"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Hasrat yang Ternoda dan Janji yang Menggantung
Malam kembali menyelimuti kediaman Adiwangsa, namun kegelapan di luar tak sebanding dengan pekatnya kekacauan yang merajai benak Adrian. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa frustrasi yang membakar dadanya. Langkah kakinya berat, sarat akan beban yang nyaris tak sanggup ia pikul sendiri.
Hari ini adalah puncak dari segala kesialan Adrian. Di kantor, hasrat biologisnya yang menggebu-gebu diputus paksa di tengah jalan oleh ketukan pintu sang asisten. Tubuhnya masih menanggung rasa sakit yang tidak tuntas, menyisakan ketegangan fisik yang membuatnya luar biasa sensitif dan lekas marah. Belum lagi hantaman badai dari luar: Wirata Group, investor raksasa yang menjadi tumpuan proyek terbarunya, mendadak menarik diri tanpa kompromi. Kehilangan modal dalam skala sebesar itu sama saja dengan menaruh satu kaki PT Adiwangsa Logistik di jurang kebangkrutan.
Nyonya Widya Adiwangsa yang sejak tadi duduk gelisah di ruang tengah langsung berdiri saat melihat putranya pulang dengan gontai. Wajah tua itu memancarkan kecemasan yang mendalam setelah mendengar desas-desus tentang masalah finansial di kantor.
"Adrian! Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa yang terjadi di kantor? Ibu dengar dari orang keuangan kalau ada masalah dengan investasi kita?" tanya Widya, suaranya melengking penuh tuntutan egois.
Adrian menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa marmer, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Investor dari Wirata Group menarik seluruh dana mereka secara sepihak, Bu. Proyek kita terancam macet total."
"Apa?! Bagaimana bisa?!" Widya terpekik, tangannya menangkup mulut dengan tak percaya. "Siapa yang berani berbuat sekurang-ajar itu pada keluarga kita?!"
"Siapa lagi kalau bukan Paman Aldo, Bu," desis Adrian, suaranya penuh dengan racun kebencian. "Adrian juga tidak tahu pasti bagaimana caranya, tapi Wirata Group itu ternyata kolega senyap di bawah naungan Purnama Group. Paman Aldo pasti telah menggunakan pengaruhnya untuk berbuat curang di belakang kita. Dia sengaja ingin mencekik leherku lewat jalur bisnis!"
Widya mengepalkan tangannya, wajahnya memerah padam menahan dongkol. Namun, di balik keserakannya, wanita tua itu memiliki otak yang praktis jika menyangkut uang. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Adrian, lalu berbisik tajam.
"Adrian, kalau begitu situasinya, kita tidak boleh tinggal diam! Bukankah si dekil Aruna ada di atas? Gila apa paman kandungnya mau menghancurkan kita? Kamu datangi Aruna sekarang! Suruh dia menelpon dan membujuk pamannya itu agar mengembalikan investasi Wirata Group ke perusahaan kita! Bagaimanapun, Aruna masih menyandang status sebagai menantu di rumah ini, dia harus bertanggung jawab!"
Usul ibunya seolah menyalakan sepercik api di dalam kegelapan pikiran Adrian. Benar. Aruna adalah keponakan kandung Aldo. Selama ini, Aruna selalu menurut bagai anjing yang setia. Jika Aruna yang memohon, mungkin pria tua kolot di Purnama Group itu akan melunakkan hatinya.
Lebih dari sekadar urusan bisnis, pikiran Adrian yang kotor mendadak mengingat ketegangan biologisnya yang belum tuntas sejak siang tadi. Bayangan kehangatan tubuh wanita kembali membakar otaknya. Di bawah cengkeraman rasa frustrasi yang berlapis, Adrian berdiri dan melangkah menuju lantai dua. Ia membutuhkan pelepasan, dan malam ini, ia akan menuntutnya dari istri sahnya.
Cklek.
Adrian membuka pintu kamar utama dengan perlahan. Di dalam ruangan yang temaram oleh lampu tidur, Aruna sedang berdiri di dekat meja rias, menyisir rambut hitamnya yang panjang bergelombang.
Adrian tertegun di ambang pintu. Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang tidak biasa. Malam ini, Aruna tampak begitu cantik. Bukan kecantikan yang glamor dan penuh riasan tebal seperti Valerie, melainkan sebuah kecantikan yang murni, anggun, dan memancarkan aura dingin yang misterius. Gaun tidur satin putih yang dikenakannya melekat pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet feminin yang selama ini selalu Adrian abaikan dan cap sebagai "dekil". Ada perubahan drastis pada tatapan mata dan pembawaan Aruna yang membuatnya tampak begitu berbeda dari sebelumnya—begitu menggairahkan di mata Adrian yang sedang haus.
Adrian menelan ludah dengan berat. Gairah kelaki-lakiannya yang sempat terputus di kantor kini kembali bangkit, mengeras dengan cepat di balik celananya. Dengan langkah yang sengaja dilembutkan, Adrian berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Ia berdiri di belakang Aruna, menatap pantulan wajah istrinya di cermin. Adrian menurunkan kepalanya, mencoba merayu Aruna dengan membisikkan kata-kata gairah yang biasanya selalu berhasil membuat Aruna gemetar pasrah di masa lalu.
"Aruna... malam ini kamu indah sekali," bisik Adrian, suaranya parau oleh hasrat yang tertahan. Tangannya perlahan merayap naik, mencoba menyentuh pundak mulus Aruna, sementara wajahnya bergerak maju, berniat melumat bibir tipis istrinya yang tampak begitu mengundang.
Aruna mengikuti permainan itu selama beberapa detik. Ia membiarkan napas hangat Adrian menerpa kulit lehernya, namun tepat sebelum bibir Adrian menyentuh miliknya, Aruna dengan gerakan yang sangat halus namun tegas memiringkan kepalanya, mengelak dari ciuman tersebut.
Aruna berbalik, menatap Adrian dengan sepasang mata jernih yang sedingin es.
"Ingat, Mas. Dua hari ke depan kita sudah tidak akan bersama lagi di rumah ini. Sidang putusan kita tinggal menghitung jam," ucap Aruna, suaranya terdengar begitu melankolis namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku tidak mau kamu melakukan ini sekarang. Aku tidak ingin kamu menjadi berat dan menyesal saat melepaskanku nanti."
Mendengar penolakan itu, ada sebersit rasa sesal yang mendalam mencubit sudut hati Adrian. Menatap Aruna yang berdiri begitu dekat dengannya saat ini, ada rasa tidak rela yang mendadak muncul jika harus melepaskan wanita ini. Aruna yang sekarang begitu menantang, begitu menggairahkan justru ketika dia mulai menjauh dari jangkauannya.
Adrian tidak menyerah. Ego lelakinya terluka, ditambah kebutuhan biologisnya yang mendesak menjadikannya semakin agresif. Ia mencoba merayu lagi, meraih pergelangan tangan Aruna. "Aruna, please... kita masih suami istri yang sah secara hukum malam ini. Apa salahnya jika kita menikmati momen terakhir?"
Aruna menarik tangannya kembali dengan perlahan, lalu menatap Adrian lurus-lurus ke dalam manik matanya. Sebuah senyuman manipulatif yang teramat dingin terukir di wajah cantiknya.
"Maaf, Mas... bukan aku tidak mau melayanimu," tutur Aruna, nadanya teramat tenang namun setiap katanya membawa racun yang mematikan. "Tapi... aku merasa sangat jijik jika barang bekas orang lain harus aku pakai lagi di tubuhku sendiri."
Deg!
Kata-kata Aruna menghantam dada Adrian bagai gada besi yang luar biasa berat. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama satu detik. Hati Adrian merasa terpukul dan terguncang hebat oleh sindiran telak yang keluar dari mulut istrinya.
Jijik... bekas orang lain? Apa maksudnya? batin Adrian, kepanikan dan ketakutan langsung merayap cepat menguasai otaknya.
Pikirannya langsung melayang pada kejadian beberapa jam lalu di kantor, saat dia berpacu liar di atas meja kerja bersama Valerie. Aruna tahu dari mana kejadian aku dan Valerie di kantor tadi siang?! Apa jangan-jangan... perempuan ini benar-benar telah memasang alat perekam dan kamera pengintai tidak hanya di rumah, tapi juga di ruang kerja pribadi kantor?! Selama ini aku benar-benar telah meremehkan kecerdasannya! keringat dingin mulai membanjiri punggung Adrian akibat paranoia yang kian memuncak.
Mencoba menyembunyikan kegugupan dan ketakutannya yang tertangkap basah, Adrian menarik napas panjang, berusaha mengendalikan nada suaranya agar tetap terdengar tenang dan meyakinkan.
"Aruna... jangan bicara yang aneh-aneh. Kita kan sudah sepakat akan bercerai secara baik-baik," ujar Adrian, mencoba mengubah taktik penyerangan mentalnya. "Aku... aku hanya ingin mendapatkan pelukan hangat yang terakhir darimu sebelum kita resmi berpisah. Apa itu juga tidak boleh?"
Aruna memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela kamar yang gelap dengan pandangan melankolis. "Maaf, Mas... itu hanya akan membuat langkah kakiku terasa semakin berat untuk berjalan ke depan. Aku tidak ingin menyisakan satu pun kenangan manis darimu di dalam ingatan ini... kecuali rasa pahit dan sakit yang selama ini kamu berikan. Hanya dengan begitu, aku bisa melepaskan diriku sepenuhnya dari bayang-bayangmu."
Adrian menatap punggung Aruna, ada rasa bersalah yang mendadak menyeruak di antara egonya. "Kamu... kamu sudah benar-benar tidak mencintai aku lagi, Aruna?"
Aruna membalikkan tubuhnya kembali, menatap Adrian dengan tatapan yang menembus langsung ke relung jiwanya. "Pertanyaan itu... seharusnya kamu tanyakan saja pada hatimu sendiri, Mas."
"Maksudmu?" Adrian mengernyitkan dahi, bingung.
"Apakah kamu... masih mencintaiku?" tanya Aruna balik, nadanya lirih namun terasa begitu menjerat dilema di hati Adrian.
Adrian terdiam sejenak. Menatap Aruna yang sekarang, ada bagian dari dirinya yang berteriak egois tidak ingin kehilangan wanita ini. "Aku... aku masih mencintaimu, Aruna," jawab Adrian bohong, sebuah kebohongan yang ia gunakan demi melunakkan hati istrinya untuk tujuan bisnisnya.
Aruna tertawa kecil, sebuah tawa kelam yang terdengar sangat menyedihkan. "Simpan saja ya, Mas, kata-kata cinta palsumu itu untuk Valerie. Dia lebih membutuhkannya daripada aku."
"Aku sama Valerie hanya ingin punya anak saja, Aruna! Aku hanya ingin memiliki anak yang menjadi darah dagingku sendiri, penerus nama Adiwangsa! Kamu tahu sendiri kan bagaimana tekanan Ibu selama ini?" bela Adrian, mencoba rasionalisasi atas perselingkuhannya yang menjijikkan.
"Yakin, Mas...?" tanya Aruna, nadanya mendadak berubah misterius, matanya berkilat penuh rahasia intrik yang mengerikan.
"Ya, tentu saja aku yakin!" jawab Adrian dengan nada angkuh yang kembali muncul.
"Maksudmu... kamu sangat yakin bahwa kamu akan mendapatkan anak darah dagingmu sendiri dari rahim Valerie?" susul Aruna lagi, memancing reaksi Adrian dengan draf manipulasi verbal yang rapi.
"Aku yakin! Karena Valerie adalah wanita yang sehat, dia tidak mandul seperti kamu, Aruna!" bentak Adrian, mulai kehilangan kesabaran karena egonya terus digoyang.
Aruna sama sekali tidak marah mendengar hinaan "mandul" yang kembali dilontarkan suaminya. Sebaliknya, ia justru tersenyum manis, sebuah senyuman yang menyimpan bom waktu medis yang siap meledakkan seluruh hidup Adrian. "Oh... kalau begitu pihakmu sangat beruntung, Mas. Aku benar-benar ingin lihat... bagaimana akhir dari keyakinanmu itu nanti."
"Maksudmu apa, Aruna?! Apa yang kamu ketahui?!" tuntut Adrian, merasa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan darinya.
"Sudahlah... tidak ada gunanya dibahas sekarang. Lanjutkan saja seluruh keinginan dan rencana besarmu itu bersama Valerie, Mas," potong Aruna, menyudahi topik tersebut dengan dingin.
Adrian menggeram pelan, menyadari bahwa dia kembali gagal menundukkan Aruna secara mental. Namun, mengingat pesan ibunya di bawah dan kondisi kritis perusahaannya saat ini, Adrian terpaksa menurunkan urat lehernya. Ia memasang raut wajah yang tampak terdesak dan penuh permohonan dilematis.
"Aruna... boleh aku minta tolong kepadamu untuk terakhir kalinya?"
Aruna menatapnya datar. "Apa, Mas?"
"Tolong... beritahu pada Paman Aldo agar jangan mengusik perusahaanku lagi. Tolong suruh dia mengembalikan investasi dan kontrak dari Wirata Group kepadaku sekarang juga. Perusahaanku bisa hancur jika dia terus menekan dari luar, Aruna," mohon Adrian, harga dirinya runtuh di depan istri yang selalu ia sepelekan.
Aruna menatap Adrian dengan pandangan heran yang dibuat-buat. "Kenapa tidak kamu sendiri saja yang datang dan berbicara langsung dengan Paman Aldo, Mas? Bukankah kamu menganggap dirimu pengusaha yang hebat?"
"Kamu kan keponakan kandungnya, Aruna! Dia pasti akan mendengarkan suaramu!" cetus Adrian frustrasi.
Aruna menghela napas panjang, sebuah helaan napas melankolis yang membawa ingatan mereka kembali pada masa lalu lima tahun yang lalu.
"Mas... bukankah kamu tahu sendiri bagaimana sejarahnya? Sejak kamu memutuskan untuk memisahkan Adiwangsa Logistik dari jaringan utama Purnama Group beberapa tahun lalu karena kesombonganmu, Paman Aldo sudah berulang kali memberikan peringatan keras kepada kita. Beliau memperingatkan untuk jangan pernah berani menghubunginya lagi jika kita tertimpa masalah."
Aruna melangkah selangkah lebih dekat, menatap Adrian dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memainkan emosi melankolis demi mengunci rasa bersalah suaminya. "Mungkin... di mata Paman Aldo saat ini, aku juga sudah dibuang dari silsilah keluarga besar Purnama Group karena kebodohanku di masa lalu."
"Benarkah begitu...?" Adrian tertegun, suaranya mengecil.
"Jika Paman Aldo masih menyayangiku dan menganggapku sebagai keponakannya, dia tidak akan mungkin membiarkan aku hidup tersiksa, dihina, dan diperlakukan seperti pelayan di rumah ini oleh ibumu selama bertahun-tahun ini, Mas! Dan aku... aku cukup tahu diri untuk tidak mengemis lagi kepadanya," ucap Aruna, suaranya bergetar hebat penuh kepedihan yang dramatis.
"Kamu tahu tidak, Mas...? Dulu, aku rela memutuskan hubungan dengan keluarga besarku, rela melepas seluruh kenyamanan dan fasilitas dari Purnama Group demi bisa hidup bersamamu, demi mendukung kariermu karena cintaku yang begitu buta kepadamu! Tapi kamu... apa yang kamu berikan kepadaku sebagai balasannya?!"
Mendengar jeritan hati Aruna, Adrian bungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Aruna adalah kebenaran sejarah yang tidak bisa ia bantah.
Dulu, sesaat sebelum pernikahan mereka, Paman Aldo secara pribadi telah mendatangi Aruna dan memberikan peringatan keras: bahwa Adrian adalah pria ambisius yang hanya mengincar aset cabang Adiwangsa, dan Aldo melarang Aruna untuk mengizinkan Adrian menguasai semuanya. Namun, karena cintanya yang teramat besar pada Adrian saat itu, Aruna memilih memberontak. Ia rela melepaskan hak waris besarnya di Purnama Group demi menikah dengan Adrian. Dan benar saja, begitu pernikahan terlaksana dan ayah Aruna tiada, Adrian dengan licik mengakuisisi seluruh kepemilikan aset Adiwangsa secara sepihak, sementara seluruh jasa dan pengorbanan suci Aruna dianggap hilang begitu saja, menguap tertutup oleh ego kesombongan keluarga Adiwangsa.
"Berarti... berarti Paman Aldo saat ini... juga menginginkan kehancuranmu?" gumam Adrian, wajahnya pucat pasi menyadari kenyataan yang mengerikan ini.
"Mungkin saja," jawab Aruna pendek, kembali ke ekspresi dinginnya yang misterius. "Dia mungkin ingin melihat seberapa jauh pria hebat pilihan pilihan hidupku ini bisa bertahan tanpa bantuan senyap dariku lagi."
Adrian semakin frustrasi. Kepalanya terasa mau pecah. Ia sama sekali tidak memperhitungkan draf konsekuensi ini sebelumnya. Dia mengira Aruna masih memiliki nilai jual di depan Purnama Group, namun jika Aruna ternyata sudah dibuang, maka tameng bisnisnya telah hancur total. Adiwangsa Logistik kini benar-benar berdiri sendirian di tengah kepungan serigala-serigala korporasi.
Di tengah keputusasaan dan paranoia yang menjerat otaknya yang buntu, Adrian menatap sekeliling kamar utama dengan liar. Ingatannya mendadak berputar cepat, melompati waktu, mencari sisa-sisa berkas atau senjata rahasia yang sempat ia simpan di masa lalu untuk menyelamatkan dirinya.
Tiba-tiba, mata Adrian membelalak lebar. Sebuah kilatan memori lama mendadak melintas di kepalanya seperti sengatan listrik.
"Oh, iya... aku baru ingat..." gumam Adrian setengah berteriak, suaranya tercekat di tenggorokan dengan mata yang menatap lurus pada dinding lemari rahasia di sudut kamar.
Aruna menghentikan gerakannya, menatap Adrian dengan kening berkerut dalam, merasakan ada sepotong teka-teki lama yang mendadak bangkit dari kegelapan masa lalu pria itu.