NovelToon NovelToon
"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

"Regresi Sang Ratu SMA: Balas Dendam Di Bangku Sekolah"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejatulis

Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REKRUTMEN SEKUTU PERTAMA

Aroma manis dari sisa sirup karamel dan uap kopi masih membekas di udara saat gerbang Harapan Elite International School resmi ditutup untuk pengunjung luar. Riuh rendah kepanikan finansial keluarga Kevin yang meledak di area festival tadi siang perlahan bergeser menjadi desas-desus liar di antara para siswa. Namun, di dalam laboratorium tata boga yang kini sepi, Rina tidak sedang memikirkan Kevin. Fokusnya telah beralih pada penguatan faksi internalnya.

Andi duduk di depan salah satu meja stainless steel, bahunya merosot lemas karena kelelahan setelah seharian mengoperasikan sistem data kasir siber. Di sampingnya, Devan sedang merapikan lembaran laporan keuangan akhir yang mencatatkan angka keuntungan bersih fantastis bagi kelas 11-A.

"Kita benar-benar melakukannya, Rin," kata Andi, menyeka kacamatanya yang berembun dengan ujung kaosnya. Suaranya bergetar antara tidak percaya dan kagum. "Stan kita mencetak rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah festival yayasan. Tapi... tadi gue lihat Kevin lari sambil nangis setelah ketemu lo. Apa ada hubungannya sama rilis berita tanah zona hijau itu?"

Rina melepaskan apron barista denimnya dengan gerakan yang sangat anggun. Rambutnya yang diikat tinggi bergaya ponytail bergerak mengikuti ayunan langkahnya saat dia berjalan mendekati kedua sekutunya. "Kevin dan keluarganya hanya sedang menerima konsekuensi dari keserakahan mereka sendiri, Andi. Yang lebih penting sekarang adalah masa depan tim ini."

Rina menarik sebuah kursi, lalu duduk berhadapan dengan Andi. Pandangan matanya yang hitam pekat mengunci manik mata cowok berkacamata tebal itu dengan intensitas yang sangat serius—sebuah tatapan dewasa yang seketika membuat atmosfer laboratorium menjadi formal.

"Andi, aku tahu potensi aslimu," ucap Rina, suaranya terdengar sangat jernih dan berwibawa di keheningan ruangan. "Kamu bukan cuma anak beasiswa yang pintar Matematika. Kamu adalah orang yang meretas jaringan utama server tata usaha minggu lalu untuk mengamankan data enkripsi, bukan?"

Andi tersentak hebat. Wajahnya yang semula lelah mendadak pucat pasi. Dia mencoba membuka mulut untuk mengelak, namun lidahnya mendadak kelu saat melihat mata Rina yang begitu tenang, seolah-olah gadis di depannya ini tahu segala rahasia terdalam di dunia ini.

"J-Rina... dari mana lo tahu?" bisik Andi, suaranya bergetar ketakutan. "Kalau pihak yayasan tahu, beasiswa gue bakal dicabut malam ini juga. Gue bisa dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat."

"Jangan takut," Rina tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang menenangkan yang sangat jarang dia tunjukkan kepada orang lain. Dia mengulurkan tangan kanannya di atas meja, telapak tangannya terbuka. "Aku tidak akan pernah menjual informasi itu kepada siapa pun. Sebaliknya, aku datang hari ini untuk menawarkan sebuah kemitraan yang sangat adil. Aku butuh kemampuan otakmu untuk membangun infrastruktur jaringan digital di masa depan, dan sebagai imbalannya, selama aku berdiri di Harapan Elite, tidak akan ada satu pun anak konglomerat di sekolah ini yang bisa menyentuh atau merundungmu lagi. Aku jamin keamanan dan pembiayaan studimu hingga lulus."

Andi menatap tangan Rina yang terulur, lalu beralih menatap mata gadis itu. Di dalam manik mata Rina, dia tidak melihat pandangan meremehkan atau rasa kasihan yang biasa dia terima dari para siswa kaya di sekolah ini. Yang ada hanyalah rasa hormat yang tulus terhadap kapasitas intelektualnya. Untuk pertama kalinya dalam kehidupan sekolahnya yang kelam, Andi merasa dihargai sebagai seorang profesional.

Andi menelan ludah dengan susah payah, lalu mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar, menjabat erat jemari lentik Rina. "Gue ikut lo, Rin. Selama sistem data dan kode digital yang lo butuhin, gue bakal pastiin semuanya berjalan tanpa celah hukum."

Rina mempererat jabat tangannya, lalu mengalihkan pandangannya kepada Devan yang sejak tadi mengamati dalam diam dengan wajah datarnya. "Dan kamu, Devan. Kemampuan analisismu terhadap pergerakan angka modal sangat presisi. Aku butuh kamu untuk mengelola arus kas dari setiap proyeksi bisnis mandiri yang akan kita bangun di luar sekolah."

Devan menaikkan sebelah alisnya, mengembuskan napas pendek dengan seulas senyuman tipis yang langka di wajah introvertnya. "Selama analisis angkanya menantang logikaku, aku tidak punya alasan untuk menolak, Ketua Proyek."

Kemitraan segitiga itu resmi terbentuk. Dengan Andi sebagai ahli infrastruktur siber dan Devan sebagai analis finansial mikro, Rina baru saja meletakkan fondasi pertama dari imperium bisnis mandirinya di kehidupan kedua ini. Mereka bukan lagi sekadar teman sekelas; mereka adalah faksi loyal pertama Sang Ratu yang siap meretas takdir baru.

 

Setelah menyelesaikan urusan administrasi stan bersama tim kelas, Rina melangkah menuruni koridor lantai dua menuju gedung utama. Sesuai dengan janjinya kepada Kai di laboratorium kemarin, dia membawa sebuah tumbler termos khusus berisi Cloud Cotton Candy Latte buatan tangannya sendiri yang masih hangat.

Matahari sore Jakarta yang berwarna jingga kemerahan menerobos masuk dari jendela koridor yang luas, menciptakan bayangan panjang yang elegan saat Rina melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga tempat ruang baca khusus OSIS berada. Koridor sudah sepenuhnya sepi dari aktivitas siswa, menyisakan keheningan yang sarat akan ketegangan yang manis.

Rina berdiri di depan pintu kayu jati berukir megah. Dia mengingat instruksi Kai: kunci ada di bawah vas bunga meja kerja luar. Rina meraih kunci kuningan tersebut, memutarnya hingga terdengar bunyi klik tajam, lalu mendorong pintu bergeser terbuka.

Ruang baca khusus OSIS lebih menyerupai perpustakaan pribadi seorang bangsawan Eropa daripada fasilitas sekolah. Seluruh dindingnya dilapisi oleh rak buku kayu mahoni berpelitur gelap yang dipenuhi literatur universitas internasional berbahasa Inggris, lantai berlapis karpet beludru tebal berwarna merah tua, serta sebuah sofa kulit chesterfield mewah yang menghadap langsung ke arah jendela kaca besar dengan pemandangan cakrawala kota Jakarta.

Di sana, duduk di ujung sofa dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya, Kai Mahardika sedang membaca sebuah jurnal ekonomi siber berbahasa Jerman. Pemuda itu telah melepaskan ban lengan OSIS-nya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka, memancarkan aura kasual yang sangat mahal dan maskulin.

Begitu mendengar suara langkah kaki Rina, Kai menurunkan jurnalnya perlahan. Sepasang mata obsidian miliknya menatap Rina dari atas ke bawah dengan intensitas tajam yang sanggup membuat gadis biasa mendadak lupa cara bernapas.

"Kamu terlambat lima menit, Partner," ucap Kai, suaranya yang bariton rendah beresonansi dengan sangat jernih di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Menyusun laporan keuangan akhir dengan keuntungan ratusan persen membutuhkan akurasi waktu yang presisi, Ketua OSIS," jawab Rina dengan tenang. Dia melangkah mendekat tanpa ada rasa canggung sedikit pun, lalu meletakkan tumbler termos perak dan dua cangkir porselen putih di atas meja kaca di depan Kai.

Rina membuka tutup termos tersebut, menuangkan cairan kopi beraroma vanilla dan espreso yang kuat ke dalam cangkir, lalu dengan sangat anggun meletakkan gumpalan gula kapas merah muda berbentuk awan di atasnya. Gula kapas itu perlahan-lahan mencair karena uap panas kopi, menciptakan efek visual yang sangat estetik.

Kai memperhatikan setiap pergerakan jemari lentik Rina dengan pandangan mata yang tak beralih sedikit pun. Dia mengambil cangkir porselen tersebut, menyesapnya sedikit, dan membiarkan rasa manis yang kaya berpadu dengan pahitnya espreso di lidahnya.

"Luar biasa," gumam Kai, meletakkan cangkirnya kembali dengan bunyi ketukan pelan. "Rasa kopi ini... sama persis dengan caramu mengelola konflik di sekolah ini. Manis di permukaan, namun memiliki basis yang sangat kuat dan pahit bagi mereka yang mencoba menentangmu."

Kai memajukan tubuhnya, melipat kedua tangannya di atas lutut, menatap lekat-lekat mata Rina yang hitam pekat. Jarak di antara mereka di atas sofa kulit itu kini mengikis, menyisakan ketegangan psikologis yang sangat intens dan dewasa.

"Keluarga Wangsa... ayah Kevin... baru saja dinyatakan gagal bayar oleh tiga bank swasta nasional satu jam yang lalu," ucap Kai dengan nada suara yang sangat rendah, penuh subteks menyelidik. "Aset tanah mereka disita, dan dewan komisaris mereka menuntut investigasi internal karena mencium adanya kebocoran data operasional yang salah. Rina... bagaimana seorang gadis usia enam belas tahun bisa merancang jebakan finansial berskala makro seperti itu tanpa meninggalkan satu pun jejak digital?"

Rina menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa kulit, membiarkan seulas senyuman misterius yang sangat memikat terukir di bibirnya. Dia tidak menghindari tatapan tajam Kai; dia justru menguncinya dengan keberanian seorang ratu.

"Ketua OSIS yang terhormat... bukankah saya sudah mengatakannya di perpustakaan?" bisik Rina, suaranya terdengar sangat tenang namun berwibawa. "Keserakan manusia adalah algoritma yang paling mudah dibaca. Ketika Kevin datang untuk mencuri apa yang dia kira sebagai rahasia kesuksesan keluarga saya, dia tidak tahu bahwa dia sedang menandatangani surat kejatuhannya sendiri. Saya tidak merancang kehancuran mereka, Kai. Sifat serakah mereka yang mengeksekusinya."

Kai tertegun selama beberapa detik yang panjang mendengarnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, bercampur dengan pendar cahaya matahari sore yang mulai meredup di balik jendela kaca besar. Perlahan, gumpalan es di wajah tampan Kai mencair sepenuhnya, digantikan oleh kilat kekaguman yang sangat mendalam dan tulus seumur hidupnya memimpin di sekolah ini.

"Kamu benar-benar teka-teki paling berbahaya yang pernah aku temukan, Rina Azalea," desis Kai pelan, suaranya sarat akan emosi romansa slow-burn yang mulai bergolak di dadanya. Dia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh helai rambut ponytail Rina yang sedikit longgar secara halus sebelum menariknya kembali. "Aku akan sangat menikmati bagaimana kelanjutan dari setiap langkah caturmu di sekolah ini. Dan ingat satu hal... mulai hari ini, ruang baca khusus ini resmi menjadi territory kita berdua. Tidak ada orang lain yang boleh masuk tanpa izin darimu... Ratuku."

Rina menatap mata Kai yang kini memancarkan janji perlindungan dan kemitraan absolut yang sangat kuat. Di dalam hatinya, sebuah keyakinan baru tumbuh dengan sangat kokoh. Aliansinya dengan Kai baru saja dikunci dengan sebuah komitmen tersirat yang tak tertulis, membuka jalan yang jauh lebih lebar bagi Rina untuk mengambil alih kendali penuh atas Harapan Elite di babak berikutnya.

 

1
Hitomaa🇦🇷
ambisius sekali si Rina
Hitomaa🇦🇷
Kok 16 tahun? bukannya harusnya 18 tahun, soalnya dia balik ke 10 tahun yang lalu
Hitomaa🇦🇷
Jejak dulu 👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!