Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 Perjalanan Dinas
Olivia....
"Sialan!" gumamku dengan marah sambil menggertakkan gigi, hingga kedua saudara kandungku langsung menoleh dengan terkejut. "Sialan!" ulangku dengan suara yang sedikit serak.
Dennis berbalik kembali karena dia sedang mengemudi dan harus fokus pada jalanan. Tetapi Sarah masih tetap menatapku dengan ekspresi bingung yang terlukis jelas di wajahnya. "Ada masalah apa, Olivia?"
Aku tidak tahu harus berkata apa, maka aku hanya bisa menyodorkan ponselku padanya.
"What the fuck!" ucap Sarah dan menyodorkan ponselku pada Dennis. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Tadi pagi, aku baru saja terlibat perdebatan dengan Alex dan dia mengatakan bahwa tidak ada apa-apa antara dia dan Claudia. Mereka hanya teman lama.
Teman lama? Teman lama tapi berciuman?
Kali ini, aku bukan hanya marah, tapi juga terluka. Aku merasa dikhianati, sebab aku hampir percaya dengan ucapan Alex sebelum melihat semua itu.
"I'm so sorry, Olivia." kata Dennis, dia menyerahkan ponselku kembali. "Aku turut menyesal karena kamu harus mengalami semua ini." ucapnya lagi, suaranya penuh empati.
Aku tidak menjawab, aku hanya terdiam di sepanjang perjalanan pulang. Beberapa saat kemudian, kami pun tiba di sebuah restoran. Aku bahkan tidak lagi memiliki nafsu makan setelah melihat semua itu.
Pikiranku terus terbayang-bayang foto Alex dan Claudia yang sedang berciuman. Tanpa sadar, airmataku mengalir turun melewati pipiku, namun aku buru-buru menyekanya. Aku tidak ingin menangis lagi karena Alexander Stone.
Dennis memarkirkan mobilnya di parkiran restoran. Dennis dan Sarah melihatku dengan tatapan iba saat kami bertiga berjalan memasuki restoran.
"Apakah kamu masih ingin makan malam?" Sarah bertanya padaku saat seorang pelayan datang menghampiri meja kami. Dia tahu aku selalu tak berselera makan ketika hatiku sedang terluka.
"Ya." Aku mengangguk. "Aku masih mau makan."
Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka hanya karena aku tidak bahagia malam ini. Kami semua duduk di meja dan Dennis mulai melihat-lihat daftar menu.
Sarah mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku. "Hei, kamu nggak perlu menghadapi semua ini sendirian, kami selalu ada untukmu." Dia menunjuk Dennis dan juga dirinya sendiri.
Dennis mengangguk-anggukkan kepala dan aku memberinya senyum, senyum palsu. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Aku bersikap seolah-olah aku tidak apa-apa meskipun hatiku saat ini dipenuhi dengan amarah yang membakar seluruh relung hingga dasar hatiku.
Dan rasa malu, persetan dengan rasa malu! Seolah-olah komentar - komentar itu belum cukup kejam, dia malah memberi mereka bahan gosip baru. Apa dia sama sekali menghormati aku?
Pelayan datang dan mengambil pesanan kami. Saat pelayan itu pergi, Dennis berusaha mengubah topik pembicaraan. "Olivia, kamu harusnya melihat wajah mama dan papa di hari ketika kamu berani melawan mereka."
Sarah terkekeh. "Yeah, mereka sangat shock sepanjang hari."
Aku tahu, papa dan mama aku pasti sangat terkejut dengan tindakanku.
Selama ini, aku selalu berusaha untuk menyenangkan mereka. Selalu patuh pada aturan mereka dan membiarkan mereka mengontrol hidupku.
Mereka juga adalah alasan mengapa aku setuju menikah dengan Alex. Mama, adalah orang paling bahagia, ketika dia tahu aku berkencan dengan salah seorang dari keluarga Stone.
Dia menasehati aku bahwa aku tidak akan menyesal menikah dengan Alexander Stone ketika aku mengatakan keraguanku setelah dia melamarku. Sebagian dari diriku belum siap untuk menikah, tapi kemudian aku menyerah karena tekanan keluarga
Pelayan datang dan meletakkan pesanan kami di atas meja, aku tersadar dari lamunanku. Aku hanya memesan pasta dan salad sebab aku tidak tahu apakah aku bisa menelan makananku.
Kedua saudaraku memesan berbagai jenis makanan. Setelah pelayan itu pergi, kami mulai menyantap makanan kami. Sebenarnya aku tidak lapar tapi aku memaksakan diri untuk menghabiskan makananku. Aku tidak ingin kedua saudaraku mengkhawatirkan diriku.
Setelah kurang lebih satu jam, kami pun selesai makan malam.
Tiba-tiba, ponselku dihujani dengan pesan dan panggilan dari orang tuaku. Mereka pasti sudah melihat postingan dimana Alex dan Claudia saling mengunci bibir.
Aku sedang tidak ingin mendengar omong kosong mereka, maka dari itu aku mengabaikan semua panggilan itu. Malam sudah semakin larut dan kami harus segera pulang. Maka dari itu aku meminta Dennis untuk mengantarku pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku melihat sebuah mobil yang ku kenal terparkir di garasi. "Sialan!" makiku, gigiku gemeletuk menahan geram. "Apa yang dilakukan kedua orang tuaku malam - malam begini di rumahku?"
Sarah dan Dennis ingin pergi setelah mengantarku, tetapi aku meminta mereka untuk masuk ke dalam bersamaku. Aku tidak ingin menghadapi kedua orang tuaku sendiri.
Saat kami berjalan memasuki rumah, kedua orang tuaku duduk di ruang tamu. "Apa yang papa dan mama lakukan di sini?" tanyaku, saat aku, berdiri di hadapan mereka.
"Kami ke sini untuk memperbaiki pernikahan kamu!" jawab ibuku, suaranya penuh dengan ketegasan. Ayahku hanya mengangguk, setuju dengan ucapan ibuku.
Aku tidak percaya dengan mereka.
"Mama, papa, ayo kita pulang." ucap Sarah, dia berjalan menghampiri keduanya.
"Yeah, biarkan Olivia sendiri." tambah Dennis, namun papa dan mama tidak mau mendengar mereka.
"Kami tadi menelpon mu berkali-kali namun kamu tidak menjawab." ayahku akhirnya bicara juga. "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu." tambahnya, aku mendengus.
"Bagaimana caranya kamu memperbaiki pernikahan ini?" tanyaku, aku ingin tahu apa rencana mereka.
Sebelum kedua orang tuaku menjawab, Nani datang ke ruang tamu dan memberi tahuku.
"Tuan Alexander memintaku untuk memberitahu mu bahwa dia harus melakukan perjalanan dinas mendadak."Ucapnya, dan semua mata kini tertuju padanya. "Dia akan pergi selama beberapa hari."
Setelah itu, Nani buru-buru pergi sebelum semua orang bicara karena dia tahu kami sedang terlibat percakapan panas.
Sungguh sangat kebetulan sekali. Alex pasti pergi perjalanan dinas bersama mantan kekasihnya.
Aku tidak bisa tinggal dan mendengarkan ayah dan ibu bicara lagi. Maka, aku pun buru-buru berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Aku sangat benci kamu Alexander Stone.