[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Mata itu, Mata penuh luka
Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam, membawa roda-roda mesin mewah mereka membelah keheningan malam kota Jakarta. Jalanan yang lengang dan sepi seolah memberi ruang bagi Steve untuk mengemudikan mobilnya dengan gila. Elleta refleks mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, tubuhnya menegang menahan guncangan.
"Kamu gila, ya?! Mau membawa aku ke mana?!" teriak Elleta. Deru napasnya memburu, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdegup liar.
"Ini bukan arah ke rumahku, Steve!!" pekik Elleta lagi saat menyadari rute jalan yang semakin asing.
Steve hanya menyunggingkan senyum miring tanpa mengalihkan pandangan dari aspal. "Kamu akan segera tahu, Elleta. Ikut saja. Tetap pakai sabuk pengamanmu, jangan dilepas."
Mobil terus melaju hingga hawa dingin perlahan menusuk melalui celah pendingin kabin. Pohon-pohon besar mulai berjajar rapat di sepanjang jalan yang minim penerangan. Suasana sunyi dan gelap yang mencekam seketika membuat bulu kuduk Elleta berdiri.
Mereka memasuki kawasan pemakaman elite, hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di dekat sebuah pohon tua yang menjulang tinggi.
Elleta turun mengekor di belakang Steve dengan perasaan waswas yang membuncah.
"Kenapa membawa aku ke sini?! Ini kuburan, Steve!"
Pria itu tetap bungkam. Langkah kakinya yang konstan menuntun mereka menyusuri jalan setapak, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah nisan marmer hitam yang berkilau tertimpa cahaya bulan. Di sana, terukir nama: Katrina Nafisa Danendra.
Elleta tertegun. Amarah yang sedari tadi meletup-letup di dadanya mendadak surut saat ia melirik raut wajah Steve. Sisi intimidatif pria itu menguap, berganti dengan sorot mata sendu dan gurat kerapuhan yang asing.
Ada riak keterkejutan di benak Elleta melihat perubahan drastis pria di sampingnya. Steve perlahan berjongkok, meletakkan seikat bunga aster putih yang sangat cantik di atas pusara. Elleta bahkan tidak menyadari sejak kapan pria itu menyiapkan bunga tersebut.
Mata Elleta kemudian tertuju pada bingkai foto di nisan itu. Sosok wanita yang sangat cantik, namun anehnya, sepasang mata di foto itu memancarkan tatapan yang sangat mirip dengan miliknya. Rasa janggal menjalar di hati Elleta.
Ia beralih menatap nisan di sebelahnya, sebuah makam dengan foto wanita paruh baya yang memiliki kemiripan struktur wajah dengan Steve.
Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? batin Elleta, perlahan ikut berjongkok di samping Steve.
Steve meraih tangan mungil Elleta, mengarahkannya untuk menyentuh permukaan dingin nisan Katrina. Namun, Elleta dengan cepat menarik kembali tangannya, mengerutkan dahi tanda tak nyaman.
Seketika, sepasang mata Steve beralih menatapnya. Sorot mata yang kali ini sama sekali tidak menyiratkan ancaman. "Ini Katrina, Elleta. Istri pertamaku. Aku... gagal menjaganya."
Elleta mendengus hambar, mencoba menepis rasa simpati yang mendadak muncul. "Lalu apa hubungannya denganku, Steve?!"
Steve tersenyum tipis, jenis senyuman yang menyembunyikan luka dalam. "Aku membawamu ke sini untuk menunjukkan kepada mereka. Bahwa aku sudah memiliki pelabuhan yang baru."
Steve mengalihkan pandangannya ke makam di sebelah kanan, tempat bersemayamnya Nara Allysa Danendra ibu kandungnya.
Ia mengusap permukaan marmer itu dengan gerakan pelan dan penuh penghormatan. "Ini Mommy-ku, Elleta. Mereka berdua adalah wanita-wanita yang kuat semasa hidupnya."
"Lalu apa? Aku yang selanjutnya akan menyusul mereka?" cibir Elleta sinis, menyembunyikan getar ketakutan di suaranya.
"Kamu berniat membunuhku secara perlahan dengan caramu ini, Steve?"
Rahang Steve seketika mengeras mendengar sindiran itu. "Elleta! Aku membawamu ke dalam hidupku justru untuk melindungimu! Karena aku tahu kamu sedang dalam bahaya. Di bawah pengawasanku, kamu akan aman. Aku tidak akan membiarkanmu berakhir sama seperti mereka!"
Kilatan ingatan masa lalu mendadak berputar hebat di kepala Steve, menarik kesadarannya mundur ke malam kelam beberapa tahun lalu.
"Steve, tolong selamatkan Alzio... dia berhak hidup," bisik Katrina dengan napas yang tersengal di antara sisa kesadarannya. "Jika aku tidak selamat, aku hanya minta satu hal... cari wanita yang jalan hidupnya tidak seperti aku. Cari wanita yang lebih kuat dan berani untuk bisa mengimbangi kerasnya duniamu..."
"Katrina, tidak!! Bertahanlah!!"
"Steve? Kamu tidak apa-apa?" Suara Elleta memecah lamunan itu. Pria itu tampak memegang kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri.
Steve segera beranjak, menarik lengan Elleta untuk ikut bangkit. Tanpa kata lagi, ia membimbing gadis itu keluar dari area pemakaman menuju mobil.
Begitu pintu tertutup dan mesin menyala, aura sendu Steve menguap tanpa bekas, berganti dengan topeng dingin yang biasa ia kenakan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalumu, Steve. Tapi kenapa harus aku?" tanya Elleta pelan, memecah keheningan kabin.
Steve memutar kemudi tanpa menoleh. "Karena aku tahu kamu berbeda dari kedua wanita itu, Elleta. Aku menyukai keras kepalamu. Matamu memancarkan binar keberanian yang tidak bisa kujelaskan."
"Ada banyak wanita lain di luar sana, Steve! Kenapa harus aku yang kamu sandera?" imbuh Elleta sendu, mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap sisa malam yang kian larut.
Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah pelataran mansion mewah berarsitektur khas Italia yang megah.
"Turun, El," titah Steve mutlak.
Begitu melangkah masuk ke dalam lobi mansion, seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan menyambut mereka dengan hormat. "Selamat malam, Tuan, Nona. Tuan Muda sudah menunggu di ruang tengah."
Steve mengangguk sekilas, berjalan mendahului Elleta yang mengekor dengan langkah penuh kewaspadaan.
Di atas sofa ruang tengah, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun tampak asyik memainkannya robot mobil di tangannya. Begitu menyadari kehadiran mereka, anak itu langsung turun dari sofa dan berlari riang.
"Daddy!"
Senyum lembut anak itu sangat mirip dengan mendiang wanita di foto pemakaman tadi, namun ia mewarisi sorot mata dingin milik Steve.
"Kenalkan, El. Ini Alzio Edwan Danendra. Anakku bersama Katrina," ucap Steve datar.
Serius aku akan terseret masuk ke dalam dunia rumit yang dibangun pria ini? batin Elleta, mendadak merasa pusing.
"Hai, Tante. Panggil Cio saja, ya," sapa anak itu dengan senyuman merekah yang tampak begitu menggemaskan.
Elleta perlahan berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Alzio. Kehangatan anak itu meruntuhkan sedikit dinding pertahanannya. "Hai... nama Kakak, Elleta. Senang bertemu dengan Cio."
Alzio mengangguk antusias, matanya berbinar. "Ini yang Daddy ceritakan ya? Cio mau punya Mama baru?"
Steve mengulurkan tangan, mengusap rambut lembut putrinya dengan sayang. "Iya, sebentar lagi Kak Elleta akan menjadi Mama Cio."
Mendengar hal itu, fokus Elleta mendadak teralih saat melihat beberapa pelayan menggotong koper-koper miliknya naik menuju lantai dua.
Elleta langsung bangkit berdiri dan menatap Steve dengan tatapan menghunus. "Apa maksudnya ini?! Kenapa koper-koperku bisa ada di sini?!"
"Mulai malam ini sampai satu bulan ke depan tepatnya hingga hari pernikahan kita tiba. Kamu akan tinggal di sini. Bersamaku, dan bersama Alzio," jawab Steve tanpa beban.
"Enggak bisa gitu dong! Ini namanya penculikan, pemaksaan!" Sentak Elleta, urat di lehernya menegang menahan amarah yang kembali tersulut.
"Apa kamu sama sekali enggak minta pendapatku, Steve?!"
"Semua sudah kuatur, Elleta. Dan papamu pun tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menjemputmu pulang," sahut Steve dingin sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan Elleta dan Alzio di ruang tengah.
Alzio, yang tampaknya sudah terbiasa melihat perdebatan orang dewasa di rumah itu, tidak tampak takut. Ia justru melangkah mendekat dan menggenggam jemari Elleta dengan erat.
"Kak El... jangan pergi dan meninggalkan Cio seperti Mommy, ya? Sendirian di rumah ini tidak enak, Kak," bisik Alzio dengan nada penuh harap.
Elleta menunduk, menatap wajah polos itu dengan pergolakan batin yang sulit diartikan. Ada rasa iba, namun juga rasa bersalah karena ia terjebak di tempat ini.
"Cio, kembali ke kamarmu sekarang. Besok kamu harus sekolah," perintah Steve yang tiba-tiba kembali terdengar dari arah tangga. Seorang pengasuh segera datang, mengambil alih tuntunan Alzio dan membawanya naik.
Mansion mewah ini seketika terasa berubah wujud menjadi sel penjara emas yang megah di mata Elleta. Kali ini, ia benar-benar terkunci di dalam labirin milik Steve, tanpa tahu di mana jalan keluarnya.