Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.
Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.
Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.
Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.
Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.
BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Boleh Menyerah Di Sini
Safira memejamkan matanya erat-erat, menahan air matanya agar tidak jatuh di depan pria yang sangat dicintainya itu.
Dengan tangan yang bergetar hebat, dia mengambil botol minuman yang tersisa di meja, meletakkannya di baki, lalu membungkuk hormat dengan sisa-sisa keanggunannya.
"Baik, Tuan. Terima kasih atas pengertiannya," ucap Safira lirih sebelum berbalik dan berjalan cepat meninggalkan bilik VIP tersebut dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, melarikan diri ke balik tirai hitam dalam kondisi hati yang hancur total.
Di dalam bilik, Radit dan Erlangga hanya bisa menghela napas panjang, sementara Gavin kembali mengambil gelas minumannya dengan rahang yang mengeras sempurna, bersiap untuk memulai permainan kucing dan tikus yang sesungguhnya mulai besok pagi di gedung pusatnya.
Langkah kaki Safira Angela terasa begitu goyah saat dia menyusuri koridor remang-remang di balik tirai hitam area VIP. Baki perak di dalam cengkeramannya bergetar hebat, membuat beberapa lembar uang ratusan ribu pemberian Gavin yang berceceran di atasnya ikut bergoyang.
Dadanya terasa begitu sesak, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam kelab malam itu telah menguap habis, meninggalkannya dalam kondisi tercekik rasa sakit yang teramat sangat.
Begitu dia berhasil melewati pintu pembatas dan tiba di area bar utama yang riuh, Safira segera meletakkan baki perak tersebut di atas konter dengan sentakan yang sedikit tidak teratur.
Beberapa pramusaji lain menatapnya dengan bingung, namun Safira tidak memedulikan pandangan mereka. Dengan satu tangan yang mendekap dadanya sendiri, dia berjalan setengah berlari menuju toilet khusus karyawan wanita yang terletak di sudut paling belakang lorong loker.
Cklek.
Dor.
Safira menutup pintu kayu tebal toilet itu dengan tergesa-gesa, lalu memutar anak kuncinya dua kali hingga terdengar bunyi klik yang mengunci gerak dunia luar.
Begitu tubuhnya bersandar pada daun pintu yang dingin, pertahanannya yang selama beberapa menit tadi ia pertahankan dengan sisa-sisa harga diri di depan Gavin, runtuh total tanpa ada yang tersisa.
Kedua lututnya mendadak lemas bagai kehilangan tulang penyangga. Tubuh rampingnya merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai ubin yang dingin. Safira menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk, dan detik berikutnya, suara tangis yang semula tertahan di tenggorokan meledak menjadi isakan yang teramat memilukan di dalam kesunyian ruangan kecil itu.
"Hiks... Gavin..." sebaris nama itu terucap di sela-sela tangisnya yang tersengal-sengal.
Dada Safira naik-turun dengan ritme yang kacau. Air matanya mengalir deras, membasahi kain katun pelayan hitam yang dikenakannya.
Rasa sakit yang ia rasakan malam ini bukan hanya karena hinaan dan makian kejam yang dilontarkan oleh mantan suaminya, melainkan karena kenyataan pahit melihat bagaimana pria yang begitu ia puja dan cintai telah berubah menjadi sosok monster yang begitu dingin, penuh kebencian, dan tega merendahkannya hingga ke titik paling dasar.
'Dulu... kamu tidak pernah membiarkan sebutir debu pun menyentuh kulitku, Gavin.' batin Safira menjerit di tengah tangisnya yang semakin menghebat.
'Dulu, tangan besar itu selalu memelukku dengan kehangatan yang luar biasa setiap kali aku merasa cemas. Tapi malam ini... tangan yang sama justru melemparkan uang ke arahku seolah-olah aku adalah wanita murahan yang bisa dibeli dengan materi.'
Safira meremas dadanya sendiri yang terasa teramat nyeri, seolah ada sebilah belati kasat mata yang sedang menghujam jantungnya berulang-ulang tanpa ampun.
Kata-kata Gavin di dalam bilik VIP tadi terus terngiang-ngiang di telinganya bak kaset rusak yang menyiksa jiwanya.
"Di mana harga dirimu yang dulu begitu tinggi?"
Gavin tidak pernah tahu, dan mungkin tidak akan pernah diizinkan untuk tahu, bahwa harga diri yang dia pertanyakan itu telah Safira gadaikan sejak tiga tahun lalu justru demi menyelamatkan nama baik keluarga Abraham sendiri.
Safira memilih untuk menelan semua caci maki ini, membiarkan dirinya dianggap sebagai wanita pengkhianat yang materialistis, asalkan Gavin tidak terseret ke dalam kehancuran ekonomi dan skandal kriminal yang dilakukan oleh keluarga kandung Safira.
Lebih dari lima belas menit Safira habiskan hanya untuk menangis di atas lantai ubin toilet yang sepi. Suara dentuman musik house dari luar hanya terdengar sebagai getaran rendah yang samar, kontras dengan badai emosi yang sedang meluluhlantakkan isi dada wanita itu.
Setelah merasa tidak ada lagi air mata yang bisa keluar, dan tenggorokannya sudah terasa teramat perih karena menahan suara tangis agar tidak terdengar ke luar, Safira perlahan mengangkat kepalanya. Dia bertumpu pada wastafel porselen putih di dekatnya untuk menegakkan tubuhnya yang terasa teramat lelah dan lemas.
Safira menyalakan kran air, membiarkan air dingin mengalir membasahi telapak tangannya, lalu membasuh wajahnya berulang kali. Dia menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin besar di atas wastafel. Wajah anggunnya tampak begitu kuyu dimana sepasang matanya yang jernih kini berubah menjadi sembab, merah, dan bengkak. Riasan tipis yang ia kenakan tadi sore sudah luntur tak berbekas, menyisakan gurat pucat pasi yang memperlihatkan kerapuhan jiwanya yang mendalam.
"Kamu tidak boleh menyerah di sini, Safira." bisiknya pada bayangan di cermin dengan suara yang serak dan parau.
Dia mengambil selembar tisu, mengeringkan wajahnya dengan gerakan yang teratur dan lembut, mencoba mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kekuatannya yang sempat berserakan.
"Ancaman Gavin tadi... dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika aku nekat kembali bekerja di kelab ini besok malam, dia beneran akan menghancurkan nasib Pak Bambang, Bu Lastri, dan semua rekan di kantor cabang."
Safira tahu betul watak Gavin. Pria itu adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis yang memiliki kekuasaan dan jaringan yang tak terbatas. Menghancurkan sebuah perusahaan distributor kecil atau menutup seluruh akses lapangan kerja untuk seorang staf administrasi miskin seperti dirinya adalah hal yang teramat mudah bagi seorang CEO utama Abraham Group.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dipaksakan, Safira membuka kunci pintu toilet dan melangkah keluar menuju ruang loker karyawan. Jam dinding digital di koridor belakang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam yaitu waktu di mana sif kerjanya memang sudah resmi berakhir.
Dia membuka pintu loker plastiknya, melepas seragam gaun hitam pelayan dan celemek putihnya dengan gerakan yang lambat karena sekujur tubuhnya terasa pegal dan linu.
Safira kembali mengenakan kemeja kerja putih lamanya dan rok span hitam yang sudah kusut sejak pagi tadi. Dia mengikat rambut panjangnya kembali dengan jepitan hitam sederhana, menyembunyikan sisa-sisa penampilan malamnya.
Uang tip ratusan ribu pemberian Gavin yang tadi ditaruh di atas konter bar telah diamankan oleh Mbak Mega dan diserahkan kepadanya dalam sebuah amplop kecil. Safira menatap amplop itu dengan pandangan perih, namun dia tetap memasukkannya ke dalam tas kain jinjingnya. Betapa pun uang itu merendahkan harga dirinya, dia tetap membutuhkannya untuk menambah draf tabungan cicilan utang bulan ini.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kasian ny safira😭😭😭😭