DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
HAL-HAL YANG MELUKAI DALAM SUNYI
Tidak semua luka datang dengan suara keras.
Sebagian datang sebagai kebetulan yang terlalu rapi.
Hari itu, Aira meninggalkan rumah sakit sedikit lebih sore dari biasanya. Ibunya akhirnya tertidur setelah siang yang panjang, napasnya stabil, wajahnya tenang, seolah tubuhnya sedang menabung tenaga untuk esok.
Aira berjalan ke luar gedung dengan langkah pelan. Matahari hampir tenggelam, menyisakan warna jingga pucat di langit kota. Ponselnya bergetar sejak lima menit lalu, tapi baru sekarang ia membukanya.
Langit:
Aku di dekat rumah sakit. Kita bisa ketemu sebentar? Aku bawa sesuatu buat kamu.
Aira membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak menjawab langsung.
Ada rasa tidak nyaman yang sulit ia beri nama. Bukan takut. Lebih seperti insting yang berbisik pelan, hati-hati.
Tapi Aira juga terlalu lelah untuk terus waspada.
Ia membalas singkat.
Aira:
Di depan minimarket seberang.
Minimarket itu berada di sisi jalan yang lebih sepi. Tidak gelap, tapi tidak ramai. Lampu putihnya menyala terang, kontras dengan trotoar yang mulai lengang.
Aira berdiri di dekat rak minuman. Ia membeli air mineral, lalu keluar. Langit belum terlihat.
Ia menunggu.
Lima menit.
Sepuluh.
Ponselnya bergetar lagi.
Langit:
Maaf, ada sedikit masalah. Bisa tunggu di gang kecil samping minimarket? Aku parkir di sana.
Aira mengerutkan kening. Gang itu tidak gelap, tapi sempit. Ia pernah lewat sekali. Biasanya hanya dilewati motor.
Ia ragu.
Namun pikirannya kembali ke ibu yang terbaring, ke ayah yang di balik jeruji, ke kepalanya sendiri yang rasanya penuh retakan.
Ia melangkah.
Gang itu lebih sunyi dari yang ia ingat. Bau lembap. Dinding semen. Lampu kecil berkedip di ujung.
“Ada apa langit ...” gumamnya.
Langkah kaki terdengar di belakang.
Aira menoleh cepat.
Bukan Langit.
Seorang pria asing berdiri beberapa meter darinya. Hoodie hitam. Topi ditarik rendah. Wajahnya sebagian tertutup bayangan.
“Permisi,” kata Aira refleks. “Aku lagi nunggu teman”
Pria itu melangkah maju satu langkah.
Ada sesuatu di cara ia bergerak yang membuat dada Aira mengencang. Terlalu dekat. Terlalu cepat.
“Aku cuma mau lewat,” lanjut Aira, mencoba tenang. Ia mundur sedikit.
Pria itu tidak menjawab.
Langkahnya mendekat lagi.
Naluri Aira menjerit.
“Stop,” katanya tegas, suaranya bergetar tapi tidak runtuh.
Tangan pria itu terangkat sedikit. Bukan menyerang. Tapi cukup untuk membuat Aira sadar, ini bukan kebetulan.
Ia berbalik hendak lari.
Dan saat itulah, sebuah suara lain memotong udara.
“Berhenti.”
Suara itu datar. Rendah. Tidak berteriak.
Pria ber-hoodie itu membeku sesaat. Menoleh.
Dari ujung gang, sosok lain berdiri. Tinggi. Tegap. Setelan gelap. Tangannya tidak terangkat, tapi posturnya… siap.
“Ada masalah?” tanya sosok itu.
Pria ber-hoodie itu melirik Aira, lalu kembali ke sosok di ujung gang. Ada jeda singkat. Hanya dua detik.
Lalu ia mundur. Cepat. Menghilang ke arah lain gang.
Aira berdiri terpaku. Napasnya pendek. Jantungnya menghantam dada.
Sosok di ujung gang melangkah mendekat.
“Apa kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Aira mengenali suara itu sebelum wajahnya benar-benar terlihat.
Pria di lorong rumah sakit, yang tak sengaja menabrak nya.
Ia menelan ludah. “Aku… iya. Kayaknya.”
Pria itu berhenti pada jarak aman. Tidak menyentuh. Tidak mendekat lebih dari yang perlu.
“Kamu kenal dia?” tanyanya.
Aira menggeleng cepat. “Nggak.”
Pria itu mengangguk. Matanya menyapu sekitar. Memastikan gang kosong.
“Kamu sebaiknya nggak berdiri di tempat seperti ini sendirian.”
Nada suaranya bukan menggurui. Lebih seperti pernyataan fakta.
Aira menghela napas panjang. Tangannya gemetar. Marah, takut, malu, semuanya bercampur.
“Aku tahu,” katanya tajam. “Aku cuma… nunggu teman.”
“Temanmu tidak datang,” jawab pria itu singkat.
Aira menatapnya. “Kamu ngikutin aku?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Tidak,” katanya akhirnya. “Aku kebetulan lewat.”
Aira tertawa kecil. Pahit. “Kebetulan yang pas banget.”
Pria itu menerima kalimat itu tanpa membela diri.
“Kamu mau aku antar ke tempat ramai?” tanyanya.
Aira ingin menolak. Ingin bilang ia bisa sendiri. Tapi lututnya masih terasa lemah.
Ia mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan, tapi tidak terlalu dekat. Sampai ke jalan utama, Lampu kendaraan, Suara klakson, Dunia kembali normal, seolah tidak ada yang hampir terjadi.
Aira berhenti.
“Terima kasih,” katanya. Suaranya lebih pelan kini.
Pria itu mengangguk.
“Aku mau tanya,” Aira menatapnya lurus. “Kamu siapa?”
Ia terdiam sebentar. Lalu menjawab dengan nada netral, “Seseorang yang lewat di waktu yang tepat.”
“Aku nggak suka jawaban ngambang.”
“Dan saya nggak suka menjelaskan hal yang belum waktunya.”
Aira mendengus kesal. “kenapa sih ada orang kayak gini?”
“Efisien?” Ia mengangkat alis sedikit. “Iya.”
Aira menatapnya lama. “Kamu tahu aku siapa?”
“Sedikit,” jawabnya jujur.
“Dari berita?”
“Sebagian.”
“Aku bukan headline,” kata Aira cepat.
Pria itu menatapnya, kali ini lebih dalam. “Aku tahu.”
Kalimat itu membuat Aira terdiam.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk, Dari Langit.
Langit:
Maaf banget. Ada masalah mendadak. Kamu udah pulang?
Aira membaca layar itu lama. Tangannya mengencang.
Aira:
Iya. Aman.
Ia mengunci layar.
“Ada apa?” tanya pria itu.
“Temanku enggak jadi datang,” jawab Aira singkat.
Pria itu mengangguk, seolah mencatat sesuatu dalam diam.
“Aku bisa jalan sendiri sekarang,” kata Aira. “sekali lagi terimakasih”
Pria itu menatapnya sebentar. Lalu berkata, “Kalau sesuatu terasa salah, percayai itu.”
Aira menelan ludah. “Kamu bilang itu sebagai siapa?”
“Sebagai seseorang yang pernah mengabaikannya.”Ia berbalik pergi.
Aira berdiri di tempat, menatap punggungnya menghilang di antara keramaian.
Ia tidak tahu bahwa kejadian barusan bukan kebetulan.
Ia tidak tahu bahwa pesan Langit dikirim untuk memastikan ia berada di tempat yang tepat.
Ia tidak tahu bahwa pria ber-hoodie itu dibayar untuk menakutinya, bukan melukainya, belum.
Dan ia tidak tahu bahwa sosok yang menolongnya barusan adalah seseorang yang telah memutuskan, malam itu, bahwa permainan ini tidak lagi bisa dibiarkan berjalan sepihak.
Di sebuah mobil yang terparkir tak jauh, Langit menatap layar ponselnya. Wajahnya menegang.
“Ada yang ikut campur,” gumamnya.
Ia mengepalkan tangan. Bukan karena rencana gagal sepenuhnya. Tapi karena untuk pertama kalinya… ada variabel yang tidak ia kendalikan.
Dan Aira, malam itu, pulang dengan tubuh utuh, tanpa tahu bahwa langkah pertama untuk benar-benar dijatuhkan
baru saja dimulai.
Aira kembali ke rumah sakit saat malam sudah benar-benar jatuh.
Lorong-lorong kini lebih lengang, lampu putih memantul di lantai mengilap, menciptakan bayangan panjang yang terasa lebih sepi dari siang hari.
Langkahnya melambat ketika mendekati kamar ibunya.
Ada satu kebiasaan baru yang ia sadari akhir-akhir ini, setiap kali ia membuka pintu kamar perawatan, dadanya selalu menegang, seperti sedang bersiap menerima kabar yang tidak ingin ia dengar.
Pintu terbuka pelan.
Ibunya terbaring dengan posisi setengah duduk, bantal ditinggikan. Selang infus masih terpasang. Wajahnya terlihat lebih pucat, tapi matanya terbuka.
“Aira,” panggilnya pelan.
Aira tersenyum kecil, senyum yang ia simpan khusus untuk ibunya.
“Aira di sini, Bu.”
Ia meletakkan tas, mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya otomatis mencari tangan ibunya, menggenggamnya erat seolah itu satu-satunya jangkar yang masih tersisa.
“Kamu dari mana nak?” tanya ibunya.
“beli air, minum di minimarket depan bu” jawab Aira. Tidak sepenuhnya bohong. Tidak juga sepenuhnya jujur.
Ibunya mengangguk pelan. Lalu terdiam cukup lama. Napasnya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Aira…”
“Iya, Bu?”
Ibunya menatap langit-langit sebentar, lalu kembali ke wajah anaknya. Tatapan itu membuat dada Aira mengencang, karena ia mengenali tatapan itu, tatapan orang yang sedang menimbang sesuatu yang terlalu berat untuk ditanyakan.
“Ayah kamu… kapan pulang?”
Pertanyaan itu jatuh pelan. Tidak mendesak. Tidak menangis.
Justru itu yang membuatnya menghantam lebih keras.
Aira membeku sepersekian detik.
Ia tidak pernah benar-benar menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu, meski tahu suatu hari pertanyaan itu pasti datang.
Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat.
“Bu,” katanya pelan, berusaha menjaga suaranya tetap utuh,
“Ayah lagi… diproses.”
Ibunya mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah cukup, atau mungkin seolah ia sudah tahu jawabannya tapi tetap berharap salah.
“Ayah kamu orang baik,” katanya lirih.
“Ayah cuma terlalu percaya… sama orang yang salah.”
Aira menunduk. Matanya panas.
“Ibu jangan mikirin itu dulu,” katanya cepat, hampir memohon.
“Yang penting Ibu sembuh.”
Ibunya tersenyum tipis. Senyum yang rapuh, tapi hangat.
“Ibu cuma kangen.”
Kalimat itu mematahkan sesuatu di dada Aira. Ia menunduk lebih dalam, menyembunyikan mata yang mulai basah.
Pintu kamar terbuka.
Seorang dokter wanita masuk dengan map tipis di tangan, diikuti perawat. Wajahnya profesional, tapi lembut.
“Bagaimana kabarnya malam ini?” tanya dokter itu.
Ibunya menjawab pelan, “Lumayan enakan dok”
Dokter memeriksa monitor, mencatat sesuatu, lalu menoleh ke Aira.
“Kamu anaknya?”
Aira mengangguk.
Dokter menurunkan nada suaranya, lebih personal.
“Kondisi ibu kamu sensitif. Secara fisik perlahan membaik, tapi faktor terbesarnya justru mental.”
Aira menegakkan tubuh. “Maksud dokter?”
“Stres,” jawab dokter itu jujur. “Tekanan emosional bisa memperlambat pemulihan. Bahkan memperburuk.”
Ibunya langsung menyela, “Saya baik-baik saja, Dok.”
Dokter tersenyum tipis.
“Saya tahu. Tapi tubuh sering jujur sebelum kita mau mengaku.”
Ia menatap Aira lagi.
“Tolong jaga agar beliau tidak terlalu banyak berpikir. Tidak kaget. Tidak terbebani. Obat bisa membantu tubuh, tapi ketenangan membantu lebih cepat.”
Aira mengangguk. Tenggorokannya terasa sempit.
“Iya, Dok.”
Setelah dokter dan perawat keluar, kamar kembali sunyi.
Ibunya menatap Aira.
“jangan terlalu di pikirkan Aira ibu baik-baik saja?” kata ibunya pelan.
Aira mengangguk.
“Ibu jangan khawatir. Aira bisa.”
Ibunya tersenyum kecil, lalu mengangkat tangan, menyentuh pipi Aira dengan gerakan yang lemah.
“Jangan terlalu kuat sendirian,” katanya.
“Kamu masih anak Ibu.”
Air mata Aira jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menunduk, menempelkan keningnya ke tangan ibunya.
“Aira cuma nggak mau kehilangan Ibu,” suaranya pecah.
Ibunya mengusap rambut Aira pelan.
“Ibu masih di sini.”
Di luar kamar perawatan itu, beberapa lantai di atas, seorang pria berdiri di balik kaca besar ruang VIP rumah sakit. Jasnya rapi. Wajahnya tenang. Tatapannya tajam namun terkendali.
Di tangannya, ponsel menyala.
Nama di layar: KARTIK ARKANA
CEO muda Arkana Group.
Perusahaan multinasional yang namanya tidak hanya dikenal di Asia, tapi juga disegani oleh pasar global.
Pria yang setiap keputusannya bisa menggeser ekonomi satu wilayah.
Pria yang biasanya dikelilingi pengawal, asisten, dan jadwal tanpa celah.
Namun kali ini, ia berdiri sendirian.
Ia menurunkan ponselnya setelah memastikan seseorang yang berusaha ia jaga, sampai dengan selamat
"Langit terdeteksi mulai bergerak agresif" ujar langit bermonolog sendiri
Kartik menatap ke luar jendela. Lampu kota berkilau seperti gugusan rahasia yang tidak pernah tidur.
“Dia mulai ceroboh,” gumamnya pelan.
Ia tidak tersenyum. Tidak marah.
Hanya mencatat.
Dalam dunia Kartik Arkana, emosi tidak pernah memimpin.
Semua adalah perhitungan.
Pikirannya kembali ke wajah Aira di lorong tadi.
Marah. Lelah. Tapi tetap berdiri.
“Seperti ayahnya,” gumamnya.
Ia menghela napas pelan.
Ia tidak datang sebagai pahlawan.
Ia juga tidak datang untuk diakui.
Ia datang karena ia Aira.
Ponselnya bergetar lagi.
Internal Arkana:
Apakah perlu kita buka lapisan pertama?
Kartik menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Kartik Arkana:
Belum.
Jangan sentuh Aira, atau melibatkan nya, dia sudah terlalu lelah, saya bisa mengeluarkan nya dengan jaminan, tapi nama baik nya harus di kembalikan, dan itu perlu bukti yang pas, agar tidak ada cela bagi orang untuk menjatuhkan nya kembali,
Ia memasukkan ponsel ke saku jas.
Di bawah sana, Aira masih duduk di sisi ranjang ibunya, mengusap punggung ibunya pelan sampai napas itu kembali teratur.
Ia tidak tahu bahwa namanya kini tercatat dalam sistem perlindungan yang bahkan tidak bisa disentuh oleh langit.
Ia tidak tahu bahwa satu perusahaan raksasa sedang bergerak diam-diam, bukan untuk menghancurkan, melainkan menahan kehancuran agar tidak menelannya.
Dan ia tidak tahu bahwa Langit, di sisi lain kota, sedang menyusun langkah berikutnya, tanpa sadar bahwa untuk pertama kalinya, ia sedang bermain di papan yang bukan lagi miliknya.
Malam terus berjalan.
Dan di antara doa yang tidak terucap, rahasia yang tidak dibuka, serta luka yang belum sembuh,
takdir mulai mempertemukan orang-orang yang seharusnya bertemu…
dengan cara yang tidak pernah mereka pilih.
Bersambung.