Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PELAMINAN DAN ATURAN RATNA
Pendopo Utama, Villa Adiwinata, Solo — 12:00 WIB
Livia mengenakan kebaya basahan putih dengan sulaman benang emas yang sangat rumit. Sanggulnya menjulang tinggi, dihiasi roncean melati segar yang harumnya begitu pekat hingga hampir membuatnya pusing. Berat sanggul dan ketatnya stagen yang membalut pinggangnya memang terasa menyiksa, tetapi yang lebih berat adalah tekanan dari ratusan pasang mata yang mengawasi setiap gerakannya, seolah menunggu satu kesalahan kecil saja untuk menjadi bahan pembicaraan.
Di sampingnya, Rangga Adiwinata duduk dengan tenang luar biasa. Beskap beludru hitam dan keris yang terselip di pinggang membuatnya tampak seperti putra mahkota sejati—gagah, berwibawa, dan terkendali. Rangga tidak banyak bicara, matanya lurus ke depan sesuai etika adat, tetapi sesekali jari-jarinya meremas lembut jemari Livia di balik lipatan kain jarik mereka, isyarat diam yang memberi kekuatan.
Mama Ratna berdiri di depan pelaminan seperti seorang komandan. Beliau adalah pengatur utama setiap detail persiapan pernikahan ini. Sejak pagi-pagi sekali, aturan baru terus bermunculan, disampaikan dengan nada halus namun tak terbantahkan.
“Setelah akad nanti, Livia harus langsung mengikuti nontoni lanjutan di ruang pusaka,” bisik Mama Ratna saat prosesi salaman berlangsung. “Harus sungkem di depan foto Eyang Buyut, dahi sampai menyentuh lantai. Dan mulai besok, tidak ada lagi bahasa Jakarta sehari-hari. Kamu harus belajar krama inggil. Menantu keluarga Adiwinata harus berbicara dengan sopan, bukan seperti di lapangan olahraga.”
Livia tidak serta-merta menunduk. Ia menatap Mama Ratna dengan mata tajam namun tetap tersenyum sopan. “Saya akan berusaha belajar, Bu. Namun saya harap keluarga juga memahami bahwa lidah saya lebih terbiasa meneriakkan skor kemenangan daripada merangkai kata puitis.”
Mama Ratna hanya mengangkat alis tipis, tapi tidak membalas. Di sekitar mereka, para tamu keluarga besar Adiwinata saling berbisik. Beberapa bibi dan tante memandang Livia dengan ekspresi campur aduk—antara penasaran, kagum, dan sedikit skeptis.
“Cara jalannya masih agak tegas, ya,” bisik seorang bibi kepada yang lain sambil memegang piring selat Solo. “Atlet memang beda. Tapi Ratna pasti akan mendidiknya dengan ketat. Dua bulan di sini cukup untuk membentuknya menjadi menantu yang sempurna.”
Livia mendengar bisikan-bisikan itu. Ia tidak menunjukkan kemarahan, tapi dalam hati ia menguatkan diri. Ia sudah terbiasa menghadapi tekanan—di lapangan bulu tangkis, sorotan kamera, dan hate comment netizen jauh lebih kejam daripada ini. Ia hanya perlu bertahan, dan ia tahu ia tidak sendirian.
Rangga, yang selama prosesi tampak patuh dan diam, diam-diam memberikan kisi-kisi lewat sentuhan dan bisikan halus. Saat seorang paman memuji “kesabaran” Rangga karena menerima menantu dari latar belakang berbeda, Rangga hanya tersenyum sopan. Namun saat paman itu pergi, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Livia.
“Jangan jawab terlalu panjang kalau ditanya soal masa lalu,” bisiknya cepat. “Cukup senyum dan bilang ‘semua sudah jadi pelajaran berharga’. Mereka suka jawaban yang rendah hati.”
Livia mengangguk kecil tanpa mengubah ekspresi. Saat giliran seorang tante menanyakan rencana Livia setelah menikah—“Apakah akan pensiun dari bulu tangkis untuk fokus keluarga?”—Livia menjawab sesuai kisi-kisi Rangga.
“Semua sudah menjadi pelajaran berharga bagi saya,” katanya lembut. “Kedepannya, saya akan berembuk dengan suami untuk menyeimbangkan tugas sebagai istri dan atlet.”
Tante itu mengangguk puas, meski matanya masih menyimpan keraguan. Rangga meremas tangan Livia lagi—tanda “bagus sekali”.
Puncak tekanan datang saat sesi foto keluarga besar. Seorang paman senior—Paman Surya—berbisik sambil tersenyum tipis, “Sering-sering latihan masak ya, Nduk. Nama besar keluarga ini tidak cukup hanya dengan medali.”
Livia menahan napas sejenak, tapi mengingat kisi-kisi Rangga: tetap sopan, tapi tegas. “Terima kasih atas sarannya, Pakde. Saya akan belajar banyak dari para mbok di dapur ini. Namun saya juga akan terus menjaga kondisi fisik agar bisa memberikan kontribusi terbaik bagi keluarga—baik di rumah maupun di lapangan.”
Paman Surya terdiam, tidak menyangka jawaban sehalus itu tapi tetap mempertahankan identitasnya. Rangga, yang mendengar, menahan senyum dan memberikan remasan lebih kuat—tanda bangga yang diam-diam.
Sepanjang acara persiapan dan prosesi, Livia belajar menghadapi keluarga besar Rangga dengan campuran kesabaran, senyum, dan ketegasan halus. Ia tidak membiarkan diri diremehkan, tapi juga tidak menantang secara terbuka. Rangga, meski tampak patuh di depan orang tua dan keluarga, terus menjadi penopangnya—memberikan isyarat kecil, bisikan cepat, dan tatapan yang mengatakan “aku di pihakmu”.
Saat prosesi hampir selesai, Mama Ratna mengumumkan kabar yang membuat suasana semakin ramai.
“Besok pagi, setelah siraman dan midodareni, akan ada tamu kehormatan,” kata beliau dengan bangga. “Petinggi PBSI akan hadir lengkap, beserta utusan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Mereka ingin memberikan ucapan selamat langsung kepada pasangan atlet nasional kita ini. Media nasional juga sudah dikonfirmasi akan meliput—tentu saja dengan protokol yang kami atur sendiri.”
Livia dan Rangga saling pandang sekilas. Kehadiran petinggi PBSI dan utusan menteri berarti acara ini bukan lagi urusan keluarga biasa—ini menjadi perhelatan nasional yang akan disorot luas. Tekanan bertambah, tapi juga peluang: identitas Livia sebagai atlet nasional akan semakin diakui, bahkan di tengah keluarga priyayi yang lebih mengutamakan adat.
Rangga meremas tangan Livia sekali lagi—lebih lama kali ini. Di balik semua aturan Ratna, di balik tatapan keluarga yang penuh penilaian, Livia tahu ia memiliki sekutu terkuat tepat di sampingnya. Besok, saat kamera media dan pejabat negara hadir, ia akan berdiri tegak sebagai Livia Liang—juara dunia, menantu Adiwinata, dan istri Rangga yang tak akan membiarkan siapa pun meremehkannya.
***
Rangga duduk sendirian di tepi pendopo belakang, hanya diterangi lampu taman yang temaram. Ia mengenakan kaos putih sederhana yang menempel pas di tubuh atletisnya dan celana tidur longgar, rambutnya sedikit acak-acakan setelah hari yang panjang.
Cahaya bulan menyapu wajahnya, membuat garis rahang dan mata hitamnya tampak lebih tajam, lebih menggoda daripada saat ia memakai beskap resmi tadi siang.
Livia berdiri di ambang pintu kamar pengantin yang masih terkunci dari luar, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat menghadapi bisikan-bisikan keluarga tadi. Semua aturan Mama Ratna, penilaian para tante, tekanan kontrak saham—semuanya mendadak terasa jauh. Yang ada hanya Rangga, suaminya, yang tampak begitu nyata dan dekat.
Ia melangkah pelan mendekat, kain jariknya berdesir lembut di lantai kayu. Rangga menoleh, matanya langsung lembut saat melihat Livia. “Belum tidur?” tanyanya, suaranya rendah dan hangat.
Livia duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan. “Susah tidur kalau dipenjara di kamar pengantin,” candanya pelan. Tapi matanya tak lepas dari bibir Rangga.
Rangga tersenyum tipis, tangannya naik menyentuh pipi Livia. “Aku juga nggak bisa tidur kalau mikirin kamu sendirian di sana.”
Dasar gombal, batinnya sambil tersenyum.