Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19 Curhat Dengan Kakak
...Bab. 19 ...
...CURHAT DENGAN KAKAK...
Aku sedang duduk di mejaku, melamun sambil tersenyum sendiri. Ronan yang kebetulan melihat sikapku yang hari ini aneh berbisik pada Keith. Keith juga menoleh ke arahku. Dengan langkah santai ia membungkuk di depan mejaku. Memperhatikanku yang sedang tersenyum sendiri.
"Hei, lihat Nona ini! Apa yang sedang dia pikirkan sampai tersenyum sendiri seperti itu, ya?" goda Keith.
Aku baru tersadar dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"A ... apa katamu?" kataku gelagapan.
"Aku akan sangat senang jika alasan kamu tersenyum sendiri itu adalah aku," ucap Keith sambil mengedipkan mata.
"Akhir-akhir ini kamu mengalami syndrome percaya diri yang berlebihan. Apa kamu meminum obat yang salah?" ejekku.
"Tidak. Aku hanya merasa kuncup bunga yang sudah lama layu mulai bersemi kembali," balas Keith. Ia tersenyum dengan penuh teka-teki tapi aku terdiam menatapnya.
"Ah ... Aku buatkan teh untukmu, ya!" katanya sambil berjalan pergi. Mataku mengikuti kepergiannya dan kembali tersenyum.
...🌹🌹🌹...
Mengawali pagi dengan kesibukan. Baru buka toko langsung mendapat telepon dari pelanggan yang memesan sepuluh bunga meja ukuran medium yang akan di ambil sore nanti. Keith dan Ronan langsung mengerjakan sesuai model yang diinginkan pelanggan. Ronan memberitahuku ada beberapa macam bunga yang kurang. Aku segera memesannya melalui telepon. Ternyata agen bunga juga kehabisan stok untuk hari ini. Karena kebutuhan mendesak mereka merekomendasikan sebuah toko bunga yang masih tersedia. Tentu harganya sedikit mahal. Aku lalu meminta nomor telepon toko tersebut dan langsung menelepon ke sana. Benar, semua bunga yang dibutuhkan tersedia. Tapi aku harus mengambilnya sendiri karena mereka tidak memiliki kurir. Keith dan Ronan sedang sibuk jadi aku pergi sendiri.
"Mau ke mana, Edeline?" tanya Keith melihatku bersiap.
"Ke luar mengambil pesanan bunga," jawabku cepat.
"Kenapa tidak menyuruh mereka mengantarnya saja?" tanya Keith.
"Agen langganan kita juga kehabisan stok jadi aku harus membelinya di tempat lain. Mereka tidak punya kurir jadi aku harus mengambilnya sendiri," jawabku dengan terburu-buru. Aku sudah mau pergi.
"Kalau begitu biar aku yang pergi saja. Berikan alamatnya!" suruh Keith. Ia sendiri sudah siap mengambil alih tugasku.
"Tidak ada waktu, Keith. Kamu harus tetap di sini bersama Ronan menyelesaikan bunga itu. Kita harus selesai sebelum pelanggan datang mengambil!" paparku.
"Tapi, itu--"
"Sekarang aku bosnya! Lakukan tugasmu dan jangan banyak membantah!" perintahku dengan tegas kemudian meninggalkan toko.
"Oh, sudah bisa jadi bos sekarang," gumam Keith sendiri. Ronan cekikikan menahan tawa.
Satu setengah jam kemudian aku kembali dengan dua paperbag besar bunga yang ku dekap bersamaan sampai tubuh mungilku hampir tak terlihat. Keith langsung mengambilnya dariku.
"Masih butuh berapa?" tanyaku setengah ngos-ngosan.
"Tidak banyak hanya tiga setengah, Kakak Edeline!" jawab Ronan.
"Oh, syukurlah," kataku lega.
"Bukan kakak, sekarang dia bos!" Keith meralat ucapan Ronan dengan maksud mengejek.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Sayang!" balasku pada Keith.
"Apa? Bisa kamu ulangi sekali lagi?" ujar Keith bersemangat.
"Tidak!" jawabku sambil berlalu. Keith nampak lesu dan Ronan kembali cekikikan.
Hari yang amat sibuk akhirnya usai. Semua selesai tepat waktu. Aku sudah mau keluar untuk tutup toko saat Ariana datang.
"Oh, pelanggan terakhir!" seruku. Ronan melambai pada Ariana, gadis itu membalasnya dengan senyum.
"Tidak, tidak, hari ini aku tidak datang untuk membeli bunga. Aku mencari Keith." Ariana meluruskan. Ronan jadi kehilangan semangat mendengar Ariana mencari Keith.
"Oh," gumamku. "Ya, sudah aku juga sudah mau tutup. Ayo!"
Aku sedang mengunci pintu toko. Keith dan Ariana sudah berjalan duluan. Aku memperhatikan mereka dari tempatku. Mereka sedang berbicara atau seperti sedang berdebat. Aku melihat Keith merangkul pundak Ariana dengan erat. Ariana menepis tangannya sambil mengatakan sesuatu sedangkan Keith malah tertawa. Ia masih menggodanya dengan mengacak rambut gadis itu. Namun Ariana menepisnya. Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menusuk hatiku. Aku berpikir, apa Keith memang begitu usil?! Apa hubungan saudara angkat bisa sedekat itu?
Aku berjalan pulang sendiri. Kurasa kuncup bunga yang dikatakan Keith sudah layu sebelum sempat mekar.
...🌹🌹🌹...
Di depan sebuah rumah, Keith dan Ariana sedang menunggu. Mereka masih saja terus berdebat.
"Dasar bodoh! Aku juga tidak akan mencarimu kalau bukan karena bibi Amera ingin bertemu denganmu!" umpat Ariana dengan ketus.
"Kenapa kamu jadi ketus begitu?! Kamu sepertinya tidak senang kalau aku ini memang kakakmu," ujar Keith.
"Kalau aku tidak senang terus kenapa?" tanya Ariana dengan mata melotot.
Pintu terbuka dan bibi Amera muncul.
"Hei, kalian berdua ini dari dalam sudah terdengar suara ribut kalian. Ayo, masuk!" suruhnya sambil membuka pintu lebih lebar.
"Oh, jadi kamu yang namanya Keith. Wajahmu memang mirip sekali dengan adikku," kata bibi Amera begitu mereka duduk di ruang tamu. Ariana kembali membuang muka.
"Terima kasih, Bibi. Aku sendiri sudah tidak ingat bagaimana wajah ibu," jawab Keith sedih.
"Tidak apa-apa. Bibi mengerti keadaanmu. Ariana, kenapa hanya duduk saja? Ayo, ambilkan minuman untuk kakakmu ini!" perintah bibi Amera.
"Eh, tidak usah, Bibi ...," tolak Keith.
"Tidak apa-apa. Ariana ...," suruh bibi Amera sekali lagi. Ariana berdiri dengan wajah cemberut kemudian masuk ke dalam dapur.
"Sekarang kamu tinggal di mana, Keith?"
Suara bibi Amera dan Keith terdengar sampai di dapur oleh Ariana. Sambil menuangkan air panas ke kantong teh Ariana mengomel sendiri.
"Kenapa dia harus jadi kakakku? Menyebalkan sekali! Jadi kakak angkat saja sudah sulit bagiku sekarang dia malah jadi kakak tiri. Bahkan jadi lebih menyebalkan dari sebelumnya."
Ariana menatap toples-toples yang tersusun di rak. Pikiran isengnya muncul. Ia tersenyum. Ia membawakan secangkir teh hangat untuk Keith.
"Ini ... Kakak! Silahkan diminum!" kata Ariana dengan senyum paling manis.
"Nah, begitu baru adik yang manis!" puji bibi Amera.
"Terima kasih ya, Ariana," ucap Keith. Dia lalu mengangkat cangkirnya dan minum tehnya. Ia hampir memuntahkan kembali tehnya namun karena bibi Amera terus menatapnya jadi dengan terpaksa ia menelannya. Ariana menahan tawa di balik nampan yang dipegangnya. Sementara Keith menatapnya tajam.
"Awas, kamu ya! " ancam Keith dengan bisikan kecil mengarah pada Ariana.
"Ada apa, Keith?" tanya bibi Amera.
"Em, tidak ada apa-apa, Bibi," jawab Keith sambil tersenyum seolah tak ada apa-apa.
...🌹🌹🌹...
Seharian ini aku hanya bergelut di depan layar laptop. Setelah mengecek semua bunga dan memesan bunga baru. Kembali di depan laptop, mengetik, meng-upload foto baru di sosial media, membuat catatan tagihan, ya hampir tidak beranjak dari kursi. Mata yang lelah ditambah kurang tidur semalam tetap dipaksakan untuk bekerja.
Dari balik layar laptop aku mencuri pandang ke arah Keith. Entah mengapa aku terus memikirkan kejadian kemarin. Dan tidak tahu mengapa aku merasa tidak tenang. Aku mengemas laptop dan sebuah buku. Kemudian menentengnya pergi.
"Aku keluar sebentar!" kataku sambil berlalu cepat sebelum kedua pemuda di sana bertanya.
Udara segar mungkin bisa mengembalikan semangatku. Aku memilih duduk di sebuah cafe dan memesan segelas kopi. Minuman yang seharusnya ku hindari, tapi sangat membantu menghilangkan rasa kantuk dan lelah. Aku kembali berjalan-jalan. Jalanan kota saat siang ramai dengan anak sekolah yang hendak pulang. Langkah tanpa tujuanku akhirnya berhenti di teluk. Kali ini aku tidak ke jembatan tetapi hanya duduk di tepian teluk. Angin bertiup cukup kencang di sini. Rasanya lebih baik tanpa dihantui oleh kenangan. Malah sekarang keadaannya sudah berbeda. Aku tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Yang jelas hati ini terasa nyeri.
Aku pergi menemui Celine. Celine agak kaget melihatku datang di jam seperti ini. Aku bercerita padanya tentang banyak hal, juga tentang apa yang aku rasakan saat ini. Celine selalu bisa memberi masukan. Dia tersenyum mendengar curahan hatiku dengan penuh perhatian.
"Itu tandanya kamu menyukai Keith, Edeline! Kamu tidak suka melihatnya dekat dengan gadis lain. Kamu cemburu, iya kan!? Masa kamu tidak menyadarinya?" ujar Celine dengan lembut.
"Kakak, apa yang kamu katakan itulah yang aku takutkan. Jika kenyataannya harus kembali kehilangan bahkan sebelum memulai. Aku baru bangkit apa harus kembali jatuh?" tanyaku.
"Setiap orang bangkit dan jatuh berkali-kali, itulah yang membuat mereka semakin kuat. Kamu juga harus seperti itu. Bukan terus lari dan lantas menyerah, tapi kamu harus terus bangkit untuk berjuang. Ingat ... Jika kamu menyerah sekarang, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Jika kamu bertahan dan berjuang, kamu mungkin masih memiliki kesempatan. Sekecil apapun kesempatan itu kamu tetap disebut pemenang meskipun harus berada di posisi runner up, setidaknya kamu telah berusaha," ucap Celine dengan masukannya.
"Lalu, aku harus berusaha seperti apa?" tanyaku.
Celine mengusap lenganku dengan pelan. "Tunjukkan padanya, kepedulianmu, perhatianmu. Berpikirlah positif karena apa yang kamu lihat belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan. Bukankah dia bilang padamu dia hanya menganggap gadis itu adiknya saja?! Jadi cobalah percaya. Jika akhirnya ternyata kamu harus jatuh lagi, maka ingatlah kamu tidak pernah kalah. Kamu juga pemenang hanya saja di posisi kedua," jawab Celine dengan penuh keyakinan juga semangat.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Kakak! Aku memang selalu bisa mengandalkanmu!" balasku. Aku sangat bersyukur memilik kakak seperti Celine. Rasanya beban pikiranku sedikit berkurang setelah bercerita padanya.
"Aku akan selalu membantumu selama aku bisa, Edeline!" timpalnya.
Lama mengobrol dengan Celine aku sampai lupa waktu. Kulihat jam di layar ponselku. Sudah hampir waktunya tutup toko. Aku tidak akan sempat sampai ke sana. Jadi aku menelepon ke toko. Ronan yang mengangkat telepon. Aku berbicara padanya.
"Halo, Ronan. Apa Keith masih di sana? Oh, aku tidak akan tepat waktu sampai di toko. Jadi, tolong sampaikan pada Keith, suruh dia menutup toko, ya! Kuncinya ada di dalam laci mejaku. Seperti biasa setelah pulang antarkan kunci itu ke rumahku! Iya, terima kasih."
^^^bersambung....^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi