----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. KOMA
Seluruh tubuh Fadli bergetar hebat, wajahnya begitu syok, saat mendengar bahwa Nayra sedang hamil dan kehilangan bayi yang sedang dikandungnya.
"Bagaimana mungkin Dok ... Istri saya tidak mungkin hamil?" suara Fadli saat itu penuh dengan ketidak percayaan.
Matanya terbelalak saat itu. "Bagaimana mungkin Nayra hamil? Aku hanya semalam berhubungan dengan Nayra! Mana mungkin Nayra bisa hamil hanya dengan sekali berhubungan dengan ku ..." Itu yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Maaf pak! Tapi istri bapak memang hamil, kami minta maaf sekali lagi, saya tidak bisa menyelamatkan bayi di dalam kandungan istri bapak ... Saya permisi pak!" ucap sang dokter, ia kemudian pergi meninggalkan Fadli di depan ruangan.
Fadli terkekeh, saat melihat istrinya terbaring koma di dalam ranjang rumah sakit.
krek ...
Fadli membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, ia berjalan mendekati Nayra dengan tatapan mata yang berkaca-kaca dan penuh penyesalan.
"Nayra ... Apa kamu mengandung anakku? Maafkan aku Nayra! Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Matanya berkaca-kaca, suaranya serak, dengan rasa sesal yang amat dalam.
"Nayra! Aku minta maaf ..." tangisannya pecah saat itu, ia menggenggam tangan Nayra sambil menangis, tangannya terus menggenggam erat tangan Nayra.
"Maafkan aku Nayra ... Hiks ... Hiks ... Hiks ... Aku minta maaf."
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di rumah kediaman keluarga besar Atmadja ...
"Mah! Apa kita pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nayra ..." ucap sang ayah.
"Untuk apa Pah! Lagi pula dia bukan anak kandung kita ... Sejak kehadirannya di rumah ini, aku sama sekali tidak menginginkan dia, kalau bukan permintaan ayah, aku tidak mau mengadopsi Nayra!" ucap sang Monica kepada suaminya.
"Biarin aja sih Pah! Lagi pula aku sudah tidak membutuhkan dia lagi." sahut Aqila yang mendengar perkataan ke-dua orang tuanya.
"Tapi Mah! Aqila! Bagaimana nanti kata orang-orang jika kita tidak menjenguk Nayra? Lalu bagaimana dengan keluarga suaminya? Apa yang nantinya mereka pikirkan tentang kita." ucap Dharma kepada istri dan anaknya.
Aqila merasa kesal dengan ayahnya yang terlalu memikirkan pendapat orang lain. Ia kemudian berkata. "Pah! Jika Papah ingin pergi, pergi saja sendiri, aku dan Mamah tidak mau." suaranya sangat ketus saat berbicara kepada ayahnya.
Tak ... Tak ... Tak ...
Aqila pergi dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan ke-dua orang tuanya, dengan perasaan kesal.
BRAK ...
Aqila menutup pintu dengan sangat kencang, bantingan pintu terdengar jelas di telinga ke-dua orang tuanya.
"Pah! Papah dengar sendiri ... Aku juga tidak mau pergi." ucap Monica kepada suaminya.
"Mah! Bagaimana nanti dengan reputasi papah? Apa nanti kata orang-orang jika mendengar kabar bahwa kita sebagai keluarga nya tidak datang untuk melihat anaknya sendiri?"
"Terserah Papah, mau ngapain! Aku capek sekarang ... Jika Papah ini pergi, pergi saja! Mamah ingin istirahat."
Monica pergi dan masuk ke dalam kamar. Mendengar perkataan istri dan anaknya, Dharma tidak jadi untuk pergi ke rumah sakit malam itu.
Ia akhirnya memutuskan untuk pergi besok. Setelah semua pekerjaannya selesai di kantor.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Malam itu suami Nayra mendampinginya di samping Nayra hingga pagi hari.
Saat ia membuka matanya, Nayra masih tidak sadarkan diri. Raut wajah penuh penyesalan masih terpampang jelas, saat melihat kondisi Nayra.
"Nayra ... Sekarang sudah pagi, cepat sadar Nayra."
Tangannya mengelus-elus rambut istrinya, berharap agar Nayra segera sadar.
Hari itu Fadli izin tidak masuk, ia ingin menjaga Nayra di rumah sakit.
"Aku menyesal Nayra! Jadi kamu harus bertahan ... Andai saja aku tahu kamu sedang hamil anakku, aku akan bersikap baik kepada mu ... Aku janji Nayra, setelah kamu sadar aku akan menebus semua kesalahan ku ... Aku janji."
Matanya masih berkaca-kaca, semalam Fadli merenungi semua perbuatannya terhadap Nayra.
Pagi itu demi menjaga nama baik dan citra perusahaan, yang ia bangun selama bertahun-tahun, Dharma Atmadja menjenguk Nayra.
Krek ...
Fadli melihat ayah mertuanya datang ke rumah sakit saat itu.
"Pah!"
"Fadli ... Bagaimana dengan keadaan Nayra? Maaf Papah baru datang kesini." ucap ayah mertuanya.
Dharma Atmadja berpura-pura peduli dengan kondisi Nayra.
"Pah! Nayra masih koma pah! Syukurlah Papah datang kesini."
Saat itu Dharma melihat hanya ada menantunya sendiri, ia tidak melihat seluruh keluarganya.
"Fadli, kamu sendirian di sini? Dimana keluargamu? Dimana ayah dan ibu mu?" tanya Dharma kepada menantunya.
"Pah! Ayah dan ibukku baru saja pergi ..." ucap Fadli, berbohong kepada ayah mertuanya.
Ia tidak ingin ayah mertuanya tahu bahwa keluarganya tidak ada yang datang melihat kondisi istrinya.
"Oh! Papah hanya mampir sebentar, tolong kamu jaga Nayra! Papah harus segera kekantor sekarang, ada meting penting pagi ini ... Tolong jaga Nayra ya."
"Iya pah ..." jawab Fadli.
"Kalau begitu Papah pergi ..."
Setelah itu Ayah mertuanya pergi.
Fadli kembali duduk di samping istrinya. Ia terus menunggu Nayra sadar. Hingga malam hari tiba.
Malam itu ia merasa lapar lalu keluar untuk membeli makanan.
"Nayra! Aku pergi sebentar ... Aku hanya ingin membeli makanan, tidak akan lama." ucap Fadli berpamitan kepada istrinya.
Tak ... Tak ... Tak ...
Krek ...
Padli berjalan keluar untuk membeli makanan.
Di tengah malam yang sepi, tepat setelah Fadli pergi untuk membeli makanan. Jari tangan Nayra sedikit bergerak.
Krek ...
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Seseorang masuk ke dalam kamar tempat Nayra di rawat, tepat setelah Fadli keluar dari dalam sana.
Orang itu adalah Monica, ibu angkat Nayra.
"Nayra ... Kenapa kamu masih hidup? Aku berharap agar kamu mati karena kecelakaan ini. Tapi kenapa kamu masih hidup?"
Monica menatap tajam Nayra yang sedang terbaring koma di ranjang rumah sakit.
"Andai saja kamu tidak masuk kedalam keluarga ku, kamu tidak perlu menderita Nayra! Sayang sekali kakek tua itu tahu siapa dirimu ..." Monica mendekatkan wajahnya di telinga Nayra.
"Dengar Nayra! Kamu adalah anak kandung suamiku ... Sayang sekali, malam ini kamu akan mati ditangan ku ... Hahaha ..."
Bisikan tajam dan tawa jahat terdengar jelas di telinga Nayra.
"Mati kamu Nayra!!!"
Monica melepas selang oksigen dari hidung Nayra, seketika Nayra kesulitan untuk bernafas.
"HA-HA-HA ..." tawa jahat dan penuh kesenangan, saat melihat Nayra yang sekarat di depan matanya.
"Aku sudah cukup menyiksa hidupmu! Sudah waktunya untuk kamu pergi selamanya dari hidupku ... Sampaikan salam ku kepada ibumu di akhirat sana ... HA-HA-HA!!!"
Detak jantung Nayra semakin lemah ... Tubuhnya tidak lagi mendapatkan oksigen dan membuat Nayra semakin mendekati ajalnya.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Krek !!!
Monica keluar dari ruangan, meninggalkan Nayra yang sedang kritis. Wajahnya penuh dengan kemenangan, setelah kematian Nayra tidak akan ada lagi orang yang akan menjadi penghalang bagi dirinya untuk menguasai semua kekayaan keluarga Atmadja.
Titttt ... Titttt ... Titttt ...
Monitor di samping Nayra berbunyi keras, saat itu layar monitor memperlihatkan detak jantung Nayra yang semakin melemah.
Titttt ...
Titttt ...
Titttt ...
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi