Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergolakan Batin Kirana***
Punggung Kirana nempel ke tembok. Dingin. Lembab. Bau apek masuk ke hidung tiap tarik napas.
Kirana duduk di kasur busa tipis. Tipis banget. Sampe tulang ekor berasa kena papan di bawahnya. Lutut dipeluk kenceng. Dagu di ats lutut. Posisi ini... Entah kenapa sama kayak 12 tahun lalu pertama kali Kirana diajak Ustadz Syarif ke pondok. sama Kayak pertama kali nolak Ustadz Yusuf dikurung di sini tiga hari.
Nggak ada yg berubah. Kasurnya masih kuning di tengah. Bantalnya masih gepeng. Ember biru di pojok masih sm. Cm Kirana... Kirana udah bukan Kirana umur 12 lagi.
Pipi kiri masih perih. Nyut-nyutan. ia sentuh pelan pake ujung jari. Panas. Psti udah bengkak. Lima jari Bik Asih masih kebayang jelas di kulit. Bekasnya merah. Kayak cap "anak durhaka". "anak nggak tau malu".
Hari ini... hari paling berat seumur hidup KiranA.
Berat bkn karena tamparan itu. Berat karena kata-katanya. "Anak nggak tau malu". "Berzinah". "Waria". "Sial". "Pembawa sial".
Kata-kata itu lebih sakit dr tamparan. Tamparan ilang 2 hari. Kata-kata... nempel. Masuk ke kepala. Muter trs. Kayak kaset rusak.
"Kirana anak nggak tau malu..."
"Kirana berzinah sama waria..."
"Kirana sial..."
Ia merem kenceng. Air mata yang dari tadi ditahan... jebol. Netes. Nggak bisa dibendung. Jatuh ke lutut. Bikin noda basah di celana panjang yalng udah kusut.
ia menangis tanpa suara. Bahu naik turun. Tapi nggak ada isakan. Udh capek. Udah kehabisan tenaga buat nangis keras.
Di kepala kebayang Mas Saqira. Tiap pagi. Jam 5 subuh Mas udah bangun duluan. Kirana masih ngorok di kasur lipet. Trus kecium bau bawang putih sama minyak panas.
"Ra, bangun. Sarapan. Nasi anget. Telur ceplok setengah mateng. Sambelnya nggak pedes, sesuai pesenanmu."
Suaranya serak abis bangun tidur. Tapi anget. Tangannya kapalan, tapi pas nyiapin salarapan... lembut banget. "Tiup dulu Ra. Panas."
Mas Saqira... dia rumah Kirana. Beneran. Waktu mental Kirana jatuh gara-gara mungut sayuran di jln dan waktu Kirana diusir dr pondok. Mas Saqira yang bilang "Udah Ra, rejeki nggak ketuker. Besok kita coba lagi". Mas Saqira juga yng narik Kirana dari bangku taman ketika ia menangis. Dia yang pertama bilang "Aku di sini. Nangis aja.".
Saqra lindungin Kirana kayak rumah. Dia jadi Pintu depan Jadi Jendela Mas. dan juga atap bagi Kirana.
Sekarang Kirana di sini. Dikurung. Sendiri. Tanpa Saqira
Takut. Takutnya banyak banget. Numplek jadi satu di dada sampe sesek.
Takut pertama: dipaksa nikah sa Ustadz Yusuf. Bayangin aja... bangun tiap pagi liat muka orang yang nggak dicinta. Yang seusia pamannya. Hrs dimadu degan 3 istrinya Denger ceramah tiap malem. Disuruh nurut. Disuruh "buka lembaran baru". Padahal lembaran lama sm Mas Saqira... Kirana gak mau robek. Mau baca ulang terus sampe rusak.
Takut kedua: Mas Saqira nggak bisa jemput Kirana. Gimana kalo Mas nyari ke mana-mana tapi gak nemu? Gimana kalo Paman Syarif ngelarang? "Kamu mau itu banci kamu sampah masyarakat? Keluar dari sini!" Gimana kalo Mas nyerah?
Tapi... takut paling gede. yg paling nusuk. Takut Mas Saqira terpaksa berubah. Jadi "bukan dirinya sendiri" cuma buat Kirana.
Gak kebayang sakitnya. Mas yang biasanya pake lipstik, rambut panjang, pakai high heels... tiba-tiba potong rambut pendek. Pake sarung. Pake peci. Belajar ngaji tajwid. Sholatnya rajin banget sampe sujudnya lm. Semua cuma biar Paman bilang "nah gitu dong, jadi laki-laki".
Gak kebayang Mas Saqira yg Kirana kenal... ilang. Gantinya "Saqir versi Ustadz Yusuf versi Paman Syarif. Bukan versi dirinya sendiri.
Kalo Mas sampe gitu... berarti Kirana yang ngerusak Mas. Kirana yang bikin Mas gak jadi dirinya sendiri. Kirana lebih milih mati dikurung di sini... daripada Mas harus ngubur "Saqira" demi jd "Saqir" yg Paman sama Syarif mau.
Kirana cuma mau. Mas Saqira berubah dari dlm hatinya sendiri. Bukan krena Kirana. Bukan Karena kondisi saat ini.
Kirana gemeter. Seluruh badan gemeter. Bukan kedinginan. Tapi karena takut itu.
Tangan kanan ngeraba ke meja kecil di samping kasur. Meja dri kayu bekas. Kakinya pincang satu, diganjel kertas. Di atasnya ada buku kecil. Ukurannya sepapan tangan. Covernya warna ijo pudar. Tulisannya udh ilang. Buku hadist saku. Punya Ibu dulu. Ibu kasih ke Kirana sebelum meninggal. "Nak, kalo bingung... buka buku ini. Tanya ke Allah lewat sini."
Kirana buka. Tangan gemeter banget. Kertasnya kuning. Ujungnya udah melinting. Baunya... bau buku lama. Bau Ibu.
Kirana nggak tau mau nyari apa. Tapi kepala muter terus sama kata Bik Asih: "waria". Kata Ustadz Yusuf: "laki-laki yng menyerupai perempuan".
Kirana harus tau. Apa bener Mas Saqira dosa? Apa bener Kirana dosa karena sayang sama Mas?
Jari muterin halaman. Pelan. Mata buram kena air mata. Jadi bacanya harus deket banget ke lampu bohlam 5 watt yg gantung di atas. Cahayanya remang. Nguning.
Halaman 27. Kirana berhenti. Ada garis merah pake spidol. Coretan Ibu dulu.
Hadits Riwayat Bukhari: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki."
Dada Kirana langsung sesek. Nafas pendek. "Ya Allah..."
Jadi bener Mas Saqira dilaknat? Jadi bener Kirana salah sayang sama Mas?
Kirana baca lagi. Ulang-ulang. "Laki-laki yng menyerupai perempuan..." Mas Saqira emang rambutnya panjang dikit. Emang suaranya nggak berat banget. Emang Mas suka pake lipstik, makeup dan High heels. Suka Pakai pakaian perempuan jika kerja.
Apa itu artinya Mas Saqira "menyerupai perempuan"?
Air mata jatuh lagi ke buku. Ngebekas di kertas. Kirana usap pake jempol. Malah luntur tintanya.
Tapi... tunggu. Di bawah hadist itu, ada catatan kecil.
" menyerupai' di sini maksudnya berpura-pura. Maksudnya laki-laki sengaja melenggak-lenggok, pake lipstik, pake baju ketat perempuan buat menggoda. Bukan laki-laki yang lembut hatinya. Bukan laki-laki yang nangis karena kasihan liat orang susah. Nabi juga pernah nangis . Nabi juga lembut ke Aisyah. Lembut bukan berarti bukan laki-laki."
Kirana diem. Baca ulang catatan Ibu 5 kali. Kirana nutup buku sebentar. Dada agak sesak.
Halaman selanjutnya. Dibalik.
Hadits Riwayat Tirmidzi: "Semua anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat."
Air mata netes lagi. Tapi kali ini beda. Anget.
"Sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertaubat..."
" Mas Saqira masih bisa terselamatkan. Semoga Allah SWT. Memberikan hidayahnya Mas Saqira kembali kekodratnya."
Tobat itu jalannya masih kebuka ya Allah? Jalan buat Mas Saqira. Jalan buat Kirana. Jln buat Paman. Jalan buat semua orang yang udh keceplosan ngomong "durhaka" "sial" "bencong".
Kirana buka lagi halaman belakang. Ada doa yang digaris bawahi Ibu pake bolpen merah. Doa Nabi Yunus waktu di perut ikan.
"Laa ilaaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadzholimin"
Artinya : '" Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang -orang yang zolim"
Kirana ikutin baca pelan. Bibir gemeter. "Laa ilaaha illa Anta... subhanaka... inni kuntu minadzholimin..."
Diulang 7 kali. 10 kali. 33 kali. Sampe hafal di luar kepala.
Ya Allah... Kirana zalim ya? Zalim ke Paman karena nolak diatur. Zalim ke Bik Asih karna ngejawab. Zalim ke Ustadz Yusuf karena nolak pinangannya. Zalim ke Mas Saqira karena bikin Mas harus milih antara Kirana atau keluarganya.
Tapi Ya Allah... Paman juga zalim ke Kirana karena ngurung. Bik Asih juga zalim karena nampar. Ustadz Yusuf jg zalim karena maksa. Mas Saqira... Mas nggak zalim. Mas cuma sayang. Sayang yng caranya beda dari orang lain.
Air mata berhenti. Ganti sama rasa... tenang? Iya. Tenang dikit. Kayak ada tangan yang ngusap kepala dari atas. Tangan Ibu? Atau tangan Allah?
Kirana peluk buku itu ke dada. Sama kayak peluk jaket Mas Saqira. Dua-duanya perisai Kirana sekarang.
Dari luar... kedengeran suara adzan Subuh. Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Air mata netes lagi. Tapi kali ini bukan nangis sedih. Nangis lega.
"Mas..." bisik Kirana ke buku Ibu. "Mas denger nggak adzan? Mas sholat ya Mas. Kalo Mas sholat... berarti Mas msih Saqir. Saqir yang Kirana kenal. Saqir yang takut dosa. Bukan Saqira yang pura-pura jadi perempuan. Bkan Saqir yang pura-pura didepan Paman"
Kirana nggak tau Mas denger apa nggak. Tapi Kirana yakin. Laki-laki yang tiap pagi masakin sarapan... nggak mungkin nggak kenal Allah. Laki-laki yang ngalah tidur di sofa biar Kirana nyaman... nggak mungkin hatinya beku.
Ustadz Yusuf bilang Mas nggak bisa kasih Kirana kepastian dunia akhirat. Tapi Mas udah kasih kepastian paling penting: kepastian kalo Kirana nggak sendirian. Kepastian kalo ada orang yang milih jagain Kirana daripada tidur nyenyak. Itu kepastian dunia. Dan kalo Mas tobat tiap malem sebelum tidur... itu kepastian akhirat.
Kirana nggak butuh suami yang hafal 30 juz tapi maksa. Kirana butuh suami yang mau bertanggungjawab dan mau bertobat tiap hari pake tindakan.
Pintu kamr masih kekunci. Gemboknya masih bunyi "krek" tiap ada angin. Tapi hati Kirana... pintunya kebuka dikit. Kebuka buat harapan.
Harapan kalo Mas Saqira bakal dateng. Bukan sebgai "Saqir versi Paman". Tapi sebagai "Saqir versi dia sendiri".
Kirana buka buku Ibu lagi. Halaman terakhir. Ada tulisan Ibu pake spidol warna pink. Tulisan terakhir sebelum Ibu meninggal.
"Nak Kirana, ingat ya. Allah nggak liat kamu dari label orang. Allah liat kamu dari hati kamu. Kalo hati kamu milih yang bener... jalanin. Walau semua orang bilang salah. Allah yang tau mana yang bener."
Setiap catatan ibu di buku. Seperti sudah ada firasat bahwa Kirana akan mengalami banyak hal. Kirana cium buku itu. Kenceng. "Iya Bu... Kirana ngerti sekarang..."
Dari luar, langkah kaki pelan. Suara Paman. "Nak... sarapan taruh di depan pintu ya. Nasi sama telur. Air putih segelas. Makan ya Nak..."
Kirana nggak jawab. Kirana cuma bisik ke diri sendiri, ke buku, ke Allah: "Paman... Kirana nggak durhaka. Kirana cm mau milih jalan yang Allah ridhoi. Jln yang ada Mas Saqira di ujungnya. Jln yang Kirana nggak dipaksa jadi istri orang. Jalan yang Mas Saqira nggak dipaksa jadi orang lain."
Kirana tutup buku. Rapih. Taruh di dada. Terus Kirana sujud di atas kasur tipis itu. Sujud di atas ubin dingin. Nggak pake sajadah. Nggak apa-apa.
"Ya Allah... kalo Mas Saqira jodoh Kirana... deketin. Kalo bukan... jauhkan. Tapi Ya Allah... jgn jauhkan Mas Saqira dari dirinya sendiri. Jangan biarin ia berubah jadi bukan dirinya sendiri demi Kirana."
Kirana nangis di sujud terakhir. Tapi nangisnya udah beda. Nangis orang yg udah nemu jawabannya. Jawabannya ada di hati.
Subuh makin terang. Cahaya dari lubang angin makin kuning. Nyentuh ubin. Nyentuh pipi yang bengkak. Perihnya masih ada. Tapi di dalem... anget.
Kirana tunggu, Mas. Kirana tunggu Mas dobrak pintu ini. Sebagai Mas Saqir. Bkan sebagai orang lain.
...****************...