NovelToon NovelToon
Dinikahi Jenderal PTSD

Dinikahi Jenderal PTSD

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syfaanca

Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.

Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.

Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Perpisahan yang Menyakitkan

Wanqing masih tidak bisa tidur, banyak sekali pikiran yang menghantuinya, ia terus memanjatkan doa dan berharap semuanya baik-baik saja dan suaminya segera kembali. Karena tak kunjung bisa tidur, Wanqing memaksakan dirinya untuk mulai menjahit lagi. Baginya tidak penting berpikiran buruk terus dalam kesendirian, lebih baik dia berpikiran positif saja dan melakukan sesuatu, ia yakin Lu Jingyuan pasti akan baik-baik saja.

Pekerjaan menjahit ternyata mampu membuatnya merasa lelah dan akhirnya tertidur pulas di atas meja menjahit. Ia tidak sadar di luar, matahari sudah beranjak bangkit dari tempat persembunyiannya.

"Wan'er?"

Wanqing terbangun karena sayup-sayup mendengar suara ajudan Han dari depan pintu. "Wan'er!!" Ajudan Han yang terdengar panik baru saja mencoba mendobrak pintu Wanqing sekali ketika Wanqing berteriak, "Aku baik-baik saja."

Wanqing membuka pintu rumah itu, ia melihat banyak sekali kendaraan militer yang datang entah dari mana. "Suamiku sudah kembali?" Tanyanya sembari berjalan perlahan menuju pagar.

"Iya."

Wanqing segera berlari keluar menuju kantor suaminya ketika dirinya dicegat dari belakang "Wan'er tunggu! Wan'er sebaiknya jangan."

Wanqing tidak mendengarkan permintaan Ajudan Han dan masuk menerobos beberapa tentara yang berjaga di depan kantor itu. Wanqing membuka paksa pintu kantor itu dan mendapati suaminya yang tengah diobati oleh Dokter Wen. Ada luka yang masih berdarah segar di lengan kirinya.

Wanqing berlari mendekati Jingyuan. "Ada apa ini Jenderal?" Tanyanya. Jingyuan yang mendapati kehadiran Wanqing hanya bisa menatap kasar ajudan Han yang berdiri kikuk di depan pintu.

"Bukannya sudah kubilang jangan sampai dia tahu Aku kembali?!" Nada tinggi bariton milik suaminya itu seketika mampu membuat Wanqing sedikit gemetar mendengarnya.

Ajudan Han memberikan hormat, "Maaf Jenderal, Saya tidak bisa menemukan pergerakan dalam rumah dan khawatir sesuatu terjadi pada Wan'er--eh Nyonya Muda." Ajudan Han menundukkan pandangannya.

Jenderal Jingyuan yang sedari tadi masih tampak marah akhirnya berkata dengan tegas, "Kau tidak akan diikutsertakan dalam pertahanan Pos Utara nanti."

Ajudan Han yang mendengar itu tampak tidak merasa keberatan. "Siap, melaksanakan perintah."

Wanqing mendekati Dokter Wen. "Ada luka apa?" Tanyanya. Dokter Wen mengencangkan perban itu dan merapihkan tasnya. "Serpihan bom mengenai lengan Jenderal, untungnya hanya robek sedikit dan tidak perlu operasi." Wanqing yang mendengar itu langsung terduduk kaget.

Jingyuan memberikan isyarat pada Dokter Wen dan Ajudan Han untuk meninggalkan ruangan. "Ada apa Jenderal?" Tanya Wanqing lagi, kali ini ia memberanikan dirinya untuk maju dan mengecek kondisi suaminya. Ada beberapa luka baret di kening kiri suaminya dan lebam-lebam di beberapa bagian termasuk lengan dan pipi serta leher suaminya.

Jari lentik Wanqing perlahan memeriksa kondisi lebam sang Suami. Jingyuan tidak menjawab pertanyaan Wanqing dan memilih untuk diam seperti patung dalam sentuhan Wanqing yang penuh hati-hati. Wanqing bangkit, ia mengeluarkan sebuah salep buatannya. "Ini salep luka lebam dengan wangi lavender yang menenangkan, Aku baru selesai membuatnya beberapa saat lalu ketika belajar bersama Dokter Chen, diamlah." Wanqing lagi-lagi memegang dagu suaminya itu dan dengan perlahan mengoleskan salep itu di beberapa luka lebam suaminya.

Jingyuan tidak bereaksi sama sekali, matanya hanya sibuk memperhatikan setiap gerak-gering sang istri. Setelah selesai mengoleskan seluruh bagian, Wanqing meletakkan botol salep itu dan menganalisa agar tidak ada luka lebam yang tertinggal dengan mengamati suaminya dari jarak yang amat sangat dekat. Wanqing bahkan bisa merasakan nafas suaminya yang terasa sangat hangat dan beraroma peppermint itu. Sadar dirinya terlalu dekat, Wanqing spontan menjauh dan mengakibatkan tubuh mungilnya hampir oleng.

Lengan kekar itu sigap menangkap tubuh Wanqing dan menariknya dalam pelukan spontan. Wanqing bisa merasakan kehangatan dan dentuman detak jantung Jenderal Lu Jingyuan yang berirama di dalam dekapan itu.

Mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa detik sebelum keduanya saling melepaskan diri. Wanqing segera duduk di atas sofa ruangan kerja itu dan memalingkan wajahnya yang mulai memerah karena malu.

"Apa Kau akan kembali lagi?" Tanya Wanqing samar.

Lu Jingyuan merapihkan beberapa berkasnya dan meletakkan semuanya di atas koper yang masih kosong. "Aku harus menjaga dan maju bersama para prajurit ku di Pos Utara. Pasukan Fuzhou tidak lagi bisa dibiarkan, mereka mulai memberontak."

Jenderal Lu bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan pergi ketika Wanqing bangkit, "Aku ikut! Aku sudah belajar banyak ilmu medis, Aku bahkan bisa membantu bila ada sesuatu atau butuh masakan atau apapun itu."

Jingyuan melanjutkan langkahnya. "Aku ikut."

"Tidak." Suara tegas Jingyuan terdengar, ia berbalik ketika tubuhnya sudah hampir sampai di ambang pintu. "Belajar lebih banyak lagi dan jangan gegabah. Jangan pernah tinggalkan markas militer ini dan jangan pernah berpikiran kalau Kau bisa membantu. Bai Yueran dan Dokter Wen akan pergi bersamaku sebagai aid tambahan. Lagipula, Kau tidak pernah mengenyam pendidikan kedokteran, apalagi mengenai militer. Kau pastinya hanya akan memperlambat semuanya."

DEG

Wanqing terkejut dengan perkataan suaminya yang sangat menyakitkan itu. Ia terduduk lagi. "Jadi, Aku tidak akan berguna dimanapun ya?" Tanya perlahan. Pria itu tidak membalasnya, masih menatap dirinya dengan pandangan yang dalam.

Tubuh kekar pria itu berbalik pergi.

Wanqing berlari menghampirinya dan menghalangi dirinya di depan pintu. "Ini, setidaknya bawa ini."

Wanqing meletakkan botol salep tadi di tangan besar Jenderal Lu dan berlari pergi. Ia merasakan air matanya tak lagi terbendung. Mungkin bagi suaminya, dirinya hanyalah simbol dan sebuah beban yang merepotkan hidupnya, tapi bagi Wanqing, kehidupan bersama Jenderal Lu lah yang menyembuhkan dirinya perlahan.

Wanqing kembali ke bangsal perawatan dan menemui Dokter Chen, dia mulai belajar dan membantu Dokter Chen menangani beberapa perawatan terhadap pasien yang baru kembali dari perbatasan Utara.

Beberapa mengalami luka tembakan di area yang untungnya tidak vital, namun diantaranya juga mengalami luka berat karena ledakan di area kaki dan beberapa bagian tubuh. Luka bakar juga terlihat di beberapa prajurit. Wanqing yang menyaksikan itu semua hanya bisa menahan rasa khawatirnya membayangkan pasti situasi di pos Utara saat ini sangat kejam dan tegang. Ia bahkan tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana kondisi suaminya nantinya di sana.

Wanqing mendengar suara deru mesin mobil pergi menjauh dan seketika berdiam diri mematung. Ia terus memanjatkan seluruh doa yang ia bisa untuk suaminya dan keselamatan seluruh pasukan. Dokter Chen yang menyaksikan itu datang dan mengelus lengan Wanqing lembut.

"Percayalah semuanya akan baik-baik saja."

Wanqing tersenyum lirih. Andaikan saja dia punya sisi optimisme seperti Dokter Chen, dia pasti sangat tenang saat ini.

Wanqing berjalan mendekati salah satu pasien dan mulai merawati lukanya perlahan. "Apapun itu, Aku harus bisa jadi lebih pintar lagi agar bisa ikut kemanapun dia pergi." Tekad Wanqing.

*BERSAMBUNG*

Si Jenderal kayak cuaca sekarang sih, panas dan hujan ga nentu, labil. Gapapa ea biar seru, jangan lupa apresiasi author dengan like, komen, dan vote yaaa tencuy

1
arya
modus
Lamycut
Suka geremm banget baca si Bai Bai itu ish sebalnya, buang ajah dia 🤭
Syfaansa: harusss🤣🤣🤣
total 1 replies
Lamycut
keren kakak, itu si dingin jendral malu-malu yah, lanjut dan semangat ya kak
arya
ini terbaik sih, author bisa buat karya se megah ini, mau dong tips nya.. hehe
Syfaansa: menghayal dan menonton drachin lah tipsnya KWKWKW
total 1 replies
Syfaook
Lanjut Thor!! jangan lupa update banyak banyak yan
Xxzyeyi
WOII KEREN BANGET MBA AKUNTAN HAHAHA, diem diem idenya nulis beginian, bagus lanjutkan saudarakuh!! semangatt /Curse/
Eat Reactwithmee
Slow burn ya ini Thor hahaha, temen kerjaku karyanya bagus banget, bikin greget banget sama perilaku saling malunya mereka berdua, si Jingyuan juga sok bener nahan nahan padahal mah udh demen kan, ngaku hayu /Scream/
Fei Lord
Ceritanya sangat unik dan menarik sekali yaa, jadi penasaran kelanjutan hubungan kaku bgtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!