Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Aurora melangkah menaiki tangga dengan langkah tenang, nampan sarapan masih berada di tangannya. Setiap pijakan kakinya nyaris tak bersuara, seolah dia takut mengganggu ketenangan pagi yang rapuh itu.
Di depan pintu kamar anak-anak, Aurora berhenti.
Tangannya terangkat, namun menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
Aurora membuka pintu perlahan. Cahaya pagi menyelinap masuk, menerangi dua ranjang kecil yang bersebelahan. Riven meringkuk di bawah selimut, tubuhnya menghadap dinding, sementara Arjuna tidur telentang dengan satu tangan terulur ke samping, napasnya teratur.
Aurora masuk dan menutup pintu kembali tanpa suara.
Dia meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela, lalu melangkah mendekati ranjang Riven lebih dulu. Matanya menatap wajah anak itu lama, kemudian Aurora berlutut di sisi ranjang.
"Riven," panggilnya pelan.
Tidak ada respons.
Tangannya terulur, jari-jarinya ragu sesaat sebelum akhirnya menyentuh bahu kecil itu. Sentuhannya ringan, hampir tidak terasa.
"Bangun sayang. Sudah pagi."
Riven menggeliat, alisnya berkerut, namun dia tetap memunggungi Aurora. Jarak itu masih ada, jelas dan terasa. Aurora tidak memaksanya. Dia menarik kembali tangannya perlahan, berdiri, lalu beralih ke ranjang Arjuna.
Anak itu lebih mudah dibangunkan.
Aurora menepuk bahunya pelan. "Arjuna."
Arjuna mengerjapkan mata, lalu menyipitkan pandangan saat melihat sosok Aurora berdiri di samping ranjang.
"Mommy?" Suaranya masih serak oleh kantuk.
Aurora mengangguk. "Sudah pagi. Waktunya sarapan."
Arjuna duduk perlahan. Matanya melirik ke arah Riven yang masih membelakangi mereka. Ada ragu di wajah kecil itu.
"Riven belum bangun?"
"Belum," jawab Aurora singkat.
Dia kembali mendekati Riven. Kali ini, Aurora duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih selimut, menariknya sedikit agar wajah Riven terlihat.
Anak itu meringis kecil, matanya terbuka setengah.
"Pergi," gumam Riven pelan, hampir tak terdengar.
Aurora tidak tersentak. Tidak marah. Ekspresinya tetap sama tenang, dingin, tanpa emosi berlebih. Namun nadanya berubah, lebih rendah.
"Bangun," katanya. "Mommy sudah menyiapkan sarapan."
Riven membuka mata sepenuhnya. Tatapannya bertemu dengan Aurora hanya sepersekian detik sebelum kembali berpaling.
"Aku tidak lapar."
Aurora mengangguk kecil. "Tetap bangun. Tubuhmu butuh makan."
Tidak ada nada memaksa. Tidak juga lembut berlebihan. Hanya pernyataan fakta.
Hening.
Beberapa detik berlalu sebelum Riven akhirnya duduk, selimutnya jatuh ke pangkuan. Dia tidak menatap Aurora, matanya fokus ke lantai.
Aurora berdiri. "Sepuluh menit. Lalu turun."
Dia berbalik, hendak keluar kamar, namun langkahnya terhenti ketika Arjuna tiba-tiba berbicara.
"Mommy…"
Aurora menoleh.
"Apa Mommy masak sendiri?"
Aurora mengangguk sekali. "Iya."
Arjuna tersenyum kecil. Tapi cukup untuk membuat Aurora menahan napas sepersekian detik.
"Baunya enak."
Aurora tidak membalas senyum itu. Namun sebelum keluar, dia berkata pelan, nyaris tak terdengar.
"Makanlah dengan baik, Mommy sama sekali tidak menaruh racun dalam makanan kalian."
Pintu kamar tertutup perlahan di belakangnya.
Di dalam kamar, dua anak kecil itu saling diam. Riven menatap pintu yang sudah tertutup, ekspresinya sulit dibaca.
***
Di meja makan terasa hening, hanya dentingan sendok yang beradu dengan garpu di atas piring. Riven dan Arjuna menghabiskan sarapan mereka dengan tenang.
Sementara di kursi lain, Aurora sedang mengamati tablet di tangannya. Dia sesekali memperhatikan kedua anaknya makan, sampai ketika kedua anak itu selesai Aurora meletakan tabletnya di atas meja.
"Anak-anak, ada yang ingin Mommy bicarakan dengan kalian," kata Aurora.
Kedua anak itu menatap wajah Aurora seakan menunggu kelanjutan percakapan tersebut.
"Mommy berencana memasukan kalian ke sekolah lusa mendatang bagaimana menurut kalian?"
Hening kembali menyelimuti meja makan setelah ucapan Aurora menggantung di udara.
Riven menurunkan sendoknya lebih dulu. Tatapannya tidak langsung tertuju pada Aurora, melainkan pada piring kosong di depannya. Rahangnya mengeras, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.
Arjuna justru menoleh lebih cepat.
"Sekolah?" ulangnya pelan.
Aurora mengangguk. "Iya."
"Yang… banyak orang?" tanya Arjuna ragu.
"Banyak anak seusia kalian," jawab Aurora datar. "Guru. Dan kalian akan memiliki banyak teman."
Arjuna terdiam. Jarinya meremas ujung serbet di pangkuannya. Dia melirik Riven, lalu kembali menatap Aurora.
"Kalau Riven?" tanyanya hati-hati. "Dia ikut juga?"
Aurora memandang Riven.
Anak itu akhirnya mengangkat kepala. Tatapan gelapnya tajam, defensif, dan penuh jarak.
"Aku tidak mau," katanya singkat.
Aurora tidak langsung menanggapi. Dia menatap Riven lama, tidak ada kemarahan di sana, tidak pula kelembutan. Hanya pengamatan dingin, seolah Aurora sedang membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penolakan.
"Kau tidak menjelaskan alasannya," kata Aurora akhirnya.
Riven mengalihkan pandangan. "Aku tidak suka."
"Apa yang tidak kau suka?"
"Bertemu orang lain."
Arjuna menelan ludah. Dia tahu Riven memang selalu seperti itu. Diam, tertutup, dan mudah tersulut jika merasa terpojok.
Aurora menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja.
"Mommy tidak bertanya apakah kalian suka atau tidak," katanya tenang. "Mommy bertanya pendapat kalian."
Riven mendongak lagi. "Itu sama saja."
"Tidak," sahut Aurora. "Pendapat boleh kau sampaikan. Keputusan tetap tanggung jawab orang dewasa."
Kalimat itu dingin. Tegas. Tidak memberi celah.
Arjuna menggeser duduknya, gelisah. "Kalau… kalau kami takut?"
Aurora menoleh padanya.
"Takut itu wajar," katanya. "Tapi hidup tidak berhenti hanya karena takut."
Riven mengepalkan tangannya di bawah meja. "Mommy juga tidak tahu rasanya menahan takut."
Aurora terdiam.
Sesaat, udara di sekeliling mereka terasa lebih berat. Para pelayan yang tadi masih berada tak jauh dari ruang makan langsung menjauh tanpa suara, menyadari ketegangan yang tidak kasatmata.
Aurora berdiri perlahan. Dia melangkah mendekati Riven, lalu berhenti tepat di depan anak itu.
"Kau salah," ucap Aurora rendah. "Aku tahu."
Riven menegang.
"Aku tahu rasanya dipaksa masuk ke dunia yang tidak kau pahami," lanjut Aurora. "Aku tahu rasanya tidak ingin melihat siapa pun."
Nada suaranya tetap datar, namun ada sesuatu yang bergetar samar di baliknya.
"Tapi aku juga tahu satu hal," katanya lagi. "Jika kau terus bersembunyi, dunia tidak akan berhenti bergerak hanya untuk menunggumu siap."
Riven menatap Aurora. Ada amarah kecil di sana. Ada kebingungan. Dan sesuatu yang lebih rapuh, yang berusaha dia sembunyikan.
"Aku tidak akan memaksa kalian untuk tersenyum, berteman, atau apa pun. Lakukan sesuai yang kalian mau asal tidak merugikan diri kalian sendiri," sambung Aurora. "Aku hanya ingin memastikan kalian punya tempat berpijak demi masa depan kalian kelak."
Arjuna menggigit bibirnya. "Kalau kami tidak betah di sekolah?"
Aurora kembali ke kursinya, duduk dengan sikap tenang.
"Maka Mommy akan mempertimbangkan ulang," jawabnya. "Tapi bukan sekarang. Kalian harus mencoba dulu."
"Mommy… marah?" tanyanya pelan.
Aurora menggeleng kecil. "Tidak."
"Lalu kenapa rasanya ruangan ini dingin?"
Aurora menatap anak itu. Untuk pertama kalinya pagi itu, ada jeda sebelum dia menjawab.
"Karena kalau Mommy terlalu lembut," katanya pelan, "kalian tidak akan bertahan di dunia luar begitu Mommy tidak ada di dunia ini."