NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah dan Ibu Mertua

“Bu Guru, kita tunggu dulu si Felix deh ya. Ini harus dibicarakan dulu. Felix nggak bilang apa -apa soalnya,” kata Pak Danu sambil meletakkan kembali Memo Internal itu ke mapnya.

Pak Haryono menelpon melalui ekstensionnya. “Mas? Dimas, ini restruktur Rahadja 100 miliar? Kita bakal salah nggak nih kalo tandatangan? NPF udah berapa per bulan ini?”

Lalu dia menatap kami berdua, “Si Dimas otw sini,” katanya kemudian.

“Bukan bawa-bawa masalah pribadi ya Bu Guru, tapi seringkali bisnis akan terganggu kalau konflik keluarga sedang memanas. Sabar sebentar ya untuk persetujuannya,” kata Pak Danu menenangkanku. Mungkin dia melihat kalau wajahku langsung tegang.

Kalau aku terlibat dalam meeting... jadi ayah dan ibu mertuaku harus menunggu lebih lama di lantai 5. Apa aku tinggal saja meeting ini sebentar untuk menemui mereka?

Ah, tidak tidak!

Pekerjaan lebih penting karena berhubungan dengan hidupku sendiri.

Dalam hal ini Tommy yang salah, jadi aku tidak perlu susah payah memikirkan kenyamanan orang tuanya. Aku sudah resmi bercerai, jadi mereka adalah orang lain bagiku.

Jadi kalau  mereka ya butuh, ya mereka harus rela menunggu.

Sama sepertiku. Aku butuh tandatangan ini untuk pencapaianku, jadi aku yang akan menunggu.

**

Pak Dimas datang sekitar 5 menit kemudian.

“Permisi Pak,” desisnya setelah mengetuk pintu ruang Komisaris.

“Felix ada ngomong soal ini nggak ke kamu, Mas?” tanya Pak Danu.

“Secara detail sih tidak Pak, secara umum saja kalau ia mau ambil alih satu-satu aset mantan keluarganya,”

“Mantan keluarga, huh!” dengus Pak Haryono. “Yang namanya pernikahan bawa-bawa bisnis, kalau bubaran semuanya kena!”

“Apa kita tunggu saja dia duluan yang tandatangan? Ada untungnya tidak untuk Bank kalau kita ACC?’ tanya Pak Danu.

“Bank tetap untung dari pelelangan Aset Pak, bahkan udah ada beberapa pembeli yang menunggu gedung ini dijual,”

“Pembeli? Dari mana?”

“Jarvas dan Arghading,”

“Ya kita-kita juga dong,”

“Aset beginian mah gampang Pak jualnya kalau ada akses,”

“Mas, kita tuh sudah sepakat loh kalau ada masalah ada baiknya pembeli dari luar saja. Masa kita terus menerus jual sampah ke teman-teman kita sendiri,” keluh pak Danu.

“Kondisi ekonomi sekarang bisanya begini, Pak,”

Dan berikutnya mereka bertiga berdiskusi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Tetap saja tidak ditemukan jalan keluar karena yang punya proyek tidak berada di sini.

Terus terang saja, aku paling malas kalau harus berhadapan dengan Komisaris. Divisi yang stafnya diperbolehkan menghadap langsung ke ruangan Komisaris adalah Marketing. Baik itu Dana atau pun Kredit. Karena marketing adalah garda depan bagi profit perusahaan.

Yang lain biasanya para Kepala Divisinya yang maju secara personal. Itu pun seringkali mereka lewat Direksi dulu.

Ya karena ini, fungsi Komisaris adalah sebagai pengawas Direksi. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ke kami bernilai krusial. Seringkali kami saking gugupnya malah kesulitan untuk menjawab. Istilahnya kalau di kampung... mereka ini Tetua Desa. Kalau direksi adalah Kepala Adat.

Dari sini, diharapkan pembaca mengerti hubungan mengenai Komisaris dan Presiden Direktur (CEO) secara keseluruhan. Pak Dimas ini juga Pemegang Saham. Dan sekaligus dia juga menjabat sebagai Presiden Direktur. Sementara dua Komisaris ini belum tentu Pemegang Saham. Tapi mereka ditunjuk jajaran manajemen untuk mengawasi kinerja Direksi. Seharusnya Pak Dimas bisa saja bertingkah sesukanya. Ya itu kan Perusahaan-nya dia, miliknya dia.

Tapi ternyata tidak begitu aturan mainnya.

Ya tapi kalau berdasarkan realita kehidupan, ceritanya jadi nggak greget ala-ala sinetron. Betul?

**

Tapi perdebatan itu tidak berlangsung lama karena biang ribut tiba-tiba muncul.

“Kenapa sih saya ditelponin melulu. Manggil saya bayar loh,” kata Pak Felix sambil masuk ke ruangan sambil bercanda.

Entah bagaimana, jantungku langsung berdetak kencang.

Sosoknya itu membuatku langsung terpaku menatapnya. Senyuman sinisnya yang khas, matanya yang lembut ke arahku.

Pesonanya yang berbeda dari yang lain.

Orang sepenting ini... menyukaiku.

Aku bahkan masih tidak percaya dengan kondisi yang kualami. Tingkah pak Felix bisa membuat semuanya kalang kabut seperti ini, tanda kalau suaranya sangat berpengaruh bagi kebutuhan primer puluhan ribu orang karyawan perusahaan ini.

Bagaimana bisa orang seperti ini dengan sukarela menjemputku naik motor dan hang out nggak jelas di mall bersamaku, mau melayani semua keegoisanku di hari itu?!

“Kamu nih gimana sih, 100 miliar nggak bilang-bilang,” gerutu Pak Haryono ke Pak Felix.

Pak Felix menatap Memo Internal di atas meja sekilas.

Lalu dia menatapku.

“Bapak dan Ibu mertua kamu di lantai 5,” kata Pak Felix.

Wah! Dari mana dia tahu?!

“Kamu turun dulu deh selesaikan masalah kamu. Keputusan mengenai restruktur mau kami diskusikan lagi,” katanya kemudian.

Aku menunduk hormat, “Baik Pak, terima kasih.”

Sebelum keluar dari ruangan itu, aku sempat mendengar Pak Felix bicara, “Saya mau likuidasi Rahardja Sakti. Seluruhnya. Saya mau semua kembali ke saya,”

“Itu taktik bisnis atau keegoisan kamu?”

“Keduanya benar,” desis Pak Felix, “Saya akan rebut Rahardja lewat Beaufort, dan aset lain lewat Amethys. Sementara Garnet akan jadi pelancarnya.”

“Tidak bisa kita-kita saja yang bilang setuju. Panggil Direksi yang lain deh! Kita meeting manajemen sekarang!” sahut Pak Haryono.

Konflik pebisnis... rumit.

Aku sekarang bersyukur menjadi staf biasa.

Tapi... bagaimana kalau aku semakin terikat dengan Pak Felix?

Astaga, aku bahkan sudah ingin lagi melihat wajahnya, padahal baru saja masuk ke lift!

**

Yang datang untuk menghakimiku bukan hanya Ayah dan Ibu mertua.

Tapi juga kedua kakak Tommy.

Aku menarik nafas kesal, aku dijebak. Aku hanya sendirian di sini.

Jadi, saat aku datang, mereka hanya berdua menunggu di ruang meeting kecil.

Tapi setelah aku masuk, tiba-tiba ibu memanggil kedua kakak Tommy yang dari tadi duduk di Lobby. Kedua kakaknya langsung naik ke lantai 5 dan masuk ke ruang meeting.

Operator tentu saja mempersilakan mereka masuk karena aku kan sudah memberi izin ke ayah ibuku. Mereka pikir otomatis aku juga memberi izin ke anggota keluarga yang lain.

Yang berhadapan denganku adalah Ibu.

Beliau alasan pendukung kenapa aku bersikeras ngontrak rumah. Aku menyayanginya sebagai mertua. Tapi kalau sudah serumah, kami selalu tidak cocok. Masalah galon air yang kosong diletakkan di mana, hal itu bisa saja dibuat ribut sama dia. Dari pada Ibu Mertuaku makan hati dengan tingkahku yang absurd ini, lebih baik aku tinggal terpisah. Toh setiap bulan aku masih membantu membayar listrik, air, internet dan BPJS mereka.

Lalu ayah Tommy duduk di sebelah Ibu.

Beliau adalah alasan utama yang memperkuat niatku untuk mengontrak rumah.

Aku risih dengan pandangannya ke bagian tertentu tubuhku.

Lalu kalau aku di dapur, dia suka mepet-mepet ke bokongku, padahal dapur itu sangat luas.

Sekali saja aku disenggol, Aku pindah.

“Apa kabar Chintya, kamu sehat?” sapa ibu Tommy.

Aku tidak menjawab, hanya duduk di depan mereka. Sekali lagi aku memosisikan duduk tepat di depan pintu masuk. Agar kalau terjadi sesuatu, aku mudah untuk keluar.

Tapi ternyata Kedua kakak Tommy, malah berdiri di depan pintu.

Apa maksudnya ini? Padahal ada banyak kursi kosong di depanku.

Seketika perasaanku diliputi kekhawatiran. Aku merasa was-was.

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!