NovelToon NovelToon
BEBAN PUNDAK AMANDA

BEBAN PUNDAK AMANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: pinnyaple

Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAGIAN 18

Malam ini kurasa rasanya lebih panas udaranya dari biasanya. Aku berpindah ke ruang tamu untuk makan.

"Ibu minta uang nya man. Besok ibu terakhir ke kantor bank buat ambil uang nya." Ibu duduk dihadapan ku dengan sepiring nasi yang kubeli tadi sepulang kerja.

"Belum gajian bu. Gajiannya awal bulan nanti."

Ibu mendengus marah. "Ck.. lah nanti ibu gimana naik ojeg nya."

Aku berpikir sejenak. "Coba minta sama kak Toni, bu. Siapa tau punya."

"Ya sudah, ya sudah." Ibu pergi meninggalkanku dengan gerutuan yang masih terdengar oleh ku.

---

Pagi ini di sebuah, Toni dan ibunya sudah sampai di depan kantor bank di kota mereka. Ternyata mereka datang terlalu cepat karena pintu kantor itu masih tertutup rapat.

Sebentar lagi buka, kata seorang satpam di depan.

"Manda ga ngasih ibu uang?" Tanya Toni sambil meminum air putih dalam botol yang ia beli tadi di warung pinggir jalan.

Ibunya menggeleng. "Ga ngasih sepeserpun." Ibu memperhatikan anaknya yang sedang meminum. "Kamu ga punya uang apa Ton? Ibu lapar belum makan apa-apa."

Toni merogoh saku celananya. Meraih sesuatu.

"Ini ada sepuluh ribu." Toni menyodorkan uang lecek itu ke tangan ibunya. "Buat ibu aja. Tadi Toni udah sarapan sama Lita."

"Jaga dia. Sekarang setelah urusan bank selesai gantian kamu mikirin gimana ngomong sama keluarga Lita." Kata Ibu sambil mengambil uang yang tadi disodorkan Toni.

Toni mengangguk kan kepalanya. Dia masih mengumpulkan keberaniannya sendiri lewat anggukan yang mantap itu. Hatinya tidak karuan berdebarnya jika berhubungan dengan keluarga pacarnya.

"Bu. Ada kepentingan apa ya?"

Ibu dan Toni menoleh bersamaan ke belakang. Seorang pria berpakaian kemeja rapi dengan rambut klimis itu sedang tersenyum ke arah mereka.

"Mau ketemu sama pak Dodi."

Orang itu mempersilahkan Ibu dan Toni masuk ke dalam. Katanya, orang yang mereka cari belum datang dan mereka dipersilahkan untuk menunggu di dalam.

"Apa masih lama bu?"

"Ibu ga tau. Tunggu saja. Sabar."

Mereka menunggu, hampir satu jam lamanya mereka duduk di kursi panjang besi dalam kantor itu. Ruangan yang tadinya sepi kini mulai ramai. Banyak orang berlalu lalang mengurus urusannya masing-masing. Para petugas juga sudah sibuk dengan pekerjaan mereka.

"Sudah lama ya nunggu?"

Ini orang yang ibu dan Toni tunggu dari tadi. Seorang mantri yang mengurus segala ini itu untuk pengambilan uang.

"Ah... Sudah lumayan pak."

Orang berpakaian rapi itu duduk di samping mereka. Mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas ranselnya.

"Ini bu, minta tanda tangannya satu lagi disini ya."

Ibu meraih polpen yang disodorkan kepadanya. Menulis tanda tangan nya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar karena grogi.

Orang itu kembali mencari sesuatu dalam tas nya.

"Ini kartunya. Masih ingat sandinya kan ya bu?" Tanya mantri itu sambil tersenyum.

Ibu mengangguk mantap. "Masih pak." Ibu mengambil kartu ATM itu. "Ini sudah ada isinya?"

"Tentu sudah." Jawab mantrinya sambil terkekeh pelan. "Ini sudah saya potong juga untuk kekurangan biaya administrasi kemarin."

Toni dan ibu mengangguk bersama.

"Terimakasih pak. Ini ada hal yang harus di urus lagi atau tidak ya?" Tanya Toni. Dia tidak sabar mengambil uang yang ada di ATM itu.

"Sudah tidak ada mas." Kata mantri sambil tersenyum. "Eh.. sebentar mas, bu." Mantri itu menghentikan ibu dan Toni yang hendak bangkit dari duduk.

"Kenapa pak?" Tanya ibu penasaran. Rasanya tangannya sudah tidak sabar memegang uang puluhan juta. Walaupun nantinya uang itu akan dipakai anaknya untuk menikah tapi setidaknya dia pernah memegang uang itu.

"Minta nomor yang bisa dihubungi nanti, mas bu."

Toni mengangguk dan membuka ponselnya. Menyebutkan angka-angka nomor telepon.

"Baik. Terimakasih atas kerjasamanya mas, bu."

Toni dan ibu mengangguk dan segera pergi ke mesin ATM yang berada di luar kantor. Memasukkan kartu itu dan menekan nomor pin nya. Gemetar tangan Toni ketika menyentuh layar.

"Di tarik semua apa bu?" Toni menatap ibunya yang berada tepat di samping nya. Setelah mendapat anggukan dari ibunya Toni kembali menekan layar itu hingga suara mesin keluar. Lembar demi lembar uang ratusan ribu itu keluar dengan cepat.

Mata mereka berbinar menatap lembaran uang itu. Setelah beberapa menit mesin uang itu mati. Toni mengambil uang itu. Menggenggam nya erat, takut tiba-tiba ada orang yang akan mengambilnya.

"Sini taruh kantong plastik biar tidak ada yang curiga kita bawa uang banyak." Ibu mengeluarkan plastik kresek hitam dalam tas nya.

Toni menatap ibunya heran. "Kenapa di taruh di plastik sih bu." Dia kan ingin pamer pada teman-teman nya kalau dia punya uang banyak sekarang. Bayangan tentang pernikahan nya dengan Lita yang megah dengan vendor unggulan di kota mereka sudah berada di kepalanya.

Ibu berdecak kesal. "Kalau ada yang tau kita bawa uang banyak, apa ga mengundang para penjahat nantinya. Uang itu di rampas malah kita yang rugi nanti."

Walaupun dengan dengusan, Toni menyetujui ucapan ibunya untuk menaruh gepokan uang itu ke dalam plastik setelah mereka meng-kareti uang itu.

"Ibu mau makan dulu. Sekali-kali makan yang enak gitu." Kata ibu setelah mereka keluar dari halaman kantor. Matanya celingukan ke kanan dan kiri.

Toni membuka ponselnya. "Pesen ojek saja ya bu. Naik mobil kita."

Ibu mengangguk semangat. "Iya, sekalian kamu cari restoran buat makan siang kita."

Toni tertawa renyah. Kembali mengotak-atik ponsel nya.

Setelah beberapa menit menunggu di pinggir jalan kota yang panas, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Kepala sang supir melongok dari belakang kemudi.

"Kak Toni?" Tanya sopir itu sembari mengecek aplikasi nya kembali.

"Iya benar."

Ibu dan Toni segera masuk ke dalam mobil yang Toni pesan. Mereka duduk di kursi belakang.

"Sesuai aplikasi ya?"

"Iya pak betul." Jawab Toni.

Mobil sedan putih itu melaju. Membelah jalanan kota yang panas. Aspal hitam bercampur dengan debu jalanan membuat hawa di luar mobil yang Toni dan ibu tumpangi terasa menyesakkan. Dan Toni bersyukur dia tidak harus panas-panasan hari ini. Dia janji pada dirinya sendiri, setelah urusan ini selesai dia akan mencari pekerjaan yang lebih baik.

Ternyata dipikir-pikir, panasnya jalanan kota ini seperti menusuk kulitnya. Tapi waktu itu, karena dia benar-benar butuh uang dia rela melakukannya. Bukannya tidak mau kerja yang lain. Tapi sepertinya Tuhan sedang mengujinya waktu itu. Kesana kemari dia sudah bertanya. Bahkan teman-teman nya sendiri sudah dia tanyai tapi hanya kuli sapu itu lah satu-satunya pekerjaan yang mau menerimanya. Mau tidak mau Toni harus berurusan dengan debu dan panas demi menghasilkan uang.

Tapi di dalam mobil ini, udara dingin yang berasal dari AC mobil membuat pikirannya berubah. Dia akan kembali mencari pekerjaan yang lain. Aku lulusan SMA masa tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih daripada adiknya yang ijazah SMP saja dia tidak punya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!