NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rindu yang tertulis

Tiga bulan telah berlalu sejak Jinyu diangkat menjadi murid Tabib Li dan Tabib Zhang. Kini pertengahan November 1963, musim gugur mulai berganti dingin yang menusuk. Dedauan berguguran di seluruh pegunungan, menyisakan ranting-ranting gundul yang menjulang ke langit kelabu.

Jinyu duduk di kamar kecilnya, menatap tumpukan buku tebal di depan meja. Huangdi Neijing, Shanghan Lun, Jinkui Yaolüe, semua kitab klasik pengobatan Tiongkok berjejer rapi. Di sampingnya, puluhan jarum perak berkilau dalam kotak kayu. Pemberian Tabib Li dua bulan lalu.

["Jinyu, ayo belajar. Materi hari ini: 20 titik akupunktur baru."]

Malas.

["MALAS? KAU UDAH JANJI MAU BELAJAR!"]

Aku janji, tapi sistem yang kerjakan.

["APA?"]

Jinyu mengeluarkan segenggam tanaman kering dari laci. "Lima jahe merah liar. Tambah poin."

["......"]

["KAU MENYOGOKKU?!"]

Iya. Lagipula kau yang catat semua teori. Tinggal masukkin ke otak aku pas ujian. Aku tinggal praktek aja.

["ITU KECURANGAN!"]

Kau bilang sendiri, ilmu ini buat kedok. Yang penting aku bisa praktek. Teori urusan kau.

Sistem diam. Lalu—

["......tambah lima lagi."]

Tiga.

["Empat."]

Tiga plus besok aku ambilkan lingzhi liar.

["DEAL!"]

Yoyo yang melingkar di atas tumpukan buku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ular perak itu sudah bosan melihat pemiliknya menyogok sistem setiap kali belajar teori.

Shshsss~ "Jinyu, kau ini... nanti ketahuan sama gurumu."

Tidak akan. Sistem bisa tiru suara dan gerak bibir aku. Waktu ujian lisan, dia yang jawab lewat tubuhku. Aku tinggal duduk manis.

["Betul. Aku sudah latihan."]

Yoyo menghela napas. mereka berdua...

Tiga bulan bukan waktu sebentar. Tubuh Jinyu berkembang pesat. Tingginya kini 1,4 meter meningkat 20 cm dalam tiga bulan. Di usianya yang baru 5 tahun, ia sudah setinggi anak 8-9 tahun. Rambutnya yang dulu dipotong pendek kini mulai melebihi telinga, tetap cokelat terang khasnya. Matanya yang keemasan makin tajam.

Setiap kali ada peserta baru atau tamu datang, mereka selalu bertanya, "Anak itu umur berapa? 10 tahun?"

Jawaban yang diterima selalu membuat mereka terbelalak: "Lima tahun."

Dan julukan pun melekat. "Ratu Iblis".

Bukan karena ia jahat, tapi karena ia tak terkalahkan. Di arena sparing, ia sudah mengalahkan semua peserta seusianya bahkan yang lebih tua. Xia Feng yang dulu jadi rival pertama, kini jadi teman latihan yang paling sering minta diajari. Lin Yue jadi sahabat yang selalu membela kalau ada yang meremehkan Jinyu.

Para instruktur? Mereka sudah pasrah. Setiap kali latihan, Jinyu selalu yang terdepan, tercepat, terkuat. Pelatih Wu bahkan pernah berkata pada Komandan Lei, "Anak itu... kalau terus begini, dia akan jadi jenderal termuda di sejarah militer."

Komandan Lei hanya tersenyum. "Biarkan dia berkembang."

Tapi di balik semua prestasi itu, ada satu hal yang selalu mengganggu Jinyu.

Rindu.

Setiap malam, sebelum tidur, ia memikirkan Ibu Liu yang pasti khawatir. Ayah Su yang mungkin sering memandangi fotonya. Kakak Ketiga yang pasti sudah banyak cerita yang ingin disampaikan. Kakak Pertama dan Kakak Kedua yang mungkin juga rindu.

Tapi kamp ini rahasia. Alamatnya tidak diketahui siapa pun. Keluarga tidak bisa mengirim surat.

Jinyu sudah beberapa kali bertanya pada Komandan Lei, tapi selalu dijawab, "Aturan kamp, Jinyu. Tidak boleh surat-menyurat selama pelatihan."

Jinyu diam, tapi dalam hati, api pemberontakan mulai menyala.

Hari itu, 15 November 1963, waktu istirahat siang. Jinyu tidak pergi ke kantin seperti biasa. Ia berjalan lurus menuju ruang instruktur gedung kayu di ujung barak tempat para instruktur berkumpul.

Pintu terbuka. Di dalam, Pelatih Wu sedang membaca laporan, dua instruktur lain ngobrol sambil minum teh. Mereka semua menoleh.

"Jinyu? Ada apa?" Pelatih Wu mengernyit.

Jinyu melangkah masuk. Wajahnya datar, tapi ada kilatan di matanya. Ia berdiri di tengah ruangan, lalu berkata dengan suara tegas,

"Saya mau mengirim surat."

Pelatih Wu menghela napas. "Jinyu, sudah kubilang—"

"SAYA MAU MENGIRIM SURAT."

Suaranya lebih keras. Instruktur lain saling pandang.

Pelatih Wu berdiri. "Jinyu, tenang. Aturannya—"

"Aturan bisa diubah." Jinyu menatapnya tajam. "Saya sudah 3 bulan di sini. Tidak pernah minta apa-apa. Tidak pernah ngeluh. Latihan selalu selesai. Tugas selalu dikerjakan. Sekarang saya minta satu hal: mengirim surat untuk keluarga."

Pelatih Wu terdiam. Ia tahu Jinyu benar. Anak ini tidak pernah merepotkan. Malah sebaliknya, ia jadi andalan di banyak latihan.

"Jinyu, aku mengerti perasaanmu. Tapi—"

"Kalau tidak diizinkan, saya akan mogok latihan."

Ruangan hening.

Instruktur A berbisik, "Dia serius?"

Instruktur B mengangguk. "Lihat matanya. Dia benar-benar serius."

Pelatih Wu menghela napas panjang. Ia menatap Jinyu, gadis kecil berambut cokelat dengan mata keemasan yang penuh tekad. Lalu ia berjalan ke meja, mengambil telepon.

"Aku hubungi Komandan Lei."

Sepuluh menit kemudian, Komandan Lei datang. Wajahnya tegas seperti biasa. Ia duduk di kursi utama, menatap Jinyu yang masih berdiri tegak.

"Jinyu, kau mau mogok latihan?"

"Kalau perlu, Komandan."

Komandan Lei diam sejenak. Lalu, tiba-tiba, ia tersenyum. Senyum tipis yang sangat langka.

"Kau tahu, selama 20 tahun jadi komandan, baru kali ini ada peserta yang berani mogok demi kirim surat."

Jinyu tidak menjawab, hanya menatap.

Komandan Lei menghela napas. "Baik. Kau boleh kirim surat."

Mata Jinyu berbinar sangat cepat, lalu kembali datar. "Terima kasih, Komandan."

"Tapi ada syarat. Suratmu akan diperiksa sensor militer. Tidak boleh menceritakan detail kamp, lokasi, atau latihan rahasia. Hanya kabar pribadi."

Jinyu mengangguk. "Saya mengerti."

"Dan mulai sekarang, kau boleh kirim surat sebulan sekali. Setiap tanggal 15."

Jinyu mengangguk lagi. "Terima kasih, Komandan."

Ia memberi hormat, lalu berbalik pergi. Begitu saja. Tanpa basa-basi, tanpa senyum kemenangan.

Setelah pintu tertutup, Pelatih Wu berkata, "Komandan, kenapa kau izinkan?"

Komandan Lei menatap pintu yang baru tertutup. "Karena dia bukan anak biasa, Wu. Dia punya hati. Dan hati itu perlu rumah."

Di kamarnya, Jinyu duduk di meja. Kertas dan pena sudah disiapkan. Ia menatap kertas kosong itu lama.

["Ayo nulis. Jangan bengong kek orang goblok."]

Aku bingung.

["Kau bingung? Lo ratu iblis, masa bingung nulis surat doang?"]

Ini beda. Surat buat ibu. Bukan laporan pertempuran.

Yoyo melingkar di bahunya. Shshsss~ "Tulis apa yang kau rasakan."

Jinyu menghela napas, lalu mulai menulis.

---

"Ibu tercinta, Ayah tercinta, Kakak Pertama, Kakak Kedua, Kakak Ketiga tersayang,

Bagaimana kabar kalian di rumah? Aku di sini baik-baik saja. Udara di pegunungan dingin, tapi aku sudah punya jaket tebal pemberian kamp. Jangan khawatir.

Latihannya berat, tapi aku suka. Aku jadi kuat. Sekarang tinggiku sudah 1,4 meter. Semua orang kaget kalau tahu umurku 5 tahun. Mereka bilang aku seperti pohon bambu—cepat tumbuh.

Makanan di kantin enak. Paman Koki sering masak sup kelinci kalau aku bawa hasil buruan. Aku jadi jago berburu sekarang. Babi hutan pun pernah aku kalahkan.

Teman-teman di sini baik. Ada Kakak Xia Feng dan Kakak Lin Yue, mereka sering ajak aku main. Walau kadang mereka masih kalah kalau sparing.

Aku rindu masakan Ibu. Rindu suara Ayah yang bacakan cerita. Rindu Kakak Ketiga yang selalu ribut. Rindu Kakak Pertama yang diam tapi perhatian. Rindu Kakak Kedua yang suka becanda.

Tapi aku janji akan jadi anak yang baik. Akan belajar sungguh-sungguh. Akan jadi kebanggaan keluarga Su.

Tolong sampaikan salamku pada semua. Pada Bibi-bibi kompleks yang suka bergosip itu juga, bilang aku kangen dengar gosip mereka.

Jaga kesehatan. Jangan lupa makan. Kalau Kakak Ketiga nakal, cubit pipinya buat aku.

Dari putri dan adikmu,

Su Jinyu.

---

Jinyu membaca ulang surat itu tiga kali. Lalu ia melipatnya rapi, memasukkan ke amplop, menulis alamat: Keluarga Su, Kompleks Militer, Kota X.

Ia menatap amplop itu lama. Di dadanya, ada rasa hangat yang aneh.

["Mengharukan."] sistem berkomentar pelan.

Diam kau.

["Aku serius. Aku nyaris nangis."]

Kau sistem cuman hologram, mana bisa nangis.

["Bisa secara metaforis."]

Shshsss~ "Jinyu, kau baik-baik saja?"

Jinyu mengangguk. Iya. Hanya... rindu dengan rumah.

Sore harinya, Jinyu menyerahkan surat itu pada pos kamp. Seorang prajurit akan mengantarnya ke kota, lalu dikirim lepos militer. Mungkin butuh seminggu sampai di tangan Ibu Liu.

Jinyu duduk di bawah pohon, menatap langit senja yang jingga. Angin dingin berdesir, tapi ia tidak merasa kedinginan.

Xia Feng datang, duduk di sampingnya. "Hei, dengar kau tadi bikin keributan di ruang instruktur."

Jinyu tidak menjawab.

Xia Feng tertawa. "Kau benar-benar gila. Mogok latihan segala. Tapi keren."

"Terima kasih."

Lin Yue ikut datang, duduk di sisi lain. "Jinyu, kalau aku boleh tahu... kau kirim surat buat siapa?"

Jinyu diam sebentar. "Keluarga."

"Keluarga? Cerita dong, keluarga Jinyu kayak gimana?"

Jinyu berpikir. Lalu, untuk pertama kalinya, ia bercerita tentang Ibu Liu yang selalu masak enak, Ayah Su yang bacakan cerita, Kakak Ketiga yang cerewet, Kakak Pertama yang pendiam, Kakak Kedua yang suka becanda. Tentang rumah sederhana di kompleks militer, tentang kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Xia Feng dan Lin Yue diam mendengarkan. Saat Jinyu selesai, Xia Feng berkata, "Keluargamu... keren."

Lin Yue mengangguk. "Aku jadi ingat keluargaku juga."

Mereka bertiga diam, menikmati senja. Masing-masing memikirkan rumah.

Malam harinya, di kamar, Jinyu berbaring. Yoyo melingkar di perutnya.

Shshsss~ "Senang?"

Senang. Suratnya sudah dikirim.

["Seminggu lagi sampai."]

Iya. Aku tunggu.

Shshsss~ "Jinyu, kau berubah."

Berubah?

Shshsss~ "Dulu kau ratu iblis, tidak punya ikatan. Sekarang kau punya keluarga yang dirindukan."

Jinyu diam. Lalu ia tersenyum kecil.

Mungkin itu yang disebut rumah.

["Mengharukan banget. Aku record buat kenangan."]

Hapus.

["Tidak mau."]

Dasar sistem sialan.

Tapi tak ada kesal dalam suaranya. Hanya kehangatan.

Di luar, angin malam berdesir. Bintang-bintang bertaburan di langit. Jinyu memejamkan mata, membayangkan Ibu Liu membaca suratnya, tersenyum, mungkin menangis.

Seminggu lagi.

Ia bisa menunggu.

1
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Dewiendahsetiowati: Karena biasanya ikut Jinyu kemana2 apalagi Yoyo selalu ada disekitar Jinyu
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
Marsya
kk udah kirim kopi biar smangat nulis novelnya y!.😉😉😉😉😉
Marsya
ceritanya keren,👍👍👍👍👍👍👍
Ellasama
suka banget, akhirnya yg satu ini si fl punya ruang angkasa/ dimensi, semangat /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!