NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa Kamu Tidak Sadar ?

Beberapa menit kemudian, Arga kembali keluar dari kamar sambil membawa benda yang dicari Rhea. Langkahnya terlihat jauh lebih lambat dan berat dari biasanya.

Setelah meletakkan charger itu, Arga langsung duduk kembali di sofa, lalu menyandarkan punggungnya lelah sambil menutup mata rapat-rapat sejenak.

Rhea yang sejak tadi diam memperhatikannya langsung mengernyit kecil, perasaannya mulai tidak tenang melihat keadaan dosennya itu.

“Pak Arga…” panggilnya pelan.

“Hm?” sahut Arga tanpa membuka mata.

“Pak Arga baik-baik saja kan?”

Arga terkekeh pelan, suaranya terdengar berat dan serak, namun ia tetap tak membuka kelopak matanya.

“Memangnya aku kenapa?”

Rhea langsung terdiam. Tatapannya jatuh lekat-lekat ke wajah Arga yang malam itu terlihat jauh lebih lelah dari biasanya. Entah karena sisa pengaruh alkohol, atau memang pikirannya sedang terlalu penuh dengan sesuatu yang tak ia ketahui.

Sebenarnya niat awalnya ingin segera pulang setelah barangnya kembali. Namun anehnya, melihat Arga yang terlihat begitu rapuh dan sendirian seperti itu, hatinya justru terasa sedikit tidak tega untuk pergi begitu saja.

“Pak…” gumamnya pelan, memecah kebisuan. “Mau saya buatin air madu hangat? Biar tidak pusing.”

Beberapa detik Arga diam membisu, seolah sedang berpikir atau sekadar menikmati keheningan itu. Lalu perlahan, tanpa membuka matanya sedikit pun, kepalanya hanya bergerak mengangguk kecil tanda setuju.

Melihat itu, Rhea pun langsung berdiri. Ia mengedarkan pandangannya mencari letak dapur di ruangan luas itu. Begitu melihat lorong kecil di sudut ruangan yang sepertinya mengarah ke sana, ia pun berjalan perlahan menuju tempat itu.

Dapur itu terlihat sangat rapi, bersih, dan bernuansa gelap senada dengan ruang tengahnya, didominasi perabotan berwarna cokelat tua dan hitam.

Rhea membuka pintu-pintu kabinet pelan satu per satu, berusaha tidak menimbulkan suara berisik, sampai akhirnya ia menemukan botol berisi madu di salah satu rak atas.

Tak lama kemudian, di bawah cahaya lampu dapur yang temaram itu, Rhea mulai sibuk membuatkan minuman hangat yang sederhana itu. Tangannya bergerak cekatan menuangkan air panas, mencampurkan madu, dan mengaduknya perlahan hingga pas rasanya.

Beberapa saat kemudian, Rhea kembali berjalan ke ruang tengah sambil membawa secangkir mug berisi uap hangat di tangannya. Pandangannya langsung tertuju ke sofa, dan posisi Arga masih sama persis seperti tadi. Masih bersandar malas di sana, mata terpejam rapat, dan satu tangannya terangkat menutupi sebagian wajahnya sendiri.

Rhea perlahan menggeser charger laptop miliknya ke pinggir meja, lalu duduk cukup dekat di sebelah Arga sebelum meletakkan cangkir beruap itu tepat di hadapan pria tersebut.

“Pak Arga…” panggilnya lagi, kali ini lebih lembut.

“Ya…” jawab Arga lirih.

“Diminum dulu...”

Perlahan, Arga akhirnya membuka matanya. Tatapan sayu itu perlahan bergerak, lalu langsung jatuh menatap wajah Rhea yang duduk tepat di sampingnya.

Dan entah kenapa, kali ini tatapan itu terasa begitu lama menahan tempatnya. Terlalu dalam, terlalu tajam, seolah ingin menembus masuk jauh ke dalam diri gadis itu.

Rhea pun perlahan mulai merasa salah tingkah sendiri. Ia menelan ludahnya susah payah, jantungnya kembali berdetak kencang tanpa sebab.

“P-Pak?” panggilnya ragu, sedikit gugup.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, tangan kanan Arga perlahan terangkat. Jemarinya yang hangat dan sedikit kasar itu perlahan menyentuh sisi pipi Rhea, bergerak begitu lembut seolah sedang menyentuh benda yang paling berharga.

Sentuhan itu membuat seluruh tubuh Rhea seketika menegang kaku di tempatnya.

“P-Pak Arga… mau apa sih?” suaranya terdengar bergetar pelan.

“Apa kamu tidak sadar?” gumam Arga pelan, suaranya terdengar berat dan mendesah.

Rhea langsung mengernyit bingung, matanya berkedip-kedip. “Sadar apa?”

Tatapan Arga sama sekali tidak lepas dari wajah gadis itu. Jemarinya masih diam bertumpu lembut di pipi Rhea.

“Akhir-akhir ini…” ucapnya pelan namun tegas, “…kamu membuatku sulit sekali berpikir dengan benar.”

Deg!

Jantung Rhea langsung berdetak tidak karuan, rasanya mau melompat keluar dari rongga dadanya. Ia bahkan tak tahu harus menjawab apa atau melakukan gerakan apa.

Sementara itu, tatapan Arga perlahan bergerak turun. Dari manik mata Rhea, meluncur pelan melewati batang hidungnya, lalu berhenti tepat di bibir gadis itu yang sedikit terbuka karena kaget.

Dan sebelum Rhea sempat benar-benar memahami situasi atau bergerak mundur, tangan Arga sudah lebih dulu bergerak pelan menyusur ke belakang tengkuknya, menarik wajah itu mendekat ke arahnya.

Cup.

Bibir Rhea langsung disentuh lembut oleh bibir Arga. Singkat, hangat, namun begitu nyata dan cukup membuat seluruh isi otak Rhea langsung kosong total dalam sekejap.

Matanya membesar tak percaya, menatap wajah Arga yang begitu dekat. Jemarinya refleks mencengkeram pinggiran sofa di sampingnya sampai kulit buku jarinya terlihat memutih.

Namun Arga belum melepaskannya. Ia perlahan memperdalam ci uman itu beberapa detik lamanya, lembut namun penuh rasa yang tertahan, sebelum akhirnya menarik kembali wajahnya perlahan.

Saat jarak di antara mereka kembali terpisah, wajah Rhea sudah benar-benar merah padam sampai ke telinga. Napasnya berhembus tak beraturan, pendek-pendek dan berat. Tatapannya bahkan terlihat kosong, terlalu kaget untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Sementara Arga sendiri, seolah baru tersadar penuh atas apa yang baru saja ia lakukan di bawah pengaruh campuran rasa lelah, alkohol, dan rasa yang ia pendam, tatapannya langsung berubah sedikit kacau dan gelisah. Detik berikutnya, ia langsung menurunkan tangannya cepat dari wajah Rhea.

Keheningan yang berat menyelimuti ruangan itu.

“Pulang, Rhea.”

Suara itu terdengar datar, dingin, dan tergesa-gesa.

“Hah?” Rhea tersentak kecil, baru sadar dari lamunannya.

“Oh… iya. S-Saya pulang… sekarang.”

Ia buru-buru berdiri dengan gerakan kikuk dan gugup, meraih charger laptop serta tasnya yang tergeletak sembarangan.

Namun sebelum gadis itu benar-benar melangkah pergi, ia kembali menoleh sekilas, menatap Arga yang kini kembali memejamkan mata sambil bersandar lelah.

“Air madunya… jangan lupa diminum ya, Pak. Masih hangat,” ucapnya pelan, berusaha tetap sopan meski hatinya sedang berantakan.

“Iya…” jawab Arga singkat, tanpa membuka mata.

Tanpa berani menatap Arga terlalu lama lagi, Rhea pun buru-buru berbalik dan melangkah keluar dari apartemen itu, menutup pintu pelan-pelan di belakangnya.

Di luar sana, jantungnya masih berdetak kacau, berdebar tak karuan, dan kepalanya masih penuh dengan bayangan satu kejadian singkat namun begitu nyata tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!