NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pagi datang tanpa benar-benar terasa seperti pagi.

Langit London kelabu, awan menggantung rendah seolah menahan sesuatu yang belum jatuh.

Xerra terbangun lebih dulu.

Ia membuka mata perlahan, menyadari satu hal lengannya terkurung oleh tangan Evans. Pria itu masih tertidur, wajahnya tenang, nyaris kontras dengan reputasinya di luar sana.

Untuk sesaat, Xerra hanya memandangi wajah itu.

“Inikah wajah pria yang ditakuti banyak orang…?” batinnya.

Ia bergerak sedikit, berniat bangun, tapi lengan Evans mengencang refleks.

“Jangan pergi,” gumam Evans setengah sadar.

Xerra tersenyum kecil. “Aku cuma mau ke kamar mandi.”

Evans membuka mata, menatapnya beberapa detik sebelum benar-benar sadar. Tatapan dinginnya muncul lalu langsung melunak.

“Maaf,” katanya pelan. “Kau masih di sini.”

“Harusnya aku ke mana?” jawab Xerra lembut.

Evans duduk, mengusap wajahnya sebentar, lalu menatap jendela besar.

“Mulai hari ini,” ucapnya tanpa menoleh, “hidupmu akan berubah.”

Xerra terdiam.

“Aku tahu,” jawabnya akhirnya. “Aku sudah merasakannya sejak kemarin.”

Evans menoleh. “Kau takut?”

Xerra menggeleng pelan. “Aku hanya… ingin tahu apa yang harus kupersiapkan.”

Jawaban itu membuat Evans memandangnya lebih lama.

Belum sempat ia bicara, ponselnya bergetar di meja.

Satu panggilan masuk.

Nama yang muncul membuat wajah Evans mengeras seketika.

"Gerry"

Evans mengangkatnya.

“Apa?” suaranya kembali dingin.

Suara di seberang terdengar cepat dan tegang. Xerra tidak mendengar jelas, tapi melihat rahang Evans mengeras.

“Aku bilang jangan bergerak tanpa izinku,” ucap Evans tajam.

“Lokasi?”

“Hm.”

Ia memutus panggilan.

Xerra bangkit dari ranjang. “Ada apa?”

Evans berdiri, mengenakan kemeja dengan gerakan cepat namun terkontrol.

“Orang lama,” jawabnya singkat. “Mereka tahu aku kembali aktif.”

“Kembali aktif?” ulang Xerra.

Evans menoleh, menatapnya serius.

“Aku bukan hanya CEO, Xerra.”

Xerra menelan ludah. “Aku tahu.”

Evans mendekat. “Tapi mulai hari ini, kau akan tahu lebih banyak. Dan aku tidak ingin kau terkejut saat darah dan ancaman datang bersamaan.”

Xerra menarik napas dalam. “Aku tidak ingin dibohongi.”

Evans mengangguk. “Aku juga tidak ingin kau terluka.”

Ia mengambil ponselnya lagi, mengirim pesan singkat.

“Keamanan ditingkatkan. Istriku adalah prioritas.”

Xerra tersentak kecil mendengar kata itu.

“Istri.”

Evans menatapnya. “Kau menyesal?”

Xerra menggeleng cepat. “Tidak. Aku hanya… sadar posisiku sekarang berbeda.”

Evans mengamati wajahnya. “Katakan padaku apa yang kau pikirkan.”

Xerra melangkah mendekat.

“Aku tidak ingin hanya menjadi sesuatu yang harus kau lindungi,” katanya jujur.

“Aku ingin berdiri di sampingmu. Bukan di belakangmu.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Lalu Evans tersenyum bukan senyum dingin, tapi sesuatu yang jarang terlihat.

“Berani,” katanya. “Dan bodoh.”

Xerra mengerutkan kening. “Om”

"Itu sebabnya aku memilihmu.”

Evans meraih tangan Xerra, menggenggamnya kuat.

“Kau akan belajar. Aku akan mengajarimu. Tentang bisnis. Tentang orang-orangku. Tentang siapa yang harus kau percayai… dan siapa yang harus kau hancurkan dengan tangan mu sendiri”

Xerra terdiam. “Aku tidak ingin menjadi kejam.”

Evans mengusap ibu jarinya di punggung tangan Xerra.

“Kau tidak perlu kejam,” ucapnya.

“Cukup menjadi dirimu yang cerdik.”

Kalimat itu membuat Xerra tersenyum kecil,senyum yang membuat Evans yakin satu hal

Istrinya tidak selemah yang orang kira.

Di saat yang sama, di sebuah gudang tua di pinggiran kota, beberapa pria duduk mengelilingi meja besi.

“Evans Pattinson menikah,” kata salah satu dengan nada sinis.

“Itu celah.”

Pria lain tersenyum gelap. “Istri baru selalu menjadi titik lemah.”

Di layar ponsel, terpampang satu foto.

Xerra Collins.

Tersenyum.

Tenang.

Tak menyadari bahwa namanya baru saja masuk dalam daftar target.

Pagi itu seharusnya tenang.

Sinar matahari London menembus tirai tipis kamar suite kepresidenan Asterion Grand Hotel. Kota bergerak seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa yang berubah setelah pernikahan besar semalam.

Namun Evans tahu

ketenangan seperti ini tidak pernah bertahan lama.

Xerra berdiri di dekat jendela, mengenakan robe tipis berwarna gading. Rambutnya masih tergerai, wajahnya terlihat lebih lembut tanpa riasan.

Ia menoleh ketika Evans mendekat.

“Om kelihatan tegang sejak tadi,” ucapnya pelan.

Evans berhenti tepat di belakangnya, kedua tangannya bertumpu di sisi jendela, mengurung Xerra di antara tubuhnya dan kaca.

“Ada hal yang bergerak,” jawabnya jujur.

“Dan aku tidak menyukainya.”

Xerra menelan ludah. “Berbahaya?”

Evans menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh puncak kepala Xerra.

“Belum. Tapi akan.”

Ia meraih ponselnya yang bergetar di meja.

Pesan masuk.

"Gerry"

Mobil mencurigakan terdeteksi sejak subuh. Tidak terdaftar. Plat palsu.

Tatapan Evans mengeras.

Xerra memperhatikan perubahan ekspresi itu. “Om?”

Evans berbalik, menatapnya serius.

“Aku ingin kau tetap di kamar hari ini.”

Xerra mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Seseorang sedang mengintai kita”

Ucap nya dingin, ucapan yang biasa digunakan Evans pada dunia luar.

Namun Xerra tidak mundur.

“Aku istrimu,” katanya tegas.

“Bukan barang rapuh.”

Keheningan turun.

Evans menatapnya lama, lalu menghela napas pelan.

“Kau tahu kenapa aku takut?” tanyanya akhirnya.

Xerra menggeleng.

“Karena mereka tidak akan menyerangku lebih dulu,” lanjut Evans.

“Mereka akan mencarimu.”

Xerra terdiam.

“Tapi aku tidak akan bersembunyi,” jawabnya perlahan.

“Jika aku hidup di sisimu, aku harus siap.”

Evans mendekat, mengusap lembut wajah Xerra dengan satu tangan.

“Kau keras kepala.”

Xerra menatap balik. “Om juga.”

Untuk sesaat, sudut bibir Evans terangkat tipis.

“Baik,” katanya.

“Tapi kau ikut dengan pengawalan penuh.”

Mereka turun menuju area parkir bawah tanah.

Mobil hitam Evans berdiri di tengah, dikelilingi dua kendaraan pengawal. Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Xerra baru saja melangkah masuk ketika...

BRAK!

Suara benturan keras menggema.

Sebuah mobil lain muncul tiba-tiba dari sisi gelap parkiran, melaju terlalu cepat.

“Masuk!” bentak Evans.

Xerra refleks ditarik masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup keras. Suara tembakan memantul di ruang parkir.

Kaca mobil pengawal depan retak.

“Kontak!” teriak Gerry dari radio.

Evans menunduk, melindungi Xerra dengan tubuhnya.

Jantung Xerra berdegup kencang.

“Evans”

“Diam,” katanya rendah tapi tegas.

“Pegang aku.”

Mobil melesat. Suara mesin meraung, diikuti bunyi tembakan susulan.

Xerra memejamkan mata, tangannya mencengkeram jas Evans.

“Tidak apa-apa,” ucap Evans pelan di dekat telinganya.

“Aku di sini.”

Beberapa menit terasa seperti selamanya.

Akhirnya suara tembakan menghilang.

Mobil berhenti mendadak di lokasi aman.

Gerry membuka pintu.

“Bersih. Mereka mundur.”

Evans keluar lebih dulu, wajahnya dingin seperti baja.

“Identitas?” tanyanya.

“Kelompok lama. Anak buah Russo.”

Rahang Evans mengeras.

“Aku bilang jangan bergerak.”

Ia menoleh pada Xerra yang masih duduk, wajahnya pucat tapi matanya tajam.

“Kau terluka?”

Xerra menggeleng. “Tidak.”

Evans menariknya keluar, memeriksa tubuhnya dengan cepat.

“Maaf,” katanya singkat.

“Kenapa minta maaf?” tanya Xerra.

“Karena aku berjanji dunia ini tidak akan menyentuhmu,” jawab Evans.

“Dan hari ini mereka mencoba.”

Xerra menarik napas, lalu memeluk Evans tanpa ragu.

“Aku masih di sini,” katanya.

“Dan aku tidak menyesal.”

Pelukan itu membuat Evans terdiam.

Tangannya perlahan membalas, lebih erat dari sebelumnya.

Di tempat lain, sebuah gudang kosong kembali hidup.

Seorang pria memandang layar ponsel, menampilkan foto Xerra.

“Dia tidak panik,” katanya.

“Itu berbahaya.”

Pria di seberang tertawa kecil. “Justru itu menarik.”

“Evans Pattinson punya kelemahan sekarang,” lanjutnya.

“Dan kelemahan selalu membuat pria kuat… ceroboh.”

Di dalam mobil, Evans menatap ke depan, wajahnya gelap.

Xerra duduk di sampingnya, menggenggam tangannya.

“Evans,” katanya lembut.

“Hm.”

“Jika mereka datang lagi…”

Evans menoleh.

“…aku ingin tahu segalanya. Jangan lindungi aku dengan kebohongan.”

Evans mengangguk pelan.

“Baik,” katanya.

“Mulai hari ini, kau akan tahu siapa musuh kita.”

Mobil melaju kembali.

Dan London, tanpa sadar, baru saja menjadi papan permainan yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!