Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18: Ruangan Rahasia
Begitu memasuki kamar, jantung Alice masih berdegup kencang. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasakan jatuh cinta sekuat ini. Saking kuatnya, wajahnya merah padam layaknya tomat sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran tersebut.
"Ini tidak baik. Aku tidak boleh menyukai pria itu," yakinnya, yang khawatir bila ia menyukainya maka orang yang ada disisinya akan kecewa padanya.
"Ah, benar."
Beralih dari pandangan yang menatap jauh ke arah kunci yang diberikan oleh Gerald. Kunci tersebut memiliki warna putih metalik dengan lingkaran berdiameter 20 milimeter, ada gerigi dibawahnya layaknya pintu rumah pada umumnya jikalau dibandingkan dengan pintu di dunia lama Alice sebagai Nia, kunci dari pintu kontrakan.
"Jika aku ingin memeriksa ruangan itu, aku harus melakukannya di malam hari."
Tahu kalau tempat itu dijaga ketat oleh kedua ksatria elite, mana mungkin Alice diperbolehkan untuk masuk kedalam. Apalagi dengan usianya sekitar 6 tahun sekaligus ia merupakan keturunan langsung dari darah kerajaan, kakeknya, Arga tidak mungkin mengizinkan cucunya untuk kesana.
"Yah, aku akan lakukan nanti."
Untuk saat ini, Alice hanya bisa fokus bukan pada percintaan melainkan fokus untuk bertahan hidup di dunia ini dari musuhnya yang tidak dikenal sebelumnya menjadi memahami kalau itu adalah Edi, ayah dari temannya, Ken.
"Lebih baik jika aku ke perpustakaan."
Mengangguk pada dirinya, ia diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya menggunakan selimut dan pakaiannya dengan terikat di salah satu besi kasur kanopi untuk keluar dari kamarnya melalui jendela.
Begitu berhasil, ia segera menarik kuat tali tersebut agar bisa terlepas dengan mudah kemudian memasukkannya kedalam tanpa sepengetahuan siapapun.
Dengan cepat, ia bersembunyi dibalik semak-semak lalu pergi menuju ke perpustakaan di bagian barat dari kastil. Di sana, tidak ada siapapun di jam segini memudahkan Alice untuk menambah pengetahuan.
Saat pintu ganda dibuka dengan tinggi 3 meter dengan warna putih metalik, dengan lambang libra berwarna coklat metalik, ia memasuki area perpustakaan lalu menutupnya kembali dari dalam dengan jerih payahnya dengan tubuh kecilnya.
Setelah berhasil, ia memeriksa sekeliling. Sadar bahwa ia belum pernah ke perpustakaan ditempat ini melainkan satunya lagi, di area timur dari sisi kastil. Sedangkan ini, ini pertama kalinya Alice berada disini.
"Baiklah. Waktunya untuk membaca buku."
Dengan begitu, Alice menelusuri setiap rak buku memastikan untuk mencari buku yang sesuai dengan keinginannya.
Semua buku di setiap rak yang dilewatinya tertata rapi dengan ukuran yang rata yang sudah dikategorikan sesuai jenisnya jadi seseorang tidak kerepotan mencarinya karena sudah ditata rapi tanpa perlu mencarinya di rak buku lain.
"Pertama, aku ambil tentang buku pengetahuan umum."
Beruntungnya, buku tersebut ada di perpustakaan ini jadi memudahkan Alice untuk belajar tentang bab berikutnya yang sempat tertunda sebelumnya.
"Kedua, buku tentang latihan fisik."
Ada rasa kurang puas dengan latihannya, Alice juga mencari buku tentang latihan fisik di rak lain. Tetap di lantai pertama dari ketiga lantai lain, ia yang terus mencari hingga mendapatkannya meletakkannya di meja ditengah ruangan.
Ngomong-ngomong, cahaya didalam tempat tersebut menggunakan batu kristal berwarna keemasan. Cahayanya mirip seperti lampu neon kecil namun dapat terang layaknya rumah dengan warna dari gradasi oranye dan kuning yang menjadi satu jadi tidak sepenuhnya gelap.
"Kurasa ini sudah cukup."
Duduk di kursi, Alice segera membaca satu-persatu buku tanpa mempedulikan apa yang ada diluar.
Setelah membaca cukup lama, Alice yang selesai merasa lega.
Ia beranjak dari kursi kayu berwarna coklat untuk menelusuri setiap rak yang ada di lantai satu, dua, dan tiga di perpustakaan.
"Tata letaknya sama. Tidak ada perubahan."
Dari apa yang dilihatnya, setiap rak memiliki 20 rak sejajar yang memanjang berbaris di tiap-tiap rak dengan jalan setapak muat dua hingga tiga orang di tiap-tiap lantai.
Di lantai pertama, kategorinya ada berbagai macam jenis, seperti; pengetahuan umum, sihir, fisik, kontrak monster, geologi tentang kota, geologi wilayah disekitar kota, labirin, dan dungeon, semuanya lengkap disana.
Di lantai dua dan tiga, mereka hanya memiliki sekitar 10 rak yang berbeda dari lantai pertama.
Kebanyakan buku di lantai dua dan tiga memiliki banyak tentang sihir, fisik, dan pengetahuan umum, terutama tentang herbal dan bijih material.
"Huh?"
Tanpa sengaja, Alice melihat salah satu rak buku di dinding di bagian utara berbeda dari yang lain. Dengan menggunakan kursi didekatnya yang diseret, ia naik memanjat lalu meletakkan meja didekatnya untuk dipanjat agar sampai di rak buku paling atas yang memiliki salah satu ukuran buku yang berbeda dari rak lain.
"Kenapa ada buku berbeda disini?"
Saat niat mengambil buku tersebut, buku tersebut menempel dengan kuat membuat Alice memeras setiap ons kekuatannya di usia 6 tahun untuk mengangkatnya.
"Kenapa... tidak bisa...."
Dirinya bertanya-tanya apakah ini buku ataukah ini bukan buku, ia benar-benar tidak tahu-menahu tentang ini.
Ketika buku tersebut berhasil terangkat, tiba-tiba rak buku bergeser membuat Alice yang kehilangan keseimbangannya tiba-tiba terjatuh dengan pinggulnya mendarat di lantai terlebih dahulu. Ia meringis kesakitan.
"Aduh... sakit sekali."
Segera bangkit dari jatuh, Alice meletakkan kembali kursi dan meja ditempat semula.
Ia yang kembali ke tempat tersebut dikejutkan dengan sebuah lorong yang tingginya sekitar 3 meter, dengan bahan disekitar lebih seperti diaspal, dengan lebar 2 meter. Ada tangga dari marmer putih membuatnya bingung kemana arah tangga ini tertuju.
"Luar biasa."
Dikarenakan Alice kagum atas ruangan rahasia ketimbang terkejut seperti diawalnya, jiwa otaku semasa mudanya sebagai Nia bangkit membuatnya terlihat bersemangat untuk mengetahui apa yang menanti di ruangan dalam, dimana tangga dari marmer putih mengarah melingkar kebawah.
Alice memasuki ruangan yang mirip seperti lorong, pintu yang terbuka dibelakang tertutup hanya memperlihatkan kegelapan. Tak lama kemudian, cahaya kristal berwarna biru laut menyala redup cukup untuk menerangi lorong yang melingkar kebawah.
Sementara dinding terbuat di sepanjang lorong dari batu bata, itu cukup halus tanpa kasar dengan warna putih menyesuaikan marmer yang ada. Untuk kristal biru laut, ia lebih mirip seperti lampu tempel seperti lentera mini di ketinggian 2 meter dengan jarak masing-masing diantara mereka berkisar 1 meter.
Langkah kaki Alice menggema ditengah kesunyian. Ada rasa penasaran dan antisipasi yang memenuhi hatinya, Alice hanya berharap ia menemukan harta karun di dalam ruangan rahasia nanti.
Saat pandangan Alice akhirnya melebar setelah keluar dari lorong melingkar dengan anak tangga dari marmer putih dan dinding batu bata putih, ia melihat ruangan yang yang luasnya sepanjang 5 meter, dengan empat rak di kedua sisi ruangan yang tingginya tidak lebih dari 1 meter, lebih cenderung berbaris sejajar menyamping.
Ada kasur yang berada disebelah rak kanan, kasur tanpa kanopi tanpa selimut.
Dilihat secara menyeluruh, ruangan ini penuh dengan debu tanpa pernah ada siapapun yang memasuki tempat ini seolah-olah ruangan ini ditinggalkan dalam waktu yang cukup lama. Buktinya terlihat jelas di rak buku yang sejajar berbaris menyamping, kasur, banyak sekali debu. Sementara di dinding, terdapat sarang laba-laba.
"Kotor sekali."
Jiwa kebersihan Alice meronta-ronta kesal atas ruangan yang kotor sekali jadi ia terpaksa untuk mengambil kain pel, sapu, dan ember yang kebetulan ada di ruangan rahasia di ruangan sebelahnya yang terhubung melalui perangkat sama seperti Alice memasuki ruangan ini.
Pintu bergeser memperlihatkan ruangan yang mirip seperti kamar mandi dimana tempat tersebut layaknya kamar mandi yang dikenal oleh Alice saat menjadi Nia dulu.
Mulai dari; shower yang tergantung di dinding, pintu kaca blur sepanjang persegi panjang dengan lebar 2 meter dan panjang 4 meter, ada juga toilet pembuangan air besar berwarna putih yang tampak familiar, keran air berwarna putih metalik, saluran air mengarah ke pembuangan air di keran air, semuanya mirip seperti yang ada di apartemen dimana Nia berada sebelumnya sebelum ia menjadi Alice.
"Mungkinkah tempat ini dulunya milik seorang Reincarnator?" Tanyanya, ragu kalau orang-orang di dunia ini tahu betul tentang mekanisme yang ada di toilet ini.
Tanpa berlama-lama, Alice mulai menuangkan air melalui keran putih metalik ke ember, ia mengambil kain pel dan sapu yang tergantung di gantungan pakaian berwarna coklat muda.
"Baiklah, waktunya untuk bersih-bersih tempat ini dulu."
Dikarenakan akan sangat merepotkan membersihkan tempat sebelum kamar mandi berada di ruangan tengah, Alice memutuskan untuk membersihkan tempat ini terlebih dahulu.
Lantainya yang kotor dan berdebu membuatnya membersihkan dengan seksama menggunakan kain pel yang sudah dibasahi dengan hati-hati. Meskipun tidak ada pewangi lantai untuk membuat lantai kamar mandi wangi, Alice tidak mempermasalahkannya asalkan itu berhasil dibersihkan maka sudah cukup.
Setelah membersihkan lantai, ia segera membersihkan kaca yang awalnya berdebu menjadi tidak dengan kain pel dan air. Setelah itu, membersihkan saluran air dari pembuangan air agar tidak dipenuhi dengan debu.
Beruntungnya, air masih keluar dari keran membuat Alice merasa lega kalau ia bisa membersihkannya dengan mudah. Kalau tidak, ia terpaksa untuk mengambilnya dari luar saat tengah malam untuk membersihkannya.
Selesai membersihkan kamar mandi yang sekarang kinclong, Alice kembali ke ruangan tengah dari kamar mandi yang ada di sisi kiri lorong. Ia menekan sesuatu seperti tombol yang menonjol di salah satu dinding keramik berwarna biru langit. Tombol tersebut terbuka memperlihatkan ruangan tengah seperti sebelumnya.
"Sekarang, mari bersihkan ini juga."
Dengan senyuman percaya diri, Alice terlalu asyik melakukan kebersihan area di tempat persembunyian berharap ia bisa menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggal jikalau ia bosan di kamar.
Kira-kira begitulah kilas balik dari apa yang Alice alami.
Kembali ke sekarang, Alice yang tersenyum bangga tampak puas karena semuanya sudah bersih di ruangan tengah. Tidak ada lagi debu, sarang laba-laba dan laba-laba kecil, serta tidak lagi ada kotoran di selimut kasur karena Alice merendamnya untuk dicuci nanti malam.
"Sekarang, waktunya untuk menelusuri setiap buku yang ada."
Dirinya tidak ingat kalau diluar sana, ayahnya, Ren sedang mencari dirinya cukup lama hingga sarapan pagi berakhir tanpa ada kehadirannya, sedangkan Alice mengambil setiap buku yang ada diletakkan di meja yang mirip kotatsu namun tidak ada kain untuk menghangatkan.
Alice meletakkan beberapa buku di sana, ia membacanya satu-persatu.
•••••
Alice POV
Mustahil. Tempat ini benar-benar seperti harta karun?
Apa yang kulihat sekarang adalah buku tentang penelitian tentang eksperimen berbahaya ditempat ini. Mulai dari buku tentang; monster girl encyclopedia yang berjilid dengan penjelasan yang detail, kelebihan dan kekurangan, serta material dari tubuh mereka yang dapat digunakan untuk dibuat sesuatu.
Tak hanya itu, ada juga beberapa bijih material yang bisa dikelola menjadi artefak.
Awalnya kupikir itu hanya kiasan saja, tapi rupanya benar-benar ada di dunia ini.
"Yah, ini benar-benar menarik."
Dirasa orang yang sebelumnya tinggal disini memiliki class yang cukup memadai, misalnya class Alchemist dan Blacksmith, keduanya sangat penting dalam perkembangan zaman.
Apalagi jikalau tempat ini merupakan tempat dari reincarnator sepertiku, ada kemungkinan seseorang yang ada disini sebelumnya cukup memahami apa yang ia lakukan selama ini.
"Hmmm...."
Tanpa sengaja, aku melihat buku dibawah kasur yang terlihat lusuh dan sedikit robek. Mengambil buku tersebut, aku meletakkan di meja selagi membersihkan sedikit debu-debu yang ada didalamnya.
"Buku Harian?"
Dari segalanya banyak buku, aku ingin tahu apakah dugaan-ku benar kalau orang yang membuat tempat ini adalah orang dari dunia lamaku sebagai reincarnator atau tidak.
Jika benar, mungkinkah orang itu merupakan bagian dari keturunan raja atau hanya sebatas orang biasa yang memiliki berkah Dewa dan Dewi. Aku tidak tahu. Dikarenakan memikirkannya membuatku penasaran, tanpa berlama-lama aku mulai melihat isi didalamnya.