NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Belenggu Janji Masa Lalu

Keheningan jam tiga pagi masih melanda dapur sederhana milik Alana. Ia masih mematung di depan meja dapur, tak bisa berkata-apa.

Jemarinya terasa dingin sedingin es setelah melihat foto tiga orang yang sangat ia kenali di bawah cahaya lampu yang temaram.

Wajah-wajah dalam foto usang itu seolah menatapnya balik dengan segudang rahasia yang terkunci rapat selama belasan tahun.

Di foto itu terdapat ibunya, Nyonya Aristi, dan satu lagi wanita yang tidak ia kenali namun wajahnya sangat mirip dengan mama Raden.

Benar-benar seperti pinang dibelah dua.

"Apa ini semua, Tuhan? Nyonya Aristi punya kembaran? Atau ini hanya halusinasiku saja?" bisik Alana pelan.

Kepalanya mulai berdenyut hebat. Kenyataannya terasa terlalu berat, seolah baru saja dihantam godam tepat di ulu hati.

"Huh, tenang Alana... tenangkan dirimu. Jangan gegabah," ucap Alana mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia melangkah perlahan menuju kamar ayahnya untuk mencari jawaban.

Namun, saat sampai di depan pintu kamar yang terbuat dari kayu tua itu, langkah Alana terhenti.

Melalui pintu yang terbuka sedikit, ia melihat ayahnya sedang tertidur pulas dalam posisi meringkuk, memeluk erat daster kusam milik ibunya.

Dari sisa-sisa napasnya yang teratur, Alana bisa melihat wajah ayahnya yang tampak begitu rapuh dan sangat lelah menghadapi badai semalam.

Alana menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa perih. Ia tidak tega untuk membangunkan ayahnya yang baru saja mendapatkan sedikit ketenangan.

Perlahan, ia menarik kembali tangannya dan menutup pintu itu rapat-rapat dengan hati yang berantakan.

Alana kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia merebahkan tubuhnya yang sangat lelah, rasanya seperti baru saja kerja rodi ratusan tahun.

Ia mencoba memejamkan mata walau hanya sebentar, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Tapi setiap kali ia memejamkan mata, wajah-wajah dalam foto itu kembali menghantuinya bagai kenangan pahit bersama mantan yang menolak pergi.

Ia berguling ke kanan dan ke kiri, namun rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang.

Akhirnya, Alana memutuskan untuk tidak tidur sama sekali. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya sampai semburat fajar muncul di balik jendela.

Begitu jam di dinding menunjukkan pukul lima pagi, Alana memutuskan untuk mandi.

Guyuran air dingin setidaknya bisa membantu meredakan badai yang menumpuk di kepalanya.

Selesai mandi, ia bersiap-siap dan memakai seragam perawatnya yang putih bersih kayak bangau.

Setelah itu, ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan sederhana dan teh hangat.

Tak lama, ayahnya pun keluar dari kamar dengan wajah yang tampak lebih segar.

"Lho, tumben sudah siap Nak?" suara serak ayahnya mengejutkan Alana yang tengah asyik mengaduk teh.

"Eh, iya Yah. Alana harus berangkat pagi hari ini karena ada banyak jadwal operan di rumah sakit," jawab Alana pelan.

Mereka sarapan bersama dalam keheningan yang nyaman. Ayahnya sempat menatap Alana cukup lama sebelum berkata.

"Nak, Dokter Raden itu benar-benar pria yang luar biasa ya. Ayah merasa tenang kalau kamu bersama dia."

"Tapi Ayah juga merasa malu, keluarga kita malah menjadi beban untuk dia."

Alana hanya terdiam sambil meremas foto di balik saku seragamnya. Ingin rasanya ia menunjukkan foto itu sekarang.

Namun saat melihat binar bahagia di mata ayahnya yang sudah lama hilang, ia akhirnya menahan diri.

"Raden memang pria yang tulus, Yah. Ayah jangan merasa begitu," ucap Alana singkat.

Setelah itu, ia berpamitan dan mencium tangan ayahnya lalu melangkah keluar.

Tepat saat ia membuka pagar, mobil SUV mewah milik Raden sudah menunggu di pinggir jalan.

Raden bersandar di pintu mobil dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana, tampak sangat berwibawa dengan jas dokternya.

Wajahnya yang tadi lelah, langsung berganti dengan senyuman manis nan hangat begitu melihat Alana.

Tanpa peduli dengan sekitar, ia langsung menarik Alana ke dalam pelukan di pinggiran jalan yang masih sepi.

Sesepi notif WhatsApp tanpa chat dari kamu.

"Pagi Sayang," bisik Raden lembut sambil mengecup kening Alana cukup lama.

"Pagi, Raden," jawab Alana singkat.

"Sudah siap? Ayo masuk." Raden membukakan pintu mobil dengan sangat sopan.

Ia memastikan tangannya diletakkan di atas pintu agar kepala Alana tidak terbentur.

Setelah Alana duduk manis, Raden bergegas masuk.

Sebelum melajukan mobil, ia sempat mencium punggung tangan Alana dengan penuh cinta.

"Tenang Sayang, aku akan selalu berada di pihakmu apa pun yang terjadi."

Setelah mengucapkan itu, Raden melajukan mobilnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa sunyi bagi Alana.

Raden sesekali menoleh, menggenggam tangan Alana seolah ingin memastikan kekasihnya itu tidak akan hilang.

Setiap kali Raden membahas rencana pencarian ibunya, Alana hanya bisa membuang pandangannya ke luar jendela.

Ia merasa seperti seorang pengkhianat karena menyembunyikan rahasia besar di dalam sakunya.

Tak terasa mobil SUV hitam itu sampai dan memasuki area rumah sakit. Raden menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama.

Sebelum Alana turun, Raden kembali menatap Alana dalam. Ia mengusap kepala Alana dengan lembut.

"Semangat kerjanya Sayang, perawat Alana yang hebat. Nanti jam makan siang aku samperin ke kantin, ya?"

Alana tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan berusaha tetap tersenyum meski hatinya berat.

Begitu Alana menginjakkan kakinya di lobi rumah sakit, suasana yang tadinya hening mendadak berubah ramai.

Status Alana bukan lagi hanya perawat biasa sekarang.

Saat Alana berjalan di koridor, ia dapat merasakan mata-mata iri selalu mengikuti setiap langkahnya.

Bisik-bisik mulai terdengar tajam.

"Eh guys, lihat tuh si Alana. Hoki banget ya udah dapat Dokter Raden," bisik seorang perawat di dekat meja administrasi.

"Denger-denger nih mereka juga udah tunangan resmi. Nasib dapat tangkapan ikan kakap!" sahut nyinyir perawat lain.

Bisik-bisik tetangga itu masuk ke telinga Alana seperti nyanyian sumbang. Ia langsung mempercepat langkahnya.

Begitu sampai di ruangan yang sepi, Alana segera duduk dan membuka tas kerjanya.

Ia mengeluarkan amplop kecil yang ia temukan semalam. Di dalamnya terdapat tulisan tangan yang mulai memudar.

Alana langsung membacanya dengan napas tercekat. Di sana tertera inisial nama mereka bertiga: A, A, & A. Dan di bawahnya ada sebuah tulisan yang sengaja ditulis dengan tekanan pena sangat dalam dan tebal:

"Salah satu dari kita bertiga harus pergi atau mati jika mengingkari janji ini. Janji yang diingkari adalah sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan."

Alana jatuh terduduk setelah membaca tulisan itu. Napasnya tersengal-sengal.

Ternyata hilangnya ibunya selama ini bukan sekadar tragedi kecelakaan biasa.

Tapi buntut dari sebuah janji berdarah yang melibatkan wanita misterius berwajah mirip mama Raden.

*****

Catatan Penulis:

Gimana Bab 17-nya? Nyesek nggak? Apa malah iri sama Alana yang dijemput Dokter Raden pakai SUV? Wkwkwk.

Satu pesan buat kalian: Kalau dapet notif bab baru tapi nggak dapet chat dari si dia, tenang... kalian nggak sendirian, Alana juga ngerasain! 😂

Buat kalian yang masih penasaran siapa wanita misterius "A" ketiga itu, simpan dulu teorinya ya!

⭐ Kasih Bintang 5: Biar jempol penulis nggak kram pas ngetik lanjutannya.

❤️ Like & Komen: Biar lapak ini makin rame kayak grup gosip perawat di RS tadi.

Dukungan kalian itu kayak bensin buat SUV-nya Dokter Raden! 🚀🔥

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!