Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kata-kata Arya sebenarnya terdengar biasa saja bagi Luna. Tapi pancaran sinar wajah Arya begitu tampak asing. Luna tak pernah melihat wajah ini sebelumnya. Begitu dingin dan penuh dengan nafsu membunuh.
Luna melihat tangannya yang menahan Arya.
"Aku ... "
Dia ragu untuk membiarkan tangan besar itu menjelajahi tubuhnya. Luna takut terhanyut dan melupakan semuanya, termasuk harga dirinya sebagai istri yang pernah diselingkuhi dan diceraikan oleh pria yang ada di hadapannya.
"Aku sudah tidak sabar sayang"
Meski ragu, Luna akhirnya menarik tangannya. Membiarkan Arya menjelajahi tubuhnya. Tangan besar itu perlahan naik dan sampai ke pangkal paha. Napas Luna segera tercekat. Dia tak bisa menahan desahan yang secara otomatis keluar dari mulutnya.
Untunglah Arya tidak menyiksanya terlalu awal. Tangan itu kembali bergerak menuju ke arah dada Luna. Meraba kedua payudaranya yang menjadi sangat lembut karena berendam di air hangat. Saat tangan Arya mulai meremas, Luna kembali mendesah. Kalau ini terus dilakukan, rasanya Luna tak akan bisa tahan lagi. Dia akan hilang kewarasan setelah ini.
"Tuan!! Ada masalah!"
Untungnya, Luna terselamatkan oleh panggilan itu. Tangan Arya terhenti tepat sebelum dia kehilangan kendali akan dirinya sendiri.
"Sayang sekali!" ucap mantan suaminya dengan wajah menakutkan. Seperti seekor singa yang diganggu ketika memangsa rusa.
Luna hanya terdiam ketika Arya berdiri dan meninggalkan kamar mandi. Merasa lega karena dia bisa selamat dari gairah yang akan menguasainya. Cepat-cepat Luna menyelesaikan mandi, mengganti pakaian dan membereskan semua barang-barangnya. Kemudian secara diam-diam keluar dari apartemen mewah itu ke tempatnya sendiri.
Arya ingin sekali membunuh pengacara Herman yang sekarang sedang menatapnya dengan mata penuh harap.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya kesal.
"Anda harus melihat ini" jawab pengacara Herman lalu menyerahkan tab kepadanya. Menunjukkan sebuah video yang membuat emosi Arya naik.
"Dimana mereka sekarang?"
"Tidak diketahui"
Arya mendesah kasar, kesal karena masalah terus saja datang kepadanya. Disaat dia berusaha mendapatkan hati istrinya, ada saja yang mengganggu.
"Dan orang yang dikirim kakak? Kemana saja mereka mencari?"
"Ke segala tempat. Tapi belum menemukan mereka"
"Apa hilangnya mereka ada hubungannya dengan paman ketiga?"
"Kami masih mencari tahu kemungkinan itu. Tapi sejauh yang saya tahu, paman ketiga Anda berada dalam pengamanan yang ketat. Akan mustahil mengatur sesuatu seperti ini tanpa ketahuan"
"Aku akan pulang sekarang juga. Siapkan semuanya" ucapnya lalu pergi ke kamar. Dan merasa kecewa ketika tahu Luna telah menghilang. Pasti kabur ke apartemennya. Tapi dia tidak punya waktu untuk mengejar istrinya sekarang. Yang harus dia lakukan adalah pulang dan mencari kedua orang tuanya yang menghilang. Disaat mereka seharusnya berada di kapal pesiar.
"Tuan, semuanya sudah siap!" kata pengacara Herman.
"Ayo!"
Keduanya naik lift turun dari lantai enam belas. Di lantai 5, secara kebetulan pintu lift terbuka. Dan Luna yang tadi dicari oleh Arya berdiri disana. Hanya menggunakan baju tidur dan sandal.
Keduanya saling memandang untuk beberapa menit kemudian terdengar bunyi pintu lift tertutup. Tentu Arya segera menarik istrinya masuk dan menendang pengacara Herman keluar.
"Tuan!!" protes pengacara Herman yang segera tak terlihat karena pintu lift tertutup.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Luna.
Arya segera melepas jas yang dipakainya dan membungkus tubuh Luna.
"Kau baru saja sakit, sayang! Kenapa menggunakan pakaian setipis ini? Dan tidak menggunakan kaos kaki? Apa kau ingin sakit lagi?!"
"Aku ... Hanya keluar untuk mengambil makanan" jawab Luna.
"Kau memesan makanan?"
"Hemm"
"Mulai besok, aku akan mengirim makanan ke rumahmu. Istirahatlah satu hari lagi. Jangan membuka toko besok. Kau harus sembuh benar sebelum bekerja."
Luna melihatnya dengan dahi yang berkerut.
"Aku akan pergi selama beberapa hari. Tidak bisa menemani dan membantumu di toko. Tapi aku janji, setelah urusanku selesai. Aku akan segera pulang dan menemanimu" lanjutnya
"Tidak perlu!" jawab Luna tegas.
"Aku tahu kau masih terluka dengan semua yang kulakukan tiga tahun lalu. Dan aku tidak bisa memikirkan alasan yang dapat menghapus semua rasa sakit hatimu. Yang perlu kau yakini adalah, aku mencintaimu. Baik tiga tahun lalu dan sekarang, aku masih sangat mencintaimu. Jangan pernah meragukan hal itu. Kau adalah satu-satunya wanita yang menjadi istriku, milikku selamanya. Tidak ada yang lain" katanya lalu menarik Luna dalam pelukannya.
Memeluk istrinya, merasakan semua kehangatan dari tubuh itu melegakan hatinya. Arya membutuhkan Luna. Dia tidak akan pernah menjauh dari istrinya lagi dalam waktu lama. Mereka berdua adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun sekarang dia merasakan sakit di kaki akibat Luna yang menginjaknya dari tadi. Dan pinggangnya seakan dibakar karena cubitan yang kecil namun pedas.
"Lepas!!" perintah Luna dan terpaksa dituruti oleh Arya.
"Aduuhhh!"
Karena dia tidak tahan pada cubitan pedas itu.
"Awas!!" kata Luna lalu melangkah keluar dari lift. Ternyata lift telah sampai di lobi sejak tadi, dan Arya tidak menyadarinya. Tapi ...
Arya kembali menarik tubuh istrinya. Mengarahkan wajah Luna ke kanan dan mencium bibirnya yang lembut serta panas itu. Menghisapnya sedikit demi sedikit lalu melahapnya dengan rakus seakan bibir Luna adalah kue cokelat.
Ketika melepaskan ciumannya, Arya menatap wajah Luna lekat-lekat.
"Tunggu aku! Aku akan melekukan lebih dari meraba di bak mandi nanti!" ucapnya sambil tersenyum.
Segera saja Luna mendorong tubuhnya menjauh. Keluar dari lift dan berlari ke arah lobi.
"Gila!"
Dan menghujatnya.
"Tunggu aku sayang!! Jaga kesehatanmu!"
Setelah meneriakkan kekhawatirannya, wajah Arya berubah gelap. Dia menekan tombol basement dan menunggu dengan tidak sabar sampai pintu terbuka. Berjalan dengan langkah berat ke mobil yang sudah terbuka. Dan segera pergi mengarah ke bandara.
Menuju kediaman keluarganya yang sedang berantakan.
"Kau sudah datang!" kata kakak pertamanya.
"Bagaimana bisa mereka hilang?" tanyanya lalu memeriksa semua gambar cctv orang tuanya.
"Terakhir kapal berlabuh di Philipina. Setelah itu mereka tak terlihat masuk kembali ke kapal. Semua kru kapal sudah dikerahkan untuk mencari. Tapi tidak ditemukan keduanya. Orang-orang yang kukirim di Philipina juga tidak menemukan jejak keduanya. Mereka seperti menguap di atas laut"
Arya menggeleng kuat. Dia tidak bisa menerima hal itu.
"Sebelum berlabuh di Philipina, apa ada orang lain yang masuk ke kapal?" tanyanya pada pengacara Herman.
"Hanya beberapa pasangan yang memang dijadwalkan naik dari negara itu Tuan" jawab pengacara Herman.
"Periksa mereka!!"
"Baik Tuan"
"Baiklah, aku akan menyerahkan hal ini padamu. Aku akan pergi ke perusahaan dulu sekarang"
Arya melihat kakaknya pergi dan memeriksa kembali semua bukti keberadaan orang tuanya di cctv. Sebelum kembali mendesah kasar karena kesal.
tahi