Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Tidak ada yang salah pada Lingerie itu
Emma berdiri sempurna dalam balutan lingerie transparan yang memperlihatkan pakaian dalamnya, menonjolkan siluet lekuk tubuhnya yang mempesona.
Ava dan Sioux bertindak melayani Emma, mereka sibuk membetulkan letak tali lingerie Emma serta menyisir rambutnya.
"Apa ini tidak terlalu menonjol ?" tanya Emma yang risih saat ia harus mengenakan lingerie itu.
"Biar busana yang anda kenakan nanti, pas di badan anda, Nona Emma." sahut Ava.
"Ini pakaian dalam kelas ter sempurna yang dipilihkan dari desainer terluka di kota ini." sambung Sioux.
Ava dan Sioux sibuk menyemprotkan parfum ke tubuh Emma.
"Ser... Ser... Ser..."
"Tapi..." ucap Emma sembari melihat ke arah tubuhnya yang terlihat sangat seksi dalam balutan lingerie berwarna gading.
"Kami akan mempersiapkan anda untuk berbusana. Sebentar lagi Madame Claire datang ke kamar ini." kata Ava.
"Sekarang ?" tanya Emma tertegun.
Ava mengangguk pelan lalu menjawab.
"Benar, Madame Claire akan tiba beberapa menit lagi kemari."
"Kudengar sewaktu makan malam bersama Noah kalau Madame Claire akan terlebih dahulu dihubungi oleh Alfred. Karena koleksi terbaru Dior belum keluar secara publikasi." kata Emma.
"Sepertinya kepala pelayan Alfred telah menghubungi Madame Claire." kata Ava.
"Kapan ?" tanya Emma seraya menoleh. "Setahuku Alfred baru bilang tadi malam rencana untuk menghubungi langsung Madame Claire."
Emma menatap Ava serius lalu melanjutkan ucapannya.
"Pagi-pagi sekali, Alfred mendatangi Madame Claire. Bukankah butik masih tutup dan belum beroperasi pada pagi buta."
"Kami tidak tahu tepatnya, tapi Madame Claire telah memberikan kabar akan kedatangannya lewat Alfred pagi-pagi sekali." sahut Ava saat dia menyapukan bubuk bedak ke wajah Emma.
"Alfred kerja terlalu keras. Dia sebaiknya mengambil waktu cuti sejenak untuk berekreasi." seloroh Emma.
"Jika Alfred cuti maka tanggung jawab di kediaman Anggrek Residen siapa yang akan menanggung nya, selama ini Alfred memegang kunci lancarnya aktivitas di rumah ini." kata Ava.
"Tapi Alfred terlalu banyak bekerja keras. Bagaimana dia bisa kerja di saat orang masih tertidur lelap pada pagi buta." sambung Emma prihatin.
"Sudah tugas Alfred sebagai kepala pelayan di sini. Anda tidak usah terlalu keras memikirkannya. Dia digaji sesuai pekerjaannya." kata Ava.
"Tetap aku merasa kasihan terhadap Alfred meskipun gaji dia besar tapi kurasa perlu juga mempertimbangkan usianya." ucap Emma.
"Di rumah ini Alfred berkuasa. Ibaratnya perintah dia sepadan perintah majikan." kata Sioux ikut nimbrung.
"Yah, kau benar." ucap Emma seraya melirik Sioux lalu tersenyum tipis.
Emma menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Apa aku bisa memakai busana ku sekarang ?" tanya Emma.
"Belum bisa. Karena Madame Claire akan mengukur badan anda untuk menge-pas busana yang ia bawa nanti." kata Ava.
"Tapi... Aku tidak biasa berpenampilan seperti ini... Bisakah aku berpakaian lain." kata Emma canggung.
"Maafkan kami, tapi ini permintaan dari Madame Claire. Jadi kami tidak bisa mengizinkan anda, Nona Emma." kata Ava.
"Madame Claire terkenal sulit. Dia termasuk penata busana yang memiliki ketentuan khusus untuk busananya. Dia tidak suka permintaannya tidak diperhatikan." sambung Sioux.
"Lebih baik kita cari amannya saja. Jika tidak maka mood dia akan berubah kacau. Ujung-ujungnya Madame Claire menolak melayani permintaan pesanan dari Anggrek Residen ini." tegas Ava.
"Dan Tuan Noah akan murka pada kami semua. Bisa juga beliau akan memberhentikan kami semua." kata Sioux sambil tersenyum simpul.
"Oh, yah ?!" ucap Emma terkejut dengan kedua mata terbelalak lebar, sedangkan bibirnya membentuk huruf O besar.
Ava dan Sioux mengangguk bersamaan, sorot mata mereka terlihat serius.
"BRAK..." Pintu kamar terdorong keras sehingga menyentakkan Emma, Ava dan Sioux di kamar itu. Mereka bertiga berpaling ke arah pintu.
Tampak Noah Jones berjalan masuk ke kamar Emma seraya menyaku tangan, dengan tatapan dingin seperti es.
"Tap.. Tap... Tap..."
Ava dan Sioux memberi hormat pada Noah Jones sembari menyingkir dari sisi Emma. Mereka berlalu pergi ketika Noah Jones sampai di hadapan Emma.
"Tu-tunggu... Jangan pergi dulu..." ucap Emma gugup.
Reaksi Emma kaget, ia mencoba mengejar Ava dan Sioux namun Noah Jones meraih pergelangan tangannya lalu menahannya.
"Biarkan mereka pergi. Tugas mereka telah selesai." kata Noah Jones dengan menggertakkan giginya.
"Em, tapi..." ucap Emma panik.
"Apa yang kau panik kan. Ada aku disini yang bisa menemanimu. Kau tak perlu cemas." kata Noah santai.
"Eh, tapi..." sahut Emma tetap canggung.
"Apa ?" kejar Noah.
Noah Jones memperhatikan ke arah Emma, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki Emma.
Ia menelan air liurnya saat ia melihat penampilan Emma yang begitu menggoda dalam balutan lingerie gading transparan. Dada Emma membusung indah serta menyembul genit diantara penutup dada warna senada.
Noah Jones berkeringat dingin, ia mematung saat melihat keseksian Emma. Tiba-tiba tanpa ia sadari, dirinya telah menghimpit Emma di dinding kamar itu.
Nafasnya memburu cepat, dadanya naik turun saat dia dan Emma berdekatan lekat.
"Hari ini kau sangat lain dari biasanya... Kau sengaja berpenampilan seperti ini agar aku tergoda padamu..." bisiknya lembut.
Emma kebingungan mendengar ucapan Noah Jones. Ia menatap dengan tatapan aneh.
"Ava dan Sioux berkata bahwa Madame Claire akan datang sebentar lagi. Mereka menyarankan padaku agar aku berpakaian seperti ini." ucapnya bingung.
Noah Jones tertawa pendek, menatap tajam ke ulu jantung Emma hingga perempuan itu merasakan detak jantungnya sendiri berdetak sangat cepat.
"Kau mudah diperdaya. Mereka sengaja beralasan demikian supaya kau mau memakai lingerie seksi itu." kata Noah dengan tatapan nakal.
"Aku tidak mengerti..." sahut Emma.
"Mereka menipu mu, Emma..." kata Noah Jones masih menatap lekat Emma.
"Apa maksudnya, aku benar-benar tidak memahami ucapan mu itu, Tuan Jones ?" tanya Emma membalas tatapan Noah Jones sagat dekat.
"Aku memberitahu mereka kalau aku akan datang kemari, tapi apa yang mereka berdua perbuat padamu sekarang, rupanya mereka mengelabui mu, Emma." sahut Noah Jones sambil menyipitkan mata.
"Mengelabui ku? Dengan cara apa mereka bisa mengelabui ku?" sahut Emma serius.
Noah Jones melirik turun ke arah dada Emma yang menyembul di balik penutup dada, yang sempat menggoda imannya.
Ia tersenyum tipis lalu menyentuhkan ujung jari-jarinya diantara gundukan bukit kembar yang menarik itu.
"Caramu meyakinkan ku perlu dipuji. Aku suka kau bersikap tak peduli, tapi aku percaya kau tahu bahwa aku mulai tertarik dengan mu, Emma..." bisik Noah lalu meremas gundukan indah itu.
Emma terpejam cepat, merasakan sensasi luar biasa dari remasan itu, tubuhnya gemetar pelan dan nafasnya memburu gairah.
"Aku menginginkan mu sekarang... Emma..." bisik Noah Jones. Ia menyapu bersih leher jenjang Emma dengan pandangan matanya yang sayu.
Noah Jones semakin kuat meremas gundukan indah itu, seakan turut merasakan sensasi pijatan tangannya pada dada Emma yang membusung genit, ia ikut terpejam.
"Kau suka caraku menyentuhnya..." bisiknya pelan.
"Umm... Yah..." sahut Emma bergetar.
"Sret... !" Noah Jones buru-buru menarik tubuh Emma Taylor ke atas meja rias di dekat mereka, menekannya lalu memburunya cepat.
Emma tergagap bingung, tapi ia menikmati tiap sentuhan Noah Jones pada dirinya. Tubuhnya seolah-olah tak menolak bahkan mulai terbiasa dengan cara perlakuan Noah pada tubuh molek miliknya itu.
Erangan-erangan terdengar memburu cepat diantara mereka, Emma tenggelam dalam hasrat terlarang ini. Bukannya menghindari sentuhan Noah Jones pada setiap jengkal tubuhnya, Emma justru melingkarkan kedua kakinya ke tubuh Noah. Menerima sepenuhnya saat tubuhnya menikmati gesekan Noah.
"Emma...." bisik Noah Jones yang tiada hentinya melahap brutal bibir ranum milik Emma, tak membiarkan perempuan itu bernafas dengan lega. Dan anehnya, Emma justru membalas setiap kecupan Noah Jones di bibirnya, penuh hasrat. Bahkan merapatkan pelukannya pada tubuh Noah.
Berkali-kali Emma tersentak puas akan nikmatnya sentuhan itu, ia menggelinjang tak karuan hingga merem-melek. Menyadari Emma menerima dirinya, Noah Jones tidak melewatkan kesempatan emas itu. Ditariknya tubuh Emma hingga terjerembab ke lantai kamar yang dihiasi karpet tebal kemudian menindihnya.
"Emma..." bisik Noah Jones pelan disela-sela kecupannya pada punggung Emma yang terbuka polos hingga Emma mengerang keras karena kenikmatan.
Emma hanya mengangkat kepalanya ketika Noah Jones melucuti dirinya, nafasnya memburu penuh gairah seakan ia lupa diri.
"Ugh...." desahnya saat Noah Jones membalik tubuhnya. Dan Emma membiarkan dirinya dilahap habis oleh pria itu.
Suasana di ruangan kamar itu berubah total, mendadak jadi panas penuh gairah kuat diantara dia dan Noah Jones. Emma terus-menerus menggelinjang tak karuan bahkan ia hampir-hampir hilang ingatan serta kehilangan kendali kesadaran pada dirinya sendiri.