NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Siapa Kamu Sebenarnya?

Suasana di dalam gudang tua itu langsung membeku setelah ucapan Arga, tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik bahkan suara ombak yang menghantam tiang-tiang pelabuhan di luar terdengar jauh lebih jelas daripada sebelumnya.

Bintang berdiri tanpa bergerak sambil menatap Arga, sedangkan Rania masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.

"Jadi sekarang kau juga ingin mengatakan bahwa aku bukan diriku sendiri?" tanya Bintang sambil tertawa sinis.

"Aku tidak mengatakan itu." Arga menggeleng pelan.

"Kalau begitu jelaskan." Bintang menatapnya tajam.

Arga tidak langsung menjawab, tatapannya justru beralih kepada Viktor dan Damar seolah memberi kesempatan kepada kedua pria itu untuk berbicara terlebih dahulu namun tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut.

"Lihat?" Arga mengangkat bahu. "Mereka masih melakukan hal yang sama."

"Diam." Viktor menatapnya dingin.

"Kenapa?" Arga tersenyum tipis. "Takut mereka tahu siapa kau sebenarnya?"

Rahang Viktor langsung mengeras.

Rania memperhatikan keduanya bergantian, semakin lama ia berada di tengah semua orang ini, semakin ia merasa tidak ada satu pun yang benar-benar jujur.

"Aku muak dengan teka-teki." Rania mengepalkan tangannya. "Seseorang mulai bicara sekarang."

"Aku setuju." Rangga mengangguk pelan.

"Untuk pertama kalinya malam ini, aku juga setuju." Leonard menyandarkan tubuhnya ke kursi tua yang berada di sudut gudang.

Bintang berjalan beberapa langkah mendekati Arga, tatapannya tidak pernah lepas dari pria itu, seolah sedang mencoba menemukan kebohongan sekecil apa pun.

"Kau bilang ada sesuatu tentang diriku." Bintang berhenti tepat di depannya. "Katakan."

Arga mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menoleh ke arah Raka yang masih berdiri di dekat tangga besi.

"Kau ingat apa yang pernah kuceritakan?" tanyanya.

"Setiap kata." Raka mengangguk pelan.

"Bagus." Arga kembali menatap Bintang. "Karena dia adalah saksi hidupnya."

Semua orang langsung menoleh ke arah Raka, pria itu tampak ragu sesaat namun setelah melihat Rania ekspresinya berubah lebih tegas.

"Aku tidak tahu semuanya," ucap Raka sambil melangkah maju. "Tapi aku tahu satu hal."

"Apa?" tanya Rania.

"Aku tidak pernah sendirian," lanjut Raka.

Kalimat itu membuat jantung Rania kembali berdegup lebih cepat.

"Maksudmu?" tanya Rania.

Raka menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan kepada Bintang.

"Sejak kecil aku selalu diberitahu bahwa ada dua anak lain yang selamat malam itu."

Gudang kembali hening.

"Dua?" ulang Bintang pelan.

Raka mengangguk.

"Satu perempuan." Tatapannya beralih kepada Rania. "Dan satu laki-laki."

Tatapannya kini berhenti pada Bintang, tidak ada yang berbicara bahkan Leonard yang biasanya tidak pernah kehabisan komentar tampak memilih diam.

"Itu tidak membuktikan apa pun." Viktor akhirnya membuka suara.

"Tidak?" Arga mengangkat sebelah alis. "Kalau begitu jelaskan kenapa wajah mereka sangat mirip."

"Karena kebetulan." Bahkan Viktor sendiri terdengar tidak yakin dengan jawabannya.

"Bahkan kau tidak percaya pada ucapanmu sendiri." Arga tertawa kecil.

Bintang mengusap wajahnya kasar, kepalanya mulai terasa sakit karena terlalu banyak informasi yang datang sekaligus.

"Jadi menurutmu aku siapa?" tanyanya.

"Aku tidak berpikir apa pun." Arga menatapnya lurus. "Aku hanya tahu bahwa malam kebakaran itu, ada tiga anak yang menghilang."

"Tiga?" tanya Rangga sambil mengernyit.

"Tiga." Arga mengangguk. "Dan hanya satu yang ditemukan kembali."

Tatapannya berhenti pada Rania.

"Dia!"

"Lalu yang lainnya?" Rania menelan ludah.

"Tidak pernah ditemukan."

Kalimat itu membuat suasana semakin mencekam.

Tiba-tiba suara ponsel terdengar memecah keheningan, semua orang refleks menoleh ke arah sumber suara. Viktor segera mengeluarkan ponselnya lalu mengernyit saat melihat nama yang muncul di layar.

"Ada apa?" tanya Damar.

"Ya?" Viktor tidak menjawab. Ia langsung menerima panggilan itu.

Semua orang memperhatikan perubahan ekspresinya, beberapa detik kemudian wajah Viktor langsung berubah pucat.

"Apa?!" bentaknya sambil berdiri tegak.

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat.

"Katakan ada apa." Leonard menatapnya tajam.

Viktor tidak langsung menjawab, tangannya yang memegang ponsel bahkan terlihat sedikit bergetar.

"Itu tidak mungkin," gumamnya pelan.

"Apa yang tidak mungkin?" tanya Bintang.

Panggilan akhirnya berakhir.

"Rumah persembunyian kita diserang." Viktor perlahan menurunkan ponselnya.

"Sial!" umpat Rangga sambil mengepalkan tangannya.

"Siapa yang menyerang?" tanya Damar.

"Itulah masalahnya." Viktor menggeleng pelan. "Tidak ada yang melihat mereka datang."

"Itu berarti mereka sudah bergerak." Arga langsung menyipitkan mata.

"Kau tahu siapa mereka?" tanya Bintang.

Arga tidak menjawab, namun perubahan wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.

"Jawab!" bentak Bintang.

"Mereka bukan orang-orang yang selama ini kalian cari." Arga mengembuskan napas panjang. "Kelompok itu hanya pion."

Semua orang langsung terdiam.

"Apa maksudmu?" tanya Rania.

Arga menatap satu per satu wajah yang berada di dalam gudang sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat darah mereka seolah berhenti mengalir.

"Orang yang membakar rumah itu dua puluh lima tahun lalu bukan musuh utama kita."

Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara karena kalimat itu jauh lebih mengejutkan daripada apa pun yang mereka dengar malam ini.

"Kalau begitu siapa?" tanya Bintang dengan suara rendah.

Arga menatap ke arah pintu gudang yang terbuka, kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.

"Pertanyaan yang bagus."

Baru saja kalimat itu keluar, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari luar gudang.

Semua orang langsung menoleh, seseorang sedang berdiri di ambang pintu, sosok itu mengenakan mantel hitam panjang dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya, namun dari cara Viktor, Leonard, dan Damar membeku di tempat, jelas mereka mengenali orang tersebut.

"Tidak mungkin..." bisik Leonard sambil kehilangan warna di wajahnya.

"Aku senang melihat kalian masih mengingatku." Sosok itu tersenyum tipis.

Jantung Rania langsung berdegup semakin kencang karena untuk pertama kalinya malam itu... ia melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah semua orang yang selama ini dianggap tak terkalahkan.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!