Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Secangkir Cemburu di Pagi Buta
Sabtu pagi di Kota Bandung selalu memiliki magisnya tersendiri. Udara dingin masih dengan angkuh menyelimuti jalanan yang lengang, sementara embun sisa semalam masih bergelayut manja di dedaunan. Jam di dinding Cafe Nuansa baru saja menunjukkan pukul enam pagi. Lampu-lampu vintage berona kuning hangat di dalam kafe baru saja dinyalakan, mencoba mengusir hawa dingin yang menyusup dari celah-celah ventilasi.
Bang Hendri, sang pemilik kafe, sedang sibuk mengelap meja bar dengan kain mikrofiber ketika lonceng di pintu kaca bergemerincing pelan. Ia menoleh, mengira itu adalah supplier susu segar yang biasanya datang pagi-pagi buta. Namun, sosok yang melangkah masuk sambil merapatkan jaket hitamnya justru membuatnya menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.
Itu Alan. Pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya sedikit memerah karena terpaan angin pagi, namun matanya memancarkan kesiapan penuh.
"Tumben lu, masuk awal banget," sapa Bang Hendri dengan nada heran yang tak ditutup-tutupi. Tangannya berhenti mengelap meja. "Ini bahkan belum jam setengah tujuh, Lan. Jadwal shift lu kan jam delapan. Kesambet apa lu, Lan? Jangan bilang lu tidur di parkiran semalem gara-gara diusir dari kosan?"
Alan tersenyum tipis, sebuah senyum sopan yang selalu ia tunjukkan pada bos sekaligus sosok yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu. Ia berjalan mendekati meja bar, melepas helmnya, dan meletakkannya di kursi terdekat.
"Iya nih, Bang," jawab Alan dengan suara baritonnya yang tenang. "Sengaja dateng lebih awal. Sekalian mau bantuin opening kafe, sekalian... ada yang mau gue omongin juga. Gue mau minta ijin libur buat besok, Bang."
Bang Hendri mengerutkan keningnya. Alan adalah karyawan teladannya. Pemuda ini nyaris tidak pernah mengambil jatah liburnya kecuali jika ada urusan kampus yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan, atau jika ia sedang sakit parah. Bagi Alan, waktu adalah uang, dan uang adalah nyawa untuk menghidupi dirinya dan mengirimkan biaya sekolah untuk adiknya di kampung.
"Tumben amat lu minta libur hari Minggu. Biasanya hari Minggu kan lu paling semangat ngejar insentif karena kafe lagi rame-ramenya," selidik Bang Hendri sambil menyandarkan tubuhnya ke mesin espresso. "Emang besok ada acara apa lu? Tumben bener."
Alan terdiam sejenak. Ada sedikit keraguan yang melintas di matanya, tangannya tanpa sadar mengusap tengkuknya—sebuah gestur yang selalu muncul ketika ia merasa gugup.
"Besok... ada acara sama Bunga, Bang," jawab Alan akhirnya, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
Mendengar nama itu disebut, gerakan Bang Hendri seketika terhenti. Matanya membesar sedikit. Ruangan kafe yang tadinya hanya diisi oleh alunan musik jazz instrumental pelan itu tiba-tiba terasa hening bagi Bang Hendri. Pikirannya langsung terbang jauh, melintasi wajah Alan, dan berlabuh pada sosok gadis tomboi yang selalu menutupi perasaannya dengan tawa keras dan bentakan kasar.
'Astaga...' batin Bang Hendri menjerit tertahan. Matanya menatap lurus ke arah Alan, namun yang ia lihat adalah bayangan wajah Rahmi yang hancur.
'Sepertinya lu bener-bener terlalu lambat, Mi,' lanjut Bang Hendri dalam dialog batinnya yang penuh keprihatinan. 'Gue udah nebak arahnya bakal ke sini. Si Alan sekarang udah tahap kencan sama si Bunga. Kalau menurut gue, ini udah bukan sekadar pendekatan biasa lagi. Lu terlalu lama bersembunyi di balik topeng persahabatan lu, Mi. Lu terlalu sibuk ngejaga posisi lu sebagai sahabat biar gak kehilangan dia, sampai lu gak sadar kalau posisi di hatinya pelan-pelan udah diambil sama orang lain yang berani maju. Pada akhirnya, topeng itu bener-bener jadi penjara buat perasaan lu sendiri.'
Ada rasa sesak di dada Bang Hendri memikirkan nasib Rahmi, namun di sisi lain, ia juga tidak bisa menyalahkan Alan. Alan adalah pria normal yang berhak merespons cinta dari wanita yang datang kepadanya, terutama wanita sesempurna Bunga. Alan sama sekali tidak tahu-menahu soal perasaan Rahmi, karena Rahmi sendiri yang memilih untuk menguburnya rapat-rapat.
Bang Hendri menarik napas panjang, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya agar Alan tidak curiga. Ia kembali memasang wajah bos kafe yang pengertian.
"Oh... pantes aja lu datang awal banget hari ini," ujar Bang Hendri, mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan dengan senyum penuh arti. "Mau kencan toh ceritanya. Anak muda... anak muda. Iya, iya, gue ijinan. Sesekali lu emang butuh refreshing, Lan. Jangan kerja mulu, ntar lu cepet tua sebelum waktunya."
Wajah Alan terlihat sangat lega. Beban tak kasat mata di pundaknya seolah terangkat. "Makasih banyak, Bang. Gue pastiin hari ini kerjaan opening sampai closing beres semua tanpa ada miss."
Bang Hendri terkekeh pelan. Namun, sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia teringat akan sebuah titipan rahasia yang menyesakkan dada, yang diamanatkan kepadanya beberapa hari lalu.
'Senin kan jadwal gajian karyawan,' pikir Bang Hendri cepat, merancang sebuah skenario di dalam kepalanya. 'Layaknya sekarang waktu yang pas buat ngasih gaji si Alan lebih awal. Sekalian... sekalian masukin uang titipan si Rahmi yang kemarin dia kasih buat nambah-nambahin biaya adiknya Alan. Biar makin logis, gue tambahin uang bonus dari gue pribadi. Jadi jumlah totalnya gak terlalu besar dan mencolok. Si Alan yang gengsinya setinggi gunung ini mana mungkin nolak kalau tahu bonus ini seolah-olah murni kebijakan dari gue sebagai bosnya.'
Bang Hendri berdeham, mengubah postur tubuhnya menjadi lebih formal.
"Ya udah, lu taro tas lu dulu sana. Habis itu ikut ke ruangan gue sebentar, Lan," perintah Bang Hendri sambil menunjuk ke arah lantai dua tempat ruang kerjanya berada.
Alan terdiam di tempatnya. Kepalanya yang sedang menghitung rencana rute kencan besok mendadak terhenti. Keningnya berkerut penuh tanda tanya.
'Ada apa nih?' batin Alan bertanya-tanya, rasa curiga mulai merayap di dadanya. 'Kok tumben-tumbenan gue diajak ke ruangan Bang Hendri pagi-pagi buta begini? Apa kerjaan gue seminggu ini ada yang salah? Atau dia mau ngasih SP gara-gara kemarin gue terlalu sering diam pas kerja?'
Meski otaknya dipenuhi skenario terburuk, Alan tetap mengangguk patuh. "Iya, Bang."
Ruangan Bang Hendri di lantai dua tidak terlalu besar, namun sangat nyaman dengan aroma biji kopi yang khas dan pendingin ruangan yang menyala pelan. Alan duduk dengan punggung tegak di atas sofa tamu berlapis kulit sintetis warna hitam, tangannya bertumpu di atas lutut. Suasana hatinya masih diselimuti teka-teki.
Tak lama, Bang Hendri duduk di kursi tunggal di seberang Alan. Pria paruh baya itu membuka laci meja kecil di sebelahnya, mengambil sebuah amplop cokelat tebal yang terlihat sudah dipersiapkan sebelumnya, lalu meletakkannya di atas meja kaca tepat di hadapan Alan.
"Ini," Bang Hendri menunjuk amplop tersebut dengan dagunya. "Gaji lu bulan ini. Gue kasih di awal. Senin besok kan jadwal aslinya, tapi karena lu besok Minggu mau ada acara sama cewek, lu pasti butuh pegangan. Gak lucu kan kalau lu jalan sama primadona kampus tapi dompet lu isinya cuma angin doang."
Alan tertegun. Matanya menatap amplop cokelat itu. Ia tahu persis berapa tebal amplop gajinya biasanya, namun amplop yang ada di hadapannya saat ini terlihat jauh lebih tebal dari yang seharusnya.
"Bang, ini..." Alan ragu-ragu untuk menyentuhnya.
"Dan udah gue tambah uang bonus di dalamnya," potong Bang Hendri cepat, nadanya sengaja dibuat se-otoriter mungkin, tidak memberikan ruang bagi Alan untuk membantah. "Gue tahu lu lagi pusing mikirin biaya sekolah adik lu di kampung, belum lagi buat orang tua lu. Anggap itu bonus apresiasi dari gue karena lu udah kerja keras bantu gue ngurusin kafe ini sampai jam tidur lu berantakan."
Alan terkesiap. Hatinya bergetar mendengar alasan itu. Kebutuhan keluarganya di kampung memang sedang mendesak, dan beban pikiran itu selalu ia tanggung sendirian, bersembunyi di balik wajah datarnya.
"Tapi, Bang... masa..." Alan mencoba menolak, rasa sungkan dan harga dirinya sebagai laki-laki mandiri langsung meronta. Ia tidak ingin dikasihani. Uang di amplop itu pasti terlalu banyak.
Sebelum kalimat penolakan Alan selesai terucap, Bang Hendri langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Alan dengan tatapan bos yang mutlak.
"Gak ada alasan, Lan. Gue gak nerima penolakan bentuk apa pun," tegas Bang Hendri, suaranya berat dan mengintimidasi. "Gue kasih itu karena lu pantas nerimanya. Kalau lu berani nolak rejeki yang udah gue kasih ini, mending lu kemas barang-barang lu dan jangan kerja lagi di tempat gue mulai hari ini. Paham lu?"
Ancaman itu terdengar sangat kejam, namun Alan tahu betul bahwa di balik kata-kata kasar itu, tersembunyi kepedulian yang luar biasa besar dari Bang Hendri. Tenggorokan Alan tiba-tiba terasa tercekat. Matanya sedikit memanas, namun ia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan emosinya.
Alan perlahan meraih amplop cokelat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga, meskipun ia tidak tahu bahwa sebagian dari uang penolong itu adalah darah dan air mata dari seorang sahabat yang diam-diam mencintainya dalam kebisuan.
"Makasih... makasih banyak, Bang. Saya gak akan ngelupain kebaikan Abang," ucap Alan dengan suara yang sedikit parau, kepalanya masih menunduk.
Bang Hendri tersenyum tipis, sebuah senyuman lega sekaligus pedih. Ia mengangguk sekali. "Udah, santai aja. Sana lu langsung turun, langsung kerja. Bentar lagi customer pagi pasti pada dateng."
Alan mengangguk, lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan semangat yang baru, membawa serta amplop yang berisi harapan bagi keluarganya, dan sebuah pengorbanan rahasia dari Rahmi.
Alan menuruni tangga kayu dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia masuk ke ruang loker, mengganti jaketnya dengan kemeja hitam dan celemek khas Cafe Nuansa, lalu melangkah menuju area depan kafe.
Ia berniat untuk mulai membersihkan meja-meja pengunjung sebelum kafe resmi dibuka. Namun, langkah kakinya seketika terhenti saat matanya menyapu area ujung ruangan.
Di sana, di meja pojok yang biasanya menjadi tempat kekuasaan gengnya (Rahmi, Ardi, dan Randi), tampak sesosok wanita sedang duduk dengan tenang. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui kaca jendela besar di sampingnya menyinari rambut hitam lurusnya, menciptakan siluet keemasan yang membuat wanita itu terlihat begitu bercahaya.
Itu adalah Bunga.
Wanita itu mengenakan kemeja oversize berwarna putih tulang yang dipadukan dengan celana kulot berwarna khaki. Penampilannya sangat sederhana namun memancarkan keanggunan yang natural. Bunga sedang sibuk membaca sebuah buku catatan kecil, sama sekali tidak menyadari kehadiran Alan yang berdiri terpaku tak jauh darinya.
Bunga pun sebenarnya tidak tahu bahwa Alan bekerja seawal ini di hari Sabtu. Ia datang ke kafe itu murni karena ingin mencari tempat yang tenang untuk mengerjakan tugas akhir pekannya, sekaligus berharap... mungkin, hanya mungkin, ia bisa bertemu dengan pemuda kaku yang semalaman membuat hatinya berdebar tak menentu.
Secara kebetulan, Bunga mengangkat wajahnya dari buku catatannya. Tepat pada detik itu, pandangannya bertemu dengan pandangan Alan.
Waktu terasa berhenti berdetak selama beberapa sekon. Mata mereka saling mengunci di tengah keheningan kafe yang baru saja bangun dari tidurnya. Bunga yang pertama kali tersadar. Sebuah senyuman manis nan memabukkan langsung merekah di bibir merah mudanya. Tanpa ragu, wanita cantik itu mengangkat tangan kanannya dan melambaikan tangannya ke arah Alan dengan gerakan yang sangat riang.
Di sisi lain ruangan, Alan merasakan jantungnya seolah baru saja disetrum dengan tegangan tinggi. Kegugupan yang luar biasa parah mendadak menyerangnya secara brutal. Telapak tangannya tiba-tiba terasa dingin dan berkeringat. Ini adalah kali pertama ia berinteraksi dengan Bunga di luar konteks kampus atau kehadiran teman-temannya. Ini hanya mereka berdua.
Dengan susah payah, Alan mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Ia menarik napas dalam-dalam, memasang kembali topeng profesionalnya sebagai pelayan kafe, dan melangkah menghampiri meja Bunga.
"Iya, Nga," sapa Alan saat ia sudah berdiri di dekat meja. Suaranya terdengar sedikit kaku, namun ia berusaha keras untuk menyembunyikannya. "Mau pesan apa pagi ini?"
Bunga menutup bukunya. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja, menatap Alan dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Senyumnya tak kunjung pudar.
"Aku bener-bener gak tau lho kalau kamu ternyata kerja seawal ini, Lan," ucap Bunga, nada suaranya terdengar sangat lembut dan mengandung kekaguman yang tulus. "Kamu pasti capek banget ya, dari pagi sampai malam full aktivitas terus."
Bunga memiringkan kepalanya sedikit, menatap buku menu yang ada di sudut meja tanpa benar-benar membukanya.
"Eum... aku pesen Americano milk dua, sama menu sarapan ringan sandwich telur aja dua porsi ya, Lan," ucap Bunga dengan lancar, mengakhiri pesanannya dengan senyuman yang semakin lebar.
Seketika itu juga. Hening.
Bukan hening yang romantis, melainkan hening yang mencekam di dalam kepala Alan. Senyum ramah yang baru saja hendak Alan paksakan untuk muncul di bibirnya mati seketika, menguap begitu saja ke udara. Tubuh Alan mendadak mematung. Matanya menatap lurus ke wajah Bunga, namun sorot matanya berubah drastis menjadi kosong dan... dingin.
'Dua?'
Kata itu bergema di dalam kepala Alan, memantul-mantul seperti alarm peringatan bahaya yang memekakkan telinga.
'Dua porsi? Americano dua? Sandwich dua?' batin Alan mulai bergemuruh hebat, menciptakan sebuah pusaran asumsi yang sangat destruktif bagi harga dirinya.
'Untuk siapa porsi yang satunya lagi? Apa Bunga sedang janjian dengan seseorang di sini pagi-pagi begini? Seorang cowok dari fakultas kedokteran, atau cowok kaya yang bawa mobil sport? Lalu buat apa dia ngirim pesan ke gue semalem, janjian buat besok, kalau hari ini dia ketemuan sama cowok lain? Apa gue doang yang terlalu kepedean karena Bunga selalu ngirim pesan duluan dan ngebales WhatsApp gue dengan cepet? Apa selama ini gue cuma dianggap cowok pelarian, atau... cuma badut penghibur buat dia?!'
Otak logis Alan, yang biasanya mahir menyelesaikan rumus akuntansi paling rumit sekalipun, kini lumpuh total oleh serangan rasa insecure dan cemburu buta yang tidak rasional. Perasaan inferiornya sebagai pemuda miskin dari kampung tiba-tiba bangkit, membisikkan bahwa ia memang tidak pantas mendapatkan cinta dari seorang primadona seperti Bunga.
Sebagai mekanisme pertahanan diri agar tidak terlihat menyedihkan, dinding es di dalam diri Alan seketika terbangun kokoh. Raut wajahnya yang tadi terlihat sedikit canggung dan gugup, kini berubah menjadi sedatar triplek, tak bernyawa, dan luar biasa dingin.
"Iya. Pesanan segera datang," ucap Alan dengan nada suara yang sangat monoton, sedingin es batu. Tanpa menunggu balasan, tanpa memberikan satu lengkungan senyum pun kepada Bunga, Alan langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi menuju area bar dengan langkah lebar-lebar.
Ditinggalkan begitu saja dengan respons yang sedingin kutub utara, Bunga sontak terdiam. Senyum ceria yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh raut kebingungan yang sangat kentara. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap menatap punggung tegap Alan yang menjauh.
'Alan kenapa sih?' batin Bunga bertanya-tanya, rasa panik mulai menyusup ke dalam hatinya. 'Kok tiba-tiba dia jadi cemberut dan ketus banget kayak gitu? Padahal tadi pas nyamperin mukanya biasa aja. Apa omonganku tadi ada yang salah? Apa sapaanku kurang sopan? Perasaan... aku cuma pesen menu aja deh. Apa dia marah karena aku pesen menu sarapan padahal kafenya baru buka?'
Bunga menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah tanpa tahu apa kesalahan yang sebenarnya ia perbuat. Selama beberapa menit ke depan, ia hanya bisa duduk diam sambil memainkan ujung buku catatannya dengan perasaan gelisah yang luar biasa, takut jika usahanya untuk mendekati Alan hari ini justru menjadi bumerang.
Di balik meja bar, suasana hati Alan tidak kalah kacaunya. Tangan pemuda itu bergerak meracik kopi dengan gerakan yang terlalu mekanis, nyaris kasar. Ia men-tamping bubuk kopi ke dalam portafilter dengan tenaga ekstra, meluapkan kekesalannya. Suara desisan uap panas dari steam wand saat ia memanaskan susu terdengar sejalan dengan desisan emosi di dalam dadanya.
Ia benci perasaan ini. Ia benci menyadari bahwa hatinya bisa begitu mudah dikendalikan oleh pesanan dua porsi kopi dari seorang wanita. Ia benci pada fakta bahwa ia merasa cemburu.
Setelah selang beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, dua cangkir Americano milk hangat dan dua porsi sandwich telur tersaji rapi di atas nampan kayu. Alan menarik napas panjang, menelan seluruh egonya bulat-bulat, lalu mengangkat nampan itu dan kembali berjalan menuju meja Bunga.
Setibanya di sana, Alan meletakkan satu per satu pesanan itu di atas meja tanpa suara. Wajahnya masih tertekuk rapat.
"Ini pesanannya, Nga," ucap Alan kaku, matanya bahkan enggan menatap mata Bunga terlalu lama.
Alan berniat untuk langsung pergi kembali ke balik bar, namun ada sebuah dorongan masokis di dalam dirinya yang menuntut kejelasan. Ia ingin tahu siapa saingannya. Ia ingin tahu seberapa jauh ia sudah mempermalukan dirinya sendiri dengan berharap pada wanita ini.
Alan menghentikan langkahnya, menoleh sedikit, lalu melontarkan pertanyaan yang sedari tadi membakar kerongkongannya. Nada suaranya terdengar sinis, dingin, namun tersirat kepahitan yang mendalam.
"Kenapa orang yang kamu tunggu belum datang?"
Pertanyaan tajam itu meluncur begitu saja. Bunga terkejut bukan kepalang. Tubuhnya sedikit tersentak. Ia mendongakkan kepalanya, menatap wajah Alan yang tertutup kabut kegelapan.
Namun, hanya butuh waktu dua detik bagi Bunga yang cerdas untuk memproses informasi itu. Ia menatap dua cangkir kopi, lalu menatap raut wajah kaku Alan, lalu menatap matanya yang memancarkan kekesalan yang disembunyikan mati-matian.
Dan saat itulah, semuanya menjadi terang benderang di dalam kepala Bunga.
'Ya ampun...' batin Bunga berseru. Sebuah ledakan kembang api seolah meletus di dalam perutnya. Matanya terbelalak tak percaya, namun bibirnya nyaris melengkungkan senyuman yang sangat lebar jika saja ia tidak mati-matian menahannya.
'Apa Alan... apa Alan lagi cemburu karena pesenanku ini untuk dua orang? Apa dia mikir aku lagi janjian sama cowok lain pagi ini?! Ya Tuhan... apa iya seorang Alan Prawija yang dingin dan kaku ini beneran lagi cemburu karena aku?!'
Perasaan bersalah Bunga menguap seketika tak berbekas, digantikan oleh gelombang rasa bahagia yang membuncah hingga ke ubun-ubun. Hatinya bergemuruh hebat, rasa gemas yang luar biasa meledak-ledak di dadanya melihat wajah Alan yang tertekuk gara-gara cemburu buta yang salah sasaran. Pemuda ini terlihat sangat jauh dari kesan 'dingin' saat ini; ia justru terlihat seperti seekor anak singa yang sedang merajuk.
Dengan hati yang menggebu-gebu, dan senyum jahil yang akhirnya terbit di bibirnya, Bunga menopang dagunya lagi, menatap Alan tepat di matanya dengan pandangan yang teramat lembut dan mengunci.
"Nggak kok," jawab Bunga dengan suara pelan namun terdengar sangat menggoda. Matanya berkedip pelan. "Orang yang aku tunggu... dia nggak 'belum dateng', Lan."
Alan mengerutkan dahinya, semakin bingung. "Maksudnya?"
Bunga tersenyum semakin lebar, menepuk kursi kosong yang ada tepat di hadapannya.
"Dia udah ada di sini dari tadi," ucap Bunga, suaranya mengalun seperti melodi yang menghipnotis. Matanya menatap lekat pada mata Alan, menyalurkan semua perasaan yang ia miliki. "Gak apa-apa kan... kalau kamu nemenin aku sarapan sebentar, Lan? Mumpung kafenya masih sepi."
Deg.
Sistem saraf pusat di dalam otak Alan seketika mengalami malfungsi massal. Error 404. Page not found.
Alan terdiam mematung. Otaknya, yang tadi dipenuhi skenario cemburu buta, tiba-tiba ngelag parah. Ia tidak bisa mencerna kalimat sederhana yang baru saja diucapkan oleh Bunga. Ketidakpekaannya yang melegenda sebagai pria sejati benar-benar mencapai puncaknya saat ini.
"S-siapa...?" tanya Alan tergagap, wajah datarnya mulai retak. Matanya melirik liar ke sekeliling kafe yang jelas-jelas kosong melompong, tidak ada siapa pun selain mereka berdua dan Bang Hendri yang ada di lantai atas.
Alan kembali menatap Bunga dengan kebingungan tingkat dewa. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk yang sedikit bergetar. "Aku...? Tapi... kan..."
Alan kehilangan kata-katanya. Ia mencoba mencari alasan logis yang bisa menyelamatkannya dari situasi memalukan ini.
"Aku... aku gak apa-apa sih nemenin kamu," jawab Alan akhirnya, suaranya terbata-bata, jauh dari kesan keren. "Soalnya... soalnya emang baru masuk shift juga. Terus... ditambah lagi emang belum ada pelanggan lain selain kamu yang dateng ke sini. Jadi ya... gak apa-apa."
Alasan yang sangat panjang, berbelit-belit, dan sama sekali tidak nyambung itu membuat Bunga semakin gemas setengah mati. Ia menahan tawanya agar tidak meledak melihat tingkah laku pemuda pujaannya itu.
Dengan kaku seperti robot yang kehabisan pelumas, Alan menarik kursi kayu di hadapan Bunga. Ia duduk perlahan, menatap cangkir kopi di depannya seolah-olah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.
"Tuh kan, orang yang aku tunggu udah ada di sini," ucap Bunga lembut, mengaduk pelan Americano-nya. Matanya tak lepas menatap Alan yang kini sedang menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata dengannya. "Sekarang, orangnya udah duduk di depan aku."
Alan terdiam membisu. Kata-kata Bunga akhirnya berhasil meresap dan diproses dengan benar oleh otaknya yang tadi sempat konslet.
'Jadi...' batin Alan meronta, sebuah realita yang luar biasa manis menghantam kesadarannya tanpa ampun. 'Jadi dari tadi... yang dia maksud dengan pesanan dua porsi itu... buat gue?! Dia janjian... buat sarapan bareng gue?!'
Seiring dengan kesadaran itu, sebuah sensasi panas yang tak bisa dicegah langsung menjalar dari leher Alan, merambat naik ke pipinya, hingga ke ujung telinganya. Wajah pemuda berkulit sawo matang itu seketika memerah padam dengan sangat jelas. Pertahanan esnya hancur lebur tanpa sisa. Ia salah tingkah. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan gelisah, tangannya bermain-main dengan ujung celemek hitamnya dengan gugup. Ia benar-benar tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Melihat respons Alan yang begitu polos dan tidak dibuat-buat, tawa kecil Bunga akhirnya lepas juga. Suara tawanya terdengar renyah, mengalun indah di telinga Alan.
"Kamu lucu banget ya, Lan," ucap Bunga jujur, menopang dagunya lagi sambil menatap wajah Alan yang memerah, tak peduli jika ucapannya membuat pemuda itu semakin salah tingkah. "Gitu aja kamu udah grogi banget sampai salah tingkah begini. Kelihatan banget kayaknya kamu baru pertama kali ya... duduk berhadapan sama cewek kayak gini?"
Alan tersentak. Harga dirinya sebagai laki-laki sedikit tersenggol. Ia tidak ingin terlihat terlalu amatir di depan wanita yang ia sukai. Dengan cepat, ia mencoba membela diri.
"Enak aja," bantah Alan, meskipun suaranya masih terdengar sedikit bergetar. Ia mencoba mengangkat wajahnya, menatap Bunga. "Siapa bilang baru pertama kali? Aku udah sering kok makan bareng... sama yang lain."
Bunga tidak termakan oleh kebohongan murahan itu. Ia justru menyipitkan matanya, memberikan tatapan menyelidik yang mematikan layaknya seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka utama. Sebuah senyum miring yang usil terlukis di bibirnya.
"Oh ya?" pancing Bunga, nada suaranya dibuat-buat seolah sedang cemburu. "Sama siapa emangnya? Eh, kan kamu udah biasa sarapan dan makan bareng sama Rahmi juga kan tiap hari di kampus? Jadi harusnya nggak grogi dong sekarang?"
Mendengar nama Rahmi dibawa-bawa dalam perdebatan konyol ini, Alan seketika menghela napas panjang. Rasa gugupnya sedikit mereda, digantikan oleh kebutuhan untuk meluruskan kesalahpahaman. Ia tidak ingin Bunga salah paham tentang hubungannya dengan Rahmi.
Alan menegakkan duduknya, menatap Bunga dengan pandangan yang tiba-tiba berubah sangat serius dan meyakinkan.
"Kalau sama Rahmi kan beda ceritanya, Nga," ucap Alan tegas, tanpa ada sedikit pun keraguan dalam suaranya. "Rahmi itu... dia kan udah berstatus sahabat aku. Dari awal masuk kuliah, aku udah anggap dia seperti saudara perempuanku sendiri. Lingkupnya beda, Nga. Aku, Rahmi, Ardi, sama Randi... kami berempat tuh udah kayak keluarga. Saudara sehidup semati yang kelakuannya pada ajaib semua."
Alan mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya, tanpa menyadari dampak luar biasa dari kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Jadi, karena udah nganggap saudara, ya jelas gak ada kecanggungan sama sekali kalau aku makan bareng sama Rahmi. Mau makannya barbar, mau belepotan, mau sambil marah-marah juga biasa aja. Nggak ada feel yang bikin deg-degan. Tapi..."
Alan terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bunga. Lidahnya seolah bergerak mendahului rasionalitas otaknya.
"...kalau sama kamu kan, beda."
Keheningan seketika menyelimuti meja itu begitu kalimat terakhir Alan meluncur ke udara.
Alan sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. 'Kalo sama kamu kan beda'. Kata-katanya sendiri menggema kembali di telinganya, menampar kesadarannya. Ia baru saja, secara tidak langsung, mengakui bahwa Bunga memiliki posisi yang spesial, posisi yang jauh berbeda dari sekadar "sahabat" seperti Rahmi. Ia baru saja menyatakan bahwa Bunga mampu membuat pertahanannya runtuh dan membuatnya berdebar.
Mata Alan membelalak panik. Ia mengutuk mulutnya sendiri yang terlalu jujur.
Di sisi lain meja, Bunga merasa jantungnya berhenti berdetak selama satu detik. Kalimat sederhana itu memiliki daya hancur yang luar biasa bagi kewarasannya. Wajah Bunga perlahan ikut memerah, namun ia tidak ingin melepaskan kesempatan emas ini untuk menggoda Alan lebih jauh. Ia ingin mendengar Alan mengatakannya secara langsung.
Bunga mencondongkan tubuhnya ke depan meja, memperpendek jarak di antara mereka. Matanya menatap bibir Alan sejenak, lalu kembali menatap matanya dengan senyum yang sangat menantang.
"Beda...?" bisik Bunga lembut, suaranya nyaris seperti embusan angin. "Bedanya apa emangnya, Lan?"
Pertanyaan skakmat itu sukses membuat Alan kelabakan. Ia merasa seperti sedang diinterogasi di bawah lampu sorot yang panas. Wajahnya yang sudah merah kini semakin memerah sempurna layaknya kepiting rebus. Kegugupan yang luar biasa mengambil alih seluruh kendali tubuhnya.
"B-bedanya..." Alan tergagap parah. Tangannya bergerak acak, meraih cangkir kopinya, lalu meletakkannya kembali tanpa meminumnya. Matanya melirik ke langit-langit kafe, mencari bantuan yang tidak akan pernah datang.
"Ya... ya bedanya... karena..." Alan menelan ludahnya kasar. "Karena... aku sama kamu kan baru... baru sekarang ini kita makan sambil hadap-hadapan berdua doang kayak gini. Terus... ya... gitu deh. Jadi beda suasananya. Gitu."
Sebuah alasan yang teramat sangat klise, berantakan, dan benar-benar terdengar seperti omong kosong dari seorang pria yang sedang terpojok oleh perasaannya sendiri.
Melihat pemandangan di depannya, Bunga tidak lagi menggoda Alan dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum sangat manis, menatap Alan dengan penuh kehangatan.
Di dalam batinnya, Bunga berteriak kegirangan. Hatinya meleleh sepenuhnya.
'Ya ampun, Alan...' batin Bunga berbisik lembut, merasakan cinta yang semakin membengkak di dalam dadanya. 'Kecanggungan kamu saat ini... kegugupan kamu pas nyari alasan yang gak masuk akal itu... semuanya terlihat sangat alami dan jujur. Sikap kamu ini ngebuktiin secara mutlak kalau kamu emang belum pernah makan bareng, atau ngebuka hati buat cewek lain selain aku dengan cara kayak gini. Kepolosan kamu, cara kamu salah tingkah... bikin aku makin gemes dan jatuh cinta aja sama kamu sih, Lan.'
Bunga akhirnya meraih cangkir kopinya, menyesap Americano hangat itu sambil terus menatap Alan yang masih sibuk merutuki dirinya sendiri dalam diam. Pagi itu, di sudut Cafe Nuansa, di atas meja yang menjadi saksi bisu, dua cangkir kopi hangat menjadi awal mula dari sebuah cerita manis yang sesungguhnya... sementara jauh dari sana, ada satu hati yang masih harus terus berjuang dalam keheningan topeng persahabatannya.