Biar saya kasih tahu kebenaran ini... Tempat kamu injak ini... Tanah yang kamu pijak ini... Bangunan yang kamu lihat ini... Ini bukan tanah sewaan... Bukan tanah orang lain... Tapi ini tanah saya... Tanah keluarga saya... Milik kami sepenuhnya! Sudah lunas dibayar... Sudah sah secara hukum... Dan kami berdiri di sini dengan kepala tegak, dengan keringat sendiri, dengan uang halal sendiri... Tanpa bantuan siapa pun... Apalagi bantuan orang seperti kamu."

Kalimat itu meluncur tenang tapi menghantam dada Bima keras sekali. Wajah Bima berubah merah padam, kaget luar biasa. Ia tak menyangka sama sekali, anak putus sekolah, anak tukang servis motor yang dulu sering ia remehkan, kini ternyata punya aset sebesar ini di tempat yang strategis. Teman-teman Bima di belakang pun saling pandang kaget, tak menyangka Faris punya kemampuan sebesar itu.

"Jangan kaget begitu dong... Masih banyak hal yang kamu belum tahu soal saya, Bima..." sambung Faris lagi, suaranya makin tegas dan berani. "Dulu kamu suka tantang saya balap liar kan? Dulu kamu suka pamer motor mahalmu kan? Nah... Lihat motor warna pink itu... GL Herk itu... Motor itu dulu saya beli buat jawab tantanganmu... Tapi sekarang... Motor itu bukan lagi buat balap liar jalanan sembarangan... Tapi motor itu saya persiapkan buat masuk balap resmi, Bima... Saya mau buktikan... Bahwa anak kampung, anak tukang servis, anak lulusan MTs... Bisa masuk arena resmi... Bisa jadi juara... Bisa dihargai orang banyak... Dan nama saya bakal lebih besar, lebih harum, lebih dihormati daripada namamu yang cuma numpang nama bapakmu itu."

Bima mengepal tangannya kuat-kuat, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Ia sadar, ia datang ke sini dengan niat meremehkan dan menakut-nakuti, tapi justru ia yang dibuat takjub dan tertekan oleh ketenangan dan kewibawaan Faris. Ia sadar, musuhnya ini bukan lagi Faris yang dulu, tapi Faris yang sudah bangkit, sudah punya kekuatan, dan sudah punya tempat kokoh untuk bertahan.

"Kamu... Kamu pikir kamu sudah menang ya, Faris? Jangan sombong dulu... Dunia ini luas... Belum tentu kamu bakal tenang di sini... Di Gedangan ini juga saya punya kenalan... Saya punya kuasa..." gertak Bima mencoba mempertahankan harga dirinya.

Faris malah tertawa kecil, tertawa yang membuat Bima makin kecil di mata Faris.

"Kuasa? Di atas tanah saya sendiri? Coba saja kalau kamu mau coba-coba... Ingat Bima... Dulu saya mengalah bukan karena saya takut... Tapi karena dulu saya belum punya apa-apa... Sekarang? Sekarang saya punya segalanya... Saya punya tanah... Saya punya usaha... Saya punya keluarga hebat... Saya punya warga desa yang percaya sama saya... Dan yang paling penting... Saya punya Tuhan yang selalu membela orang yang jujur dan tertindas... Kamu mau coba ganggu saya lagi di sini? Silakan saja... Tapi ingat... Kali ini saya bukan cuma bakal lawan... Tapi saya bakal buat kamu minta ampun sama saya... Saya bakal buat kamu sadar... Bahwa kekayaan dan kekuasaan itu kalau dipakai sombong, ujungnya bakal hancur berantakan."

Suara Faris bergetar kuat, menggema di udara. Warga desa yang mulai berkumpul pun bersorak pelan mendukung Faris, mereka sudah suka dan hormat pada keluarga Hidayat. Bima merasa kalah telak, ia sadar tak ada gunanya lagi bertahan di sana. Ia melotot tajam ke arah Faris, lalu berbalik badan naik ke motornya.

"Kita lihat saja nanti, Faris... Kita lihat saja... Ini belum selesai!" seru Bima sebelum menarik gas motornya kencang-kencang, pergi meninggalkan bengkel dengan perasaan marah dan malu yang mendalam. Rombongannya pun ikut melaju pergi cepat sekali.

Setelah kepergian mereka, suasana kembali tenang. Faris menghembuskan napas panjang, lalu menoleh ke arah keluarganya dan warga desa yang menatapnya kagum. Ia menyulut rokoknya lagi, tersenyum lega.

"Tenang saja semuanya... Angin lalu saja... Cuma ujian kecil buat kita... Kehadiran mereka justru makin menguatkan tekad saya... Bahwa kita harus makin maju, makin sukses, makin berguna... Biar semua orang tahu... Bahwa keluarga Hidayat itu tak tergoyahkan... Mau ada rintangan apa pun, mau ada musuh apa pun... Kita bakal tetap berdiri tegak di atas kebenaran dan kerja keras."

Hari itu jadi bukti nyata, bahwa di tanah sendiri, Faris Arjuna bukan lagi sekadar mekanik jago, tapi pemimpin yang berani, tegas, dan tak gentar menghadapi siapa pun yang berusaha mengganggu kedamaian keluarganya.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!