NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

******

Ruang perawatan itu mendadak berubah tegang.

Awalnya hanya bunyi monitor yang berdetak pelan dan teratur. Namun dalam hitungan detik, tubuh Aruna yang terbaring lemah tiba-tiba menegang. Jemarinya melengkung kaku, napasnya tersengal tak beraturan. Tubuhnya bergetar hebat di atas ranjang rumah sakit.

“Dok! Pasien mengalami kejang!” seru salah satu perawat panik.

Alarm monitor berbunyi nyaring. Garis detak jantung yang semula stabil mulai melemah, ritmenya tak lagi teratur. Angka-angka di layar perlahan menurun.

Dokter segera bergerak cepat. “Tahan tubuhnya. Siapkan oksigen tambahan!”

Masker oksigen ditekan lebih rapat ke wajah Aruna. Seorang perawat lain memeriksa denyut nadinya yang kian melemah. Suasana ruangan dipenuhi suara instruksi singkat dan langkah tergesa.

“Detak jantung pasien menurun, Dok…”

Garis pada monitor mulai melambat. Bunyi bip… bip… yang semula cepat kini terdengar semakin jarang, seperti hitungan waktu yang menipis.

“Lakukan tindakan sekarang!”

Tim medis berusaha semaksimal mungkin. Mereka tidak menyerah. Instruksi demi instruksi dilaksanakan dengan cepat dan terlatih. Namun layar monitor tak menunjukkan perbaikan berarti.

“Masih belum ada respons…”

Detak itu semakin pelan. Lalu… semakin jarang.

Satu garis panjang hampir terbentuk.

“Nona Aruna, bertahanlah…” gumam salah satu perawat lirih tanpa sadar, meski tangannya tetap bekerja.

Dokter mencoba sekali lagi. Waktu terasa membeku di dalam ruangan itu. Semua mata tertuju pada layar.

Namun akhirnya—

Bunyi panjang yang datar memenuhi ruangan.

Garis di monitor berubah lurus.

Hening.

Tak ada lagi angka yang bergerak. Tak ada lagi ritme kehidupan yang terdengar.

Dokter menatap layar beberapa detik lebih lama, memastikan. Lalu dengan suara berat yang tertahan profesionalisme, ia berkata pelan, “Waktu kematian… pukul…”

Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam keheningan.

Perawat-perawat perlahan menurunkan tangan mereka. Beberapa menunduk. Ruangan yang tadi dipenuhi kepanikan kini hanya menyisakan sunyi yang menekan dada.

Tubuh Aruna terbaring diam. Tenang. Seolah semua rasa sakit dan perjuangan yang tadi terjadi telah berhenti begitu saja.

Pintu ruang perawatan terbuka perlahan. Dokter melangkah keluar dengan wajah serius, masker medisnya sudah diturunkan, menyisakan raut lelah yang tak bisa disembunyikan. Di luar, Dimas yang sejak tadi berdiri tak jauh dari pintu langsung bangkit. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, matanya penuh harap sekaligus takut.

“Dok… bagaimana kondisi Aruna?” suaranya terdengar serak, seolah tenggorokannya mengering karena terlalu lama menahan cemas.

Dokter itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. “Maaf… kami sudah melakukan semaksimal mungkin.”

Kalimat pembuka itu saja sudah cukup membuat jantung Dimas berdegup tak karuan.

“Beberapa menit terakhir kondisinya menurun drastis. Detak jantungnya terus melemah meski sudah kami lakukan tindakan darurat,” lanjut sang dokter dengan nada berat. “Kami berusaha mempertahankannya… namun tubuh pasien tidak lagi merespons.”

Hening.

Seolah dunia di sekitar Dimas mendadak kehilangan suara.

Dokter itu menatapnya dengan penuh empati. “Saya minta maaf. Kami tidak dapat menyelamatkan Nona Aruna.”

Kalimat itu jatuh seperti palu yang menghantam keras kesadarannya.

Dimas terpaku. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Beberapa detik berlalu sebelum ia menggeleng pelan, seakan menolak kenyataan yang baru saja didengarnya.

“Tidak… tidak mungkin…” bisiknya lirih. Kakinya terasa lemas. Ia harus berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh.

Sementara itu, di balik pintu ruang perawatan, suasana telah berubah menjadi sunyi. Mesin-mesin medis telah dimatikan. Perawat menutup tubuh Aruna dengan kain putih perlahan, penuh hormat.

Dan di koridor rumah sakit yang dingin itu, Dimas berdiri terpaku—di antara harapan yang telah padam dan kenyataan yang tak bisa lagi diubah.

******

Sementara di Norvastia, di ruang perawatan yang dingin dan dipenuhi cahaya lampu putih, kondisi Calista mendadak memburuk—hampir menyerupai apa yang terjadi pada Aruna.

Tubuhnya yang sejak dua hari terbaring tak sadar tiba-tiba menegang. Jari-jarinya melengkung kaku, napasnya tersendat. Monitor jantung di samping ranjang berbunyi nyaring ketika garis detaknya mulai tak beraturan.

“Detak jantung pasien tidak stabil!” seru perawat yang berjaga.

Angka-angka di layar menurun perlahan. Ritmenya melemah, seperti kehilangan tenaga untuk terus bertahan. Tekanan darahnya turun drastis. Ruangan itu mendadak dipenuhi langkah cepat dan suara instruksi singkat.

Dokter segera mengambil alih. “Tingkatkan oksigen. Siapkan tindakan darurat, sekarang!”

Tim medis bergerak cekatan. Upaya demi upaya dilakukan tanpa jeda. Tubuh Calista sempat bergetar hebat sebelum akhirnya melemah tak berdaya. Garis monitor hampir saja berubah menjadi lurus—hampir.

Namun detik berikutnya, setelah tindakan terakhir diberikan, terdengar satu bunyi yang berbeda.

Bip…

Lalu satu lagi.

Bip…

Garis itu kembali bergerak. Lemah, tetapi ada.

“Detaknya kembali!” ujar seorang perawat dengan napas lega yang tertahan.

Ritmenya memang masih lambat, namun stabilitas perlahan kembali. Tekanan darahnya naik sedikit demi sedikit. Ruangan yang tadi dipenuhi ketegangan kini diselimuti kelegaan yang hati-hati.

“Pantau terus. Jangan lengah,” ucap dokter tegas, meski sorot matanya menyiratkan rasa syukur.

Dokter itu melepaskan masker medis yang dikenakannya begitu keluar dari ruang rawat intensif. Wajahnya tampak lelah, namun tidak lagi setegang sebelumnya. Ia melangkah menyusuri koridor menuju Damar yang sejak tadi berdiri tak jauh dari pintu, mondar-mandir dengan wajah pucat dan gelisah.

Begitu melihat dokter mendekat, Damar langsung menghampiri.

“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanyanya tak sabar. Suaranya terdengar serak, campuran antara harap dan ketakutan yang sejak tadi ia tahan.

Dokter itu menarik napas lebih dulu sebelum menjawab.

“Syukurlah, kondisi pasien saat ini sudah lebih baik dan stabil,” ujarnya tenang. “Tadi sempat terjadi penurunan detak jantung yang cukup drastis dan tubuhnya mengalami reaksi kejang. Kami harus melakukan tindakan darurat untuk menstabilkannya.”

Damar menelan ludah. “Lalu sekarang?”

“Sekarang detak jantungnya sudah kembali normal dan tekanan darahnya mulai membaik,” lanjut sang dokter.

"Tinggal menunggu beberapa jam lagi pasien akan sadar dari koma singkatnya, kalau begitu saya pamit dan anda bisa masuk ke dalam untuk menemui istri anda. " ujar dokter tersebut sebelum akhirnya berlalu menuju ruangannya, bersamaan dengan beberapa perawat yang keluar dari ruang rawat dan menyusul sang dokter.

Damar tak menunggu waktu lama langsung saja masuk ke dalam ruang rawat Calista, ia menatap wajah istrinya yang masih berbaring di kasur brankar dengan perasaan takut bercampur lega.

"Kamu selamat, akhirnya kamu selamat. Jangan pernah terpikir untuk meninggalkan ku seperti ini, Calista. Aku tersiksa sekali." Damar menenggelamkan wajahnya di sisi samping tubuh Calista.

Air matanya perlahan jatuh. Antara takut, khawatir, dan perasaan lega yang bercampur aduk.

******

Beberapa jam kemudian, suasana ruang perawatan kembali tenang. Mesin-mesin bekerja dalam ritme normal. Hanya suara detak jantung yang kini terdengar stabil menemani kesunyian.

Kelopak mata Calista bergetar pelan.

Awalnya hanya gerakan kecil, hampir tak terlihat. Lalu perlahan, matanya terbuka. Cahaya lampu terasa menyilaukan. Pandangannya buram, seolah dunia di sekitarnya tertutup kabut tipis.

Ia mencoba menarik napas lebih dalam. Dadanya terasa berat, namun tidak lagi sesak seperti sebelumnya.

Calista mengerjapkan mata beberapa kali. Ia menatap langit-langit putih di atasnya, merasa asing namun juga nyata. Kepalanya berdenyut pelan. Ingatannya terasa seperti potongan kaca yang berserakan—ada yang hilang, ada yang tak utuh.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.

Yang ia tahu hanya satu—ia masih hidup.

Dan di dalam tatapannya yang masih lemah itu, terselip kebingungan mendalam. Seakan ada sesuatu yang telah berubah, meski ia belum mampu memahami apa.

"Damar..... Arkana.... "

******

1
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
Muft Smoker
kak knp bab baru ny jdi 1 lgi ?
gx lanjuut 21 ,, 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!