NovelToon NovelToon
Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ginian

​"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
​Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
​Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya

​Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
​Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
​"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kebenaran yang Terkubur

Suasana di dalam kabin jet sangat hening, Gia sedang mengobati luka bakar ringan di lengan Vandiko akibat ledakan overload di brankas tadi

"Tuan, kita sudah memiliki The Black Ledger," ucap Gia sambil melirik buku tua itu

"Jika Anda mengunggah ini ke internet, seluruh sistem perbankan global akan membeku

Mengapa Anda belum melakukannya?"

Vandiko menatap awan gelap di luar jendela. "Karena menghancurkan dunia itu mudah, Gia Yang sulit adalah memastikan siapa yang akan berdiri di atas reruntuhannya

Jika aku meledakkannya sekarang, ribuan orang kecil akan menderita

Aku butuh target yang lebih presisi."

Vandiko memasukkan flasdisk itu ke laptop taktisnya

[Ting! Dekripsi Data 'The Black Ledger' Selesai.]

[Menganalisis Hubungan Antar Aset...]

[Peringatan: Ditemukan Dokumen Terenkripsi dengan Protokol 'ELHAZ-00'.]

Jantung Vandiko berdegup kencang

Ia segera membuka folder tersebut, Layar monitor menampilkan sebuah rekaman CCTV tua yang hitam putih

Lokasinya tampak seperti sebuah laboratorium medis bawah tanah

Di sana, seorang pria paruh baya dengan kacamata retak sedang duduk di kursi pesakitan, dikelilingi oleh pria-pria berseragam The Black Ledger

"Ayah..." bisik Vandiko.

Pria itu adalah Adipati Elhaz, ayah Vandiko yang selama ini dianggap telah tewas dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu

Dalam rekaman itu, Adipati terlihat dipaksa menandatangani penyerahan algoritma "Legacy" kepada konsorsium

"Aku tidak akan membiarkan kalian menggunakan sistem ini untuk menjajah rakyat!" teriak Adipati dalam rekaman itu sebelum seorang penjaga menghantamnya dengan popor senjata

Rekaman itu berakhir dengan sebuah koordinat geografis yang terletak di pinggiran London—sebuah rumah sakit jiwa terbengkalai bernama Saint Jude’s Asylum

[Ting! Misi Baru: Operasi Penyelamatan Sang Arsitek.]

[Status Target: Masih Hidup (Probabilitas 87%).]

"Dia masih hidup, Gia," suara Vandiko bergetar, namun matanya memancarkan api kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya

"Selama sepuluh tahun, mereka menyembunyikan ayahku di kota ini

Mereka menggunakan otaknya untuk membangun kekayaan mereka, sementara aku dibiarkan membusuk dalam kemiskinan."

Penyerbuan Saint Jude’s

Dua jam kemudian, Saint jude's diguyur hujan deras

Sebuah konvoi motor hitam tanpa lampu melesat menuju bangunan tua di pinggiran kota yang tertutup semak belukar

Saint Jude’s Asylum tampak seperti kastil hantu di tengah kegelapan

Vandiko turun dari motornya, mengenakan baju zirah taktis lengkap

Di belakangnya, sepuluh anggota elit Black Sentinel yang berhasil dikumpulkan kembali oleh Gia berdiri siap dengan senjata peredam suara

"Jangan ada tawanan kecuali target utama," perintah Vandiko

Mereka bergerak seperti hantu Penjaga gerbang dilumpuhkan dalam hitungan detik

Vandiko menembus masuk melalui pintu samping, sistemnya langsung memetakan seluruh bangunan

[Sensor Panas Terdeteksi: 15 Personel Bersenjata di Lantai Dasar.]

[Target Utama Berada di Ruang Isolasi Bawah Tanah, Lantai -3.]

Vandiko meluncur turun melalui lubang lift

Setiap musuh yang menghalangi jalannya tumbang sebelum sempat menarik pelatuk

Kemarahan Vandiko telah berubah menjadi efisiensi mematikan

Saat ia sampai di lantai terbawah, ia menemukan sebuah pintu baja yang dijaga oleh dua pria bertubuh raksasa

Duar! Duar!

Dua tembakan presisi menjatuhkan mereka seketika, Vandiko menendang pintu itu hingga terbuka

Di dalam ruangan yang lembap dan berbau obat-obatan, seorang pria tua kurus dengan rambut putih panjang duduk di tepi ranjang besi. Ia mendongak, matanya yang lelah menatap sosok Vandiko yang berdiri di depan pintu.

"Vandiko...?" suara pria tua itu sangat lemah, seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat

Vandiko melepas helm taktisnya, air mata mengalir di pipinya.

"Ayah... ini aku, Aku datang untuk membawamu pulang."

Adipati Elhaz mencoba berdiri, namun tubuhnya terlalu lemah "Kau seharusnya tidak datang ke sini, Nak. Ini jebakan

Isabella... dia tahu kau akan melacak koordinat ini."

Tiba-tiba, suara tawa Isabella bergema melalui intercom di ruangan itu "Tepat sekali, Paman Adipati

Vandiko memang selalu bisa diprediksi jika menyangkut keluarga."

Di layar monitor di dinding ruangan, terlihat Isabella sedang berdiri di luar gedung dengan ratusan tentara bayaran dan helikopter tempur yang mengepung Saint Jude’s

"Aku tidak butuh buku hitam itu lagi, Vandiko," ucap Isabella dengan nada kejam

"Aku hanya butuh gedung ini rata dengan tanah beserta kalian berdua di dalamnya. Selamat tinggal, keluarga Elhaz."

Beeeep!

Suara hitung mundur bom terdengar dari seluruh sudut ruangan. 00:30... 00:29...

"Gia! Evakuasi semua tim sekarang!" teriak Vandiko

Ia menggendong ayahnya di punggung, namun ia tahu pintu keluar sudah terkunci rapat dan bom akan meledak dalam hitungan detik.

[Ting! Peringatan Bahaya Kritis!]

[Saran: Aktifkan Mode 'Singularity' — Pengorbanan 50% Integritas Sistem.]

Vandiko menatap ayahnya, lalu menatap dinding beton di depannya

"Ayah, pegangan yang erat, Kita tidak akan mati di sini"

1
Ali
Thor knapa si isabela dibiarin hidup...bego lu thor.skip ah.cerita muter muter kayak gasing.
Ginian
iya terimakasih
Ginian
terimakasih 🙏
D'ken Nicko
ga seru kalau ada sistem lain. jadi hambar
D'ken Nicko
tetap semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!