“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Teras dan Rencana Nekat Sang Juragan
Pagi yang cerah menyelimuti rumah keluarga Wijaya. Mereka akhirnya bisa menikmati sarapan yang tenang bersama, setelah permasalahan pelik yang telah diselesaikan tuntas oleh Aditya kemarin malam.
"Aditya..." Pria yang dipanggil namanya menoleh ke arah sang ayah.
"Iya, Yah, ada apa?" tanya Aditya.
"Apa rencanamu kali ini, Nak?" tanya Pak Wijaya.
"Adi akan mencoba menemui Kinanti, Yah," jawab Aditya.
"Nak, apa tidak sebaiknya..."
"Tidak," potong Aditya. "Aku akan coba menemui Kinanti, membujuknya secara langsung," tegas Aditya.
Pak Wijaya hanya bisa menghela napas, sementara Bu Sarasvati menatap teduh putra sulungnya yang tetap teguh pada pendiriannya.
"Bu, Yah, Byan sudah sarapan. Byan berangkat dulu, ya," pamit Abyan kepada orang tuanya.
"Abang antar," ucap Aditya.
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□
☕ Kunjungan Tak Terduga
Di tempat lain, Pak Wisnu saat ini bersiap untuk berangkat kerja. Kinanti, yang kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, memulai aktivitasnya seperti biasa, menyiapkan sarapan dan membuatkan kopi untuk ayahnya.
"Nak, Bapak berangkat kerja dulu, ya. Kunci pintunya. Kalau mau belanja, Bapak bawa kunci cadangan," pamit Pak Wisnu, bersiap ke pabrik.
"Iya, Pak. Hati-hati, ya," ucap Kinanti.
Pak Wisnu berangkat mengendarai motor tuanya. Karena hari ini Kinanti mendapat giliran masuk sore, ia memilih membersihkan rumah. Mulai dari mencuci baju, mencuci piring, merapikan kamar tidur sang ayah dan dirinya, menyapu, mengepel, tak lupa menyiram tanamannya.
Kinanti hanyut dalam kegiatannya, tak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan Aditya. Setelah mengantar adiknya ke sekolah, Aditya melajukan mobil menuju rumah Pak Wisnu. Dari jauh, dia melihat Kinanti. Setelah beberapa saat mengumpulkan tekad, akhirnya Aditya turun dari mobil dan berjalan menghampiri Kinanti.
"Kinanti," panggilnya.
Gadis cantik yang mengenakan daster merah muda itu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah sumber suara.
DEG!
*Ada apa Juragan Aditya kemari?* batinnya.
Mata gadis cantik itu membulat saat melihat kedatangan Aditya.
"Iya, Juragan. Ada perlu apa? Bapak saya sudah berada di pabrik saat ini," tanya Kinanti.
"Saya ke sini bukan ada perlu dengan Pak Wisnu. Saya ke sini ada perlu denganmu. Saya ingin mengobrol," ucap Aditya.
Melihat Kinanti tak bergeming, Aditya memohon, "Tolong, Kinan, beri saya waktu sebentar."
Tak tega melihat Aditya memohon, Kinanti akhirnya mengizinkannya.
"Mari, silakan duduk, Juragan. Maaf, saya tidak bisa mengajak masuk karena saya sendirian di rumah," Kinanti mengarahkan Aditya duduk di teras rumah.
"Juragan mau minum apa? Saya buatkan," tawar Kinanti setelah Aditya duduk di kursi teras.
"Tidak usah repot-repot, Kinan."
"Tidak apa-apa, Juragan. Anda tamu di sini," balas Kinanti. Ia masuk ke dalam rumah, membuatkan sajian untuk tamunya. Setelah siap, Kinanti menghidangkannya di atas meja, lengkap dengan camilannya.
"Silakan, Juragan," ucap Kinanti, kemudian duduk di kursi seberang Aditya.
"Terima kasih," jawab Aditya.
Keheningan melanda. Tak ada suara. Hal ini membuat Aditya tampak bingung. Tak biasanya ia seperti ini. Aditya yang biasanya tegas, dingin, dan cuek, tampak canggung melihat kediaman Kinanti saat ini.
"Kinanti, saya dengar ayah saya pernah ke sini untuk melamar kamu kedua kalinya untuk saya, tapi kamu juga menolaknya," ucap Aditya pelan.
Kinanti menghela napas.
"Benar, Juragan," ucap Kinanti, menunduk.
"Kenapa? Apa alasannya? Apa karena status sosial dan umur?" tanya Aditya. Kinanti terdiam.
"Kinan, jika saya mengajakmu menikah, artinya saya siap membimbing kamu, menjaga kamu, dan menafkahi kamu. Umur bukan jadi penghalang untuk orang menikah, apalagi status sosial. Orang tua saya tidak peduli itu. Saya pun tidak akan membiarkan orang lain menilai, karena yang menjalankan pernikahan kita berdua, bukan orang lain," tegas Aditya, berusaha memberikan pengertian mendalam kepada Kinanti.
Kinanti masih terdiam menunduk. Memang benar apa yang dikatakan Aditya, tetapi cemoohan Lidia tempo hari membuatnya trauma. Kinanti takut sesuatu yang buruk terjadi lagi padanya dan orang tuanya.
"Maaf, Juragan. Saya tidak bisa. Saya tidak siap menikah," ucap Kinanti.
"Kinanti, ak—"
"Juragan, tolong hargai keputusan saya. Tolong jangan paksa. Saya tidak siap menikah, terlebih lagi saya juga tidak mencintai Juragan. Jika tidak ada yang penting, silakan tinggalkan rumah saya," ucap Kinanti, memotong perkataan Aditya.
DEG!
Terkejut dengan penolakan final Kinanti, Aditya pun bangkit. Ia melangkah menuju mobilnya.
"Jika aku tak bisa memilikimu dengan cara baik-baik... maka jangan salahkan aku jika aku memilih jalan lain," gumam Aditya lirih, menatap Kinanti yang sudah masuk ke dalam rumah, sebelum mobilnya melaju pergi.
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□
🌑 Penculikan di Malam Hari
Sore hari pun tiba. Kinanti berangkat kerja dengan diantar sang ayah.
"Kinanti kerja dulu, ya, Pak," pamit Kinanti.
"Iya, Nak. Semangat, ya. Nanti kalau mau pulang, telepon Bapak, ya," pesan Pak Wisnu.
"Iya, Pak."
Pak Wisnu pun melajukan sepeda motor, meninggalkan Kinanti yang hari ini masuk shift sore.
"Wihhh, aku senang lihat kamu yang sekarang. Sudah tidak sedih lagi, sudah tidak takut lagi. Pokoknya kamu tenang saja. Kalau Mak Lampir itu datang lagi, akan kuhajar muka tebalnya!" ucap Laras, yang memang berwatak bar-bar, saat melihat Kinanti masuk toko bunga.
"Ishh, kamu ada-ada saja. Sudah, ah, aku mau mulai kerja," ucap Kinanti sambil menyimpan tasnya di tempat yang sudah tersedia.
Tak lama, pelanggan pun berdatangan satu per satu, menyibukkan para pekerja di sana. Hingga menunjukkan pukul 21.00 malam, waktu untuk pulang. Kinanti dan teman-temannya bersiap untuk pulang, merapikan peralatan, dan menyimpan uang yang sudah dicatat untuk dimasukkan ke brankas.
"Dah, aku pulang dulu ya. Pacarku sudah jemput," pamit Indah.
"Iya, yang lagi bucin, hati-hati," ucap Laras.
"Kinanti, kamu pulang sama siapa malam ini?" tanya Wulan.
"Dijemput Bapak, Mbak."
"Oh, begitu. Ya sudah, aku pulang dulu, ya," pamit Wulan.
"Dah, hati-hati," ucap Kinanti dan Laras bersamaan.
"Kamu tidak pulang, Ras?" tanya Kinanti.
"Aku menunggu kamu saja."
"Sudah tidak apa-apa, pulang dulu saja. Bapakku sudah dekat, kok," bujuk Kinanti.
Laras yang awalnya menolak akhirnya pulang atas paksaan Kinanti. Kini tinggallah Kinanti seorang diri, menunggu jemputan. Tiba-tiba, sosok hitam muncul dari belakang dan membekap mulut dan hidung Kinanti hingga gadis itu merasa pusing. Orang itu dengan cepat mengangkat Kinanti ke dalam mobil dan melajukan mobil menuju sebuah rumah. Orang itu membawa Kinanti ke kamar lantai dua dan menidurkannya di sana, meninggalkan Kinanti yang masih belum sadar.
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□
😭 Kepanikan Pak Wisnu
Pak Wisnu yang telah sampai di depan toko bunga tidak melihat keberadaan putri tunggalnya. Pak Wisnu berusaha menelpon, namun tak ada jawaban. Pak Wisnu nampak panik. Tempat itu terlihat sepi.
"Ya Allah, Kinan, kamu di mana, Nak?" resah Pak Wisnu.
Dia mencoba menghubungi Kinanti berkali-kali, tetapi tak ada jawaban. Pak Wisnu mulai mengendarai motornya, menyusuri jalan, berharap putrinya ketemu. Hingga putus asa, Pak Wisnu memilih pulang, berharap putrinya sudah sampai rumah.
"Kinanti!"
"Nak!!!"
"Kinan!!!"
Sesampai di rumah, Pak Wisnu mencari Kinanti di setiap sudut ruangan, namun hasilnya nihil.
"Ya Allah, Kinanti, kamu di mana, Nak? Bapak khawatir kamu kenapa-kenapa," raut wajah Pak Wisnu nampak sangat gelisah.
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□
😱 Kinanti Menyadari Kenyataan
Kinanti yang sudah sadar melihat sekeliling. Tempat itu tampak asing.
"Ini di mana?" gumam Kinanti.
Kinanti berusaha bangkit, mencoba membuka pintu, tetapi terkunci. Dia berusaha mencari ponselnya, tetapi tidak terlihat tasnya di sana.
"Ya Allah, di mana tasku? Aku harus hubungi Bapak," lirih Kinanti.
Kinanti mencoba menggedor pintu, berharap ada yang membukanya. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Muncul seorang pria tampan dan gagah berdiri di ambang pintu.
"Sudah bangun?" ucap pria itu, nampak tenang.
"Ju-Juragan A-Aditya," ucap Kinanti tergagap, terkejut luar biasa.
Bersambung__
____