“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 19.
Pagi itu suasana mansion jauh lebih sibuk daripada biasanya. Beberapa pengawal keluar masuk membawa koper berisi dokumen. Codet memeriksa jadwal keberangkatan, sementara Keivan sejak subuh sudah berada di ruang kerja, memastikan seluruh berkas rapat tahunan lengkap.
Hari ini... Dewangga akan kembali muncul di hadapan seluruh direksi perusahaan setelah menghilang selama hampir satu tahun. Dan itu akan menjadi kejutan terbesar bagi banyak orang.
Liora turun dari lantai dua mengenakan setelan jas wanita berwarna putih gading. Rambutnya diikat rapi, riasannya tipis, tetapi auranya terlihat jauh lebih tegas daripada biasanya.
Codet sampai terdiam beberapa detik. "Nyonya terlihat seperti direktur perusahaan."
"Memangnya selama ini, aku kelihatan nggak pintar?" Liora mengangkat alis.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Biasanya... Nyonya lebih terlihat seperti orang yang siap memukul siapa saja." Codet sontak menutup mulutnya, ia menyadari telah salah bicara.
Liora tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Codet lamat-lamat seperti akan membuat keributan sebentar lagi. Tatapannya begitu tajam, seolah dua sinar laser siap menembus kepala pria itu.
Codet spontan menelan ludah. "Saya... saya ralat, Nyonya. Dari awal, Nyonya sudah kelihatan pintar."
Liora mendengus pelan. Dengan gaya santai, ia mengibaskan rambutnya ke belakang lalu menyilangkan tangan di depan dada.
"Pengamatanmu lumayan tepat. Orang boleh bilang aku tukang ribut, keras kepala, galak, lancang, bahkan suka bikin masalah. Aku akan terima, karena itu benar." Ia mengangguk kecil seolah mengakui semuanya, Liora lalu mengetuk pelipisnya pelan sambil tersenyum penuh percaya diri. “Tapi kalau sudah menyangkut otakku, jangan pernah macam-macam! Banyak orang yang bisa mengalahkanku saat adu otot, tapi kalau adu otak? Maaf, antre dulu..."
Codet buru-buru menundukkan kepala, bahunya sampai bergetar menahan tawa.
"Nahan ketawa?" tanya Liora sambil menyipitkan mata.
Codet langsung menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya."
"Yakin?"
"Yakin."
Liora mendengus pelan. "Kalau mau ketawa, ketawa saja! Aku memang hebat kok!"
Kalimat Liora justru membuat Codet hampir kehilangan kendali, ia buru-buru menutup mulutnya dan berdeham beberapa kali agar tidak melakukan kesalahan dengan menertawakan Nyonya-nya.
"Maaf, Nyonya. Saya cuma baru pertama kali melihat orang yang memuji dirinya sendiri dengan percaya diri... seperti Anda saat ini."
Liora mengangkat dagunya sedikit. "Kalau memang kenyataannya begitu, buat apa pura-pura rendah hati?"
Codet akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya.
Tak lama kemudian, Dewangga keluar dari kamar sambil menggandeng boneka anjing kesayangannya. Pria itu mengenakan jas hitam mahal yang dijahit khusus untuknya. Secara penampilan, tidak ada yang berubah. Ia tetap tampan, tinggi, dan berwibawa. Kalau bukan karena senyum polos di wajahnya, tidak akan ada yang menyangka kemampuan berpikirnya setara anak kecil. Dan... Itu dulu.
"Liora."
"Hm?"
"Dewangga ganteng?"
Liora mengamati pria itu perlahan dari bawah ke atas, matanya menilai dengan tenang seolah sedang memastikan sesuatu. Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya mengangguk pelan, seperti sudah sampai pada kesimpulannya sendiri.
"Lumayan."
"Lumayan? Aku maunya ganteng!"
Liora akhirnya tersenyum lebar. "Iya, Dewangga ganteng pake bangetttt...."
Mata Dewangga langsung berbinar. "Liora bilang... Dewangga ganteng."
"Iya, Tuan memang ganteng." Codet mengangguk sambil tersenyum.
Keivan keluar dari ruang kerja, tatapannya langsung tertuju kepada ayahnya. "Papa, nanti di ruang rapat banyak orang. Jangan jauh-jauh dari kami, oke?"
“Oke!“
Satu jam kemudian, rombongan tiga mobil hitam memasuki pelataran gedung pusat Salendra Group. Begitu mobil berhenti, puluhan wartawan yang sejak pagi menunggu langsung berlari mendekat.
"Kabarnya Tuan Dewangga hadir hari ini!"
"Benarkah kondisi beliau sudah membaik?"
"Siapa wanita yang bersamanya?"
"Kabarnya beliau sudah menikah!"
Kilatan kamera langsung memenuhi halaman depan, Codet segera membuka pintu. Liora turun lebih dulu, mata perempuan itu menyapu seluruh keadaan. Ada puluhan kamera terpasang, dan belasan wartawan sudah menunggu dengan lensa mereka. Dan juga, ratusan karyawan yang diam-diam memperhatikan dari dalam lobi.
Beberapa saat kemudian, Dewangga turun dari mobil.
Suasana langsung gempar.
"Itu benar Tuan Dewangga!"
"Beliau datang!"
"Mustahil...."
"Katanya beliau sudah tidak bisa berpikir normal."
Bisik-bisik langsung memenuhi halaman, Dewangga refleks mendekat ke arah Liora. Tangannya memegang ujung blazer perempuan itu seperti biasanya.
"Liora... ramai sekali... aku takut."
Liora menoleh ke arah para wartawan, tatapannya berubah tajam ke arah mereka.
"Tolong beri jalan!“ Nada suaranya tenang, namun cukup dingin hingga membuat beberapa orang mundur.
Seorang wartawan masih nekat menyodorkan mikrofon. "Maaf, apakah benar kondisi Tuan Dewangga mengalami gangguan mental?"
Belum sempat Codet bergerak, Liora lebih dulu menatap wartawan itu dengan pandangan dingin. "Kalau suatu hari Anda sakit, apakah saya juga boleh memperkenalkan Anda kepada publik dengan kalimat seperti itu?"
Wartawan tersebut langsung terdiam.
"Silakan bertanya dengan sopan! Kalau tidak bisa, lebih baik diam!"
Tak ada lagi yang berani menyela, mereka akhirnya memasuki lobi utama. Begitu pintu lift terbuka, seluruh direksi yang sedang menunggu langsung berdiri. Tatapan mereka otomatis tertuju kepada Dewangga. Sebagian terkejut, dan asa juga yang gugup. Dan sebagian lagi... terlihat panik.
Di sudut ruangan, Dimas yang sedang memegang map perlahan mengepalkan tangannya. "Kenapa dia benar-benar datang..."
Sementara di sisi lain ruangan, seorang pria paruh baya berkacamata yang selama ini terlihat tenang mulai berkeringat dingin. Tatapannya tidak lepas dari Dewangga, lalu berpindah kepada Liora. Wanita itu berdiri tepat di samping pewaris utama keluarga Salendra. Tatapan Liora tajam diiringi langkah yang tegas. Seakan-akan dia sedang memberitahu semua orang, siapapun yang mencoba menyentuh Dewangga hari ini... harus melewatinya lebih dulu.
Dan tanpa diketahui siapa pun, Dewangga yang masih memasang wajah polos itu sempat melirik pria berkacamata tersebut selama satu detik. Sorot matanya berubah sangat dingin, lalu sesaat kemudian... ia kembali tersenyum lugu kepada Liora.
"Liora... habis rapat, Dewangga mau es krim."
Liora menghela napas sambil tersenyum tipis. "Oke, kalau hari ini kamu jadi anak baik."
"Oke!" Pria itu langsung mengangguk semangat.
Senyum polos Dewangga menipu semua orang, padahal permainan baru saja dimulai.
Pintu ruang rapat utama perlahan terbuka, ruangan itu sangat luas. Sebuah meja oval panjang memenuhi bagian tengah, sementara layar besar di ujung ruangan sudah menampilkan logo Salendra Group. Seketika seluruh percakapan berhenti, puluhan pasang mata serempak menoleh ke arah pintu.
Sunyi.
Beberapa direksi sampai berdiri dari kursinya.
"Tuan Dewangga..."
"Beliau benar-benar datang."
"Astaga..."
Rasa terkejut tergambar jelas di wajah mereka. Banyak yang selama setahun terakhir percaya bahwa Dewangga tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di gedung ini. Namun hari ini, pria itu benar-benar datang. Lengkap dengan istri dan putranya.
Dewangga langsung berhenti melangkah. Ruangan yang terlalu besar dan dipenuhi banyak orang membuatnya refleks memegang ujung blazer Liora lebih erat.
"Liora."
"Hm?"
"Banyak orang."
"Iya."
"Mereka lihat Dewangga."
"Biarkan saja."
"Kenapa?"
“Mereka cuma kaget, karena suamiku ini terlalu ganteng.”
Mata Dewangga langsung berbinar. "Hehehe...."
Keivan yang berjalan di samping hanya melirik ayahnya dengan wajah datar, ia menggeleng pelan. "Ternyata... memuji Papa lebih efektif daripada menjelaskan."
Liora membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan tubuh Keivan yang masih berusia enam tahun, matanya menatap anak itu lekat namun lembut. Ia lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan di telinga Keivan, “Namanya juga, dia anak kecil.”
Keivan sempat tidak bisa menyembunyikan reaksinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang cepat sekali muncul. Namun hanya dalam hitungan detik, ia kembali menekan ekspresinya, menarik wajahnya datar seperti biasa, seolah senyum itu tidak pernah ada sejak awal.
Mereka berjalan menuju kursi paling depan, semua orang otomatis memberi jalan. Tak ada yang berani menghalangi. Kali ini, bukan Dewangga yang membuat mereka segan atau takut, melainkan Liora. Setelah kejadian di rumah utama Tuan Besar, kabar tentang tamparan yang diterima Marissa sudah menyebar ke seluruh keluarga Salendra.
Kini semua orang tahu, Liora tidak banyak bicara. Kalau marah, tangan wanita itu akan lebih cepat daripada mulutnya.
BRAK!
Dan seolah membuktikan itu, Liora tiba-tiba menggebrak meja dengan keras... membuat suasana langsung menegang.
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala