Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Masih bergentayangan
Ben pulang ke apartemennya lebih cepat daripada biasanya. Apartemennya yang biasanya terasa seperti markas komando yang steril dan teratur, kini terasa asing.
Ben menutup pintu dengan satu hentakan pelan, tidak menyalakan lampu, membiarkan kegelapan malam Jakarta merayap masuk dari jendela kaca besar yang menghadap kota.
Ia tidak melepas jasnya. Ia hanya berdiri di tengah ruang tamu yang minimalis, tempat di mana hanya beberapa jam lalu, ia masih bisa mencium aroma parfum Lala yang tertinggal di udara.
Ben berjalan menuju sofa. Di sana, di sudut bantal, ia menemukan satu ikat rambut kecil milik Lala yang tertinggal. Ia memungutnya dengan jemari yang gemetar. Benda sepele—sebuah karet rambut berwarna pudar—namun di mata Ben, benda itu adalah bukti fisik dari "pelanggaran" yang baru saja ia lakukan.
Ia melempar kunci mobil dan ponselnya ke meja, lalu duduk dengan posisi yang sangat kaku, menatap lurus ke arah kegelapan.
Pikirannya berputar seperti kaset rusak.
Informan. Pengkhianat. Pion. Aset.
Kata-kata itu seharusnya memberikan ketenangan, seharusnya membenarkan tindakannya yang mencekik Lala dan mengusirnya. Namun, yang muncul di benaknya justru memori tentang Lala yang tertawa saat meminta makan dan juga gaji dimuka, atau ekspresi ceroboh gadis itu saat menumpahkan kopi dan meminta maaf dengan wajah penuh rasa bersalah yang—ternyata—begitu meyakinkan.
"Informan yang sangat lihai," gumam Ben, suaranya parau.
Ia meraih segelas air di meja, namun tangannya justru tidak sengaja menyenggol sebuah sketsa yang ditinggalkan Lala di atas meja makan—sebuah gambar kasar desain interior kantor yang Lala buat saat ia sedang "berakting" menjadi desainer.
Ben memungut sketsa itu. Garis-garisnya artistik, penuh gairah, dan jujur. Sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh seorang pembohong yang hatinya busuk.
Ben memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar di punggung sofa. Sepuluh tahun ia menjadi bayang-bayang keluarga Frederick, sepuluh tahun ia menukar nyawanya demi stabilitas, dan malam ini, ia menyadari bahwa stabilitas itu hanyalah ilusi. Ia telah mengusir satu-satunya orang yang membuatnya merasa tidak lagi perlu menjadi robot.
Di tengah keheningan apartemen, Ben akhirnya menyadari satu hal yang paling menakutkan dari semuanya: Meskipun ia tahu Lala adalah musuh, meskipun ia tahu Lala datang untuk menghancurkannya, Ben tidak bisa mematikan rasa sakit di dadanya.
Ia tidak lagi merasa seperti kepala keamanan yang tangguh. Ia merasa seperti mesin yang kehabisan daya di tengah jalan, terdampar di apartemen yang dingin, memegang ikat rambut seorang gadis yang kini mungkin sedang merencanakan kehancurannya.
Ben mengeluarkan sebuah botol kecil dari laci meja, obat penenang yang selalu ia simpan untuk situasi darurat. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak meminumnya. Ia hanya menatap botol itu, lalu melemparkannya ke lantai.
"Kalau ini permainan, Lala..." bisik Ben ke dalam ruang kosong, "aku tidak akan kalah. Tapi Tuhan... kenapa aku berharap kau sebenarnya tidak sedang berakting?"
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, Ben Arganza tidak memikirkan jadwal kerja, tidak memikirkan protokol keamanan, dan tidak memikirkan Baron.
Ia hanya duduk dalam kegelapan, memegang ikat rambut itu, terjebak dalam dilema antara menjadi tangan kanan yang setia atau menjadi manusia yang—untuk pertama kalinya—berani berharap pada kebohongan yang manis.
Lama ia duduk disana sampai akhirnya ia memutuskan untuk mandi air hangat.
Uap panas dari shower mengisi ruang kamar mandi, menciptakan kabut tipis yang menempel pada cermin dan dinding marmer yang dingin. Ben memejamkan mata, membiarkan air hangat membasahi wajah dan bahunya, berharap sensasi itu bisa meredam dentuman rasa bersalah dan kemarahan yang terus berkecamuk di kepalanya.
Namun, saat ia berbalik untuk meraih handuk di rak samping, pandangannya tertuju pada sudut tersembunyi di balik wastafel—tempat yang biasanya tidak ia perhatikan karena fokusnya selama ini selalu pada efisiensi.
Di sana, tergeletak sebuah bungkusan kecil kain berbahan sutra lembut yang terselip di antara celah rak.
Ben membeku. Gerakan tangannya terhenti di udara. Ia perlahan meraih benda itu. Itu adalah sepotong piyama tidur berwarna peach yang bahannya sangat halus, dan di atasnya, tergeletak sehelai pakaian dalam kecil dari renda senada yang tampak tertinggal begitu saja saat Lala terburu-buru pagi tadi.
Aroma lavender yang samar, aroma yang identik dengan Lala, masih tertinggal kuat di kain tersebut.
Ben menatap benda itu dengan tatapan kosong. Pikirannya seolah terkena serangan siber yang melumpuhkan semua sistem pertahanannya. Ia teringat kembali kehangatan apartemen ini saat Lala ada di sana—bagaimana gadis itu mondar-mandir, bagaimana ia meninggalkan jejak-jejak kecil dari "kecerobohannya" yang sekarang Ben sadari mungkin adalah bagian dari taktik infiltrasi yang sempurna.
"Kau benar-benar meninggalkan jejak, bukan?" bisik Ben dengan nada getir.
Tangannya mencengkeram kain piyama itu dengan sangat kuat, hingga buku jarinya memutih. Bagi seorang Ben Arganza, ini bukan sekadar pakaian yang tertinggal. Ini adalah pengingat fisik bahwa seseorang telah masuk ke dalam benteng yang ia bangun selama sepuluh tahun—ke dalam ruang pribadinya, ke dalam zona amannya.
Ia menatap pakaian dalam itu sejenak sebelum menutup matanya rapat-rapat. Rasa marah yang seharusnya ia rasakan kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kerinduan yang terlarang.
Ia melempar pakaian itu ke dalam keranjang cucian dengan gerakan kasar, seolah benda itu bisa membakarnya jika ia pegang terlalu lama. Namun, ia tidak membuangnya. Ia membiarkannya di sana, tersembunyi, seperti halnya ia mencoba menyembunyikan sisi kemanusiaan yang baru saja tumbuh di dalam dirinya.
Ben mematikan shower. Kamar mandi yang tadinya hangat kini terasa sangat dingin, begitu kontras dengan hatinya yang sedang dilanda badai.
"Kamu adalah informan yang buruk, Lala," gumamnya pada keheningan ruangan. "Karena jika tujuannya adalah membuatku kehilangan kendali, selamat... kau sudah berhasil."
Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, namun ia tidak bisa berhenti melirik ke arah keranjang cucian itu. Seolah-olah, meski Lala sudah pergi,
kehadiran gadis itu masih bergentayangan di setiap sudut apartemennya, menertawakan sistem keamanan yang selama ini ia banggakan.
***
Like Like Like
jadi nikmati aja alurnya