NovelToon NovelToon
Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Suami Karismatik Milik CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Perjodohan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lonafx

Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.

Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.

Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.

Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.

____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?

kuyyy ikuti kisahnya~

📢FYI, cerita ini alurnya santuyy yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Sebatas Bersama

Hari-hari setelahnya, waktu berlalu seperti hembusan angin yang tak terlihat.

Pagi datang, siang berlalu, dan malam kembali pulang membawa lelah masing-masing.

Siang hari, mereka benar-benar berada di dunia berbeda.

Tamara disibukkan dengan rapat, presentasi, dan angka-angka laporan yang tidak mengenal kompromi.

Sedangkan Arvin tetep di jalurnya, berjalan dari satu ruang ke ruang lain. Dari kelas, berbagai forum, hingga seminar yang semuanya diisi dengan kepala penuh konsep.

Namun, di antara rutinitas dan ritme hidup yang berjalan sendiri-sendiri, rumah selalu menjadi titik pulang yang sama.

Tidur di tempat yang sama, kadang Tamara yang terlelap lebih dulu, kadang sama-sama menatap langit-langit sambil mengobrol seperlunya.

Tidak ada rayuan, ciuman mesra, atau pun pelukan panjang.

Hanya ada komunikasi sebagai dua orang yang sama-sama belajar berbagi ruang, tanpa tuntutan harus segera saling memiliki sepenuhnya.

...

Pagi itu, suasana rumah masih seperti biasa—udara segar, cahaya matahari menyelusup lembut, dan selalu ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan perubahan besar, hanya kehadiran seseorang yang selalu membuat suasana jadi lebih hidup.

Arvin yang sudah rapi dengan setelan kerja, duduk di kursi ruang makan.

Punggungnya bersandar santai, seolah tidak sedang dikejar apapun.

Di depannya, piring sarapannya belum sepenuhnya kosong, tapi perhatiannya sering teralihkan.

Tak jauh dari ruang makan, Tamara berdiri di sudut ruangan—baju rumahan sederhana, rambut diikat ala kadarnya, wajahnya tetap memancarkan aura tegas meski hanya dengan riasan tipis.

Tamara terlihat sibuk memberi arahan penting kepada Yuli, yang mendengarkannya sambil mencatat sesuatu di buku kecil.

Suara Tamara tidak meninggi, tapi cukup terdengar seperti irama yang memecah keheningan di pagi itu, juga seperti di hari-hari biasanya.

"Untuk roti, beli yang gandum ya... jangan yang polos lagi. Kamu pilih yang tinggi serat, lihat detailnya di kemasan," ujar Tamara.

Yuli mengangguk, langsung menulis cepat seolah tak ingin melewatkan apapun.

"Sama jangan lupa beli yogurt, tapi jangan yang pakai perisa tinggi gula." Tamara menambahkan, menutup daftar panjang yang harus diingat Yuli.

Hingga ia selesai dan langsung berjalan menghampiri Arvin, laki-laki itu terlihat langsung menegakkan punggung.

"Ada seminar lagi?" tanya Tamara, sambil menarik kursi ketika sudah di dekat Arvin.

Hampir sebulan menikah dan hidup bersama, ia mulai sedikit banyak tahu tentang kesibukan Arvin yang padat, bahkan di akhir pekan seperti ini.

Arvin menatap istrinya, yang sudah duduk di sampingnya.

"Enggak. Hari ini kebetulan ada jadwal supervisi praktik kerja lapangan mahasiswa," jawabnya lembut.

Tamara mengangguk-angguk pelan, lalu teringat untuk memberitahu sesuatu.

"Aku tadi minta Yuli buat belanja," katanya, sambil menuang air mineral ke dalam gelas.

"Aku nggak suka rumah tanpa persediaan yang cukup. Jadi, semua harus tersedia sebelum dibutuhkan," lanjutnya.

Arvin mengiyakan. "Kamu atur aja..."

Tamara memberi anggukan, dibarengi senyum yang melengkung samar.

Ia meneguk minumannya, lalu tiba-tiba mengingat sesuatu.

"Hmm... Hari ini aku mau hangout sama Meliza dan Tyas, mau spa bareng."

Arvin tahu itu bukan kalimat permintaan izin, lebih terdengar seperti hanya informasi, tapi ia senang karena Tamara perlahan mulai terbuka kepadanya.

Hubungan mereka memang masih berjarak. Namun, jarak itu terasa bukan penolakan, melainkan hanya ruang yang perlu sedikit waktu untuk menerima segala prosesnya.

Arvin tersenyum ke arahnya. "Oke... Have fun ya."

Ia segera menyelesaikan sarapan, lalu berpamitan.

...

Siang harinya, Tamara baru memasuki tempat spa. Ia sudah janjian dengan Meliza dan Tyas.

Di sela rutinitas yang padat, ketiganya memang sesekali menyempatkan bertemu. Salah satunya pergi ke tempat spa dan melakukan perawatan bareng.

Mulai dari pijat relaksasi untuk tubuh dan wajah, luluran dengan rempah pilihan, sampai tahapan yang paling mereka sukai: berendam di air hangat.

Suasana ruang mandi spa itu menenangkan. Namun, terasa lebih hidup oleh gelak tawa ringan ketiganya.

Mereka duduk di bathtub besar berwarna putih gading, yang terisi air hangat dan kelopak mawar yang mengapung di permukaan.

Suara obrolan dan alunan musik relaksasi, beradu di antara aroma bunga dan rempah yang menguar di udara.

Mereka berendam lebih lama, sekadar melepas penat sekaligus berbagi cerita, sampai tubuh terasa rileks dan pikiran jadi lebih ringan.

Di sela obrolan itu, Meliza yang duduk di tengah, baru meletakkan kembali gelas minumannya di antara lilin-lilin aromaterapi.

Matanya menyipit ke arah Tamara, yang berada di samping kanannya.

"Hmm... yang sibuk banget akhir-akhir ini, sampai baru bisa di ajak ngumpul bareng lagi," celetuknya ringan.

Tubuhnya sedikit condong. "Iya tau... Yang udah nikah, udah sibuk sama suaminya sekarang."

Nada bicaranya santai, tapi penuh sindiran halus, ala sohib yang kelamaan menahan kangen.

Tamara tergelak ringan. "Aku tuh emang lagi repot banget kemarin, karena mau peresmian warehouse baru sama nambah beberapa jalur logistik."

Tyas yang berada di sebelah kiri Meliza, langsung terkagum. "Woah... Makin besar aja Lunara, Ta. Kamu emang nggak pernah main-main soal bisnis."

Tamara tersenyum kecil. "Kalian kan tahu sendiri, Lunara itu ibarat 'bayi aku' yang udah mendarah daging, dari nol banget. Untuk urusan ini, aku nggak setengah-setengah."

Kedua sahabatnya mengangguk paham.

Hingga Meliza berdeham singkat, tatapannya berkilat nakal. "Terus gimana nih?"

"Gimana apanya?" Tamara bertanya dengan wajah polos, lalu meneguk minumannya.

Senyum Meliza mendadak usil. "Ya sama pak profesor lah, bikin bayi beneran."

Tamara tersedak minumannya, langsung disambut gelak tawa dari kedua sahabatnya.

Ia meletakkan gelasnya, bahunya bergidik ringan. "Apaan sih? Nggak ada ya... " suaranya datar, jelas terganggu.

Tyas menghentikan tawanya. "Nggak ada, apanya? Kalian itu kan udah nikah," ujarnya.

Tamara tetap terdiam. Namun, diamnya justru memantik rasa keingintahuan sahabatnya lebih jauh.

Meliza menyenggol lengannya, gerakan ringan setengah menggoda. "Gimana, Ta? Arvin mantep dong... " Ia tak ragu menanyakannya.

Bagi lingkungan pertemanan mereka, pembahasan itu memang bukan hal yang tabu.

Tamara tak langsung menjawab.

Ada jeda hening sebentar, sebelum Tamara akhirnya bersuara, "Aku belum ngapa-ngapain sama dia."

"Hahh?" Kedua sahabatnya kompak kaget.

Tamara lalu menceritakan keadaan hubungannya dengan Arvin.

Ia memang meminta waktu pada suaminya itu untuk menyesuaikan diri, karena ia memang belum siap dengan hubungan mereka yang terkesan terlalu cepat baginya.

Tamara bukan tipe perempuan yang gampang takluk, meski cenderung mudah tertarik pada penampilan fisik dan perlakuan.

Entah kenapa, Arvin menurutinya begitu saja, membiarkannya tetap bisa memegang kendali hidupnya sendiri.

Arvin bahkan cenderung tidak mau mencampuri urusannya, meski sesekali masih memberi perhatian kecil.

Mereka saling sibuk, benar-benar berada di jalur masing-masing dengan ritme hidup sendiri-sendiri, tanpa kemesraan.

Meliza terperangah tak percaya, sedangkan Tyas kaget dengan versi lebih kalem.

Meliza mendekat cepat ke arahnya, membuat air bathtub bergelombang kecil di antara mereka.

"Ta, serius? Cowok kayak Arvin loh."

Matanya melebar.

"Punya suami dengan ketampanan dan kecerdasan level high quality gitu, kamu anggurin?" suaranya sedikit meninggi tak percaya.

Tyas mengangguk setuju, lalu ikut menimpali, "Sebulan itu lama loh, Ta. Terus, mau sampai kapan kamu minta dia nunggu?"

Tamara menaik napas, lalu mengedikkan bahu. "Nggak tau, aku ngerasa belum siap aja. Lagian, dia juga nggak nuntut kok."

"Astaga, Tamara... Wajar dia nggak nuntut, orang kamunya yang nggak ngasih lampu hijau." Tyas menyeletuk.

Sedangkan Meliza menatapnya heran. "Kamu kebangetan deh, Ta. Egois banget, sumpah. Iya kalau Arvin bertahan mau nunggu kamu terus... Kalau dia nyerah?"

Tamara tak langsung menjawab, tatapannya sedikit menunduk ke arah kelopak bunga yang mengapung di sisi kulitnya.

"Ya udah. Berarti dia nggak kuat ngejalaninnya sama aku," ucapnya enteng.

"Oh My God!" suara Meliza langsung memekik, membuat Tamara tersentak kecil.

"Tamara Hadinata si 'kepala batu'! Buka mata dan hati kamu! Arvin itu dipuja sama cewek-cewek di luaran sana loh, Ta!" geramnya.

Ia benar-benar gemas dengan kelakuan sahabatnya itu. "Jangan sampai kamu nyesel, loh. Entar kalau suami kamu tiba-tiba diembat sama pelakor, baru tahu rasa!" omelnya dengan suara khas aktris profesional.

"Kok kalian jadi belain dia, sih?" Tamara menatap protes.

Tyas menatapnya serius. "Aku sih lihatnya dia orang baik, Ta. Dia punya value yang nggak dimiliki semua cowok. Nggak kayak mantan-mantan kamu, yang hobi ngedrama dan hanya morotin kamu doang."

Tamara langsung terdiam, baru kali ini melihat sahabatnya itu serius mengomelinya soal urusan laki-laki.

Untuk pertama kalinya, kalimat-kalimat itu juga mampu menghentak jantungnya.

Tyas kembali menambahkan, "Kalau dia nggak sabar... dia udah pasti ninggalin kamu, atau nyari cewek lain."

Meliza memberi anggukan setuju.

Tamara terdiam lagi. Kali ini tampak memikirkan kalimat itu.

"Cowok mana yang tahan hubungan tanpa sentuhan, Ta. Apalagi udah nikah. Jangan terlalu dingin lah," imbuh Tyas lagi.

"Pikirin baik-baik lagi deh, Ta. Aku cuma nggak mau, kamu nyesel nantinya." Meliza menyarankan. Suaranya rendah, jauh lebih terkontrol.

Tamara masih mendengarkan, sadar egonya diserang berkali-kali oleh dua orang yang sudah terlalu dekat dan terlalu sering membersamainya sejauh ini.

Diamnya, menyisakan hening yang panjang di antara musik yang terus mengalun lembut.

Kalimat-kalimat itu menancap dalam pikiran Tamara, dan entah kenapa terdengar seperti ancaman yang membuatnya langsung waspada.

...

Setelah dari tempat spa.

Pikiran-pikiran itu terus mengusiknya, sampai terbawa dalam perjalanan pulang.

Saat itu, cahaya matahari masih terang, kilaunya memantul pada aspal dan badan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota.

Tamara duduk tenang di balik setir. Sedan mewah itu melaju mulus, stabil, tapi tidak dengan isi pikirannya.

Tiba-tiba gelisah. Tiba-tiba teringat Arvin.

Apalagi ketika teringat potongan ingatan, tentang dirinya yang sering mengabaikan laki-laki itu.

Hal itu membuat hatinya sedikit melunak, seolah memunculkan kesadaran baru.

Apa aku udah keterlaluan ya? batinnya.

"Kalau dia nyerah? Apa itu artinya dia bakal ninggalin aku?" bisiknya.

Ia berpikir cukup lama. Mencoba membayangkan hal itu, tapi kaget sendiri, karena merasa tak sanggup.

"Kok aku jadi takut ya, kalau tiba-tiba dia nyerah... dan mutusin buat pergi." Ia terus bergumam sendiri.

Hingga pandangannya tersadar ketika tepat di depannya, dari arah kanan, sebuah mobil tiba-tiba memasuki jalur yang sama terlalu cepat.

Refleks.

Tamara langsung membanting setir ke sisi kiri jalan untuk menghindar, dan...

BRAAKK!!

BERSAMBUNG...

Wah kira-kira apa yang terjadi dengan Tata nih?

Mohon doanya ya biar Tata nggak kenapa-napa... 😌

1
🌺Bunga_Ros⁹⁷
baca nyicil dlu beb, nnti aku kembali lgi setelah iklan yg satu ini😂🤣😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pilihan papa pasti pria yg lebih matang dan dewasa, Tamara tenang aja.. semua akan baik² aja.. wkwkwkw 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
pasti pilihan papa yg terbaik dan GK pernah salah, ayo ta terima jgn di tolak😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
papanya pasti ngejodohin sama pria lain nih klo udh gini cerita percintaan tamara😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
rata² seorang ayah memang gtu yah, di balik sikap cuek nya dia sama anak perempuan nya pasti di lain sisi ia tetap mengawasi
🌺Bunga_Ros⁹⁷
berita dlm sekejap udh tersebar aja nih🤭 makin deg²an aja
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nyonya CEO mah santai 🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
GK usah di buat galau, Tamara GK rugi amat ninggalin pria yg GK tau diri kayak Andra itu jg
🌺Bunga_Ros⁹⁷
Tamara pasti cuman Mandang fisik sih ini pantas aja udh seefort itu, GK tau nya mokondo🤦
🌺Bunga_Ros⁹⁷
mampir di karya mu lgi beb walau udh terlambat jauh sekali 😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bagi lu yg normal tapi bagi Tamara itu hal yg paling menjijikan 🤭
🌺Bunga_Ros⁹⁷
nikah dlu bloon biar GK lakuin dosa klo lgi birahi😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
adegan yg tadi udh cukup jls, mau lu jlsin apa lgi woii😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
jgn gini, lu pikir semua cwek bisa lu bodoh²in.. 😁🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh ketauan baru saling menyalahkan😂
🌺Bunga_Ros⁹⁷
udh mokondo gak tau diri lgi🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
iyah² putus, sampah tidak pantas dipelohara
🌺Bunga_Ros⁹⁷
bukan seperti yg kamu lihat🤣
🌺Bunga_Ros⁹⁷
untung masih pacar mba, ayo hempaskan sampah itu😁
🌺Bunga_Ros⁹⁷
sakit hatinya pasti tidak bsa di ungkapkan dengan kata-kata 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!