BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Meja Kerja yang Bersebelahan
Aroma kopi arabika hitam yang kuat berpadu dengan keharuman parfum mawar mewah milik Rani, menciptakan atmosfer unik di dalam ruang kerja utama lantai eksekutif Rani Group pagi itu. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja baru berbahan kayu jati solid telah tertata rapi lengkap dengan komputer, tumpukan berkas logistik, dan papan nama akrilik bertuliskan: Riko Pratama - Mitra Taktis Utama.
Keterbatasan ruang di lantai eksekutif yang sedang direnovasi menjadi alasan resmi bagi publik. Namun bagi Rani, keputusan menempatkan Riko di dalam ruangannya sendiri adalah sebuah ujian kesabaran terbesar dalam hidupnya.
Rani duduk di balik meja marmernya, berpura-pura fokus pada layar monitor yang menampilkan grafik pergerakan saham. Namun, setiap sepuluh detik sekali, sudut matanya secara tidak sadar melirik ke arah kanan ruangan.
Di sana, Riko sedang sibuk bekerja. Pria itu melepaskan jas abu-abu gelapnya dan menyampirkannya di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih bersih yang melekat pas di tubuh tegapnya dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku, memperlihatkan guratan otot lengan bawahnya saat jemari tangannya bergerak lincah di atas papan ketik atau saat dia menandatangani manifes perjalanan armada truk Pratama Corp.
Suasana di antara mereka terasa begitu canggung pasca-insiden panggilan video dengan Dion semalam. Kalimat Riko—“Di mata dunia, kamu adalah milikku sekarang”—seperti hantu yang terus berputar di kepala Rani, membuat fokusnya buyar berantakan.
"Kalau kamu terus menatapku seperti itu, Rani, angka-angka di layarmu tidak akan berubah menjadi keuntungan," suara berat Riko memecah keheningan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
Rani tersentak, wajahnya seketika merona merah karena tertangkap basah. Dia buru-buru menegakkan punggungnya, memasang wajah sedingin es. "Jangan terlalu percaya diri, Riko. Aku hanya sedang memastikan apakah mitra taktisku benar-benar bekerja atau hanya menumpang AC di ruanganku."
Riko terkekeh rendah—sebuah suara bariton yang terdengar begitu seksi di ruangan yang sepi itu. Dia meletakkan penanya, lalu memutar kursinya hingga menghadap langsung ke arah Rani. "Aku sudah menyelesaikan verifikasi tiga puluh armada truk untuk suplai tahap pertama besok subuh. Semua rute sekunder sudah dikunci dan aman dari jangkauan orang-orang Hendra. Jadi, ya, aku benar-benar bekerja, Istriku."
Rani menggigit bibir bawahnya mendengar panggilan "Istriku" yang diucapkan Riko dengan nada menggoda. "Riko, kita sedang di kantor. Jaga bahasamu. Aturan nomor satu: profesional."
"Aku sangat profesional," balas Riko, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati meja kerja Rani dengan langkah tegap yang tenang. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja marmer Rani, condong ke depan hingga jarak mereka kembali mengikis batas aman. "Tapi menggodamu sedikit sepertinya bagus untuk melatih ketahanan mentalmu sebagai seorang Alpha Woman yang katanya tidak punya kelemahan."
Rani menolak untuk mundur. Dia mendongak, menantang tatapan mata elang Riko yang berkilat jenaka namun intens. "Kelemahanku bukan pria bangkrut yang baru saja merangkak naik sepertimu, Riko."
"Oh, benarkah?" Riko menyipitkan matanya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Lalu kenapa detak nadimu di lehermu itu bergerak sangat cepat sejak aku berjalan mendekat, Rani?"
Mata Rani melebar. Monolog batinnya menjerit panik. Pria ini terlalu jeli, terlalu berbahaya, dan tahu betul bagaimana cara membolak-balikkan pertahanan dinding es yang selama tiga tahun ini dia bangun dengan susah payah. Rasa benci yang dulu membara kini terasa kabur, digantikan oleh ketegangan emosional yang membuat napasnya terasa sesak namun mendebarkan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Riko dengan cepat menegakkan tubuhnya kembali, sementara Rani menghela napas lega yang tertahan di tenggorokannya.
"Masuk," ujar Rani dengan suara yang kembali dikondisikan sedatar mungkin.
Sekretaris Rani, Maya, melangkah masuk dengan membawa sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar dan sebuah kotak beludru kecil. Wajah Maya tampak ragu dan canggung saat melihat Riko juga berada di dalam ruangan.
"Maaf mengganggu, Ibu Rani. Ada... pengiriman paket dari Singapura untuk Ibu. Pengirimnya meminta agar paket ini diserahkan langsung ke tangan Ibu," ujar Maya hati-hati, meletakkan buket bunga dan kotak tersebut di ujung meja kerja Rani.
Riko langsung melirik tajam ke arah kartu ucapan yang terselip di antara kelopak mawar merah tersebut. Di sana tertulis nama yang sangat dia benci: Dion.
Atmosfer ruangan yang tadinya dipenuhi percikan salah tingkah yang manis, dalam sekejap berubah menjadi sedingin kutub utara. Rahang Riko mengencang sempurna, dan sorot mata elangnya berkilat berbahaya. Dion rupanya benar-benar mengibarkan bendera perang dan tidak menganggap serius peringatan Riko semalam.
Rani membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya berkilau sebuah gelang berlian bersertifikat internasional dengan desain yang sangat mewah. Di sampingnya ada secarik kertas bertuliskan: “Untuk Rani. Permintaan maaf atas kelancangan suamimu semalam. Gelang ini jauh lebih cocok untuk pergelangan tangan seorang ratu daripada sekadar janji kosong dari pria yang tidak punya apa-apa. Aku menunggumu di Singapura.”
Rani tertegun membaca pesan provokatif tersebut. Dia tahu Dion sedang mencoba memancing emosi Riko dan merendahkan martabat suaminya.
Rani melirik ke arah Riko. Pria itu berdiri mematung di samping mejanya. Tangannya terkepal kuat di dalam saku celananya, gurata-guratan urat kemarahan terlihat jelas di pelipisnya. Harga diri Riko sebagai seorang pria dan mantan CEO raksasa sedang diinjak-injak dengan uang oleh pria dari masa lalu Rani.
Monolog batin Rani bergejolak hebat. Ego Alpha Woman-nya tahu bahwa dia tidak boleh membiarkan pihak luar mengacaukan dinamika internal yang baru saja membaik di antara mereka. Dan yang lebih mengejutkan dirinya sendiri, Rani menyadari bahwa dia tidak suka melihat kilat luka dan kemarahan di mata Riko akibat ulah Dion.
Rani menutup kotak beludru itu dengan bunyi klik yang keras. Dia menatap Maya yang masih berdiri di depan meja dengan wajah tegang.
"Maya," panggil Rani tegas, suaranya terdengar mutlak tanpa bantahan.
"Ya, Ibu?"
"Kembalikan buket bunga ini dan kotak berlian ini ke alamat pengirimnya di Singapura lewat kurir ekspres hari ini juga," perintah Rani dingin.
Maya terkejut. "Tapi Ibu, ini perhiasan bernilai ratusan juta dan dari Tuan Dion—"
"Aku tidak peduli dari siapa," potong Rani acuh, matanya kini beralih menatap Riko yang tampak tertegun mendengar keputusannya. "Katakan pada pihak kurir untuk menyertakan catatan resmi dari sekretariatku: 'Rani Group tidak menerima suap dalam bentuk apa pun, dan CEO Rani sudah memiliki perhiasan yang jauh lebih berharga di rumahnya sendiri.' Lakukan sekarang."
"B-baik, Ibu. Permisi," Maya segera menyambar buket bunga dan kotak beludru itu, lalu bergegas keluar seolah-olah ruangan itu siap meledak kapan saja.
Setelah pintu tertutup kembali, kesunyian kembali menyelimuti mereka. Riko menatap Rani dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara terkejut, tidak percaya, dan sebuah rasa hangat yang mendadak meluluhkan seluruh amarahnya dalam sekejap.
Riko berjalan perlahan mendekati meja Rani, suaranya melunak, kehilangan nada sinisnya yang biasa. "Kenapa kamu mengembalikannya? Gelang itu... bisa membiayai satu proyek kecilmu jika kamu mau."
Rani memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta, menyembunyikan senyuman tipis dan rona merah yang kembali terbit di pipinya. "Aku seorang CEO, Riko. Aku membeli perhiasanku sendiri dengan uangku sendiri. Dan yang paling penting..." Rani menjeda kalimatnya, menarik napas dalam sebelum melanjutkan dengan suara lirih yang sarat akan gengsi. "Aku tidak suka melihat orang asing merendahkan pria yang saat ini statusnya adalah suamiku di kantor ini. Itu merusak reputasiku."
Riko terdiam selama beberapa detik sebelum sebuah senyuman lebar yang sangat tulus dan tampan terukir di wajahnya—senyuman pertama yang Rani lihat sejak mereka memulai pernikahan kontrak ini.
Riko kembali ke meja kerjanya, duduk dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bertenaga. "Terima kasih atas pembelaannya, Ibu Rani. Kalau begitu, aku akan bekerja dua kali lebih keras hari ini agar 'perhiasan berharga' yang kamu maksud di rumah tidak membuatmu kecewa."
Rani tidak membalas, namun tangannya yang pura-pura mengetik di atas keyboard sebenarnya sedang bergetar hebat karena menahan debaran jantung yang makin tidak keruan. Di balik meja kerja yang bersebelahan itu, dinding es di hati Rani tidak lagi sekadar retak; dinding itu mulai runtuh, menyisakan ruang bagi sang elang untuk perlahan-lahan masuk dan menguasai hatinya sepenuhnya.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄