NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18. Hanya sekadar teman sejawat

Pintu otomatis ruang operasi terbuka perlahan dengan bunyi mendesis pelan.

Galang keluar lebih dulu sambil melepaskan masker hijaunya. Wajahnya tampak lelah selepas operasi CITO hampir empat jam tanpa jeda. Bahunya terasa berat, peluh masih menempel di pelipis, sementara aroma antiseptik memenuhi indera penciumannya sejak tadi.

Lorong instalasi bedah malam itu cukup sepi.

Hanya ada beberapa perawat jaga dan suara monitor pasien dari kejauhan.

Galang berjalan pelan menuju nurse station sambil meregangkan lehernya yang terasa pegal. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri tak jauh dari lorong ICU.

Dokter Arif Ramdan Nugraha.

Pria itu masih menggunakan scrub gelap dan jas operasi navy, pria itu berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku. Tatapannya tenang seperti biasa, namun tajam.

Dan dalam sepersekian detik--

Galang langsung mengenalinya.

Pria yang bertemu dengannya di basement parkiran Ciplaz siang tadi. Rahangnya sedikit menegang.

Ingatan siang tadi muncul begitu saja di kepalanya. Sekar yang mendadak diam. Sekar yang awalnya membicarakan masalah harga diskon dan santai tiba-tiba terlihat kaku. Bahkan setelah pria itu pergi, Sekar lebih banyak menatap jendela mobil dan menjawab seperlunya.

"Teman lama di Jakarta." begitu kata Sekar waktu itu.

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan lain.

Sementara di sisi lain, Arif juga mengenali Galang hampir seketika.

Pria yang tadi siang bersama Sekar di basement parkiran Ciplaz itu ternyata dokter anestesi yang tadi bekerja sama di meja operasi yang sama.

Dan jujur saja, Arif sempat bertanya-tanya sejak tadi.

"Kenapa Hanum bisa sama pria itu barusan? Kenapa Hanum ada di Garut? Tidak mungkin cuma sekadar seminar buku, siapa pria ini?" gumamnya seraya menatap Galang.

Arif tersenyum saat mereka sudah berdiri saling berhadapan, wajahnya profesional tanpa menunjukkan apa-apa.

"Pasien stabil?" tanya Arif akhirnya.

Suara bertanya memecah keheningan.

Galang mengangguk pendek. "Sudah masuk ICU. Tensi mulai membaik.

"Good save." Ucap Arif seraya mengembangkan senyum.

Galang merespon sanjungan Arif dengan menundukkan kepalanya sebentar. Lalu keheningan kembali turun di antara mereka.

Dua pria dengan karakter yang sama-sama tenang itu berdiri dalam suasana canggung yang samar. Tidak bermusuhan. Namun jelas ada sesuatu yang menggantung di udara.

Galang melirik Arif sekilas.

Bedah saraf.

Pantas pembawaannya tenang.

Sementara Arif diam-diam memperhatikan Galang lebih detail malam ini. Tinggi, tenang, tidak banyak bicara, tetapi gesturnya tegas. Dan entah kenapa...bayangan Sekar berdiri di samping pria itu tadi siang terasa menggangunya sedikit.

Ia melirik ke jemari Galang. Polos, tidak ada cincin atau apa pun, ah lupa! Ini rumah sakit, dan ini ruang area bedah mana ada dokter atau nakes yang mengenakan perhiasan, apalagi sebuah cincin.

"GALAAAAAANNNGGG!!!!"

Suara perempuan riang tiba-tiba menggema memenuhi lorong.

Keduanya sama-sama menoleh.

Dokter Melisa Wulandari datang dengan langkah cepat sambil membawa map pasien. Rambut hitam kecoklatannya sedikit berantakan, tetapi senyumnya lebar sekali seperti orang yang tidak tahu lelah.

"Ya ampun, akhirnya selesai juga!" katanya heboh. "Aku tadi sampai ditanyain keluarga pasien terus!"

Galang memijat pelipisnya pelan.

"Melisa, kecilin volume."

"Oke siap."

Dua detik kemudian--

"Tapi serius deh operasi tadi bikin deg-degan banget!" ia melirik Arif, "untung ada kak Arif, barusan perawat sama tim kalian ngomongin kalian lho, katanya kalian di ruang operasi tadi sangat tenang!"

Galang menghela napas panjang.

Arif memperhatikan mereka tanpa bicara.

Melisa kemudian berdiri tepat di samping Galang dengan sangat natural. Bahkan tanpa izin, perempuan itu langsung menggandeng lengan Galang erat.

"Kasihan banget calon pacar aku kecapean," katanya santai.

Kalimat itu membuat alis kiri Arif terangkat secara refleks.

"Calon pacar? Berarti...dokter anestesi ini gak ada hubungan apa-apa, tapi...kenapa mereka jalan bareng? Ah, mungkin mereka saudara sepupu kali. Syukurlah." Gumamnya dalam hati.

Galang langsung menoleh datar. "Lepas."

"Enggak mau."

"Melisa."

"Apa? Biar semua orang tahu aku serius sama kamu."

"Ini tidak lucu, Mel."

Namun Melisa malah makin santai menyandar di lengan kekar Galang sebelum akhirnya menoleh ke arah Arif dengan senyum lebar.

"Oh iya, Kak Arif, kenalin ya." Ia menunjuk Galang penuh percaya diri. "Ini Galang. Calon pacar aku."

Hening sepersekian detik.

Arif memandang Galang cukup lama.

Sementara di dalam kepalanya, potongan-potongan kejadian siang tadi mulai tersusun sendiri.

Arif tersenyum lalu menyodorkan tangannya. "Saya Arif,"

Galang menjabat tangan pria itu. "Galang."

Melisa tersenyum puas melihat Arif yang sudah ia anggap kakaknya sendiri menatap pria yang ia suka.

"Oh iya kak Arif, sorry barusan aku nggak sempet jemput kak Arif sama kak Clara. Bay the way, udah nemuin tempat buat tinggal?" tanya Melisa menatap Arif.

"Udah, lumayan deket dari rumah sakit juga." Jawab Arif.

Galang menyadari jika sejak tadi Arif melirik perlakuan Melisa kepadanya, buru-buru ia melepaskan tangan Melisa dari lengannya dengan gerakan halus tapi tegas.

"Kalian...pacaran?" tanya Arif.

"Tidak," jawab Galang.

Melisa mendecak.

"Yah...kok di bantah terus sih?" Melisa cemberut, lalu menatap Arif. "Kita emang belum resmi pacaran, tapi kak Arif jangan khawatir...bentar lagi aku jadi calonnya, dia jomblo kok." Melisa terkekeh.

"Kamu ngarang."

"Aku manifesting."

"Itu halusinasi."

Arif nyaris tersenyum mendengar jawaban datar tersebut.

Sementara di sisi lain, pikirannya tetap tertahan pada Sekar.

"Oh iya. Hanum...apa kabar dia sekarang?"

"Atau sebenarnya ada hubungan apa sama kalian?"

Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan itu. Rasanya sangat tidak etis. Apalagi melihat Melisa yang terang-terangan begitu dekat dengan Galang.

Bisa jadi wanita itu sepupunya Galang, atau mereka saling kenal karena terikat oleh persaudaraan.

Melisa kembali berbicara tanpa jeda.

"Kak Arif jangan percaya ya. Galang emang malu-malu kalau soal aku."

"Saya tidak malu," jawab Galang cepat.

"Terus kenapa dingin banget?"

"Saya capek."

"Alasan."

Galang menatap langit-langit sebentar seperti menahan sabar.

Arif terkekeh, "Pasti...kamu tertekan kan, sama kelakuan adek saya?"

Galang seketika menatap Arif, lalu bergantian pada Melisa. "Jadi, ini adiknya dokter Arif?"

Sekali lagi Arif terkekeh, "bukan kandung. Kami saling mengenal, dan saya sudah menganggap Melisa sebagai adik saya."

Melisa menyelipkan anak rambutnya ke telinga, pipinya memerah karena malu.

"A Galang." Panggilnya lagi.

"Hmm."

"Aku bikin kopi ya?"

"Terserah."

"Wih, itu artinya boleh...." Serunya lalu melirik Arif, "dia paling suka kopi buatan aku, Kak Arif mau juga?"

"Boleh."

Melisa gegas berjalan cepat menuju pantry dengan langkah ceria, meninggalkan Galang dan Arif kembali berdua di lorong operasi yang dingin.

Hening beberapa detik.

Lalu Arif berkata pelan tanpa menoleh, "kita pernah bertemu tadi siang."

Galang memasukkan tangan ke saku celana scrubnya.

"Ya, saya ingat. Di basement Ciplaz."

Arif mengangguk kecil.

"Dengan Hanum."

Nama itu akhirnya keluar juga.

Tiba-tiba ponsel Galang berdering, ia menatap layar ponselnya dan tertera nama sahabatnya.

Dokter Ardi.

"Oh ya. Saya dan Melisa tidak punya hubungan apa-apa, kalaupun kami dekat....karena kami rekan sejawat, saya permisi. Ada CITO sekarang," ujar Galang seraya meninggalkan Arif.

Arif tersenyum, meski sebenarnya ucapan Galang membuat hatinya tidak karuan.

"Ya. Silahkan."

.

.

.

Mana nih komennya??? Komen yuk biar rame kaya di pasar hehehhe

Jangan lupa like

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!