Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.
Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.
Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.
Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Aula Leluhur
Bab 2 : Bayangan di Aula Leluhur
Setelah Shen Mingyuan pergi, aula leluhur kembali sunyi.
Hanya suara bara dupa yang sesekali berderak halus, dan aroma cendana yang perlahan
memenuhi ruangan.
Di luar, salju turun makin deras, menutupi dunia dengan kesunyian
putih.
Shen Fuyan berpikir akhirnya, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
Namun harapan itu hanya bertahan sekejap.
Suara langkah kaki cepat terdengar dari luar.
Berbeda dengan langkah pelayan yang hati-hati, langkah ini lebih ringan, lebih terburu namun sengaja dibuat anggun.
Shen Fuyan menoleh.
Tirai tersibak.
Masuklah Selir Yang.
Ia telah berganti pakaian.
Jika sebelumnya ia tampil sederhana di hadapan Nyonya Tua, kini ia kembali pada
kebiasaannyabmencolok namun terencana.
Jepit rambut emas menjuntai di pelipisnya,
dihiasi mutiara yang bergetar setiap kali ia bergerak.
Ia mengenakan jaket lengan sempit
berwarna teratai pucat, dipadukan dengan jubah merah kesemek yang terang seperti api
di musim dingin.
Rok lipitnya berayun lembut, mengikuti langkahnya yang dibuat-buat.
Di belakangnya, Shen Shishi berjalan dengan wajah masam, jelas enggan berada di
tempat itu.
Saat tatapan mereka bertemu, Shen Shishi mengangkat dagunya, mendengus kecil.
“Hmph.”
Shen Fuyan tidak bereaksi.
Ia sudah mengenalnya sejak kecil.
Gadis itu tidak selalu seperti ini.
Selama lima tahun dirinya menghilang, Shen Shishi menjadi satu-satunya putri di
rumah utama.
Dimanjakan tanpa batas, dilindungi dari segala gosipntidak heran jika
kini sifatnya menjadi tajam dan manja.
Namun
Bukan itu yang menarik perhatian Shen Fuyan.
Melainkan ibunya.
Ah, tidak
Selir Yang.
Shen Fuyan tahu betul wanita itu bukanlah tipe yang mampu merencanakan sesuatu
yang besar.
Namun justru karena itu, setiap niatnya selalu tampak jelas.
Seperti sekarang.
Masuk dengan wajah cemas, alis berkerut seolah penuh perhatian…
Namun begitu memastikan Shen Mingyuan benar-benar pergi.
Topeng itu runtuh.
Langkahnya melambat.
Pinggulnya bergoyang ringan.
Sudut bibirnya terangkat tipis,
matanya memandang Shen Fuyan dengan jijik yang tak disembunyikan.
Ia melambaikan saputangan.“Pelayan, tunggu di luar.”
Pintu aula tertutup.
Hanya tersisa mereka bertiga.
Sunyi.
Lalu
“Nona Kedua,” suara Selir Yang lembut, hampir manis, “perjalanan jauh pasti
melelahkan. Mengapa tidak beristirahat? Mengapa malah berlutut di sini?”
Nada itu… terlalu dibuat.
Shen Fuyan bahkan tidak menoleh.
Tatapannya tetap pada pembakar dupa di depan papan leluhur.
“Bibi bisa menanyakannya pada Ayah,” jawabnya ringan.
Selir Yang tentu tidak berani.
Ia berpikir sejenak, lalu matanya berkilat seolah menemukan sesuatu.
“Ah… apakah karena urusan pernikahan?”
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum, lalu melanjutkan, pura-pura prihatin
“Memang sulit… Nona Kedua sudah berusia sembilan belas tahun, bukan?”
“Biasanya, gadis seusiamu sudah lama bertunangan. Bahkan tujuh belas saja sudah
dianggap terlambat…”
Ia menghela napas panjang.
“Sayang sekali, Nyonya Tua membawamu ke Gunung Zuowang selama bertahun-tahun.
Masa terbaikmu terlewat begitu saja.”
Kata-katanya lembut.
Namun seperti jarum.
Shen Fuyan akhirnya melirik.
Ia melihat dengan jelas alis yang pura-pura berkerut, namun sudut bibir yang tak
mampu menahan senyum.
Begitu kontras.
Begitu… menjijikkan.
Shen Fuyan mengubah posisinya.
Dari berlutut rapi
Menjadi duduk bersila.
Tidak sopan.
Tidak anggun.
Namun jauh lebih nyaman.
“Aku rasa…” katanya pelan, “Bibi seharusnya berterima kasih padaku.”
Selir Yang tertegun.
Lalu tertawa kecil, meremehkan.
“Terima kasih? Apa maksudmu?”
Shen Fuyan menatapnya lurus.
“Jika aku mengingatkan Nenek lebih awal, beliau pasti sudah kembali bersamaku.”
“Dan saat itu… bukan hanya aku yang akan dicarikan pasangan.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu
“Ayah juga.”
Senyum Selir Yang membeku.
“Menurut Bibi,” lanjut Shen Fuyan santai, “bukankah seharusnya kau berterima kasih
padaku?”
Sunyi.
Salju di luar jatuh tanpa suara.
Wajah Selir Yang berubah.
Ia baru saja menyadari kemungkinan yang tak pernah ia pikirkan.
Namun Shen Fuyan belum selesai.“Sekarang Ayah sudah menyerahkan urusan pernikahanku pada Bibi Kedua,” katanya
ringan.
“Tapi Nenek… pasti punya rencana lain.”
Tatapannya dingin.
“Dan saat itu terjadi… apakah Bibi masih bisa hidup setenang sekarang?”
Setiap kata
Seperti pisau tipis.
Selir Yang terdiam, wajahnya tak mampu menyembunyikan kegelisahan.
Namun sebelum ia bisa bicara
“Cukup!”
Shen Shishi melangkah maju.
Wajahnya merah karena marah.
“Daripada mengurusi ibuku, lebih baik kau lihat dirimu sendiri!” bentaknya.
“Belum menikah di usia seperti itu, memalukan!”
“Aku bahkan tak berani bertemu orang luar karena punya kakak seperti kau!”
Shen Fuyan menoleh.
Tatapannya tenang.
Namun dingin.
“Benarkah?” suaranya lembut.
Shen Shishi menelan ludah namun tetap keras kepala.
“Tentu saja!”
Shen Fuyan tersenyum.
Tipis.
“Kalau begitu… kau harus berhati-hati, Saudari Keempat.”
Nada suaranya melambat.
“Selama aku belum menikah… maka itu bukan giliranmu.”
Wajah Shen Shishi berubah.
“Jadi…” Shen Fuyan melanjutkan, matanya sedikit menyipit, “kalau aku menunda tiga
atau empat tahun lagi…”
Senyumnya berubah.
Lebih tajam.
“Bukankah kau akan menjadi wanita tua‟ bersamaku?”
Dunia seolah berhenti.
Shen Shishi tertegun.
Lalu panik.
“Tidak! Kau tidak berani!”
Shen Fuyan tertawa pelan.
“Aku tidak takut pada omongan orang,” katanya santai.
“Yang aku ingin tahu…”
Ia menatap lurus ke mata Shen Shishi.
“Apakah kau takut?”
Langkah Shen Shishi mundur tanpa sadar.
Ia ingat.
Semua orang mungkin lupa
Tapi dia tidak.
Gadis di depannya ini…
Pernah menyamar sebagai kakaknya di usia delapan tahun
Hanya untuk memukuli seseorang sampai berdarah.
Kalau hal seperti itu saja berani ia lakukan,
Apa lagi yang tidak?
Ketakutan mulai merayap.
Suasana berubah.
Dari mengejek
Menjadi tertekan.
Tepat saat itu
Suara langkah kaki lain terdengar.
Lebih berat.
Lebih tenang.
Seseorang masuk.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Selir Yang dan Shen Shishi langsung menoleh.
“Tuan Muda Tertua…” suara mereka melemah.
Shen Chen berdiri di ambang pintu.
Tatapannya tajam.
Tanpa sadar, Shen Fuyan kembali berlutut rapi.
Menghela napas dalam hati.
Hari ini… aula leluhur benar-benar ramai.
Selir Yang segera mencari alasan dan pergi dengan tergesa, menarik Shen Shishi
sebelum gadis itu sempat mengadu.
Tak lama
Hanya tersisa dua orang.
Kakak dan adik.
Sunyi kembali turun.
Namun kali ini…
Lebih berat.
Shen Chen berdiri lama.
Seolah ingin bicara.
Namun tak tahu dari mana harus mulai.
Akhirnya “Kakak,” kata Shen Fuyan datar, “katakan saja.”
Shen Chen menghela napas panjang.
Lalu
“Kau tahu apa yang ingin kukatakan.”
Ia menatapnya.
“Kamp militer penuh pria.”
“Dengan melakukan hal seperti itu…”
“Apakah kau tidak sadar itu memalukan bagi keluarga kita?”
Kata “itu” menggantung di udara.
Tak pernah diucapkan.
Namun cukup jelas.
Shen Fuyan terdiam.
Lalu
Ia mengangkat kepala.
Tatapannya berubah.
Tidak lagi santai.
Tidak lagi main-main.
“Melindungi negara,” katanya pelan, “bukanlah hal yang memalukan.”
Tidak ada emosi berlebihan.
Tidak ada amarah.
Hanya fakta.
Sederhana.
Namun
Tak terbantahkan.
Shen Chen menatapnya.
Lama.
Meski ia berdiri, dan Shen Fuyan berlutut
Untuk sesaat…
Ia merasa seperti sedang dipandang dari tempat yang jauh lebih tinggi.