NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Suasana di ruangan VIP itu seakan berubah menjadi taman bunga. Kalimat "Mulai sekarang kamu kekasih saya" masih terus bergema di telinga Nurlia, membuatnya merasa melayang di atas awan.

Sulthan menatap kekasih barunya itu dengan tatapan penuh kasih sayang dan perlindungan. Sebagai seorang CEO yang terbiasa mengatur segalanya dan ingin melihat orang yang dicintainya hidup nyaman, langsung terlintas di pikirannya sebuah keputusan besar.

"Nur," panggil Sulthan lembut namun tegas.

"I-iya Tuan...?" jawab Nurlia masih dengan wajah memerah dan jantung yang berdegup kencang.

"Karena sekarang kamu sudah jadi kekasihku, aku tidak mau kamu capek-capek kerja begini lagi," ucap Sulthan mulai membahas hal serius. "Mulai minggu depan, berhentilah bekerja di sini. Serahkan semua urusan hidupmu padaku. Aku yang akan menanggung biaya hidupmu, biaya sekolah Adelia, dan semua kebutuhan kalian berdua. Kamu tidak perlu susah-susah melayani orang lain lagi."

Sulthan mengucapkan itu dengan sangat yakin, seolah itu adalah hal yang paling wajar untuk dilakukan seorang lelaki terhadap wanitanya. Baginya, memberikan kemewahan dan kenyamanan adalah bentuk cinta.

Namun, mendengar tawaran itu, ekspresi Nurlia justru berubah menjadi ragu. Gadis itu menggeleng pelan, lalu menunduk sopan.

"Maafkan saya Tuan..." jawab Nurlia pelan.

Sulthan mengerutkan kening. "Kenapa menolak? Bukankah itu lebih baik? Kamu bisa istirahat, tidak perlu panas-panasan atau capek melayani pembeli."

Nurlia menghela napas panjang, memberanikan diri menatap mata sang kekasih.

"Saya tahu niat Tuan sangat baik dan saya sangat berterima kasih... Tulus sekali hatinya," ucap Nurlia tulus. "Tapi... tolong jangan suruh saya berhenti bekerja ya. Saya sudah terlanjur sangat nyaman bekerja di sini."

"Rekan-rekan kerja seperti Riski, Rina, dan Sari sudah seperti keluarga sendiri bagi saya. Bekerja melayani pembeli membuat saya merasa berguna, merasa hidup, dan tidak terbebani. Kalau saya berhenti dan hanya diam menerima uang dari Tuan, rasanya saya akan tidak enak hati dan merasa tidak mandiri lagi," jelas Nurlia panjang lebar dengan nada yang memohon pengertian.

"Saya janji, saya akan tetap bekerja tapi saya akan tetap menjaga nama baik Tuan dan nama baik diri saya. Bekerja itu tidak memalukan kan, Tuan?"

Sulthan terdiam mendengar penjelasan itu. Dia menatap wajah Nurlia yang tulus dan penuh semangat. Dia sadar, salah satu hal yang membuatnya jatuh cinta pada gadis ini adalah kemandirian dan kerajinannya.

Jika dia memaksanya berhenti kerja, berarti dia menghilangkan ciri khas Nurlia yang membuatnya begitu istimewa.

"Ya sudah... kalau itu permintaanmu dan itu membuatmu bahagia," jawab Sulthan akhirnya melunak, wajahnya kembali tersenyum lembut. "Aku tidak akan memaksamu. Lanjutkan saja pekerjaanmu kalau memang itu yang kamu mau. Aku percaya padamu."

"Terima kasih banyak Tuan! Tuan memang paling pengertian!" seru Nurlia bahagia, rasanya lega sekali kekasihnya mau mengerti posisinya.

"Sudah sudah, jangan manja dulu. Makanan ini sudah dingin loh," goda Sulthan sambil menunjuk hidangan di hadapannya.

"Iya Tuan! Silakan dinikmati makanannya ya," jawab Nurlia ceria.

Setelah merasa pembicaraan penting itu selesai dengan baik, Nurlia pun berpamitan dengan sopan.

"Kalau begitu saya pamit dulu ya Tuan. Masih ada pembeli lain yang harus dilayani. Nanti kalau butuh apa-apa panggil saya saja," ucap Nurlia sambil membungkuk sedikit.

"Iya hati-hati," sahut Sulthan.

Nurlia pun berjalan keluar ruangan VIP dengan langkah yang terasa sangat berbeda. Punggungnya terasa lebih tegap, wajahnya berseri-seri, dan senyumnya tak pernah pudar.

Di luar sana, suasana restoran sudah semakin ramai.

"Mbak Nur! Tolong ambilkan sambal dong!" panggil salah satu pelanggan.

"Siap Mas, sebentar ya!" jawab Nurlia dengan suara yang terdengar sangat ceria dan bersemangat.

Dia berlalu lalang melayani pembeli, mencatat pesanan, mengantar makanan, tertawa bersama Riski, Rina, dan Sari. Tak ada yang tahu kalau gadis yang bekerja dengan begitu ramah dan ceria itu, baru saja resmi menjadi kekasih dari orang paling kaya dan paling berkuasa, CEO Aditama Group, Sulthan Aditama.

Sulthan mulai menyantap hidangan lezat di hadapannya, namun matanya tak lepas dari kaca pembatas ruangan VIP yang memungkinkannya melihat ke area utama restoran.

Di sana, di tengah keramaian, Nurlia tampak begitu cantik dan bersinar. Gadis itu berlalu lalang dengan cekatan, tersenyum ramah pada setiap pelanggan, tertawa kecil saat berbincang dengan rekan kerjanya, Riski, Rina, dan Sari.

Melihat Nurlia yang begitu bahagia melakukan pekerjaannya, Sulthan merasa sangat damai dan hangat.

"Cantik sekali... sungguh wanita yang luar biasa," gumam Sulthan sambil tersenyum sendiri.

Rasa cinta dan sayang yang menggebu-gebu itu membuat pikiran Sulthan melayang jauh ke masa depan. Bukan sekadar pacaran atau jalan-jalan, tapi pemikiran seorang pria dewasa yang serius.

"Aku ingin segera menikahinya. Aku ingin jadikan dia istriku, Ibu untuk anak-anakku kelak, dan nyonya di rumah besarku," batin Sulthan mantap.

Keinginan itu begitu kuat. Dia ingin segera mengikat Nurlia dengan pernikahan yang sah, agar gadis itu benar-benar menjadi miliknya selamanya dan dia bisa melindunginya sepenuh hati.

Namun...

Senyum di wajah Sulthan perlahan memudar saat logika dan realitas mulai bekerja.

"Tapi... apakah semudah itu?"

Sulthan menghela napas panjang, menaruh sendok dan garpunya sejenak. Dia sadar betul, status sosial mereka berdua bagaikan langit dan bumi.

Dia adalah Sulthan Aditama, CEO muda pemilik kerajaan bisnis emas Aditama Group. Keturunan orang kaya, hidup bergelimang harta, dan menjadi sorotan banyak orang.

Sedangkan Nurlia... hanyalah seorang gadis desa, anak yatim piatu, yang bekerja keras mencari nafkah sebagai pelayan restoran dengan mengayuh sepeda onthel. Perbedaan itu sangat jauh dan mencolok.

"Bagaimana dengan orang tuaku?" Pikiran itu muncul dan menjadi beban tersendiri di pikiran Sulthan.

Ayahnya, Pak Aditama, adalah pendiri perusahaan yang sangat tegas dan sangat menjaga gengsi serta nama baik keluarga. Beliau pasti berharap anak semata wayangnya menikah dengan wanita dari kalangan yang setara, anak pejabat, atau anak pengusaha kaya raya lainnya, bukan gadis dari kalangan bawah.

Begitu juga ibunya, Ibu Susan. Wanita yang sangat elegan, sopan, dan berasal dari keluarga terpandang. Meskipun hatinya baik, tapi pasti beliau juga akan terkejut dan mungkin ragu jika tahu calon menantunya adalah seorang pelayan restoran.

"Pasti akan ada banyak penolakan. Pasti akan ada perdebatan sengit di rumah nanti," batin Sulthan mulai cemas.

Bayangan wajah ayah dan ibunya yang mungkin akan marah atau kecewa terbayang jelas di benaknya. Tapi di sisi lain, bayangan wajah Nurlia yang polos, tulus, dan penuh kasih sayang juga tak kalah kuatnya.

Sulthan mengepalkan tangannya di bawah meja. Tatapannya kembali berubah menjadi tegas dan penuh tekad baja.

"Terserah apa kata orang... Terserah apa kata orang tuaku nanti. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku mencintai Nurlia dan hanya dia yang aku inginkan."

"Mereka mungkin tidak setuju di awal, mungkin akan marah besar, mungkin akan melarang. Tapi aku akan berusaha. Aku akan buktikan pada Ayah dan Ibu, bahwa Nurlia itu wanita yang baik, yang pantas dihormati, dan yang bisa membahagiakanku."

Sulthan yakin, dengan kesabaran dan ketulusan, perlahan orang tuanya pasti akan mengerti dan menerima Nurlia. Dia tidak akan membiarkan perbedaan status atau siapapun memisahkan mereka berdua.

"Aku janji Nur... aku akan berjuang sampai kita benar-benar bersatu di pelaminan," bisiknya lirih, menatap kekasihnya dari kejauhan dengan cinta yang semakin membara.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!