Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Mawar Putih
*catatan: gunakan musik di link ini untuk lebih mudah memasuki atmosfere di dalam cerita.
-Guinevere Battle Theme-
Https://youtube.com/watch?v\=rwfKeeqHHh0&si\=\_S-VuVw1RFAwcOfx
Di sebuah kediaman bangsawan nan megah, pepohonan rimbun memayungi taman yang berselimut hamparan bunga warna-warni. Keasrian itu terkurung di balik pagar besi yang menjulang tinggi, menciptakan kesan angkuh dan tak tersentuh.
Tepat di depan gerbang utama, dua orang penjaga bersiaga dengan zirah perak yang berkilau tertimpa cahaya.
*Tap.. Tap.. Tap*..
Langkah kaki yang tegas menggema, memecah kesunyian saat mendekati pintu pagar milik Duke Franscov.
Seorang wanita dengan zirah putih bersih berdiri dengan anggun di hadapan para penjaga. Di pinggangnya, sebuah rapier ramping menggantung, siap untuk ditarik kapan saja.
"Ada apa? Kenapa kau kesini? Ini bukan gereja," tanya salah satu penjaga dengan nada santai, nyaris meremehkan.
"Hmpp.. Dimana Duke Franscov? Suruh dia keluar!" Guinevere menyahut dingin. Wajahnya mengeras, memancarkan keseriusan yang mengintimidasi tepat di depan wajah para pengawal.
"Apa kau sudah buat janji pertemuan dengan Duke? Mana surat perjanjiannya?" pengawal lainnya maju selangkah, mencoba menekan dengan otoritasnya.
Guinevere tak bergeming. Tatapannya setajam mata pedang.
"Aku tidak perlu surat untuk bertemu pengkhianat kerajaan," ucap Guinevere mantap.
Sebuah pernyataan yang seketika membuat kedua penjaga itu tertegun dalam keheningan yang mencekam.
Salah satu pria itu mulai memindai tubuh Guinevere, menatap dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan pandangan cabul.
Ia menyeringai tipis, lalu mengulurkan tangan untuk memegang pergelangan tangan Guinevere dengan gerakan yang dilembut-lembutkan.
"Nona, daripada bertemu Duke, bagaimana jika kau bersenang-senang dengan kami dulu?" Penjaga itu mulai mengelus kulit tangan Guinevere dengan jari-jarinya yang kasar.
Tanpa peringatan, Guinevere memutar pergelangan tangannya dengan sentakan kuat, membuat pria itu tersentak kaget.
Dengan kecepatan kilat, ia melepaskan cengkeraman tersebut dan melayangkan pukulan telak ke arah kerongkongan lawan. *Buk*!!
"Ughhhh..." Pengawal itu mengerang tertahan, tangannya mencengkeram leher yang baru saja dihantam. Darah segar merembes dari sela bibirnya akibat jakun yang remuk terkena pukulan keras Guinevere.
Rekannya yang melihat hal itu segera bereaksi, tangannya bergerak cepat mencoba menarik pedang dari sarungnya. Namun, tendangan Guinevere lebih dulu mendarat tepat di tengah dadanya. Tubuh penjaga itu terpental jauh ke belakang, membentur pintu pagar hingga terayun terbuka, disusul oleh robohnya rekannya yang bersimbah darah ke atas lantai marmer.
Guinevere perlahan menurunkan kaki kirinya yang masih menggantung di udara dengan gerakan yang sangat terkontrol.
"Hmmp.." Ia mendengus kecil, lalu melanjutkan langkahnya memasuki halaman rumah Duke Franscov dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa.
Keadaan berubah riuh. Tiga puluh orang pengawal pribadi Franscov menyeruak dari halaman belakang. Mereka bergerak taktis, membentuk formasi pertahanan dan mengarahkan moncong senjata mereka ke arah sang penyusup.
"Berhenti!!! Wanita jalang!" teriak pemimpin mereka dengan wajah memerah.
"Kau telah membuat keributan di kediaman sang Duke!!" tambahnya dengan nada geram yang bergetar.
Guinevere menghentikan langkahnya. Ia menatap kapten prajurit itu sejenak. Tiba-tiba, tubuhnya sedikit bergetar. Namun, itu bukanlah getaran ketakutan; melainkan sebuah sensasi kenikmatan yang ganjil dan absurd.
"Ughh.. Ditatap dengan penuh kehinaan seperti itu.. Rasanya.." Wanita itu bergetar hebat, seolah-olah makian tersebut adalah sebuah pujian yang merangsang sarafnya.
Kapten pasukan semakin naik pitam melihat tingkah aneh Guinevere.
"Kau... Kurang ajar.. Tangkap wanita ini!" perintahnya lantang.
Empat prajurit maju serentak, mencoba meringkus Guinevere yang masih tampak bergetar aneh. Tangan mereka terjulur, hampir saja meraih bahu sang wanita. Namun, dalam hitungan detik, Guinevere memutar tubuhnya.
Sebuah tendangan berputar yang presisi melesat di udara, menghantam kepala keempat prajurit tersebut secara berurutan.
*BRAK*!!
Mereka terhempas ke tanah dan seketika kehilangan kesadaran.
Mata sang kapten ksatria terbelalak tak percaya.
"Apaa!!! Kepung dia!" teriaknya sembari mencabut pedang dan memasang kuda-kuda siaga.
Dua puluh lima prajurit tersisa segera bergerak mengitari Guinevere, menutup setiap celah untuk melarikan diri. Mereka kini berdiri mengepung, siap menerjang dari segala arah.
"Ughhh.... Benar-benar... Hina.. Dan tidak cantik sama sekali... Hah... Hah.." Guinevere mendekap tubuhnya sendiri yang gemetar hebat.
Ia merunduk sedikit, sementara napasnya mulai tersengal-sengal, seolah-olah tekanan dari kepungan itu memberinya kepuasan yang menyakitkan.
"HAAA!!!" Teriak para prajurit Franscov saat mereka menyerang secara bersamaan.
Guinevere tidak panik. Ia menegakkan tubuhnya dengan wajah yang merona merah, seolah sedang menikmati setiap detik pertumpahan darah yang akan terjadi.
Gerakannya kini berubah menjadi sangat elegan, menciptakan kontras yang mengerikan dengan hasrat aneh yang ia tunjukkan sebelumnya.
*WUUSSHH*..!!
Ia menggeser tubuhnya dengan anggun, membiarkan tebasan pedang hanya menyapu angin di bahunya. Tanpa membuang momentum, ia membalas dengan pukulan cepat ke tengkuk seorang ksatria hingga pria itu tersungkur.
Ksatria lain mencoba menusuk perutnya. Guinevere memutar badan dengan gerakan seperti penari, menghindari mata pedang yang berkilat.
Penjaga itu kehilangan keseimbangan karena serangannya meleset jauh.
Dengan cepat, Guinevere yang sudah berada di posisi belakang menendang sendi lutut ksatria itu hingga ia terpaksa berlutut. Dalam sekejap mata, ujung rapier Guinevere sudah melesat di leher pria itu. *Sraaak*...!!
"Aaaakkk.. " Pria itu mendekap lehernya yang robek, mencoba menahan aliran darah sebelum akhirnya ambruk ke bumi.
"Sakitkan? Ugh... Betapa beruntungnya dirimu?" bisik Guinevere dengan suara yang sedikit bergetar.
Pertarungan berlanjut dalam sebuah simfoni yang mematikan namun indah. Setiap serangan yang mengarah kepadanya dihindari dengan presisi yang mutlak, disusul dengan balasan mematikan pada titik-titik vital lawan.
*Tebas, hindar, balas. Tebas, hindar, balas*.
Guinevere seolah sedang menari di tengah badai baja, tersenyum aneh di antara aroma amis darah yang mulai membanjiri halaman kediaman Duke.
Setiap denting logam yang beradu dan teriakan marah para prajurit seolah menjadi musik yang manis di telinga Guinevere.
Ia meliuk di antara kerumunan pria berzirah itu dengan keanggunan seorang primadona di atas panggung dansa, meski napasnya yang menderu dan wajahnya yang semakin memerah mengkhianati ketenangan itu.
"Kenapa?! Kenapa sulit sekali menyentuhnya?!" seru salah seorang prajurit dengan nada frustrasi. Ia mengayunkan kapak besarnya secara membabi buta.
namun Guinevere hanya menggeser tumitnya beberapa sentimeter. Mata kapak itu nyaris mencukur helai rambutnya, memberikan sensasi dingin yang mendebarkan di kulit lehernya.
"Ahhh... Sedikit lagi..." gumam Guinevere lirih. Tubuhnya bergetar hebat saat ia merasakan embusan angin dari senjata yang hampir mengenainya.
Bukannya takut, pupil matanya justru melebar dengan binar kepuasan yang ganjil.
Para prajurit semakin kehilangan kendali. Mereka menyerang dengan formasi yang kacau, didorong oleh rasa jengkel dan terhina karena dipermainkan oleh seorang wanita.
Tiga orang ksatria menerjang sekaligus dari arah depan, samping, dan belakang.
Guinevere tidak langsung menghindar. Ia membiarkan ujung pedang salah satu prajurit sedikit menggores pelindung bahu putihnya hingga menimbulkan suara decitan logam yang memilukan.
*Sreeet*!
"Ugh..!" Guinevere mendesah pendek, sebuah senyuman tipis namun liar terukir di bibirnya.
Rasa sakit yang menyengat di bahunya justru membuat gerakannya semakin lincah. Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum goresan itu untuk melayangkan serangan balik yang presisi. Ujung rapier-nya mematuk cepat, menembus celah zirah lawan dengan akurasi yang mematikan.
Mereka tumbang seketika.
"Ahaha... AHAHAHAHA..!!!!" Guinevere tertawa puas.
"Kau monster! Apa kau tertawa di saat kami mencoba membunuhmu?!" pemimpin prajurit itu berteriak, wajahnya pucat melihat anak buahnya bertumbangan satu per satu sementara sang lawan tampak semakin bersemangat setiap kali terdesak.
"Tertawa? Tidak..." Guinevere menghindari tusukan tombak dengan gerakan melentingkan punggung yang ekstrem.
Menatap langit sejenak sambil menikmati tekanan atmosfer di sekelilingnya.
Lalu menusuk pria bertombak yang mencoba membunuhnya.
"Aaaaakkh...!!" tubuh pria itu menegang seketika dan dihitungan berikutnya, ia jatuh ke tanah.
Guinevere menoleh ke arah kapten kesatria dengan mata sedikit melotot, bersama senyum aneh yang masih merekah.
"Aku hanya sedang... sangat menghargai niat buruk kalian. Ayo, hina aku lebih dalam lagi... serang aku seolah kau sangat membenciku!"
Melihat Guinevere yang semakin tenggelam dalam kesenangan anehnya, para prajurit justru merasa ngeri.
Bagi mereka, ini bukan lagi pertarungan mempertahankan kehormatan Duke, melainkan menghadapi kegilaan yang terbungkus dalam zirah putih nan elegan.
"Matilah kau, jalang gila!" teriak salah satu prajurit yang sudah kehilangan akal sehatnya. Ia menerjang dengan pedang panjang, mengayunkannya secara vertikal dengan kekuatan penuh.
Guinevere tidak berkedip. Ia menggeser tumpuan kakinya. Tubuhnya meliuk anggun, membiarkan mata pedang raksasa itu menderu lewat hanya beberapa milimeter di samping wajahnya.
Angin dari serangan itu menerbangkan beberapa helai rambutnya, namun ia justru memejamkan mata sejenak, menghirup aroma maut yang nyaris menjemputnya.
"Aaah... lemah sekali." ucapnya sambil memejamkan mata.
Detik berikutnya, matanya terbuka, berkilat oleh euforia yang berbahaya. Satu sentakan rapier yang presisi, menyayat sendi bahu prajurit dengan pedang besar itu.
*Srattt*!
Logam zirah yang terbelah dan urat yang putus membuat tangan pria itu lumpuh seketika. Pedang panjang yang berat itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai dengan denting yang memekakkan telinga.
"Aaa-...!!"
Belum sempat lawan mengerang, Guinevere meluncurkan tinjunya, menghantam ulu hati pria itu dengan telak.
*BUK*!
"Uu.. uuhukk..!!"
Prajurit itu terbatuk hebat, udara di paru-parunya seolah direnggut paksa. Tubuhnya yang besar kini membungkuk kesakitan, tak berdaya di hadapan sang ksatria zirah putih.
Guinevere tidak segera menghabisinya. Ia justru melangkah maju dengan sangat pelan, seolah sedang mendekati kekasih dalam sebuah pertemuan rahasia.
"Kemarilah.. jangan takut.." ucap guinevere dengan nada menggoda.
Dengan lembut, ia melingkarkan lengannya pada tubuh ksatria yang gemetar itu, menariknya masuk ke dalam sebuah pelukan yang tampak hangat namun mematikan.
Di tengah pelukan itu, saat kepala sang prajurit bersandar di bahunya karena lemas, Guinevere mengarahkan ujung rapier-nya ke perut pria itu.
*Pelan.. sangat pelan*..
Guinevere menghujamkan mata pedangnya menembus zirah dan daging, membiarkan logam dingin itu merobek perut hingga mencuat ke punggung lawan.
"Sshhh... Tenanglah... Nikmati saja..." Guinevere berbisik lirih di telinga pria itu, suaranya bergetar oleh kepuasan yang ganjil.
Tangan kanannya menekan pedang lebih dalam, sementara tangan kirinya terangkat perlahan.
Dengan gerakan yang hampir terlihat keibuan, ia mulai mengelus kepala ksatria itu, menyisir rambutnya yang basah oleh keringat dingin. Lalu memejamkan mata, menikmati detak jantung pria itu yang semakin melemah dan deru napasnya yang mulai terputus-putus dalam pelukannya.
"Uuuhhhh.... uuuughh..." Mata pria itu terbelalak, tubuhnya bergetar hebat dalam dekapan Guinevere. Mulutnya mengeluarkan cairan merah pekat.
Beberapa prajurit yang tersisa, saksi bisu dari tarian kematian yang mengerikan itu, merasakan nyali mereka runtuh berkeping-keping.
Pemandangan Guinevere yang mendekap erat korban terakhirnya dengan mesra sambil menikamnya perlahan adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Lutut mereka lemas, tak lagi mampu menopang berat zirah perak mereka.
Dengan putus asa, kapten kesatria pun terduduk dan mulai merangkak mundur di atas lantai yang licin oleh darah, mencoba menjauh dari sang iblis berzirah putih.
"Aaaakh... Pergi!!!! JANGAN MENDEKAT!!" ucap sang kapten yang merangkak mundur.
Guinevere tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang memancarkan kepuasan sekaligus kekejaman.
Ia melonggarkan pelukannya pada ksatria yang kini telah tak bernyawa itu.
Jasad pria itu ambruk ke tanah dengan denting logam yang berat, dilepaskan begitu saja bagaikan mainan usang yang tak lagi menarik perhatian sang primadona.
Guinevere mengabaikan mayat di kakinya. Tatapannya terkunci rapat pada kapten prajurit yang sedang merangkak mundur dengan wajah pucat pasi.
Ia mulai melangkah, sangat perlahan, ritme tumit sepatunya yang menghantam lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur menuju ajal.
Melihat kapten mereka dalam bahaya maut, dua ksatria lain yang masih memiliki sisa keberanian mencoba melakukan perlawanan terakhir.
Mereka menerjang serentak dari sisi kiri dan kanan Guinevere. Salah satunya mengayunkan pedang dua tangan dengan tebasan horizontal yang luas, sementara yang lain menusukkan tombak dengan lurus ke arah jantungnya.
"Bajingan!!" teriak prajurit histeris.
Namun, Guinevere tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sang kapten yang merangkak ketakutan itu. Ia terus berjalan lurus, seolah para penyerang itu tidak ada.
Dengan presisi yang mustahil, ia memiringkan tubuhnya sedikit ke belakang, membiarkan mata pedang raksasa itu berdesing lewat di depan dadanya.
Pada saat yang hampir bersamaan, ia menggeser langkahnya beberapa sentimeter ke samping, menghindari mata tombak yang meluncur hanya satu jari di sisi pinggangnya.
Akibat dari gerakannya yang terlalu presisi, kedua pria yang menyerang dari sisi berlawanan itu tak mampu menghentikan momentum senjata mereka sendiri.
Pedang dua tangan yang diayunkan dengan kalap justru menghantam rekannya, sementara mata tombak yang meluncur tajam menusuk celah zirah kawannya sendiri.
"Uaaaaakk....!!"
Teriakan pilu menggema di halaman kediaman itu saat mereka saling melukai akibat serangan yang meleset dari sasaran utamanya.
Keduanya terjerembap, saling tumpang tindih dalam rasa sakit yang memalukan.
Namun, bagi Guinevere, kekacauan di sekelilingnya hanyalah latar belakang yang tak berarti. Ia sama sekali tidak menoleh. Sepasang matanya tetap mengunci tajam pada sosok prajurit yang masih berusaha keras merangkak mundur di atas lantai marmer yang licin.
Wanita itu melangkah mendekat, bayangannya yang jenjang kini menutupi tubuh pria yang gemetar hebat di bawahnya. Sebuah tawa kecil yang terdengar seperti desahan keluar dari bibirnya yang merona.
"Aaah.. cantik sekali.." gumam Guinevere dengan nada suara yang merendah, dipenuhi euforia yang ganjil.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, menikmati pemandangan, sebuah ketakutan murni yang terpancar dari wajah korbannya.
"Teruslah merangkak seperti tikus. Ayo, hina aku lagi, cepat..."
Ia membiarkan ujung rapier-nya menyapu lantai, menciptakan suara gesekan logam yang memilukan.
*Sreek*!!!
Gema suara itu seolah sedang memberi aba-aba bagi sang 'tikus' untuk terus berjuang dalam keputusasaan yang ia nikmati sepenuh hati.
Laki-laki itu benar-benar gemetaran, seluruh ototnya seolah lumpuh akibat ketakutan yang mencekam.
Ia tak mampu lagi merangkak, hanya bisa meringkuk pasrah di lantai marmer yang dingin dengan tubuh yang bergetar hebat. Tatapannya kosong, terpaku pada Guinevere yang berjalan perlahan ke arahnya, bagaikan malaikat pencabut nyawa yang anggun.
"Makhluk apa... kau sebenarnya?!" tanya sang kapten dengan tubuh gemetar hebat.
Guinevere berhenti tepat di hadapan pria yang tak berdaya itu. Ia menatapnya dari atas, mengabaikan pertanyaan sang kapten. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya, namun matanya memancarkan kekejaman yang murni.
"Apa? Sudah menyerah?" Guinevere bertanya dengan nada suara yang lembut, hampir penuh penyesalan, namun ironi di dalamnya terasa begitu tajam.
"Sayang sekali. Padahal tatapan hinamu tadi... cantik sekali."
"HENTIKAN!!" teriak kapten histeris.
Tanpa keraguan sedikit pun, Guinevere mengangkat rapier-nya, ujungnya berkilau di bawah cahaya matahari yang menembus celah-celah pepohonan. Dengan satu gerakan yang cepat dan presisi, ia menghujamkan pedangnya lurus ke jantung prajurit itu.
*SRAAK*!!!
"Akhhh..." Pria itu mengerang pelan, tubuhnya tersentak sekali, ia menoleh ke arah rapier yang sudah menembus dadanya sejenak, sebelum akhirnya terkulai tak bernyawa.
Darah merah segar merembes dari luka di dadanya, membasahi lantai marmer yang kini semakin merah.
Guinevere menutup matanya sejenak, merasakan kebahagiaan yang meresap ketubuhnya. Lalu membuka mata perlahan.
Guinevere menarik pedangnya pelan, menyeka setetes darah di pipinya dengan jemari yang masih bergetar kecil karena kepuasan.
Sunyi kembali menyelimuti halaman kediaman Duke Franscov, hanya menyisakan Guinevere yang berdiri tegak di antara tumpukan raga yang telah kehilangan nyawa.
Apa yang sebenarnya terjadi di kerajaaan ini? Alice bahkan tidak tahu ancaman yang mengintai dirinya dari kejauhan.

cape😅