NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Sang Penguasa

Belenggu Janji Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Mafia / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Redblue Vixx

Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Usaha Mendekat yang Ditutupi Rapat

Sejak pertemuan dingin di kafe tua itu, Axel dan Leonardo makin memperketat penjagaan tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun di mata Ayranza. Leonardo mengatur jadwal patroli baru, memblokir akses surat dan pesan tak dikenal, serta menempatkan orang‑orang kepercayaan di titik‑titik jarak pandang sekitar kediaman. Semua perintah disampaikan dengan kode singkat agar tak ada yang tak berwenang mengerti.

Namun Shakira Vale bukan wanita yang mudah menyerah. Ia mulai bergerak dengan cara lebih halus: berjalan santai di taman kota yang sering dikunjungi Ayranza, berbelanja di toko yang sama, bahkan sempat menyapa Arshen dari jarak aman sambil tersenyum manis seolah hanya warga biasa. Beruntung Leonardo selalu ada di situ atau memberi isyarat cepat agar rombongan segera beralih tempat tanpa penjelasan panjang.

Suatu sore di ruang kerja, Axel baru saja menerima laporan tertulis dari Leonardo. Wajahnya tampak tegang.

“Dia makin berani,” gumam Axel pelan sambil menunjuk baris catatan. “Kemarin dekat di toko kain, tadi pagi di depan gerbang sekolah Arshen. Kalau terus begini, tak lama lagi dia akan berani langsung bicara pada Ayranza.”

Leonardo berdiri tegak di hadapan meja kerjanya, nada bicaranya tenang namun tegas.

“Saya sudah tambah dua pengawal baru yang pandai berbaur, Tuan. Mereka akan selalu ada di antara Nyonya dan Nona Shakira setiap kali jarak makin dekat. Sampai sekarang Nyonya sama sekali belum curiga. Ia hanya sempat bertanya kenapa belakangan ini kita sering ganti rute pulang‑pergi.”

“Lalu jawabmu apa?” tanya Axel cepat.

“Seperti kesepakatan kita: saya bilang ada perbaikan jalan di rute biasa dan kemacetan parah. Ia percaya begitu saja.” Leonardo berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan nada lebih berat. “Tapi kita tak bisa bertahan terus dengan cara ini. Nona Shakira makin lihai mencari celah. Ia tahu persis jam berapa Nyonya biasanya sendirian sebentar.”

Axel berdiri berjalan mendekati jendela, menatap ke arah taman tempat Ayranza sedang duduk santai di bawah pohon besar sambil mengusap perutnya perlahan. Hatinya terasa perih menahan beban rahasia besar ini. Ia tak ingin kebohongan sedikit pun ada di antara mereka, namun demi ketenangan istri dan keselamatan janin yang dikandungnya, ia sadar harus menunda pengungkapan sampai waktu yang paling tepat.

“Besok pagi aku akan bertemu dia lagi,” putus Axel akhirnya. “Kau atur tempat pertemuan yang aman dan jauh dari rute biasa Ayranza. Pastikan tak ada mata yang bisa melihat kami.”

“Baik, Tuan. Saya siapkan semuanya sekarang juga.”

Pagi berikutnya, saat Ayranza masih asyik menyiapkan bekal sarapan untuk Angga dan Arshen, Axel berpamitan seolah ada rapat mendadak di kantor pusat kota. Leonardo tetap tinggal di kediaman, berkeliling mengawasi setiap sudut, siap memberi peringatan seketika jika Shakira nekat datang mendekat.

Di sebuah ruang pertemuan tertutup di lantai atas gedung kantor milik Leonardo, Shakira sudah menunggu dengan penampilan rapi dan senyum percaya diri. Begitu Axel masuk, ia langsung bicara tanpa basa‑basi.

“Kau makin sulit ditemui saja, Axel. Itu asistenmu sungguh sangat menjaga ketat gerak‑gerikmu.”

Axel duduk di hadapannya tanpa tersenyum sedikit pun.

“Apa maumu kali ini, Shakira? Kemarin aku sudah katakan semuanya jelas. Aku punya istri yang kucintai dan anak yang akan lahir sebentar lagi. Tak ada gunanya kau terus berusaha mendekat.”

Shakira bersandar santai di kursi, menatapnya tajam namun nada bicaranya lembut berbahaya.

“Aku cuma ingin bicara baik‑baik. Dulu kita pernah saling menyayangi, ingat tak? Kalau aku mau buruk, sejak minggu lalu aku sudah cerita semuanya pada istrimu, tentang masa lalu kita, tentang janji yang tak terpenuhi, dan alasan sesungguhnya aku pergi dulu.”

Axel menahan amarahnya agar tak meledak. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya dingin menegaskan peringatan keras.

“Coba saja kau lakukan itu. Kau tahu aku takkan segan bertindak apa saja demi melindungi keluargaku. Kau bilang dulu dipaksa pergi? Kalau benar begitu, ceritakan saja semuanya padaku tanpa melibatkan Ayranza sedikit pun.”

Shakira tertawa pelan, suaranya menggema di ruangan sepi itu.

“Masih sama keras kepalanya ya. Baiklah, aku takkan mendekati istrimu dulu… dengan satu syarat: kau harus luangkan waktu bicara denganku sesekali sampai semuanya selesai jelas. Kalau kau tolak, aku tak janji bisa menahan diri selamanya.”

Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan tegas, namun Shakira sepakat menjauh dari kediaman dan rute perjalanan Ayranza sementara waktu. Axel pulang dengan hati lega sedikit namun beban pikiran makin berat.

Sesampainya di rumah, Leonardo segera menyambutnya di samping mobil.

“Bagaimana hasilnya, Tuan?”

“Dia bersedia menjauh sebentar asalkan aku mau bertemu dia sesekali,” jawab Axel berat. “Tak ada jalan lain selain menyetujuinya dulu sambil kita cari tahu apa tujuan sesungguhnya dan siapa yang mungkin mendukung gerakannya sekarang.”

“Baik, Tuan. Saya akan ikut serta setiap pertemuan dan mencatat segala hal yang terungkap,” janji Leonardo mantap.

Siang itu saat makan siang bersama keluarga, suasana berjalan tenang seperti biasa. Ayranza tampak ceria, bercerita rencana menyiapkan kamar bayi bersama Mommy Xena. Sesekali ia menatap Axel dan tersenyum manis tanpa curiga sedikit pun.

“Kau baik‑baik saja kan?” tanyanya pelan saat mereka sempat berdua sejenak setelah makan usai. “Wajahmu terlihat agak lelah belakangan ini.”

Axel tersenyum tipis lalu mengusap pipi istrinya lembut.

“Hanya sedikit banyak pekerjaan di kantor saja, tak ada yang berat. Jangan khawatirkan aku, cukup kau dan si kecil tetap sehat dan bahagia.”

Namun di dalam hati, Axel sadar benar. Permainan masa lalu belum selesai. Ia dan Leonardo harus terus bekerja sama menutup rapat segala celah agar bahaya tak merembet sampai ke telinga Ayranza. Sampai saat yang tepat tiba untuk mengungkap semuanya sekaligus mengakhiri ancaman Shakira selamanya.

Di sore yang sama, Leonardo diam‑diam menerima kabar dari mata‑matanya di kota. Ternyata Shakira tak bekerja sendirian. Ada nama lama yang muncul kembali dalam jejak transaksi keuangannya. Salah satu sekutu Riccardo yang sempat lolos penangkapan dulu. Kabar itu membuat Leonardo makin waspada, menyadari bahaya yang datang bukan sekadar urusan cinta lama, melainkan kemungkinan besar rencana baru yang jauh lebih berbahaya.

 

1
KZ2
Kenapa yang Black Eagle di hapus?
KZ2: Siap beb👍🏻
total 2 replies
Fahri Purba
smangt bossqueee.
Fahri Purba
mkanya jjur kw xavier biar gk lari binimu.
Murni Caem
🌟🌟🌟🌟🌟
Murni Caem
jahat x ferguso eh salah fabrizio ini anak² pun diracuni.
Jhony
tor cpetan hlangkan sih cindy, gedek liatny.😡
Jhony
good job👍👍
ShyLvia
smbg amat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!